
Suara Raja yang berisik membangunkan Ratu, minta Putranya yang menangis sambil memeluk lengan, Rain sudah berusaha menenangkan, tapi masih membuatnya menangis kencang.
"Raja, sudah punya adik masih cengeng. Kenapa?" Ratu tersenyum kecil membuat Raja dan Rain langsung memeluk erat.
Air mata Rain juga menetes, mengecup kening istrinya. Rain sangat mencemaskan Ratu sampai tidak bisa berpikir jernih.
"Di mana anakku?" Ratu melihat sekelilingnya tidak ada siapapun.
"Raja di sini Ma," jawab Raja berpikir jika dirinya yang dicari.
Tangan Ratu mengusap perutnya yang tidak ada pergerakan lagi langsung menangis menyadari apa yang terjadi kepadanya.
"Sayang, Putri kita sudah lahir," Ucap Rain yang mencoba menenangkan.
"Putri ... Dia perempuan, bukan laki-laki?" tanya Ratu karena prediksi dokter laki-aki.
"Dia perempuan yang sangat cantik, jangan menangis. Saat ini mungkin sedang main bola karena lahir saja tidak mau menangis, atau aku yang tidak mendengarnya menangis," Canda Rain menceritakan ketegangan di dalam ruangan persalinan karena hanya ada Rain dan satu perawat.
Rumah medis sedang dalam proses pengembangan sehingga dokter belum berkumpul karena Rain tidak ingin ada sembarangan doker yng masuk, sehingga harus melewati seleksi ketat.
Senyuman Ratu terlihat, mengucapkan terima kasih karena Rain mendampingi sampai akhir persalinan.
"Aku yang mengucapkan terim kasih sayang karena kamu sudah berjuang, maaf karena aku tidak bisa melakukan apapun," ujar Rain mengecup lama telapak tangan Ratu.
"Sebenarnya Adik Raja cowok atau cewek?" tanya Raja penasaran.
"Cewek, tapi Raja juga punya adik cowok." Rain mengusap kepala Putranya.
Kepala Raja mengangguk, mengecup pipi Mamanya pamit untuk keluar. Raja sudah lelah dan butuh tenaga.
"Kamu ingin pergi ke mana Raja, nanti lihat adik bersama Papa," tegur Rain kepada putranya yang sudah memakai sepatu.
"Raja mau cari makan dulu Pa, Raja bisa mati kelaparan karena tidak ada makanan." Raja mengusap perutnya yang lapar dan haus juga matanya mengantuk.
Tawa kecil Ratu terdengar menatap Raja yaang sudah pergi keluar mencari pengawalnya untuk mencarikan makan.
Ketuan pintu terdengar Lilis sudah bisa jalan melihat ke arah Ratu yang akhirnya sadar, sekuat mungkin Lilis menahan air matanya karena dia ahu Ratu pasti baik-baik saja.
"Kenapa kamu ke sini, di mana Langit?"
"Bagaimana keadaan Nona, sudah baikan?"
Kepala Ratu mengangguk, dirinya hanya masih lemas karean banyak kehilangan tenaga dan darah.
"Bagaimana kondisi bayinya?" Kris belum sempat melihat anak Rain.
Tidak beberapa lama perawat yang membantu Ratu lahiran masuk, membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menyapa Ratu dan Lilis yang sangat dihormatinya.
"Ini putrinya Tuan dan Nona," ujar Perawat yang meletakkan bayi di samping Ratu.
Senyuman Ratu terlihat karena bayinya sedang tidur pulas. Raat mengusap wajah putrinya yang sangat cantik mengucapkan selamat datang.
"Lucu sekali mirip Rain dan Raja," puji Kris yang melihat wajah Rain versi wanita.
"Iya gemes sekali, mana lahirnya cepat." Lilis mengusap pipi.
Teriakan Lilis terdengar karena bayi Ratu langsung membuka matanya, menarik kedua tangannya yang berada dalam bedong bayi untuk keluar.
"Aku terkejut, tidak ada kalemnya jadi perempuan." Lilis memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Kamu lihat saja siapa ibunya, Queen mafia." Senyuman Krisna terlihat mentap Ratu yang menatap tajam.
"Dia sudah menyusu belum?" tanya Ratu kepada perawat yang mengeleng.
Tatapan Ratu sangat menakutkan karena perawat membiarkan putrinya kelaparan, tidak memberikan apapun setelah lahir.
"Bayi bisa bertahan selama dua hari meksipun tidak menyusu, jika Nona Ratu sudah bertenaga kita bisa memberikan ASI." Perawat menatap Ratu yang menatap suaminya.
"Aku menyusui, bagaimana bisa?" Ratu mengerutkan keningnya.
"Ada bagusnya tidak daripada darah Ratu yang kejam mengalir di tubuhnya." Kris tertawan kecil, langsung melangkah pergi.
"Sekarang Kris tidak takut lagi padaku, beraninya dia berkata begitu." Ratu memutuskan menyusui anaknya daripada sibuk meminta susu seperti Raja.
Perlahan Ratu dibantu oleh perawat menggendong bayi, saat menemukan susunya langsung dihisap membuat Ratu kaget.
"Sayang sakit." Ratu mengenggam tangan Rain yang mengusap pipi putrinya agar minum perlahan.
"Dia tahu susu yang enak." Lilis gemes karena putranya kesulitan mencari susunya.
Senyuman Ratu perlahan terlihat, meminta maaf kepada putrinya karena terlambat menyusui.
"Siapa namanya Nona Ratu?"
Kepala Ratu menggeleng karena belum memikirkan nama jika bayinya perempuan, Rain juga sedang berpikir nama yang bagus untuk Putri kecilnya.
"Namanya Rainbow atau Pelangi." Ratu menatap Rain yang nampak terkejut.
"Rosea Pelangi, aku tidak ingin mengartikannya, tapi bagi aku dia seindah pelangi, sewangi bunga, dan memiliki kehidupan yang bebas dan luas seperti lautan." Rain menatap Pelangi penuh rasa kagum.
Kepala Ratu dan Lilis mengangguk, nama yang indah, ada tiga nama indah yang digabung.
"Welcome Pelangi, kamu buah cinta Mama dan Papa."
"Raja buah siapa?" Raja membawa paha ayam di tangannya.
"Kamu buah tangan Raja," balas Rain yang menatap putranya celemotan.
Tawa Raja terdengar, duduk manis menatap adiknya yang sudah tidur kembali. Mengusap wajahnya karena merasa adiknya sangat aneh.
"Kenapa, sini Kakak bantuin." Raja menarik tangan adiknya sampai keluar semua.
Ekpresi Ratu dan Rain terkejut, tapi tidak bisa berkata-kata lagi karena sudah terjadi. Raja membantu Adiknya mengeluarkan tangan.
"Raja, kemari kamu," panggil Rain meminta Putranya duduk di sofa bersamanya.
Rain bicara sangat lembut, menjelaskan kepada Raja jika apa yang dilakukannya bisa membahayakan Adiknya, apalagi menarik tangan bayi yang masih sangat kecil.
"Raja hanya membantu, soalnya tadi tarik-tarik."
"Papa paham, tapi mulai sekarang harus mengerti jika Raja tidak bisa menarik, mendorong dan bersikap kasar. Bagi Raja itu tidak sakit, tapi adik Pelangi dan Langit itu sangat berbahaya dan akibatnya fatal." Sedetail mungkin Rain menjelaskan, Raja wajib mendengarkan dan menjalankan apa yang di nasihat.
Kepala Raja mengangguk, menghabiskan ayamnya memberikan tulang kepada Papanya.
"Raja harus pegang pelan ya Pa, tidak boleh kuat." Raja berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya karena ingin menyentuh Adiknya.
Senyuman Ratu terlihat menatap dua bayi yang sedang tidur pulas, Raja mengelus keduanya pelan.
"Raja," panggil Ratu.
Rain menggedong Raja yang sudah tidur, memanggil Lion untuk membawa Raja pulang karena dia harus sekolah.
Kepala Lion menunduk, meminta maaf karena Raja sudah menghubungi gurunya jika dirinya tidak sekolah lagi.
"Maksudnya tidak sekolah lagi?" Rain terkejut.
"Katanya dia sibuk mengurus kedua adiknya, jadi tidak punya waktu untuk pergi sekolah."
Rain tarik napas panjang, menidurkan Raja di ranjang karena tidak bisa berkata-kata lagi. Bisa-bisanya Raja memecat gurunya tanpa pemberitahuan.
"Sayang jangan marah, Raja masih kecil."Ratu tertawa kecil memeluk putranya di dari belakang.
"Aku kehabisan kata-kata," ujar Rain pusing mengambil ponselnya untuk menghubungi guru Raja.
***