Stranger's In Love

Stranger's In Love
80|In Vitro Fertilization



Irene sudah siap dengan balutan mini dress yang melekat sempurna di tubuh mungilnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia terlihat cantik dengan polesan make-up natural. Memikirkan akan makan malam bersama Zean mampu membuat jantungnya berdebar seperti saat pertama kali ia menyadari ia telah jatuh cinta para pria itu.


“Kenapa kau tersenyum sendiri?” tanya Zean yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Irene dari belakang.


Irene semakin tersenyum melihat pantulan diri mereka saat Zean memeluknya.


“Karena memikirkanmu, Zean.”


Zean terkekeh mendengar jawaban Irene. “Jangan menggodaku, Mrs.Lorwerth.”


“Aku sungguh-sungguh, aku tidak menggodamu,” balas Irene sebal.


Zean melepas pelukannya lalu meminta Irene berbalik agar bisa menatap wanita itu. Tangan Zean tergerak mengusap lembut pipi istrinya lalu mencium keningnya.


“Aku mencintaimu, Irene,” ucap Zean sesaat seteleh mencium kening wanita itu.


“Aku juga mencintaimu, Zean. Sangat mencintaimu,” ucap Irene lalu berhambur ke pelukan suaminya.


“Ayoo pergi,” ajak Zean lalu mereka pergi.


Zean melajukan mobilnya dengan kecepatan standar mengikuti arahan dari navigasi di mobilnya, sedangkan Irene sibuk menatap jalanan ke luar jendela. Dari kejauhan Irene melihat tiang petunjuk arah menuju Petrin Hill.


“Kita mau ke mana, Zean?” tanya Irene pada Zean yang masih fokus menyetir.


“Kau akan tahu nanti,” jawab Zean.


Kemudian hening, tidak ada yang bicara lagi sampai akhirnya mereka tiba di Ujezd, kawasan kaki bukit Petrin. Dari Stasiun Ujezd mereka akan naik funicular yang menuju ke Stasiun Petrin. Funicular adalah sebuah kereta api miring yang bergerak naik turun di bukit dengan menggunakan kabel. Beberapa menit kemudian mereka tiba di puncak bukit Petrin yang menyuguhkan pemandangan indah di bawah langit senja yang sebentar lagi siap berpamitan menghantar malam yang dingin.



“I swear to god, it's so beautiful here,” ungkap Irene takjub akan keindahan tempat itu.


Zean tersenyum melihat betapa senangnya Irene saat mereka tiba di sana. Zean menggandeng istrinya itu menuju lift untuk naik ke puncak menara, Zean ingin memperlihatkan keindahan Praha dari atas Petrin Tower ini.


“Bagaimana kau bisa membawaku ke tempat seindah ini, Zean?” tanya Irene saat mereka tiba di atas menara.


“Aku akan membawamu ke tempat mana pun asal aku bisa membuatmu tersenyum bahagia,” jawab Zean sukses membuat pipi Irene memerah.


Irene langsung mencubit lengan Zean. “Berhenti bersikap sok manis dan berhentilah menggoda istrimu, Mr.Lorwerth!”


Zean terkekeh geli dengan tingkah Irene itu. “Aku bicara fakta, Irene. Aku hanya ingin menjadi suami paling romantis untukmu.”


“Baiklah, terserahmu,” balas Irene lalu pandangannya fokus melihat ke sekeliling.


Benar-benar indah sekali pemandangan dari atas Petrin Tower ini, tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan keindahan di sini.


Tiba-tiba Zean memeluk Irene dari belakang sontak itu membuat Irene kaget, tapi Irene memilih diam karena dia juga menikmati pelukan hangat suaminya itu. Zean menempelkan dagunya di bahu Irene hingga wanita itu mampu mendengar helaan napasnya.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan padaku, Zean?” tanya Irene. Ia merasa ada sesuatu yang ingin Zean sampaikan dari helaan napas Zean tadi terdengar seperti ingin melepas beban berat dalam dirinya.


Zean tak merespon, ia masih pada posisinya yang memeluk Irene seraya menempelkan dagunya di bahu wanita itu.


“Zean,” panggil Irene lembut.


Kali ini Zean tergerak, ia melepas pelukannya lalu berbalik menatap wanitanya itu. Mata indah milik Zean menatap Irene dengan sorot mata yang sulit diartikan. Irene bisa melihat pada sorot mata itu ada kepedihan, rasa marah dan kecewa yang tanpa diucapkan pun Irene tahu Zean tengah menghadapi kesulitan saat ini.


Zean menghela napas sejenak, sangat berat baginya untuk bisa mengatakan perihal ultimatum Keluarga Lorwerth pada Irene. Namun, Zean juga tidak bisa terus menyembunyikannya dari Irene, bagaimana pun juga Zean harus tetap mengatakannya.


“Aku akan mengatakannya sekarang, aku tidak mau kau terus menungguku,” putus Zean akhirnya.


Irene hanya diam menunggu Zean mengutarakan apa yang hendak pria itu ucapkan padanya.


Tangan Zean tergerak mengusap kedua pipi Irene seraya menatap wanita itu lekat-lekat, tapi mendadak tatapannya berubah nanar.


“Haruskah aku benar-benar mengatakannya padamu?” tanya Zean.


Irene masih diam, ia tidak tahu harus berkata apa dalam situasi seperti ini. Ia memilih untuk menunggu Zean saja.


“Ada ultimatum dalam Keluarga Lorwerth. Ultimatum itu tentang hak waris Keluarga Lorwerth,” ucapan Zean menggantung. Ia menarik napas perlahan kemudian melanjutkan kembali ucapannya. Akhirnya Zean pun mengatakan semuanya tentang Ultimatum Keluarga Lowerth yang ia bicarakan di Boston hari itu. Tidak ada satu pun yang tertinggal, tidak ada yang dismebunyikan, Zean mengatakan semuanya dengan penuh kejujuran.


Irene menutup mata sejenak lalu ia tersenyum sambil menatap Zean dan merengkuh kedua tangan pria itu. Irene berusaha terlihat tegar, sedikit pun ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya di hadapan Zean. Irene tidak boleh menjadi beban untuk suaminya itu, Irene harus bisa meyakinkan Zean agar pria itu mau melakukan yang terbaik demi Ultimatum Keluarga Lorwerth, demi penerus keluarga itu.


“Aku ikhlas, Zean. Kumohon lakukanlah yang terbaik demi ultimatum dan penerus Keluarga Lorwerth,” pinta Irene.


Zean melepas tangan Irene yang menggenggam tangannya, sepertinya Zean tahu ke mana arah pembicaraan ini nantinya.


“Kumohon, Zean. Berhentilah menghindariku atau mencoba lari dari masalah ini,” pinta Irene lagi.


Zean mengabaikan Irene, ia sibuk menatap langit yang kini berganti gelap. Irene mendekati Zean, ia berdiri tepat di hadapan pria itu.


“Tatap aku, Zean.” Irene menangkup wajah tampan Zean agar pria itu menatapnya.


“Menikahlah dengan wanita lain, Zean. Menikahlah dengan wanita yang bisa memberimu keturunan untuk melanjutkan penerus Keluarga Lorwerth,” ucap Irene dengan penuh keikhlasan.


Zean langsung menggeleng, ia menolak keras ucapan Irene. “Aku akan melakukan apapun tanpa harus mengorbankan perasaanmu. Aku tidak akan membiarkan kau hidup berdampingan dengan wanita lain, bahkan memikirkan aku harus belajar mencintai wanita lain pun aku tidak bisa.”


“Zean,” ucap Irene frustrasi.


“Kumohon, Irene. Percayalah padaku, aku sudah sempat berkonsultasi secara daring dengan seorang dokter hebat dari Singapore, Dokter Kelly Lord. Masih ada jalan keluar, kita masih bisa memiliki keturunan melalui program In Vitro Fertilization/IVF (bayi tabung) dengan bantuan ibu pengganti,” ungkap Zean.


Sebenarnya selama ini Zean tidak hanya berdiam diri, ia selalu sibuk memikirkan berbagaimacam cara agar bisa memiliki keturunan tanpa harus menikah dengan wanita lain. Melalui program IVF atau bayi tabung dengan bantuan ibu pengganti ini, Zean hanya perlu mengikuti prosedur sesuai arahan dokter dan menemukan seorang wanita yang bersedia meminjamkan rahimnya sebagai ibu pengganti.


Irene menatap nanar Zean, rasanya mata Irene mulai memanas dan segera akan meneteskan bulir bening. Irene sama sekali tidak tahu jika Zean selama ini mencaritahu berbagaimacam hal agar mereka bisa memiliki keturunan, sedangkan selama ini Irene hanya terus memaksa Zean menikah dengan wanita lain.


“Maafkan aku, Zean,” lirih Irene dan tangisnya pun pecah.


Tangan Zean tergerak menyeka air mata wanitanya itu. “Hei, kenapa?”


Zean bingung dengan perubahan emosi pada Irene. Zean pikir istrinya akan senang mendengar kabar baik ini, tapi faktanya sekarang istrinya malah menangis seperti ini.


Irene langsung berhambur ke pelukan Zean. “Maaf selama ini aku tidak memikirkan perasaanmu, aku terus memaksamu mencari wanita lain agar kau bisa memiliki keturunan bahkan aku sangat bersedia dimadu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan berjuang keras untukku, hiks...”


“... aku mencintaimu, Zean. Maafkan aku.”


Zean mengelus kepala Irene seraya mendekap wanitanya itu erat-erat. “Aku mencintaimu, Irene. Aku akan melakukan apapun untukmu.”


“Terima kasih, Zean.”