QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
MENYAKSIKAN



Tatapan mata Rain sayu, dia hanya bisa terdiam menatap kobaran api. Puluhan mobil pemadam kebakaran datang untuk menghentikan.


Tim penyelamat kesulitan karena ada dua tempat yang mengalami kebakaran, perusahaan besar juga hotel terbesar.


Langkah Rain mendekat melihat setengah tubuh Sinta sudah dilahap api, dia sudah meninggal sebelum api berkobar.


"Aku tidak akan menangisi kamu," ucap Rain yang terus melangkah mendekat.


Dua orang menahan Rain agar tidak mendekat, api semakin besar dan sulit untuk dipadamkan karena kurangnya tenaga bantuan.


"Apa yang kamu lakukan, cepat menyingkir!?" petugas mendorong Rain agar mundur.


"Wanita itu yang melahirkan aku, setidaknya dia harus dimakamkan secara layak." Rain menepis dua petugas tetap berjalan ke depan untuk membawa Sinta pergi.


Suara ledakan terdengar, beberapa kepolisian mendorong Rain menjauh memeganginya yang hanya bisa melihat tubuh Sinta hilang dilahap api.


Mata Rain bening, ada kobaran api dari matanya karena terlalu dekat dengan api. Penjaga menarik paksa Rain agar pergi.


"Rain, kamu kenapa? sadarlah." tanya polisi yang dekat dengan Rain karena banyak menyelesaikan kasus bersama.


"Aku tidak tahu harus memanggil Mama, Mommy atau Mami seperti yang anak lain memanggil orang tuanya." Senyuman Rain terlihat hanya bisa duduk menunggu.


"Kamu akan berusaha membawa sisa tubuhnya keluar," ucap keamanan yang kasihan melihat Rain.


"Tidak, biarkan saja di di situ." Tarikan napas Rain panjang berdiri dari duduknya melangkah ingin pergi.


Panggilan dari seseorang terdengar, Rain mengerutkan keningnya karena melihat Krisan berantakan.


Cepat Rain melangkah mendekat, memegang punggung Kris. Napas Krisna ngos-ngosan karena lari-larian keluar dari hotel.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu ada di sini?" wajah Rain sangat cemas ternyata Ratu juga ada di sekitar hotel.


"Jangan mencari Ratu, dia sudah pergi meninggalkan negara ini." Kris menarik tangan Rain untuk mengikutinya.


Tangan Rain mengambil ponsel, melihat rekaman hasil pembicaraan yang Kris dengar jika Sinta ternyata ibu kandung Rain, dia juga penyebab hancurnya hidup Ratu.


Tubuh Rain terduduk berkali-kali mendengarkan apa yang dibicarakan, Rain tidak menunjukkan ekspresi apapun karena berada dalam lamunan.


"Kenapa diam, ini bukan salah kamu. Apa yang Sinta lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan kamu?" Kris mencoba menenangkan Rain yang menginginkan bibirnya kuat.


"Ratu putrinya Albert, berarti dia Felisha yang diasingkan setelah mendapatkan penyiksaan?" Rain meremas ponsel kuat karena dirinya lahir, satu keluarga berantakan.


Sinta tidak mungkin balas dendam jika Rain tidak lahir, dirinya yang hidup sebatang kara alasan dendam hingga seorang anak kehilangan ibu, adik juga ayahnya.


"Berpikir dengan jernih Rain, Sinta melakukannya bukan karena kamu, tapi keegoisannya sendiri. Hanya karena kehilangan lelaki yang dicintainya hingga berbuat sejauh ini." Krisna meminta Rain tidak memikirkan soal Sinta, apalagi dia sudah mati.


Krisna memiliki satu masalah yang lebih besar, dirinya tidak tahu harus menghubungi siapa dan memberitahu siapa.


"Ada apa?" Rain mengikuti arah tangan Krisna yang menunjuk ke arah anak kecil yang sedang asik duduk menghisap jempolnya.


"Anaknya Albert, Ratu sudah pergi lalu bagaimana dengan anak itu?"


Lirikan si kecil ke arah Rain, senyuman terlihat semakin kuat menghisap jarinya karena lapar.


"Kenapa tangannya?"


"Sinta melepaskan infusnya secara paksa hingga berdarah, bahkan ingin menjatuhkannya dari balkon hotel. Ibu yang tidak punya hati." Tangan Krisna tergempal karena sangat membenci dendam Sinta hingga menyakiti banyak orang.


"Takit," ucap si kecil yang meringis kesakitan karena Rain memegang tangannya.


Ada seorang wanita berlari ke arah kerumunan karena melihat kebakaran, si kecil melangkah memanggil Mama hingga tubuhnya didorong oleh keramaian.


Kris langsung menggendong membawanya kembali ke tempat semula, Rian hanya bengong tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan.


"Rain," panggil Kris.


"Kita bawa anak ini ke rumah sakit, kamu jelaskan apa yang terjadi di hotel, baru kita putuskan soal anak ini." Rain menggedong dan merasakan badan panas.


Kepala Krisna mengangguk, melangkah ke mobil Rain untuk segera meninggalkan hotel. Kris memiliki hasil tes DNA keluarga Albert.


Ratu berencana melenyapkan Albert, tapi mengurungkan niatnya setelah tahu kebenaran soal Sinta. Kehancuran Albert bukan dengan kematian, tapi penyesalan.


"Aku tahu kamu merasa bersalah karena Sinta, tapi sekali lagi aku tegaskan masalah ini tidak ada urusan dengan kamu." Krisna berharap Rain tidak menyalahkan dirinya juga Ratu atas kematian Sinta.


"Ratu pasti membenciku, dia meninggalkan saat aku tidur membawa ponsel untuk menghilangkan jejaknya. Dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan." Kepala Rain menggeleng, salah dirinya karena memberikan ruang untuk seseorang di dalam hidupnya.


"Kamu mencintai Ratu?" tanya Krisna penasaran.


"Cinta, aku tidak mungkin berani Kris apalagi setelah tahu jika wanita yang melahirkan aku ternyata yang membuat hidup Ratu hancur. Mneunjukkan wajah saja aku tidak berani, apalagi mencintainya."


Meksipun Rain tidak mengatakan kejujuran, Krisna tahu jika ada Ratu di dalam hatinya. Rain bahkan datang ke hotel demi Ratu, tapi yang dia inginkan memilih meninggalkannya.


Saat tiba di rumah sakit Alip langsung dirawat, Kris pamit untuk mencari keberadaan Albert. Dia masih hidup karena seseorang mengatakan Albert yang memegang senjata membunuh Sinta.


"Albert pergi ke pemakaman Putri, dia pasti sedang meratapi nasibnya di sana. Pinta dia kembali karena masih ada anak kecil yang harus dia besarkan." Rain menatap Alip yang terbaring sambil menghisap telunjuknya.


"Aku rasa ini kelaparan?" Kris memberikan susu kepada Rain.


Saat susu diberikan, Alip menolak. Rain tidak tahu susu apa yang selama ini diminum sehingga menolak susu yang Kris beli.


"Kamu ingin maka apa?" Rain melihat ke arah pandangan Alip.


Senyuman sinis Rain terlihat, ternyata Alip sudah makan daging. Tepaksa Rain membelikan makanan daging.


"Pak, anaknya dirawat dulu sampai demamnya turun. Satu lagi Pak, anaknya harus makan sehat, jangan mengkonsumsi obat tidur."


Rain tersentak kaget karena Sinta tega sekali kepada Alip yang masih kecil diberikan obat tidur karena tidak ingin pusing menidurkannya.


"Penderitaan aku belum cukup, ditambah lagi satu anak tidak berdosa. Wanita iblis." Rain mengusap kepala Alip yang menangis karena Rain melarangnya menghisap tangan.


Perawat memberikan roti anak kecil, Rain memasukkan ke dalam mulut Alip yang langsung melahapnya.


"Sabar, aku tidak makan roti ini." Roti dipotong kecil agar mudah digigit.


Secara tiba-tiba Rain diam, Ratu wanita yang sangat baik. Dia tidak menyakiti Alip meksipun terlahir dari dua orang yang sangat dibencinya.


"Apa Queen akan menerima kita jika menemuinya, ibu yang melahirkan kita wanita kejam yang merenggut keluarganya." Kepala Rain tertunduk karena ingin sekali mendengar suara Ratu.


***


follow Ig Vhiaazaira