
Teriakan Lilis menggema, bangunan kosong dan gelap berubah menjadi terang. Hampir ratusan pembunuh bayaran dari berbagai negara berkumpul untuk saling menjatuhkan.
Siapa yang menang bisa membunuh perawat Hera, dia orang yang akan bergabung di bawah kekuasaan Ratu.
Lilis mengumumkan secara resmi, tanpa harus menyentuh Hera, Rain apalagi putranya. Orang terkuat akan menjadi pengawal kastil.
"Ratu tidak memberikan perintah seperti itu, dia meminta membunuh keluarga yang ada di foto," ucap pria hitam tinggi.
"Kenapa takut, jika tidak ingin silahkan pergi ke hotel. Kalian akan menemukan Ratu di sana." Lilis melangkah pergi karena dirinya membohongi banyak orang agar berhenti mengincar posisi Rain.
Kemarahan Ratu membuat keadaan semakin kacau, Lilis tidak bisa membiarkannya karena Ratu akan semakin terluka jika lelaki yang dicintainya tiada.
"Apa yang kamu lakukan Lilis, bahkan kamu kehilangan kalung lambang kode untuk masuk kastil?" pengawal Lilis hanya bisa tarik napas karena Lilis selalu melawan perintah Ratu.
"Apa kamu pikir Ratu menginginkan ini, dia hanya sedang menutupi rasa kehilangannya." Mobil yang Lilis kemudi melaju ke arah hotel, sudah mendapatkan kabar jika Ratu bergerak sendiri.
Panggilan masuk dari Krisna, memberitahu jika Hera dalam keadaan aman, dan Ratu mengincar anak Rain.
"Cepatlah datang, aku takut jika Rain terbunuh di kamar itu," pinta Krisna yang sangat mencemaskan adiknya.
"Ratu tidak akan sanggup menyakitinya. Percaya sama aku, Ratu tidak pernah membenci Rain, tapi merindukannya." Lilis meminta Krisna meninggalkan kamar, meksipun Lilis berhasil menahan pembunuh bayaran, tetap saja harus berhati-hati.
"Kamu baik-baik saja." Krisna menatap ponselnya yang sudah mati.
Langkah Kris mendekat, berusaha mendengarkan apa yang terjadi di kamar yang hanya ada Rain dan Ratu.
"Aku harap kamu bisa keluar hidup-hidup." Kris dan beberapa orang melangkah menjauh.
Suara di dalam ruangan kamar hening, Rain masih menunggu Ratu memunculkan diri atau pergi tanpa bertatapan.
Tiga tahun Rain mencoba mempelajari apa saja yang Ratu lakukan, apalagi saat ada di apartemennya Ratu bisa keluar masuk dengan bebas dari balkon kamar.
"Kamu boleh pergi jika tidak ingin bicara, jangan sakiti Raja karena dia satu-satunya keluarga yang kamu ...." Rain terjatuh saat bahunya tertusuk benda tajam.
"Dia satu-satunya keluarga yang kamu miliki, aku akan membuat kamu kehilangan dia." Ratu melangkah keluar menghacurkan minuman di atas meja.
Mata Rain terpejam memegang luka tusukan di bajunya, tangannya gemetaran mencoba mencabut.
"Sakit, ini belum seberapa Rain." Ratu menarik belati yang dia lemparkan.
Darah mengalir keluar, baju putih Rain berubah menjadi merah. Hanya senyuman kecil yang terlihat di wajah Rain.
"Aku merindukan kamu, hanya itu yang ingin aku katakan." Maaf tidak bisa Rain ucapkan karena dirinya juga tidak ingin dilahirkan. Jika bisa dirinya tidak ingin hidup.
Mata Ratu berkaca-kaca, dirinya pikir Rain sudah kuat sehingga bisa menjebaknya, ternyata salah Rain masih orang yang sama hanya menggunakan otak bukan otot.
"Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi." Ratu tidak bisa membunuh Rain, hatinya terlalu lemah jika menatap wajah Rain.
Ratu ingin melangkah pergi, tapi Rain mengenggam tangannya. Tepisan tangan Ratu kuat hingga genggaman terlepas.
"Kesekian kalinya aku tidak bisa menggenggam tangan kamu, bukan karena tidak mau, tapi aku yang terlalu lemah." Rain membuka matanya melihat wajah Ratu yang berdiri di hadapannya.
Wanita yang sangat dirindukannya, jika Rain tahu berpisah begitu menyakitkan mungkin dia akan menghentikan Ratu bagaimanapun caranya.
Kening Ratu berkerut, menatap tangannya karena ada rasa panas. Melihat ke arah Rain yang juga menatapnya.
"Kenapa tangan kamu panas sekali?" Ratu menyentuh kening Rain, meraba tubuhnya yang panas tinggi.
"Ratu, jika takdir memisahkan kita, tolong jaga Raja. Dia tidak salah, Raja hanya korban dari dendam masa lalu. Jangan membencinya, cukup benci aku saja." Tangan Rain mengusap wajah Ratu yang bisa dirinya sentuh setelah tiga tahun lamanya.
"Apa kamu bodoh, kenapa bisa sakit? apa kamu ingin mati sekarang?" Ratu berlari ke arah pintu, mencari seseorang yang bisa membantunya membawa Rain.
Teriakkan Ratu terdengar memanggil penjaga, tapi tidak ada satupun yang mendekat. Ratu menghubungi Lilis, jaraknya yang paling dekat dengan Ratu.
"Kenapa Lilis tidak menghubungi aku padahal sudah dikirimkan sinyal, apa gunanya dia memakai kalung jika tidak merespon." Ratu melihat satu pintu di depan kamarnya terbuka.
Seorang anak kecil terrsenyum lebar menatap ke arah Ratu yang sedang panik, Ratu mencoba mengabaikan karena tidak punya waktu berurusan dengan anak kecil.
"Tante kenapa, ada yang bisa dibantu?"
"Menyingkir anak kecil, kamu tidak dibutuhkan." Ratu mendorong Raja sampai jatuh.
"Oh, Tante ini ternyata sakit, tangannya ada darah." Raja masuk kembali ke dalam kamar mencari obat.
Ratu melangkah keluar tanpa menutupi pintu, berteriak di depan CCTV meminta yang mengawasi segera menemuinya, jika tidak Ratu akan menghacurkan hotel.
Suara Raja berlari terdengar langsung masuk kamar dan terkejut melihat Papanya tidur sendirian. Wajah Papanya pucat memeluk dadanya.
"Papa, kenapa tidur di sini? kamar kita di depan." Raja meminta Rain pindah, tangan Raja panas saat menyentuh kepala Papanya.
"Hmz Papa demam lagi. Bagaimana ini, perawat Hera sudah pulang." Raja berlari ke kamar mandi mengambil air dengan susah payah.
Teriakkan Ratu menggema melihat anak kecil menyiram wajah Rain menggunakan air. Kepala Rain basah semua sampai darah dan air bercampur.
Tatapan Ratu langsung gelap, Raja geleng-geleng kepala membangunkan Papanya.
"Papa Rain demam, perawat Hera kemarin sentuh kepala menggunakan air makanya Raja siram menggunakan air." Raja menarik rambut Rain sangat kuat.
Tangan Ratu mengangkat tubuh Raja sampai melayang, kerah baju Raja mencekik lehernya hingga tergantung.
"Wow, Raja terbang." Tawa Raja terdengar, langsung diam saat lehernya sakit tidak bisa bernapas.
"Jangan sakiti dia Ratu, lepaskan Raja. Renggut nyawaku saja jangan dia," pinta Rain memohon karena tidak bisa menyentuh putranya.
"Jadi dia Putramu, pantas saja wajahnya mirip. Saksikan kematiannya Rain." Ratu mengeratkan cekikikan.
Wajah Raja berubah merah, kakinya bergerak lemas karena napasnya tidak tertarik lagi karena kuatnya cekikikan.
"Dia Alip, Adik kandung kamu." Rain menatap Raja yang hampir pingsan.
Cekikikan Ratu langsung lepas, memeluk Raja yang jatuh ke dalam pelukannya. Mata Ratu melotot teringat wajah anak kecil yang ada dalam gendongan Sinta.
Si kecil yang ditinggalkan di hotel, Ratu berpikir Alip sudah mati, tapi ternyata dia diselamatkan oleh Rain.
"Mama jahat, masa Raja dibunuh. Mama nakal." Tangisan Raja terdengar saat napasnya kembali.
Mulutnya terbuka lebar mencari udara karena takut mati, Raja menangis sambil mengoceh memarahi Ratu karena harus banyak menghirup udara.
***
follow Ig Vhiaazaira