QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
TERJEBAK



Kabar soal Lilis yang turun tangan menghentikan pembunuh bayaran mendekati Rain dan keluarga kecilnya membuat Ratu memutuskan turun tangan sendiri.


"Siapkan penerbangan sekarang juga." Ratu melangkah ke lantai atas kastilnya.


"Nona Ratu, mengapa Lilis menghentikan Nona?" Pengawal Ratu tidak menyukai cara kerja Lilis yang akan membahayakan Ratu kembali sama seperti tiga tahu yang lalu.


"Jangan mencoba menjelekkannya." Ratu menatap ke arah helikopter yang akan mengantar Ratu menuju jet pribadinya.


Mata Ratu terpejam, menahan dirinya karena tidak ingin menyimpulkan sesuatu. Mustahil jika Rain tidak mengetahui jika dirinya yang mengirimkan pembunuh bayaran.


Tidak membutuhkan waktu lama, Ratu tiba di negara yang akan menjadi tempat paling menyakitkan bagi Rain karena akan segera kehilangan anak istrinya.


Kedatangan Ratu disambut oleh Michael yang binggung karena penjagaan sangat ketak. Ratu menghampiri Michael yang tidak ingin menatapnya.


"Ada apa dengan wajah kamu?"


"Seharusnya Michael yang bertanya, kenapa Kak Ratu mengirim banyak pejahat?" Michael mengikuti Ratu dari belakang.


Ada penyesalan di dalam hati Michael karena memberitahu kakaknya soal Rain, dipikirnya Ratu dan Rain sepasang kekasih, tapi ternyata musuh bebuyutan.


"Bawa Michael, jangan sampai Lilis maupun Rain tahu jika aku datang." Ratu mengemudi sendirian tanpa penjagaan.


"Tuan muda harus segera pulang," ujar pengawal yang menahan tangan Michael.


"Lepaskan aku anjing, kalian pikir aku tidak mampu mengalahkan kalian?" Michael masuk ke dalam mobil menolak untuk pergi.


Panggilan Michael tidak dihiraukan, Ratu lepas kendali lagi ingin menghabisi istri Rain dengan tangannya sendiri.


"Aku harus memberitahu Rain." Terpaksa Michael menuju hotel tempat Rain berada, berharap bisa bertemu.


Mobil berhenti di hotel mewah, Michael binggung cara dirinya masuk. Tidak tahu informasi apapun soal Rain.


"Kenapa kamu ada di sini?" pengawal Raja yang keluar membeli susu tidak sengaja melihat Michael.


"Bawa aku bertemu Rain, sekarang juga."


Pengawal menganggukkan kepalanya, meminta Michael mengikutinya ke kamar Rain.


Ketukan pintu terdengar, Krisna membukakan pintu menatap seorang pemuda yang tidak asing namun Kris lupa.


"Aku Michael, Putra Albert. Bukan Albert, tapi Miko."


"Masuklah, jangan terlalu lama di luar." Pintu terbuka lebar mempersilahkan Michael masuk.


"Hore susu datang, kenapa susunya besar sekali? tidak sekalian Om bawa sapi ke sini." Tawa Raja terdengar melihat Michael datang.


Kepala Rain menoleh ke arah Michael, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rain untuk menyambut kedatangan Krisna.


"Ternyata kamu berhasil membuat Ratu keluar dari wilayahnya, dikarenakan tidak bisa masuk ke sana maka Ratu yang berkunjung." Sekarang Michael paham kenapa Rain terkenal sangat cerdas.


Saat ponsel hidup Rain langsung tahu di mana Ratu berada, bahkan tahu jika tidak bisa masuk meskipun dirinya datang.


Kecerdasan Rain sangat Michael akui, dia mengundang beberapa pengusaha ilegal agar salah satu bawahan Ratu terpancing.


"Kedatangan aku ke kota ini pasti bagian dari rencana kamu?"


"Tidak juga, aku tidak berencana bertemu kamu, tapi aku memang akan membuat Ratu keluar. Tanpa sengaja rencana berjalan tanpa aku banyak kerja." Kedua tangan Rain bertepuk diikuti oleh Raja padahal dia tidak mengerti apapun.


"Ye Papa Raja, Papa jagoan."


"Tidak nyambung, lebih baik kamu tiduran sambil menyusu daripada berisik." Krisna menyumpal mulut Raja menggunakan botol susu.


Senyuman Michael terlihat menatap wajah adiknya yang sangat tampan, Michael tidak mungkin salah mengenal jika Alip masih hidup.


"Kenapa kamu membesarkan Alip?"


Lirikan mata Rain tajam, dirinya juga keberatan membesarkan Alip. Seharusnya Michael dan Ratu yang membawanya dan merawatnya bukan menjadi beban Rain.


Perasaan Michael sakit mendengar ucapan Rain yang tidak menginginkan Alip, dia begitu tega bicara langsung kepada di depan Alip.


Ketukan pintu kuat, Krisna mendapatkan panggilan jika perawat Hera diculik secara paksa.


"Rain, perawat Hera diculik saat ingin makan keluar."


"Inilah akibatnya tidak mendengarkan ucapan aku." Rain melangkah keluar bersama Krisna hanya pengawal yang berjaga.


Remasan tangan Michael kuat, dia tidak berani meninggalkan Alip sendirian apalagi Ratu bisa muncul kapan saja.


"Alip, apa Papa kamu bersikap jahat?"


"Nama aku Raja, aku King. Papa Rain sangat baik, Raja sayang sama Papa." Tangan Raja menepuk tempat tidur agar Michael tidur di sampingnya.


Perlahan Michael naik, baru tahu jika adiknya berganti nama menjadi Raja. Anak yang sangat manis, mirip dengan Rain tingkahnya menggemaskan seperti Putri.


"Seberapa besar sayangnya Papa?"


"Seluas lautan, dan setinggi langit. Papa sayang sama Raja, meksipun Papa suka marah." Tawa Raja terdengar memberikan botol susunya yang masih banyak.


Ejekan Michael terdengar, Raja sudah besar masih saja minun susu. Seharusnya sudah makan.


"Papa juga suka marah karena Raja masih minum susu, tapi Raja haus. Om, belikan Raja daging, lihat perut Raja masih Rata." Baju Raja terangkat, menujukkan perutnya yang buncit, tapi langsung dikempeskan.


Tawa Michael terdengar, diiringi dengan air mata. Seandainya Putri masih hidup dia pasti sangat bahagia bisa bertemu Raja.


Kesedihan di wajah Michael bisa Raja mengerti, pasti Michael tidak memiliki uang sama seperti dirinya.


"Kita harus menunggu Papa agar bisa membeli daging, nanti juga Papa pasti marah karena Raja makan daging terus. Haruskah Raja pesan dua, daging dan sayur, tapi sayurnya tidak perlu dimakan." Tawa Raja terdengar berkali-kali dimarah masih saja terus diulangi.


"Ini sepertinya sikapnya Kak Ratu karena sangat licik." Gelengan kepala Michael terlihat.


"Ratu itu Mamanya Raja."


Ucapan Raja mengejutkan Michael, Rain mengajarkan kepada Raja jika Ratu mamanya bukan kakaknya.


"Ternyata Rain memang baik, dia menutupi siapa Raja membuatnya menjadi anak baru bukan anaknya pengkhainatan dan pembunuh," gumam Michael yang memeluk lembut Raja.


Mata Raja dan Michael terpejam, tidak menyadari jika dua bodyguard sudah jatuh pingsan di depan pintu.


Ratu melangkah masuk mencari keberadaan anaknya Rain, Ratu ingin memastikan jika anak kecil yang mirip Rain bukan anaknya.


"Di mana mereka, bukannya Rain hanya membawa dua pengawal." Ratu hanya menemukan kamar kosong. Sia-sia dia memerintahkan untuk menangkap istri Rain, jika gagal melihat putranya Rain.


Suara pintu terbuka terdengar, Ratu berlindung agar bisa melihat siapa yang datang mengunjunginya.


"Apa kabar Ratu? sudah aku katakan jika kita akan bertemu kembali." Suara yang sangat Ratu kenali, tidak mungkin salah karena mereka selalu bersama.


Tangan Ratu tergempal, kemapuan Rain semakin hebat. Dia tidak membutuhkan banyak pengawal hanya untuk menjebak Ratu.


"Kamu ingin minum apa? bisa kita bicara dari hati ke hati, meksipun aku tahu kamu membenci aku." Rain duduk di sofa menatap minuman yang dibuatnya.


"Kenapa kamu menjebak aku? sedangkan istri kamu sedang tergantung?" Ratu menolak menujukkan wajahnya karena belum siap bertemu.


***


follow Ig Vhiaazaira