QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BERDUKA



Di perjalanan ke rumah sakit, Ratu mendapatkan kabar soal Adiknya. Secara terburu-buru Rain melaju cepat ke arah rumah sakit, tidak ingat lagi kecepatan karena mencemaskan Putri.


Langkah kaki Ratu berlari kencang saat tiba di rumah sakit, mendapatkan kabar jika Elisha detak jantungnya berhenti, kesadarannya sudah hilang.


"Putri, di mana Putri?" Ratu menatap dokter yang mengizinkan Ratu untuk masuk ke dalam kamar rawat.


Mata Putri berkaca-kaca sampai keluar butiran bening air mata, Ratu melangkah mendekati mengusap wajah adiknya yang membuka mulutnya karena hanya bisa bernapas dari mulut.


"Ratu, detak jantung dan kesadarannya sempat hilang, Putri tidak ingin menggunakan alat bantu napas lagi, dia hanya ingin bertemu kamu." Dokter menatap pasiennya yang menyentuh wajah kakaknya.


"Kak, Putri pergi saja. Sakit Kak, Putri tidak sanggup." Mulut Putri tidak bisa tertutup lagi karena tarikan napasnya sudah tersedak.


"Jangan Put, Kak Ratu membawa obat untuk kamu. Bertahanlah, Kak Ratu janji akan menjaga kamu, sekali ini saja." Ratu menunjukkan obat yang masih harus dipastikan oleh dokter, setelah aman maka akan digunakan untuk mengurangi gejala virus.


"Mama sudah jemput Putri, Kak Ratu jaga diri." Mata Putri perlahan terpejam, menarik napas panjang dihembuskan perlahan.


Kedua tangan Ratu mengenggam erat, tidak bisa berkata-kata lagi. Jangan tanya soal hati karena dunia Ratu hancur untuk kesekian kalinya.


Tangan Ratu mengusap kepala Putri, mengecup keningnya penuh kelembutan karena Putri memilih pergi meninggalkannya dibandingkan hidup bersamanya.


"Nona Elisha sudah tiada," ucap dokter memberitahukan Ratu agar bersabar.


Kepala Ratu mengangguk, hanya bisa duduk menatap wajah adiknya yang pergi sambil tersenyum, begitu bahagianya dia pergi menemui Mama, sedangkan Ratu yang ditinggalkan hanya bisa terdiam menahan kehancuran.


Di depan pintu Rain dan Lilis menunggu penuh kegelisahan, harapan mereka besar bisa melihat Putri pulih.


Pintu ruangan terbuka, Dokter melangkah keluar memberitahukan jika Putri sudah tiada. Terlambat menyelamatkan Putri karena virus sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.


Lilis langsung terduduk, dadanya terasa sesak langsung menangis karena tidak bisa membayangkan posisi Ratu kehilangan Adiknya yang sedang dia perjuangkan.


Demi Putri, Ratu meninggalkan tempatnya rela terjun langsung mengungkap segala kejahatan agar adiknya mendapatkan keadilan, tapi apa yang didapatkan.


"Tidak mungkin Dok, Putri anak yang kuat, dia pasti bisa bertahan. Kita ...." Rain memukul dinding kuat tidak tahan melihat kepala dokter yang geleng-geleng.


Perlahan Rain berjalan masuk melihat Ratu hanya duduk diam menatap wajah Putri, tidak terdengar sepatah katapun.


Senyuman terlihat di bibir Ratu, matanya juga menatap sayu dan kosong. Rain merasa kepedihan yang Ratu rasakan.


"Putri sudah pergi Rain, tidak ada lagi yang akan memanggil aku Kakak." Ratu tertawa kecil menatap kagum pada wajah adiknya.


"Apa yang Putri katakan?"


"Dia ingin pergi, Mama sudah menjemputnya."


"Lalu bagaimana dengan kita yang ditinggalkan?" kepala Rain tertunduk tidak bisa menangis lagi karena hatinya sangat hancur melihat Putri yang memilih pergi, tanpa mengucapkan kata perpisahan.


Rambut Putri menutup wajahnya karena angin masuk, Ratu merapikan kembali tetap tersenyum padahal adiknya sudah tiada.


Suara tangisan Lilis terdengar, menatap Putri yang sudah memejamkan matanya. Tidak ada lagi yang akan tertawa cekikikan meminta makan, menonton dan mengoceh.


"Jangan menangis Lis, aku tidak ingin mendegarnya." Ratu mengenggam tangan Putri yang sudah pucat.


Langkah Michael masuk dan terkejut melihat Elisha terbaring di atas tempat tidur, dia mengenal baik Elisha karena sangat baik, tapi selalu disakiti.


"Kak Elis, kenapa Kakak di sini? Michael kangen Kakak." Pelukan lembut terasa karena Michael senang bisa bertemu kakaknya kembali.


"Kak Elisha pergi ke mana? Michael kesepian. Biasanya kita selalu makan bersama, Kak Elisha yang menemani Michael setiap mendapatkan hukuman. Sekarang Michael di sini Kak, kita kumpul lagi." Hati Michael bahagia karena dia tidak kesepian, ada Elisha yang akan bersamanya.


Tatapan mata Ratu semakin tajam, Michael tetap tersenyum menceritakan jika Elisha Kakaknya dan biasanya mereka selalu bersama.


"Putri sudah meninggal, dia tidak ada lagi di sini. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ratu.


"Jangan bicara seperti itu, Kak Elisha sangat kuat. Meskipun Papa jahat, Kak Elisha sangat baik."


"Lihatlah, di terbaring tidak berdaya. Matanya terpejam untuk selamanya, tubuhnya dingin tidak bernyawa lagi." Ratu tertawa kecil karena Albert berhasil membunuh Elisha.


Tangisan Michael terdengar, memeluk Putri sangat erat meminta Kakaknya bangun. Michael tidak ingin sendirian karena tidak akan ada yang menyayanginya.


Teriakkan Ratu sangat kuat, Rain memeluk erat Ratu yang teriak-teriak tanpa henti seperti orang gila karena kehilangan Adiknya.


Cengkraman tangan Ratu sangat kuat, meremas tangannya sendiri sampai mengeluarkan darah.


"Ratu, cukup." Rain melepaskan tangan Ratu, cengkraman beralih ke tangan Rain sampai berdarah karena kuku tertancap.


Tidak ada tangisan, tapi teriakan Ratu jauh lebih menyakitkan karena hatinya hancur kehilangan satu-satunya keluarga.


"Rain, kenapa harus Putri? aku masih ingin bersamanya, apa hak tuhan mengambilnya? kenapa manusia seperti aku tidak diambil?" kemarahan Ratu terdengar menarik kerah baju Rain.


"Entahlah, kenapa tidak kamu tanyakan kenapa memilih lahir? apa yang dijanjikan kepada kita sehingga memilih tetap lahir?" Rain memeluk Ratu yang langsung lemas, rasanya dirinya juga ingin mati karena tidak bisa melihat Putri lagi.


Tangan Rain mengusap rambut Ratu, tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi karena dirinya juga sama hancurnya.


Tubuh Ratu terkulai tidak sadarkan diri, Rain langsung menggendongnya ke sofa. Lilis memanggil Ratu yang pertama kalinya pingsan.


"Bagaimana ini Rain?"


"Ada hubungan apa Ratu dan Putri?"


"Maaf, kau tidak bisa menjawab. Kamu harus bertanya langsung kepada Ratu?" Lilis menatap wajah Ratu yang pucat, ternyata wanita kuat di depannya selama ini juga manusia bisa jatuh dan tumbang.


Pintu terbuka kencang, Krisna berjalan sempoyongan. Dia baru saja membelikan makanan yang Putri inginkan, tapi berita apa yang sampai ke telinganya.


"Ada apa ini, kamu kenapa tidak mengunakan alat bernapas lagi?" Krisna meletakan makanan kesukaan Putri.


Kepala Krisna menggeleng, memegang tangan Putri yang tidak ada denyut nadinya. Krisna menatap ke arah dokter yang memberitahunya.


"Apa ini, aku sudah meminta menjaganya, bahkan aku siap membayar berapapun, tapi kenapa Putri tidak bernapas lagi?"


"Maafkan kami Pak Krisna," balas Dokter.


"Aku tidak butuh maaf. Putri bangun, jangan suka bercanda. Kak Kris tidak suka kamu bermain mati-matian." Krisna terduduk lemas karena sebanyak apapun hartanya tidak bisa menyelamatkan gadis kecil yang tidak bersalah.


Semuanya tertunduk berduka karena Putri memutuskan pergi untuk selamanya setelah melewati sakit yang menyiksanya.


***


follow Ig Vhiaazaira