QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
AKHIR BAHAGIA



Hari yang paling Pelangi tunggu tiba, hatinya sangat bahagia melihat barang-barang yang akan diperlukan di pantai sudah dibawa ke mobil semua.


Gaun mewah impiannya sudah melekat ditubuhnya, Pelangi terlihat seperti seorang Putri mahkota bahkan kepalanya juga menggunakan mahkota.


"Ayo kita berangkat," perintah Rain yang melihat Ratu menatap sinis Pelangi.


"Baju apa yang kamu pakai Pelangi? Kita ingin ke pantai bukan pesta," tegur Ratu.


Bibir Pelangi monyong tidak peduli dengan ucapan Mamanya, berjalan santai menggandeng tangan Uncle Michael untuk masuk mobil.


Semua orang menggunakan baju santai, Pelangi satu-satunya yang menggunakan gaun pesta.


Beberapa mobil melaju beriringan untuk pergi ke pantai yang menepuk jalan lebih dari tiga jam.


"Pusing kepala Raja tidak sampai-sampai," ujar Raja yang memijit kepalanya.


"Siapa yang ingin pergi ke pantai?" Rain melihat ke arah Pelangi. Rambutnya sudah acak-acakan, mahkota sudah hilang, gaunnya juga terlepas hanya menggunakan baju dalam dan Pampers.


Ratu memangku Pelangi yang sudah tidur karena tidak terbiasa perjalanan jauh, berkali-kali muntah.


"Sudah Ratu katakan, dia hanya menyusahkan saja." Tatapan mata Ratu sinis melihat Putrinya yang tidur.


"Kenapa mobilnya Uncle berhenti? Michael menghentikan laju mobilnya melihat Lilis keluar mobil membawa Langit.


Tawa Raja terdengar melihat Pelangi dan Langit sama-sama mabuk perjalanan, Langit lebih parah sampai menangis.


"Bertahan Langit, sebentar lagi sampai." Michael menyemangati sambil tertawa.


Teriakkan Langit terdengar, memukuli mobil sangat kuat membuat Ratu dan Lilis terkejut. Langit tidak biasanya marah dan mengamuk.


"Ternyata mengikuti jejak Mamanya yang emosian," sindir Michael tertawa lucu.


Tangisan dan amukan Langit terdengar, menolak naik ke atas mobil lagi karena tidak ingin muntah-muntah.


Lilis kewalahan menasihatinya, Kris keluar dari mobil menatap tajam Langit memintanya masuk mobil atau tinggal di hutan.


"Langit tidak mau muntah Pa."


"Masuk Lis, biarkan dia tinggal sendirian di sini," bentak Krisna yang sangat keras kepada Langit.


Senyuman Rain terlihat karena Langit langsung masuk ke dalam mobil, Kris membuka kaca jendela dan atas mobil, Langit digendong berdiri agar tidak muntah.


"Pintar juga Uncle, kasihan anak ganteng ngamuk." Raja menatap Pelangi yang sudah bangun.


"Papa, mau gitu juga."


"Mau lewat mana kamu berdiri?" Rain menatap ke atas yang tidak bisa dibuka sama sekali.


Mata Pelangi terpejam kembali, tidak ada lagi semangat yang menggebu. Sampai di pantai Rain harus menggendong Pelangi yang tubuhnya lemas.


"Sudah ini jera kamu ke pantai." Rain meminta Perawat membawa baju Pelangi agar tidak kedinginan.


Sampai di Villa, Pelangi lanjut tidur, begitupun dengan Langit yang tidak berdaya lagi. Keduanya tidur lelap.


Raja sudah berlari kencang tanpa baju ke arah pantai, Michael dan Lion mendampinginya untuk bermain.


"Kalian semua berlibur bersama keluarga, tidak harus menjaga kami." Rain tersenyum melihat seluruh pengawal berlarian untuk pergi ke pantai.


Semua orang bersorak mengucapkan terima kasih kepada Pelangi karena sudah membuat mereka berlibur, sedangkan Pelangi masih tidur karena mabuk perjalanan.


Kedua tangan Ratu melingkar di pinggang suaminya, waktu begitu cepat berlalu. Sudah banyak perubahan yang terjadi.


"Sayang, dulunya tempat ini hanya hutan belantara, tapi sekarang berubah menjadi salah satu wilayah terkaya di belahan dunia." Ratu tidak menyangka jika pantai yang dulunya menjadi tempat pertempuran rebutan wilayah sudah berubah menjadi tempat pariwisata.


"Bagaimana cara kamu mengatur semuanya Rain? aku pikir dulu sampai umur lima puluh tahun aku masih lari-larian mengejar babi hutan." Tawa Lilis terdengar menatap Rain dan Ratu yang juga tertawa.


"Aku tidak bekerja sendiri, ada banyak orang di belakangnya. Tidak menyangka juga Kak Kris memiliki peran besar." Rain mengucapkan banyak terimakasih karena Krisna tidak meninggalkan di hutan belantara sendirian menghadapi para wanita petarung.


Melihat banyak orang yang tertawa terasa dunia terbalik, Ratu tidak menyangka yang dulunya dirinya diasingkan, kembali hanya untuk dendam lalu menemukan pasangan hidupnya.


Dulu berlumur darah, sekarang memiliki banyak cinta terutama dari suami juga anak-anaknya.


Kedua anak kecil berlarian di atas pasir, lompat-lompat kesenangan lupa dengan amukan karena muntah-muntah.


"Aku pikir Langit mirip Kak Kris, tapi ternyata mirip Lilis." Tawa Ratu terdengar merasa senang melihat anak-anak bahagia.


Makanan sudah terhidang di meja panjang, Rain menyewa banyak koki untuk menyiapkan makanan bagi semua orang.


"Pelangi makan dulu, perut kamu tidak ada isinya." Ratu meminta Pelangi balik lagi untuk makan.


"Kakak Langit ayo kita makan dulu, Pelangi lapar nanti kita cari kerang." Senyuman Pelangi terlihat duduk di samping Mamanya untuk makan.


Rain mempersilahkan siapapun boleh makan, meksipun ada keluarganya meminta tidak asa dan yang sungkan.


Satu-persatu orang datang mengambil makanan, mengucapkan terima kasih kepada Rain dan Ratu.


"Makanan enak tidak Paman?"


"Enak sekali Nona," jawab banyak orang yang tersenyum melihat Pelangi.


Raja balik dari pantai basah-basahan, meminta makan karena lapar. Raja membuka mulutnya saat Mamanya mengarahkan makanan.


Semua orang makan siang bersama-sama secara besar-besaran, Rain menarik napas lepas melihat tiga hartanya makan satu piring bersama.


"Ma, terimakasih sudah melahirkan aku, meksipun tidak pernah diinginkan. Sekarang aku memiliki keluarga bahagia, Rain akan hidup lama hingga tua bersama keluarga bahagia Rain," batin Rain merasa senang melihat anak istrinya bahagia.


Langit yang awalnya cerah, secara tiba-tiba meneteskan air. Pelangi langsung kaget meminta hujan pergi.


"Jangan hujan, Pelangi belum ...." Tangisan Pelangi terdengar, makanan di mulutnya keluar semua.


Rain menutup mulut Pelangi agar mengunyah makanannya, tidak mengoceh sambil makan hanya karena hujan turun.


Hujan turun dengan lebatnya, begitupun tangisan Pelangi yang terdengar sampai meneteskan air mata karena perjuangan untuk sampai hampir mati di jalan, tapi belum puas main hujan sudah turun.


"Ya tuhan, hujan kamu tangisan. Berkali-kali dipukul tidak menangis, anak siapa kamu ini?" Rain memangku Pelangi di pahanya.


"Anak Papa, hati Pelangi sedih."


"Kita satu minggu di sini, kamu bisa main sepuasnya sampai kulit kamu hitam, lalu apa yang ditangisi?"


Senyuman Pelangi terlihat, langsung berhenti menangis memeluk Papanya erat karena sangat bahagia.


Raja dan Ratu melongok, menggelengkan kepala tidak setuju terlalu lama di pantai yang sulit jaringan.


"Lama sekali Pa?" tanya Raja memeluk Papanya.


"Kita jarang liburan, sesekali dalam setahun kita hidup bebas. Papa tidak tahu sampai kapan menghabiskan waktu bersama Raja, waktu berlalu terlalu cepat, tanpa terasa kalian tumbuh dewasa dan akhirnya meninggalkan Papa dan Mama." Rain memeluk Putra Putrinya yang sangat dicintainya.


"Terima kasih Pa, sudah memberikan yang terbaik untuk kamu, kita sangat mencintai Papa." Ratu memeluk anak dan suaminya.


"Apa dunia hanya milik kalian berempat?" tanya Lilis yang geli melihatnya.


Tawa Rain dan Ratu terdengar karena mereka sangat bahagia setelah melewati semua ujian dan masalah yang muncul.


Cerita cinta boleh usai, tapi perjalanan hidup masih berlanjut.


***


TAMAT


***


Apa novel ini ada season selanjutnya, jawabannya TIDAK.


Lagi pusing buat cerita action, lagi suka buat cerita anak sekolah, perjalanan dan perjuangan hidupnya.


Di sini nanti ada Novel baru jangan lupa mampir.


***