QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
INGIN TAHU



Larut malam Ratu bersama bawahannya menyebar untuk menemukan keberadaan Michael, Ratu menggerakkan tangannya agar pasukannya menyebar.


"Nona, perasaan Lilis tidak enak."


"Pulang saja, aku bisa memimpin sendiri." Ratu langsung lompat ke atas pagar, melihat banyaknya penjagaan.


Tanpa sengaja Lilis melihat secara langsung mobil Rain mendekati gerbang, tanpa rasa takut Rain datang seorang diri mengantarkan nyawanya.


Lilis lompat ke atas gerbang pembatas, melihat Ratu yang juga mengetahui jika mobil yang baru saja terlihat milik Rain.


"Kenapa Rain di sini? apa yang dia pikirkan?" Lilis merasa deg-degan karena keadaan runyam.


"Ada berapa nyawanya sehingga begitu berani datang ke sini tanpa penjagaan?" Ratu menarik napas panjang karena Rain tidak menggunakan akal sehat.


Kepala Ratu menggeleng pelan, Rain tidak mungkin bodoh. Pasti ada yang bisa dirinya lakukan sehingga berani datang.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Tidak ada, awasi saja. Aku tidak ingin Rain terluka," ucap Ratu yang masih mencemaskan Rain karena dia tidak ahli bela diri.


Mobil Rain ditahan di gerbang, penjaga berbadan besar menghampirinya menanyakan alasan kedatangan Rain.


Dia tidak boleh masuk tanpa seizin Albert, hanya orang yang dipanggil dan berpengaruh yang bisa masuk.


"Buka pintunya jangan banyak tanya," ujar Rain yang bernada dingin.


Penjaga menghubungi penjaga di dalam rumah, mengatakan jika ada seorang pemuda yang ingin bertemu Nyonya Sinta.


Gerbang terbuka, Rain mengemudi masuk tanpa ada yang bisa menghentikannya untuk menemui istri Albert.


Ratu dan Lilis menganga tidak menyangka Rain bisa masuk dengan begitu mudahnya, hubungan apa yang terjalin antara Rain dan Albert.


"Bagaimana bisa masuk?" Lilis masih tidak percaya.


"Rain masih saja menyimpan banyak rahasia, aku rasa sudah mengenalnya, tapi ternyata tidak sama sekali." Ratu menarik napas panjang.


Mobil Rain berhenti, menatap ke langit mencari sesuatu yang mengikutinya. Rain menghubungi Ratu memintanya turun dari gerbang sebelum ketahuan.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?"


"Turun, sebelum jatuh. Kamu perempuan jaga sikap jangan mirip monyet, serahkan kupu-kupu kecil itu." Rain mematikan panggilan menahan tawa melihat kupu-kupu kecil yang Ratu gunakan mengawasi rumah Albert mendarat di pundak Rain.


Senyuman Rain terlihat sangat yakin jika Ratu sedang mengumpat dirinya, Rain tahu mainan Ratu yang sudah dimodifikasi tersebar di sekeliling rumah Albert, tapi tidak bisa masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Rain langsung disambut oleh Sinta, tatapan mata Sinta tajam merasa binggung dengan kedatangan Rain membawa nama panti.


"Apa kamu masih mengingat aku? di mana Albert?" Rain berjalan masuk tidak melihat keberadaan pria tua yang tidak tahu diri menyiksa anaknya sendiri.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Sejak kapan aku memiliki keinginan? aku tidak memiliki apapun, bahkan hidup juga terpaksa." Senyuman Rain terlihat menatap anak kecil berusia dua tahun menangis mendekati Sinta.


Sinta meminta Rain pergi tidak ikut campur dengan urusan Albert dan Ratu, keduanya sudah saling menjatuhkan sejak Ratu kecil.


Kelahiran Ratu juga tidak diharapkan, Sinta meminta Rain seperti dirinya dahulu sebelum mengenal Ratu.


"Memangnya siapa Ratu?" Rain mengerutkan keningnya.


"Ratu ...." Teriakkan penjaga membuat ucapan Sinta terhenti.


Tubuh Ratu yang ditangkap menyusup langsung dilempar di lantai, Ratu menatap Sinta tajam melarangnya mengungkap. Jika Ratu sampai ketahuan anak manis yang ada disamping Sinta akan dilenyapkan.


"Lepaskan dia, kalian boleh keluar."


"Kita harus melapor kepada Tuan Albert, kenapa Nyonya menyambut tamu yang tidak dikenal oleh tuan Albert?"


Ratu langsung berdiri, melangkah mendekati Sinta. Jika sampai Rain tahu soal hubungan Ratu dan Albert maka Sinta akan menjadi target selanjutnya.


"Jangan mengancam aku Ratu, tidak mudah bagiku untuk terpengaruh." Sinta meminta Ratu dan Rain pergi secara baik-baik.


"Di mana Albert, aku ingin bertemu?"


Sinta menyunggingkan senyum, tidak akan mengizinkan Rain untuk bertemu suaminya. Sinta tidak tahu siapa Rain sehingga begitu lancang ingin bertemu dengannya.


"Keluar sekarang atau kalian celaka!"


"Kenapa takut saat aku mengatakan pernah bertemu kamu di panti? apa kamu tahu siapa aku sebenarnya?" selama puluhan tahun hidup, Rain tidak penasaran asal-usul dirinya, tapi secara tiba-tiba Rain memikirkan soal jati dirinya.


Kepala Sinta menggeleng, dia tidak tahu siapa Rain dan tidak ingin tahu. Ratu yang menyaksikan juga berada dalam kebingungan, Rain terlihat memaksa ingin tahu soal masa lalunya.


Tangisan anak kecil terdengar, Rain langsung menggendong anak usia dua tahun yang terlihat mengantuk, tapi masih menunggu Maminya.


"Pergilah kalian berdua, semua CCTV mati. Aku tidak ingin Albert tahu kedatangan kalian," ujar Sinta ingin mengambil Putranya.


"Di mana Michael, kami harus membawanya keluar dari sini."


"Tidak bisa, Albert pasti akan marah besar." Sinta memanggil penjaga untuk mengusir Ratu dan Rain.


Satu tangan Ratu mendorong Rain membelakangi, sedangkan satu tangannya menancapkan belati ke arah penjaga yang ingin mendekat.


Rain membalik badannya perlahan, melihat ada satu orang yang tergeletak penuh darah sedang terkapar.


"Katakan cepat, jika tidak keadaan akan semakin runyam."


Sinta tidak punya pilihan, menunjuk ke arah kamar Michael. Dia terluka karena ketahuan mencuri obat di ruangan Albert.


Ratu bergegas ke arah kamar, meninggalkan Rain dan Sinta. Mata Sinta berkaca-kaca meminta Rain pergi dan tidak bergaul dengan Ratu.


"Apa benar kamu mengenal aku?"


"Rain, lebih baik kita tidak saling mengenal. Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tolong pergi. Kamu harus tetap hidup sebagai yatim piatu, setidaknya lebih baik." Sinta ingin menyentuh Rain, tapi langsung ditepis.


"Apa kamu yang melahirkan aku, kenapa dilahirkan membuat hidupku menderita?" Rain menurunkan anak kecil menatap wajah Sinta yang sudah meneteskan air mata.


"Aku bukan ibu kamu, aku tidak tahu siapa kamu. Pergilah, lebih baik tidak tahu karena kebenaran begitu menyakitkan." Sinta menatap Ratu yang membawa Michael keluar tanpa seizin Albert.


Tidak ada yang bisa menghentikan Ratu, berjalan masuk ke arah mobil untuk bersembunyi.


Sebuah mobil mewah berhenti, teriakkan Albert terdengar meminta Ratu mengembalikan putranya.


"Albert." Tangan Ratu bertepuk tangan.


"Berani kamu masuk ke sini, di mana Elisha?"


"Kenapa bertanya, bukannya kamu hebat. Temukan sendiri," pinta Ratu tersenyum manis.


Ratu menatap Sinta yang keluar bersama Putranya, Rain sudah tidak terlihat lagi keberadaannya.


"Anak kecil itu begitu manis, akhirnya kamu berhasil mendapatkan bibit setelah melenyapkan dua putri."


"Tutup mulut kamu, seharusnya aku memang membunuh kamu sejak awal sehingga tidak menjadi benalu," ujar Albert, mendekati pintu mobil meminta Michael keluar.


Suara tembakan terdengar, Albert melangkah mundur karena Ratu tidak ragu melepaskan tembakan. Siapapun yang mencoba menghalanginya maka akan disingkirkan.


"Albert, apa kamu ingin segera menyusul Clen?" Ratu tertawa lepas merasa bahagia bisa melihat wajah cemas Albert.


***


follow Ig y