QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BATAL



Suara rengekan menangis tanpa air mata terdengar, menatap tetesan air hujan yang perlahan semakin lebat.


Pelangi menatap hujan yang terus turun dari jendela kamar Mama Papanya, terlihat sekali wajahnya sedih karena rencananya ke pantai gagal total.


"Hujan, kenapa jahat sekali kepada Pelangi? sudah lama Pelangi rencana duduk manis di atas pasir pantai, tapi hujan tiba-tiba turun membasahi bumi, jadinya rencana Pelangi batal. Hiks hiks hiks, ayolah hujan berhenti, Pelangi kecewa sekali kepada hujan." Tangan Pelangi menyentuh kaca jendela, melihat banyak tetesan air yang terus membasahi jendela.


Rain dan Ratu menahan tawa, masih berpelukan di dalam selimut karena cuaca hujan membuat tidur lebih nyaman dan hangat.


Mendengar suara Pelangi berkeluh kesah membuat Ratu dan Rain cekikan pelan, meratapi nasibnya yang gagal ke pantai.


"Mama, Papa," panggil Pelangi mencoba membangunkan.


Tidak ada yang merespon rengekan Pelangi, masih berpura-pura tidur karena tahu jika Pelangi akan membuat masalah jika sampai direspon.


Kepala Pelangi tertunduk, berjalan ke arah pintu langsung keluar mencari kakaknya yang sedang asik bermain game bersama Uncle Michael.


"Nona Pelangi kenapa sedih?" perawat mengusap lembut kepala Pelangi.


"Hati Pelangi sakit karena tidak bisa pergi ke pantai," jawab Pelangi yang berjalan terus mencari kakaknya.


Raja sedang asik memainkan game sampai kedua tangannya sibuk menekan tombol, menoleh sekilas melihat ke arah adik kecilnya yang sudah menempel dipunggung.


Kedua tangan Pelangi sudah melingkar di dada, tidak ingin melepaskan Raja sedikipun meskipun tahu kakaknya sedang sibuk.


"Pelangi, leher Kakak sakit."


"Lebih sakit hatinya Pelangi." Hentakan kaki Pelangi terdengar, pindah duduk di pangkuan Kakaknya.


Michael tertawa kecil melihat Raja yang tidak marah sama sekali diganggu oleh Adiknya yang memegang tangan untuk ikut bermain.


Tangisan Pelangi terdengar, Raja melepaskan mainannya menggedong adiknya yang terlihat sangat bosan.


"Kenapa?"


"Mau ke pantai," ujar Pelangi yang menangis kencang.


Keduanya keluar rumah, berjalan di taman melihat hujan yang turun lebat. Raja duduk memangku Pelangi menatap hujan.


"Kemungkinan minggu ini ujan akan turun setiap hari, angin laut juga kencang dan ada badai." Raja meminta Pelangi menatap hujan yang sangat lebat.


"Pelangi tahu jika nama Papa Rian yang berartikan hujan?"


"Kenapa nama Papa hujan?"


Senyuman Raja terlihat menatap hujan deras karena bagi Raja hujan memiliki banyak kenangan juga arti yang besar.


Meksipun bagi sebagian orang hujan sangat menganggu, tapi sebenarnya hujan memiliki banyak manfaat bagi para petani, tumbuhan, hewan bahkan manusia.


"Papa Pelangi sama Kakak Raja juga banyak manfaatnya, Papa selalu membantu orang yang membutuhkan. Rain memang yang terbaik, Pelangi tidak kecewa lagi karena Pelangi sayang Rain." Kedua tangan Pelangi memeluk tubuhnya.


"Biasanya setelah hujan akan muncul Pelangi di atas Langit, nama Pelangi dan Langit memang saling ketergantungan." Raja tersenyum menatap adiknya yang cemberut karena tidak menyukai Langit.


Dari jendela Rain dan Ratu merasa bangga karena tidak sia-sia mengajari Raja dengan keras karena dia tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa.


Sejak Pelangi lahir Raja menjadi Kakak yang sangat siaga, selalu memprioritaskan adiknya yang sangat nakal.


"Papa Mama," panggil Pelangi sambil melambaikan tangannya.


"Papa selalu mengatakan tidak boleh jahil sama Kakak Langit, dia sayang sama Pelangi. Jadi anak perempuan harus ...."


"Anggun," jawab Pelangi sudah bisan dengan ucapan Papanya.


Senyuman Ratu terlihat, memeluk Raja dari belakang. Mengecup pipi putra kesayangannya yang sangat dewasa.


"Ma, seandainya Raja sekolah di luar negeri boleh tidak?"


"Tidak," jawab Ratu dan Rain tidak mengizinkan Raja pergi diusianya yang masih kecil.


Usapan tangan Rain lembut ke arah putranya, meminta Raja belajar bersamanya lebih dahulu, setelah Raja mampu membela diri, melindungi diri, maka Rain mengizinkannya untuk mengenal dunia luar.


Selama ingin belajar maka Raja akan sehebat Papanya, dan lebih dihormati banyak orang bukan karena status, tapi kemampuan, pangkat, dan gelar yang berhasil digapai.


"Pelangi nanti jadi apa?"


"Pelangi sukanya apa?" Rain menggedong Putrinya untuk pindah ke pangkuannya.


"Membuat kekacauan." Tawa Pelangi terdengar.


Kepala Rain geleng-geleng, menarik telinga Pelangi yang masih tertawa. Kedua tangan Pelangi menarik telinga Papanya membuat keduanya tertawa.


"Kamu tahu Papa ingin yang terbaik untuk Pelangi, jangan suka membantah, paham."


"Pelangi ini anak baik, Papa seharusnya bangga." Seluruh wajah Rain mendapatkan kecupan.


Iler Pelangi menempel di mana-mana membuat tawa Pelangi cekikikan sampai perutnya sakit.


Ratu duduk di samping Raja, menyadarkan kepalanya sambil menatap hujan yang mulai rendah.


Di atas langit terlihat sangat indah, pelangi muncul setelah hujan. Raja menunjuk ke atas meminta Pelangi melihat cahaya indah.


Mulut Pelangi menganga merasa kagum dengan keindahan langit karena pelangi muncul dengan sangat terang.


"Cantiknya seperti Pelangi." Tangan Pelangi bertepuk merasa sangat senang.


"Pa, di mana Pelangi bisa menemukan pelangi?"


"Tidak bisa ditemukan, pelangi sebuah cahaya. Apa yang terlihat dekat sebenarnya sangat jauh."


"Pelangi sudah ada di sisi kita, dia cantik, bercahaya, juga berbahaya." Jari Ratu menunjuk ke hidung putrinya.


"Mama ini sudah memuji lalu membanting, ayolah kita ke pantai, hujan sudah reda." Kedua tangan Pelangi memohon.


Kepala Rain mengangguk, meminta semua pengawal bersiap, memberitahu Krisna dan keluarganya.


"Papa, teman-teman Pelangi ada tidak?"


"Ada, nanti pasti ramai di sana." Rain memeluk Putri kesayangannya yang terlihat bahagia.


Dari balik pintu Michael menatap keluarga kecil kakaknya yang terlihat bahagia, hanya dirinya yang menjadi jomblo kesepian.


"Kak, carikan Michael jodoh, capek jomblo."


"Tenang saja, sudah ada. Kapan kamu siap menikah?" tanya Ratu.


"Siapa?" Michael langsung jalan cepat duduk di samping Kakaknya.


Tangan Ratu terangkat, perawat pribadi Pelangi datang membuat Michael tersenyum kecil langsung menggeleng.


Bukan hanya Michael yang geleng-geleng, Rain dan Raja juga mengeleng meminta Michael mencari yang lain.


"Tidak mau yang ini, sama saja mencari lawan berperang."


"Uncle tiap malam saling suntik siapa yang duluan pingsan," ujar Raja menyindir.


"Aku menyuntik pingsan, sekali dia menyuntik mati." Kepala Michael geleng-geleng karena perawat Pelangi juga cukup hebat dalam medis.


Tidak ada senyuman mendengar suara celotehan banyak orang, Pelangi membela perawatnya yang baik dan sangat menyayanginya.


Ratu setuju dengan Pelangi karena apa yang perawat lakukan sesuai ajaran Ratu, harus kuat, berani dan tidak mudah menyerah dalam situasi apapun.


"Saya tidak akan pernah menikah Nona, hidup dan mati hanya untuk melayani Nona Pelangi," ucap perawat yang membuat semua orang terdiam karena melihat kesetiannya.


***


Follow Ig Vhiaazaira