
Pemakaman Madam akhirnya selesai, Krisna tidak meneteskan air matanya menganggap jika kematian mamanya awal dari peperangan nya bersama Clen.
Di tengah banyak petinggi yang masih setia kepada Clen, Krisna penuh percaya diri didampingi oleh Rain mengumumkan soal kekayaan mamanya.
"Saat ini Madam dinyatakan sebagai pelaku kejahatan, tapi tidak ada yang bisa kepolisian sita karena semua kekayaan Madam bukan miliknya." Tatapan Kris terarah kepada Clen yang menatap dingin dirinya.
Krisna menyatakan jika kekayaan suami Madam terdahulu bukan atas nama istrinya melainkan Krisna. Kris menjadi pewaris tunggal.
Apa yang papa kandungnya tinggalkan sudah Krisna jadikan amal, dia menyumbangkan seluruh kekayaan papanya untuk kepentingan negara.
Kris hanya menyisakan satu perusahaan yang sudah lima tahun dirinya olah, tidak ada sangkut pautnya dengan Madam.
Keadaan perusahaan juga sedang merintis untuk naik setelah dijatuhkan oleh beberapa oknum.
"Apa maksudnya menyumbangkan, selama lima belas tahun aku yang mengelola segalanya?" jawab Clen tidak terima.
"Kenapa Tuan Clen yang mengelola bukannya Madam yang mengelola? Secara tidak langsung Tuan Clen mengakui jika kesalahan yang dilibatkan kepada korban tidak benar," ujar Rain yang meminta pengakuan Clen di depan banyak orang termasuk kepolisian.
"Jangan mencoba menyudutkan aku Rain, meskipun aku yang mengelola, tapi semua atas perintah Madam," jawab Clen yang masih tenang dan santai.
"Oh, berati Tun Clen tahu jika Madam melakukannya karena Tuan Clen menjalankan perintah." Rain terseyum sinis mengungkapkan apa yang dia ketahui.
Kepala Miko menggeleng, tidak ada yang mempercayai Rain, dia hanya orang asing yang mencoba menjatuhkan.
"Kamu ingin buktinya?" Rain mentap ke arah Ratu yang duduk santai.
"Kita sedang berduka, jangan main-main kamu Rain," bentak Miko yang berusaha bangkit dari kursi rodanya.
"Duka, memangnya kamu siapa?" tanya Krisna meminta semua orang tahu siapa Clen.
Ratu menunjukkan rekaman Aryani mengungkap soal Clen dan Miko. Dia memiliki hubungan spesial sampai hamil, anak yang dikandungnya sudah tumbuh remaja di sebuah keluarga yang masih dirahasiakan.
Wajah Miko pucat, beberapa orang menatap ke arah Clen yang berusaha untuk pergi karena pernyataan Aryani tidak bisa dijadikan bukti.
Dia juga sudah lama menghilang, Rain dan Krisan tidak bisa menuntut keadilan karena Aryani harus memberikan pernyataan langsung.
"Aku tidak berharap kamu di penjara, tapi aku ingin kamu menderita dengan kehilangan segalanya." Krisna tidak masalah jika mamanya berpulang dengan tuduhan bunuh diri, tapi siapapun yang melakukannya segala tuduhan berbalik kepadanya.
"Nona menunggu takdir bertindak terlalu lama, kenapa membiarkan Clen pergi?" tanya Lilis tidak mengerti karena Clen langsung keluar menolak kepolisian yang ingin meminta keterangan.
"Pastinya ada kejutan, diam saja dan saksikan." Ratu terseyum puas karena rencana yang dirinya susun menjadi kejutan terakhir untuk Miko.
Miko meminta polisi membawa surat perintah, tidak bisa memaksa untuk bicara apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa dalangnya.
"Menyingkir, jangan coba menahan." Miko dibantu oleh penjaganya yang sudah menahan kepolisian.
Teriakan Miko terdengar di dalam mobil, menyalahkan Clen yang membunuh Madam sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.
Suara orang terkejut di dalam rumah duka terdengar heboh karena pengakuan Miko dan Clen disaksikan ratusan orang.
"Tangkap mereka karena sudah melakukan pembunuh juga bisnis ilegal." Perintah terdengar agar segera menahan keduanya karena melakukan pembunuhan berencana.
Mobil Miko melaju kencang, ada pesan masuk ke ponselnya. Ratu mengirimkan video Aryani mati tertembak olehnya.
Sudah Ratu peringatan, dia akan memperlihatkan kematian Aryani. Miko tidak boleh menutup mata sebelum Ratu berhasil menemukan Putranya yang dibesarkan oleh Albert.
"Siapa wanita ini sebenarnya, kamu mengatakan jika dia pengawal Elisha dan bekerja untuk Albert. Aku rasa dia tidak ada dipihak Albert." Miko menatap papanya yang gemetaran melihat ada banyak mobil yang mengejar.
"Dia wanita yang bekerja bersama Rain, wajahnya mirip dengan sekretaris Rain." Clen baru menyadari jika selama ini yang menghalang-halangi ternyata Rain.
Pembicaraan Miko dan Clen di dengar oleh Ratu yang tersenyum kecil menggunakan earphone, Ratu melangkah menjauhi ruangan yang sedang gaduh.
Ratu melakukan sambungan, memanggil nama Miko dan Clen yang sedang melakukan pelarian.
"Kalian ingin tahu siapa aku, jangan terkejut," pinta Ratu agar laju mobil dipelankan.
"Kamu menyadap mobil ini?" Miko dan Clen mencari alat yang Ratu pasang untuk menghentikan sambungan.
"Berhentilah mencarinya, dengarkan aku karena ini akan menjadi penentu masa depan remaja lelaki yang ada di rumah Albert." Nada bicara Ratu pelan seperti berbisik karena menahan tawa mendengar kecemasan.
"Berhentilah bermain, siapa kamu?" tanya Clen yang akhirnya diam.
"Felisha Albert," jawab Ratu.
Wajah Miko dan Clen saling tatap, mata keduanya memincing tajam menggelengkan kepala tidak percaya jika Putri pertama Albert masih hidup.
Suara Ratu menghilang, panggilan Miko dan Albert tidak mendapatkan jawaban lagi karena sudah tidak terputus.
Ratu tertawa puas melihat dirinya mempermainkan Miko, sudah waktunya Ratu mendekati Albert untuk menemukan anak lelakinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini Ratu?" Rain yang sedari tadi mencari Ratu terheran karena Ratu nampak senang.
"Kenapa mencari aku, berikan sedikit waktu untuk terseyum puas." Ratu berjalan ke arah Rain, memeluknya erat karena merasa senang memiliki rekan.
Kedua tangan Rain mendorong Ratu, tidak enak jika ada yang menyaksikan keduanya berpelukan apalagi masih suasana duka.
"Kamu pernah tidur dengan wanita?" tanya Ratu karena melihat Rain takut disentuh.
"Apa yang kamu pertanyakan?" Rain bergegas pergi tidak ingin mendengar pertanyaan Ratu yang melenceng.
Tawa Ratu terdengar mengejar Rain merasa malu dan canggung karena pertanyaannya. Ratu menyukai ekpresi Rain jika menghindarinya.
"Maukah kamu bermalam denganku?"
"Sudah gila, jangan bicara hal konyol aku lelaki normal. Lebih baik kamu pikirkan cara menemukan putranya Miko." Langkah Rain terhenti membalik badannya menatap Ratu.
"Ratu juga normal, aku tidak pernah terpikirkan untuk sedekat ini dengan lelaki, tapi aku juga ingin merasakan berhubungan."
"Menikahlah, kamu sudah waktunya memiliki pasangan," ujar Rain.
Kepala Ratu menggeleng, dirinya tidak akan menikah dan tidak bisa menikah. Tidak ada lelaki yang pantas memilikinya. Ratu ingin tetap bebas tanpa harus memiliki banyak aturan juga tuntutan.
Pernikahan hanya untuk orang-orang yang ingin hidup bersama, tapi Ratu tidak membutuhkan lelaki dalam hidupnya.
"Lalu kenapa kamu ingin bermalam denganku?"
"Tidak tahu, anggap saja salam perpisahan. Aku akan segera meninggalkan negara ini setelah setelah menghancurkan Albert." Senyuman Ratu terlihat menepuk dada Rain.
Kepala Rain mengangguk, dia akan menagihnya suatu hari nanti jika mereka benar berpisah.
Ratu lebih terkejut mendengar keinginan Rain, padahal niat Ratu hanya bercanda.
***
follow Ig Vhiaazaira