
Penutup kepala Raja dibuka, dia didudukkan di atas bebatuan. Mata Raja berkeliling melihat sekitarnya yang sangat asing.
Seorang pria berbadan besar, tinggi, hitam, bahkan tubuhnya penuh otot seperti film superhero yang pernah Raja lihat.
Senyuman Raja terlihat ke arah pria besar yang membawanya, tidak terlihat sisi baik sedikipun, tapi Raja tidak takut sama sekali.
"Halo Paman, nama aku Raja. Paman namanya siapa?"
Sapaan Raja tidak ditanggapi, Raja diam tidak melanjutkan pertanyaannya karena pria di depannya bisu dan tuli.
Hanya sesaat Raja duduk diam, saat melihat ada tebing bebatuan untuk memanjat terlihat langsung lompat dari tempat duduknya.
"Jangan bergerak," ucap pria berbadan besar mencoba menghentikan.
Raja tidak mendengarkan langsung menempel di dinding, suaranya tertawa terdengar karena berhasil manjat.
"Yee Raja bisa naik." Raja lompat ke arah akar menbuat pria berbadan besar berdiri di bawahnya untuk menangkap Raja yang tidak bisa diam.
"Hei anak kecil, kamu bisa diam tidak." Pria berbadan besar ingin menangkap kaki Alex, tapi dia sudah terjun ke bawah.
Kedua tangan Alex bertepuk tangan, menatap sekelilingnya yang terlihat sangat keren. Di luar ekspektasi Raja, alam luar sungguh sangat menyenangkan.
"Siapa nama Paman?"
"Saya tidak memiliki nama, kamu lebih baik duduk diam daripada aku penggal kepala ...." Belum selesai bicara Raja sudah manjat kembali.
"Semua orang yang lahir ke dunia ini ada namanya, bagaimana jika Raja berikan nama Lion, aku King dan Paman Lion." Raja menggaung layaknya Raja hutan yang sedang menujukkan kehebatannya.
"Anak kecil ini sudah gila, dia tidak bisa diam." Pria besar terkejut saat Raja menjabat tangannya.
Raja berlari keluar dari bebatuan, menarik tangan pria besar yang terpaksa mengikutinya.
Teriakkan Raja besar menatap sekitarnya yang penuh dengan hutan rimba, aromanya yang masih sangat khas membuat Raja lari-larian.
Pria besar memegang kepalanya karena pusing melihat Raja muncul di segala tempat, lalu hilang lagi.
"Aku menyesal membawanya, bagaimana cara aku membunuhnya jika dia saja tidak bisa diam?"
"Paman Lion, di sana ada air. Raja ingin berenang." Suara tangisan terdengar memaksa agar menuju sungai.
Tepaksa pembunuh bayaran mengikuti Raja menuju sungai yang mengalir, dari atas bukit Raja menatap air terjun.
Pembunuh bayaran melangkah mundur, mengeluarkan pisau kecil bersiap membunuh Raja.
Belum sempat pisau ditancapkan, Raja sudah terjun ke arah sungai membuat jantung pembunuh bayaran berhenti berdetak.
"Ke mana anak itu." Pisau langsung disembunyikan kembali.
Pria besar melihat ke bawah, Raja sudah ada di bawah sungai. Keluar masuk air hanyut terbawa arus yang deras.
"Dia tidak bisa berenang, tapi turun." Cepat pria besar juga lompat, mengejar Raja yang sudah terbawa arus.
Tangan Raja ditarik, langsung dipeluk erat karena Raja hampir mati tenggelam. Wajah Raja merah begitupun dengan matanya.
Suara tangisan terdengar, Raja mengusap wajahnya yang penuh air. Suara Raja batuk terdengar karena banyak minum air.
"Paman Lion ini tidak bilang jika dalam airnya." Pukulan Raja menampar pembunuh bayaran.
"Salah kamu sendiri yang langsung terjun."
Mata pembunuh bayaran terpejam, telinganya bisa menangkap suara dari segala arah. Keberadaannya sudah diketahui.
"Kita harus pergi dari sini?"
"Nanti, Raja belum puas main." Tubuh Raja digendong paksa langsung berlari kencang menjauhi dari suara.
Suara panah mendekat, pria besar langsung menghindar hingga menancap pohon. Tubuh Raja diturunkan di balik pohon. Paman melepaskan belati hingga mengenai lawan.
"Anak satu ini nakal sekali." Pria besar mengejar Raja langsung menggendongnya kembali hingga jatuh ke bawah jurang.
Raja bertepuk tangan melihat Paman besar bergantung hingga terjun santai dengan selamat.
"Ye kita menang." Raja merasa bahagia bisa bertualang karena Papanya tidak bisa bertualang hanya sibuk dengan buku.
Keduanya berlari karena masih terus dikejar, Raja merasakan perutnya lapar saat melihat ada buah di atas pohon.
"Paman, Raja lapar." Tangan Raja menujuk ke arah buah hutan.
"Kita tidak punya waktu untuk makan, lagian itu buah makanan ular."
"Ular, Raja suka ular. Sekarang Raja berubah menjadi Raja ular." Raja menirukan suara ular.
Paman mengabaikan ocehan Raja, dia heran karena secara tiba-tiba ada banyak pembunuhan bayaran yang mengerjakannya.
"Kenapa mereka semua ada di sini, seharusnya ada di gedung hitam?"
"Gedung hitam, Paman hitam, Tante hitam, Nenek hitam." Raja langsung bersembunyi saat melihat Nenek-nenek melangkah mendekati mereka.
"Berikan anak itu padaku, maka kamu boleh pergi." Pinta wanita tua yang ternyata ketua di wilayah tempat Raja berada.
"Tidak akan pernah, aku sudah sejauh ini. Maka tidak akan pulang dengan kegagalan." Paman menolak menyerahkan Raja yang masih ketakutan.
"Bunuh pria itu," perintah Nenek.
Puluhan orang berlari mendekat, membawa senjata tajam ingin membunuh Paman demi mendapatkan Raja sehingga bisa menemui Ratu karena berhasil membawa Raja dalam keadaan hidup.
Paman menurunkan Raja, menatap mata si kecil yang masih ketakutan karena melihat nenek tua.
"Jika aku mati, kamu harus lari. Mereka akan mengambil keuntungan dari Ratu."
"Mama Ratu," ucap Ratu memberitahu jika Ratu mamanya.
"Ratu memiliki anak, berarti ucapan Lilis benar jika hanya wanita yang bersama Rain yang dibunuh." Paman mengepalkan tangannya.
"Paman, ayo semangat. Lenyapkan mereka semua." Raja berdiri di atas kayu menyaksikan.
Suara pertarungan terdengar, Raja melihat semakin banyak orang yang datang. Pertarungan bukan hanya menyerang Paman Lion, tapi saling menjatuhkan tanpa pandang bulu.
Raja seakan melihat perang secara langsung dari segala penjuru. Keberadaan Raja menjadi incaran ratusan penjahat.
"Paman, Raja lapar. Mana makanan Raja, ayo cepat," teriakkan Raja terdengar menbuat ratusan orang yang bertarung ke arahnya.
"Apa dia tidak bisa menahan laparnya?" Paman tarik napas panjang.
Nenek melangkah mendekati Raja menawarkan makanan asalkan Raja ikut dengannya.
"Kamu ingin makan apapun ada di rumah Nenek," ucap wanita tua.
"Jangan Raja, mereka semua berbahaya. Cepat lari." Paman memberikan perintah
Raja berlari kencang menggunakan langkah seribu, Paman juga berlari membiarkan pertarungan berlangsung tanpa dirinya.
Tubuh Raja terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi, tenaganya habis jika kelaparan. Membutuhkan daging sapi dan susu sapi.
"Kamu baik-baik saja?"
"Raja lapar, Raja harus makan daging sekarang." Raja berguling menujukkan perutnya ke arah langit.
Suara ledakan terdengar di area pertarungan, Paman berdiri tegak sudah tahu siapa pelakunya. Wanita muda, kuat dan berkuasa yang beja memerintahkan ribuan pasukan dibawah kekuasaannya.
"Suara apa itu Paman Lion?"
"Ratu, dia datang dan melenyapkan siapapun yang gagal menjalankan perintahnya." Paman tahu dia tidak akan bisa lari dari Ratu dan bawahannya yang setia.