QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
MENINGGALKAN



Setelah dua minggu Rain akhirnya pulih, memutuskan kembali menemui Krisna yang sedang berjuang sendirian mempertahankan perusahaan.


Krisna harus merakit dari bawah, tidak memiliki lagi orang yang mempercayai perusahan terpaksa Krisna berjuang sendiri bersama staf yang tersisa.


"Kris, apa yang kamu lamun?" Rain berjalan ke meja kerja Krisna yang nampak hening.


"Rain, akhirnya kamu kembali. Bagaimana kondisi kamu?" senyuman Krisna terlihat meskipun dirinya sangat terpuruk.


Rain berdiri di depan jendela melihat ke bawa yang biasanya ramai kini sepi senyap karena setengah dari karyawan handal mengundurkan diri.


Perusahaan sulit beroperasi karena kehilangan orang berpengalaman, baik produksi maupun promosi semuanya tertunda karena kurangnya staf ahli.


"Aku berencana menjual gedung, mungkin merintis bisnis dari gedung kecil jauh lebih baik." Krisna membutuhkan dana besar untuk merekrut orang-orang berpegalaman.


Ucapan Krisna tidak ditimpali, Rain masih saja diam menatap ke bawa. Berharap rencananya akan membuahkan hasil untuk mengembalikan kestabilan perusahaan.


"Sudah waktunya kamu berbaur Kris, jangan hanya mengandalkan yang berpengalaman jika kamu sendiri tidak punya pengalaman." Rain meminta seluruh staf yang bekerja di bidangnya kumpul, Rain meminta kepala divisi menemuinya di ruangan meeting.


Mereka tidak bisa bekerja jika tidak diarahkan, harus ada satu pemimpin yang dipercaya untuk mengatur.


Suksesnya sebuah bisnis memang bukan dari banyaknya staf dan pengalaman kerja, tapi dari orang-orang yang berniat tulus ingin bekerja dan tetap menunggu meskipun ada banyak gonjang-ganjing berita buruk.


Krisna mengikuti Rain dalam meeting yang berlangsung lebih dari lima jam, pembicaraan antara bawahan dan atasan tidak ada batasan.


Rain ingin semuanya berjalan sesuai apa yang sebelumnya dilakukan, bedanya dulu banyak karyawan yang bekerja meksipun banyak juga yang kerja santai, berbeda setelah perusahaan jatuh hanya menyisakan orang-orang yang niatnya tulus bekerja bukan hanya soal gaji.


"Bagaimana soal pemasok?"


"Aku akan mengurusnya, kalian laporkan kepada Pak Krisna untuk sisanya. Ingat jangan dengarkan kata orang, percaya dengan kemampuan masing-masing." Rain meminta staf tidak ragu menghubunginya atau Krisna jika mengalami kendala.


"Ada satu masalah Rain, kita tidak ada ...."


"Aku sudah memikirkannya, ada beberapa pemegang saham yang akan bergabung dan orang-orang hebat yang aku kenal bisa membantu kita soal dana." Senyuman Rain terlihat menatap Krisna.


Rain berharap tiga bulan ke depan kondisi mereka stabil, tidak merasa di ujung kehancuran lagi semalam rencana Rain bisa dijalankan dengan sangat baik.


Seluruh orang bertepuk tangan, Rain satu-satunya orang yang tidak pernah menyerah. Dia tidak ingin melepaskan perusahaan karena masih ada 60% staf tersisa yang membutuhkan pekerjaan.


Selesai meeting Rain beristirahat sebenarnya dengan mengisi tenaganya. Mulut mengunyah, otak bekerja.


"Rain, apa yang kamu rencanakan soal Madam? Sampai saat ini mama tidak muncul," ujar Krisna yang memiliki perasaan tidak enak.


"Kamu harus bersiap dengan kabar apapun yang nanti kita terima. Jujur aku memiliki pikiran jelek soal Madam, saat ini yang harus aku cari keberadaan Clen apalagi kepolisian menyatakan Clen hilang." Rain menatap satu lokasi yang dia yakini menjadi tempat persembunyian Miko.


Kebenaran soal hubungan Miko dan Clen sudah jelas, di mana Miko berada mungkin di sana juga Clen sembunyi.


"Tuan Rain." Pintu terbuka, Ratu berjalan masuk setelah kondisinya juga pulih.


"Kenapa kamu di sini? aku minta kamu istirahat sampai minggu depan." Rain berjalan mendekati Ratu.


"Kamu sudah tahu keberadaan Madam?"


Kabar duka Ratu dapatkan jika Madam ditemukan tewas bunuh diri di sungai, tubuhnya ditemukan hampir busuk namun masih bisa di identifikasi.


Krisna yang belum menyimak hanya memberikan senyum kecil, dia belum tahu kondisi mamanya.


"Kenapa kalian melihat aku begitu?" Kris merasa ada yang aneh.


"Kita ke rumah sakit dulu, ada satu hal yang harus dipastikan." Rain merangkul Krisna untuk ikut pergi ke rumah sakit.


Perasan Ratu kasihan melihat wajah polos Krisna dia pasti akan menangis histeris jika terbukti Madam meninggal dunia dengan status bunuh diri, bukan dibunuh.


Sampai di rumah sakit, Lilis sudah mendapatkan hasil otopsi menyerahkan kepada Krisna yang harus mengecek sendiri.


"Apa ini, aku tidak mengerti bacanya, kenapa ada nama mama?" Krisna meminta Lilis tidak bercanda diirnya belum berhasil menemukan mamanya yang dinyatakan melarikan diri ke laur negeri.


"Madam sudah meninggal, perkiraan polisi dia terjun dari jembatan terbawa oleh arus. Beberapa orang menemukan dan melaporkan kepada polisi, kebetulan aku melihat beritanya sehingga menyelidiki." Lilis sudah menyerah mencari keberadaan Madam yang mereka pikir lari, tapi mencoba mencarinya dengan cara lain dan hasilnya sangat mengejutkan.


"Jangan katakan itu Lis, aku bahkan belum sempat meminta maaf kepada Mama karena selama ini berpikir mama jahat."


"Aku bicara fakta," ujar Lilis yang mempersilahkan Krisna bicara dengan dokter.


Kedua tangan Krisna menutup telinganya tidak ingin mendengarkan apapun. Krisna ingin tetap percaya jika Mamanya hanya melarikan diri, tidak mungkin mamanya mati bunuh diri.


"Kris, kita dengarkan dulu Dokter bicara," pinta Rain.


"Tidak Rain, aku tidak ingin. Kenapa harus mati, Krisna belum bertanya soal papa kandung Kris, belum meminta maaf, belum sempat mengatakan Kris menyayangi mama, bahkan aku belum bisa membanggakan mama." Kris melangkah pergi meninggalkan ruangan jenazah tidak ingin mendengar ucapan konyol dokter.


Ratu juga melangkah pergi mengikuti Krisna yang berjalan tanpa arah, Ratu paham perasaan Kris dia pernah ada di posisi menyakitkan saat maminya dinyatakan meninggal bunuh diri.


Ratu juga meyakini jika maminya tidak mungkin bunuh diri, tapi tidak ada yang percaya kepadanya.


"Waktu yang singkat atau kita yang buang-buang waktu?" tanya Ratu kepada dunia.


"Dia bukan mama, aku akan menunggu mama pulang." Kris mengusap air mata yang menetes.


"Lalu kenapa kamu menangis, pertanda jika kamu yakin dia memang Madam." Ratu merasa kasihan kepada Krisna yang menangis sesegukan mencoba menepis pikirannya.


Jalan yang Krisna lalui sudah berat, tidak sanggup lagi jika harus melewati duri yang tajam dan menyakitkan.


"Kita memiliki nasib yang sama Krisna, aku tidak tahu lagi rasanya menangis karena luka yang diberikan sangat menyakitkan sehingga aku merasa mati rasa." Ratu tidak menangis sejak kematian maminya karena tidak ada gunanya dirinya menangis.


Semakin lemah dirinya, maka takdir semakin akan menyiksa sehingga Ratu mencoba melawan dengan cara menghancurkan siapapun yang mengusiknya.


"Menjadi orang baik atau jahat bukan kita yang menyebabkan, tapi keadaan yang memaksanya. Aku harap cukup aku yang memilih jalan kejahatan, sesakit apapun kamu tetaplah berdiri di jalan kebaikan." Ratu melangkah pergi meninggalkan Krisna yang terduduk lemas masih tidak ingin percaya.


***


follow Ig