QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SIKSA



Saat tiba di gedung tua yang sangat gelap gulita, Rain menatap Ratu dan Lilis yang berpenampilan sangat berbeda. Tatapan mata yang menyeramkan, bisa Rain rasakan kekejaman keduanya.


Suara high heal dua orang berjalan terdengar, Rain hanya mengikuti dari belakang berjalan perlahan melihat sekitar.


Jika tidak ada cahaya bulan mungkin tidak tahu arah jalan ke mana karena hanya suara hewan yang menandakan hari sedang malam.


Gerbang terbuka, Rain hanya melihat cahaya kecil dan seorang wanita tergantung kaki ke atas, sedangkan kepala di bawah.


"Lepaskan aku, kamu tidak akan mendapatkan apapun," pinta Aryani tanpa membuka matanya karena tahu siapa yang datang.


"Aku datang untuk mengakhiri semuanya, kamu akan merasakan kematian paling menyakitkan." Ratu duduk santai menatap Aryani yang membuka matanya.


Perhatian Aryana fokus kepada Rain, menunjukkan wajah penuh penderitaan karena tahu Rain tangan kanan Krisna, seseorang yang cukup berpengaruh di keluarga Petro.


"Selamatkan aku Tuan Rain," pinta Aryani dengan nada pelan.


Lirikan mata Ratu tajam ke arah Rain yang ternyata mengenal baik Aryani, tapi Rain tidak memberikan ekspresi apapun.


"Siapa dia, kenapa kamu begitu yakin jika kemunculan Rain bisa menyelamatkan kamu?" Lilis melemparkan belati sampai tali yang mengikat putus.


Tubuh Aryani ambruk ke bawah, kepalanya tersungkur lebih dulu. Benturan kuat terdengar membuatnya tidak bergerak sama sekali.


Rain masih saja diam memperhatikan, apapun yang dilihat dan rasakan tidak memberikan ekspresi apapun.


Melihat Rain diam membingungkan Ratu dan Lilis yang berpikir jika Rain akan mengeluarkan sepatah dua patah saat bertemu Aryani.


"Ini terakhir kali aku bertanya, jelaskan apa yang terjadi kepada Elisha?"


"Aku tidak tahu, sampai kapanpun tidak akan memberitahu karena memang aku tidak tahu," jawab Aryani tenang, dia tidak akan menghentikan Ratu jika ingin membunuhnya karena tidak akan memberikan informasi yang diinginkan.


"Bukannya ini sudah terlalu lama, kita harus selera melenyapkan dia tanpa alasan karena percuma saja membiarkannya hidup membuang waktu." Lilis meminta izin untuk segera melenyapkan Aryani mereka harus menemukan cara lain untuk menemukan kebenaran.


Tawa Aryani terdengar, dia tidak takut dengan ancaman Lilis maupun Ratu, Aryani tahu jika dirinya mati maka keduanya gagal, meskipun mengatakan sesuatu dirinya akan tetap dilenyapkan maka tidak ada untungnya Aryani mengatakan apapun.


Ratu langsung berdiri, melayangkan pukulan di kepala Aryani yang tertawa kecil mengejek Ratu yang napak begitu putus asa.


"Lenyapkan dia, berikan penyiksaan paling pedih. Detik-detik kematian harus dirasakan agar dia tahu sakitnya kematian," perintah Ratu terdengar, Lilis membungkukkan sedikit kepala untuk menjalankan tugasnya.


"Kenapa Tuan Rain di sini, apa yang membawa Tuan ke sini? Kenapa aku harus memanggil Tuan, bukannya kamu juga seorang budak?" Aryani mengulur waktu agar Rain bisa menyelamatkan.


Meskipun Rain terkenal sangat dingin, tapi dia pria yang begitu penyayang tidak tega jika wanita tersakiti.


Seburuk apapun sikapnya tidak akan mampu menghadapi wanita dan anak kecil, Aryani yakin pasti Ratu orang yang menekan Rain.


"Lakukan pun yang ingin dilakukan, aku tunggu di luar." Rain melagkah ingin pergi meninggalkan tiga wanita.


"Tunggu, kamu tidak berniat menolong aku. Bukannya av aku juga waanita?"


"Ya, kamu wanita, tapi tidak pantas disamakan dengan wanita, kamu menyakiti sesama wanita tanpa peduli jika dia seorang remaja, maka di mana hati nurani kamu?" Rain balik badan menatap Aryani yang mulai ketakutan.


"Apa aku begitu kejam, kita sama Rain, tugas kamu juga menutupi keburukan Krisna," ujar Aryani dengan suara tinggi karena dia tahu hubungan Krisna dan Rain.


Apapun yang terjadi maka sudah terjadi, Rain tidak bisa mengubahnya. Jika Krisna memang salah, maka lakukan hukuman setimpal, tapi Rain yakin jika Krisna hanya kambing hitam.


"Bagaimana proses kalian melakukannya, sudah pasti kalian manusia yang tidak punya hati." Perasaan Rain tidak nyaman seandainya Elisha adiknya atau keluarganya, pasti akan hancur jika dianggap sebagai korban pelecehan.


"Kamu akan tamat di tangan Tuan Clen, hidup kamu juga tidak akan lama lagi jika sampai kasus Elisha terbongkar."


Tawa Rain terdengar Pelan, dirinya tidak pernah berpikir rencana hari esok karena tidak pernah tahu kapan usianya berakhir, kapanpun itu, Rain menantinya dengan senang hati.


Kepala Rain tertunduk pelan, langsung melangkah ingin pergi, membiarkan Ratu melakukan apapun yang dia inginkan.


"Nona Aryani, bagaimana jika penerus Albert putramu yang masih remaja itu, haruskan Ratu menemukannya?" Rain tersenyum melihat ke arah Aryani.


Ekspresi Aryani tersentak kaget, Ratu dan Lilis bisa melihat mimik wajah Aryani yang nampak sangat takut.


Senyuamn Rain terlihat melangkah mundur menutup gerbang tanpa mendengarkan panggilan Aryani agar Rain kembali.


"Wow, ternyata anak itu kunci dari masalah ini, Lis, temukan anak itu bawa dia kepadaku. Tidak peduli terbuat dari sangkar emas sekalipun hancurkan penjagaannya." Tawa menggelegar Ratu terdengar merasa senang melihat wajah Aryani yang ketakutan.


"Jangan sentuh anak itu Ratu!"


"Aku akan membunuhnya dihadapan kamu, tunggu sebentar saja."


Teriakan Aryani terdengar langsung berlutut memohon agar Ratu tidak menyentuh anaknya, Aryani akan memberitahu apapun yang Ratu butuhkan asal tidak menyentuh anaknya.


Kehidupan Aryani tidak penting, tapi masa depan anaknya sangat berarti baginya karena sudah membentuk masa depan yang cemerlang.


"Kamu menjadikan anakmu putra mahkota, tapi melenyapkan para putri mahkota, dasar perempuan laknat. Kamu seharusnya sejak awal bicara sehingga anak kamu tidak harus menderita." Lilis meminta Ratu melakukan rencana awal untuk melenyapkan Aryani karena tidak membutuhkannya lagi.


Kepala Aryani menggeleng, dia langsung mengakui jika Elisha sudah mendapatkan penyiksaan sejak berusia sepuluh tahun, dia tidak dicintai juga dianggap benalu.


Elisha harus menjalankan kehidupan yang diatur oleh Albert, melakukan apapun yang Albert inginkan sehingga segala aktivitas Elisha berjalan sesuai keinginan papinya.


Elisha tidak punya peluang untuk mendapatkan kebebasan dirinya sendiri, dia mengagumi depresi sudah lebih dari dua tahun, tapi puncak keparahan di mulai dari malam pesta bersama temannya.


"Kalian memberikan obat apa selama ini?"


"Obat penenang, Elisha sering mengamuk setelah mengalami pelecehan," ucap Aryani yang tidak berani menatap Ratu.


"Siapa saja yang melakukan pelecehan?"


"Aku tidak tahu, aku meninggalkannya bersama puluhan lelaki. Orang terakhir yang ditemukan bersama Elisha hanya Krisna, tuan Albert memiliki buktinya." Aryani hanya menjalankan perintah Albert untuk menyiksa Elisha.


Tangan Ratu tergempal kuat, bukan Petro orang pertama yang harus Ratu hancurkan, tapi papinya sendiri, bajingan yang membawa mereka berdua ke dunia, tapi dia juga yang menggali lubang untuk mengubur.


***


follow Ig Vhiaazaira