QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
MERAWAT



Suara tangisan meraung-raung terdengar, Albert memeluk nisan istri yang sudah meninggal belasan tahun.


"Sayang, maafkan aku. Kamu pasti sakit sekali karena aku tidak mempercayai kamu, maaf." Albert menangis di batu nisan Istrinya.


Tatapan Albert ke arah nisan yang baru saja menemani pemakaman Istrinya, Putri cantiknya yang tidak mendapatkan kasih sayang.


"Elisha, maafkan Papa sayang. Kamu menjadi korban kebodohan Papa, bagaimana cara Papa membayarnya Nak." Albert mengusap nisan anaknya yang meninggal karena kekejaman dirinya.


Teriakan Albert histeris karena Sinta merenggut kebahagiaan nya. Albert belum bisa menerima pengkhainatan istrinya, tapi ternyata dirinya dipermainkan.


Dari jauh Krisna bersama beberapa polisi menyaksikan tangisan Albert. Tidak bisa Krisna bayangan hancurnya hati Ratu melihat keluarganya berantakan, satu-persatu meninggalkannya.


"Apa yang Albert minum?" Kris berlari bersama para keamanan.


Keputusan terakhir Albert meminum racun agar bisa menemui istri dan anaknya untuk meminta maaf, Albert tidak bisa menghidupkan keduanya lagi, sehingga memutuskan mati.


"Jangan mati dulu, bagaimana nasib Alip? bagaimana nasib Ratu?" Kris meminta Albert bertanggung jawab atas hidup Putra putrinya, masih ada kesempatan menembus dosa dengan mencintai yang tersisa.


Napas Albert tersengal-sengal, perlahan menghilang tanpa bisa mengatakan apapun, Kris memukulinya agar bangun.


"Dia sudah mati Kris."


"Ya tuhan, manusia sialan. Bagaimana nasib anak kecil yang baru belajar bicara kalian tinggalkan hidup menderita." Kris menendang tubuh Albert karena merasa dunia tidak adil.


Dengan mati tidak akan mengurangi masalah, tapi menambah masalah baru. Kris menghubungi Rain untuk memberitahukan yang tejadi.


Rain juga terkejut karena ucapan Ratu sebelumnya benar, Albert akan mati dengan cara mengakhiri hidupnya.


Tangan Rain mencengkram ponsel yang Kris berikan untuk berkomunikasi karena keberadaan ponsel Rain belum ditemukan.


"Bagaimana nasib anak ini?" kepala Rain pusing karena tidak mungkin dirinya membesarkan.


Dokter datang memastikan demam Alip sudah turun, luka ditangannya bisa dirawat di rumah.


"Dok, dia bukan anakku. Dia hanya orang asing."


Senyuman Alip terlihat, memeluk leher Rain karena mereka sudah boleh pulang ke rumah. Alip memanggil mamanya membuat Rain menarik napas panjang.


"Aku harap kita tidak bertemu lagi." Terpaksa Rain membawa Alip ke panti karena tidak ada yang akan membedakannya.


"Papa, Mama." Tangan Alip bertepuk tangan memanggil setiap orang yang dilihatnya Papa dan Mama.


"Papa dan Mama kamu sudah tiada, kamu hanya yatim piatu." Mobil Rain melaju pergi menuju panti asuhan karena hanya panti yang bisa membesarkan Alip.


Sepanjang perjalanan Rain diam, membiarkan Alip tidur di dalam dekapannya. Tiba di panti, Rain memberitahu ibu panti jika kedua orang tua Alip meninggal bunuh diri.


Tidak ada yang bisa membesarkannya, dia masih terlalu kecil untuk tinggal sendirian. Rain berharap Alip bisa tumbuh baik di panti.


"Kenapa kamu tidak merawatnya?"


"Tidak mungkin, aku tidak punya waktu." Kepala Rain tertunduk menyerahkan Alip yang masih tidur.


"Baiklah, apa kamu boleh menceritakan soal asal-usulnya?"


"Tidak boleh, biarkan dia hidup tanpa tahu apapun." Senyuman Rain terlihat langsung pamit pergi.


Alip terbangun melihat punggung Rain melangkah pergi, tangisan langsung terdengar membuat Rain menghentikan langkah kakinya.


"Papa," panggil Alip sambil menangis.


"Jangan dihiraukan Rain, kamu tidak berkewajiban menjaganya."


Suara tangisan semakin kuat, memberontak ingin ikut dengan Rain. Ibu panti melepaskan, Alip berlari kencang ke arah mobil.


Mobil melaju pergi membuat tangisan semakin kuat, langkah Alip jatuh menatap mobil pergi menjauh meninggalkannya.


"Papa," panggil Alip mengulurkan tangannya saat mobil hilang dari tatapannya.


Mobil yang Rain kemudikan berhenti, teringat saat Rain setiap tahu datang ke panti hanya untuk bertanya kepada ibu panti kemungkinan ada yang mencarinya.


Harapan Rain selalu pupus, menunggu di pinggir jalan berharap ada yang mengenalinya untuk membawa pulang.


"Apa anak itu akan bernasib sama denganku, selalu menunggu ada yang datang menjemput. Bagaimana jika dia diadopsi oleh orang seperti Clen?" Rain yang diadopsi hanya dijadikan benteng, selalu disakiti dan dipukuli.


Nasib anak panti tidak semuanya berakhir bahagia, ada kalanya penghina melukai hati, harapan besar memiliki orang tua sirna.


"Belum tentu juga dia hidup bersamaku akan jauh lebih baik, abaikan saja Rain." Mobil melaju kembali menjauhi panti.


Suara tangisan masih terdengar, Alip menolak masuk ke dalam panti. Hanya duduk jongkok menunggu karena Papanya akan datang kembali.


"Papa, Papa," panggil Alip berkali-kali sambil menangis.


"Ayo kita masuk, Papa kamu sudah pergi," ujar Ibu panti mengusap kepala Alip.


"Papa, Papa." Langkah kaki kecil Alip berlari saat melihat mobil Rain kembali lagi.


Suara tawa terdengar, kedua tangan Alip bertepuk tangan melihat Rain keluar dari mobil langsung menggendongnya untuk kembali ke rumah.


"Maaf Bu, saya tidak jadi menitipkannya." Pintu mobil terbuka, Rain meminta Alip duduk diam jika ingin ikut dengannya.


Kepala Alip mengangguk, melambaikan tangannya kepada ibu panti karena dirinya tidak jadi tinggal.


Satu tangan Rain garuk-garuk kepala karena pusing memikirkan cara membesarkan Alip, Rain tidak tahu apapun soal menjaga bayi apalagi pekerjaannya banyak.


"Apa aku melakukan kesalahan?"


Kepala Rain menoleh ke arah anak kecil yang sedang memainkan bajunya sendiri, Rain yakin dirinya pasti sudah tidak waras.


"Raja, kamu balik lagi ke panti saja, Kak Rain tidak bisa membesarkan kamu," ucap Rain tidak menyukai nama Alip sehingga menggantinya.


"Emh Papa." Kepala Alip geleng-geleng menolak.


"Aku bukan Papa kamu," balas Rain yang menyambut tubuh Adiknya karena merangkak ke arahnya meminta dipangku.


Ponsel pemberian Krisna berbunyi, seseorang yang Rain minta mencari keberadaan ponselnya memberikan laporan jika ponsel Rain tidak terdeteksi.


Jika Ratu menghidupkan ponsel pasti Rain tahu keberadaannya, ponsel yang Rain gunakan sudah dimodifikasi sehingga bisa tahu di manapun berada.


"Aku harap kamu menghidupkan ponsel itu Ratu, adik kamu yang sesungguhnya tertinggal di sini." Rain mengusap punggung Raja yang memainkan kerah baju.


Tepaksa Rain membawa Raja ke apartemennya, dia membutuhkan tempat tinggal yang nyaman.


"Apa saja keperluan bayi?" Rain menghentikan mobilnya di pusat perbelanjaan untuk membelikan segala keperluan Raja.


Kepala Rain pusing memilihkan baju, juga perlengkapan bayi. Ada banyak orang yang memperhatikan sekaligus membantunya berbelanja.


"Kenapa kamu menjadi beban?" Tatapan Rain tajam karena Raja enak diperhatikan banyak orang.


"Papa," panggil Raja menunjukkan mainan.


Mainan langsung diberikan, Rain memasukkan apapun yang dirinya pikir akan dibutuhkan untuk merawat bayi.


"Oke sudah cukup."


Mata Rain tidak berkedip saat sadar barang belanjaan sangat banyak, pertama kalinya bagi Rain membeli keperluan secara berlebihan.


"Raja, sebaiknya kamu tinggal di panti. Aku tidak mungkin mampu, masa iya membeli bahan dan keperluan saja sebanyak ini, belum lagi mengurus di rumah." Kepala Rain menggeleng tidak sanggup.


***


follow Ig Vhiaazaira