
Sudah satu minggu Raja sakit, Ratu dan Rain pusing melihatnya. Batuk, muntah, tapi masih asik main mobil-mobilan.
Lion yang selalu mengawal juga binggung melihat tuan mudanya yang masih punya semangat untuk main, sekolah, meksipun sakit
Bahkan dokter sudah bergonta-ganti untuk memastikan kondisi Alex, Ratu yang paling cemas meksipun anaknya tetap ceria.
"Pa, hari ini ... Uhuk uhuk maaf ya Pa, batuk Raja tidak bisa ditahan."
Rain langsung menggedong Putranya, memeluk Raja yang meminta dibelikan panah baru karena ingin pergi berburu.
"Masih pusing kepalanya?" Rain mendudukkan Raja dipangkuan.
"Tidak, Raja batuk sama perut Raja joget-joget, terus muntah." Tangan Raja mengusap perutnya yang buncit kecil karena banyak makan, lalu keluar lagi.
"Nanti siang kita rawat di rumah sakit, Raja harus sembuh." Pelukan Rain lembut meminta Putranya tetap kuat.
"Papa uhuk, ayo kita pergi ke pantai, Raja bosan di kastil terus." Raja langsung muntah di baju Rain.
Lion yang melihatnya sangat kasihan, tangisan Raja terdengar memanggil Mamanya.
Ratu langsung cepat keluar, mengambil Raja dari pangkuan karena Papanya penuh muntah.
"Sudah jangan menangis, Papa tidak apa." Rain mengusap kepala meminta Lion segera meyiapkan mobil karena segera ke rumah sakit.
Rain ganti baju, Ratu meminta pelayannya untuk membawa semua keperluan Raja. Tidak ingin hal buruk terjadi, maka Raja harus dirawat.
Beberapa mobil mengawal kepergian ke rumah sakit, Raja langsung tidur karena perutnya kosong kembali.
"Tidak bisakah sakitnya pindah kepadaku, jangan Putraku." Rain mengusap punggung Raja, menenangkannya agar tidak gelisah.
Perjalanan ke rumah sakit, membutuhkan waktu satu jam. Rain memutuskan untuk membangun rumah sakit di wilayah mereka, memberikan dokter terbaik dari beberapa dunia.
Tidak ingin melewati perjalanan jauh, keselamatan Putranya sangat berharga. Rain menggedong Raja untuk masuk ke dalam rumah sakit.
"Kalian semua berpencar, jaga di beberapa wilayah. Jangan ada yang mendekat," perintah Ratu kepada beberapa pengawal yang langsung memisahkan diri dengan menyamar.
Rain mendaftarkan Raja, meminta ruangan terbaik. Beberapa dokter berlarian saat tahu Ratu berada di rumah sakit.
"Dia Putraku, mengalami muntah dan batuk." Ratu menatap Dokter yang memasangkan infus.
Suara Ratu berteriak terdengar, meminta Dokter mengganti dengan suntikan kecil. Jangan sampai Raja kesakitan.
Pintu ruangan terbuka, Ratu menatap Michael yang ada di rumah sakit bersama mahasiswi kedokteran lainnya.
"Aku rasa anak kecil ini baik-baik saja," ujar Michael.
"Kakak Michael, Raja muntah-muntah terus," keluh Raja dengan wajah manyun.
"Mungkin kamu hamil," tebal Michael membuat tatapan dokter tajam memintanya keluar.
Senyuman Michael terlihat, Raja membuka bajunya melihat perutnya. Membayangkan hamil seperti Aunty Lilis.
Tangisan Raja terdengar karena takut hamil, dirinya tidak ingin punya anak. Dokter menahan tawa karena candaan Raffa membuat Raja takut.
"Jangan dengarkan Kakak Raffa, dia sedang proses belajar." Dokter mengusap kepala Raja agar tenang.
Dokter menjelaskan kepada Rain jika kondisi Raja baik, dia hanya terserang flu. Dokter sudah memberikan obat.
"Penjelasan ini sudah kesekian kalinya aku dengarkan, jawaban selalu Flu. Dia sudah satu minggu begini terus, masih tetap Flu?" tanya Rain dengan nada yang sangat menakutkan.
Dari sekian banyak dokter, tidak ada satupun yang membuat Rain tenang. Dokter hanya memberikan solusi menunggu besok dan besok.
Kesabaran Rain hampir habis, Putranya sakit muntah terus dibilang flu. Ratu masih tenang tidak ingin marah di depan Raja.
"Kita tunggu besok," ucap Dokter.
Tawa Raja terdengar, jawaban yang sama dari dokter sebelumnya. Rain meminta besok pagi dokter memeriksa detail tubuh Raja, tidak ingin ada penyakit lain ditubuhnya.
Rain terduduk di sofa, kepalanya pusing melihat kondisi Raja yang terlihat sehat, tapi muntah terus.
"Sabar sayang, besok kita pastikan kondisinya." Ratu memeluk erat suaminya, mencoba menenangkan.
Kepala Rain mengangguk, dirinya akan berusaha berpikir positif jika Raja pasti baik-baik saja.
Pintu terbuka kembali, Michael langsung berlari memeluk Raja yang sangat disayanginya.
"Raja sakit, muntah terus."
"Kamu hamil bodoh," ucap Michael main-main.
"Raffa, jaga ucapan kamu. Jangan bicara sembarangan di depan Raja, ingin tujuan kamu diminta keluar agar bisa memiliki mimpi bukan bersenang-senang." Ratu bahkan mengganti nama Michael agar bisa hidup bebas, tanpa ada yang tahu siapa dirinya.
Senyuman Michael terlihat membungkukkan sedikit tubuhnya karena dirinya akan menjalankan perintah.
"Itu bukan perintah, tapi permintaan sebagai orang tua kamu. Raffa, kamu tidak boleh menyakiti, tapi cobalah mengobati," pinta Rain dengan tulus.
"Jika Kakak sebagai orang tua, izinkan Raffa bersikap manja seperti Raja." Pelukan Raffa erat kepada Rain dan Ratu.
Raffa pastikan dia akan menjadi dokter yang hebat, dan membanggakan. Raffa akan lebih hebat dari Rain.
Senyuman Rain terlihat, Raffa pamit betugas. Ratu dan Rain bergilir menjaga Raja yang tidur larut malam.
Ratu tidak bisa tidur menatap wajah dua lelakinya yang tidur nyenyak, sampai matahari terbit. Ratu merasakan tubuhnya aneh, tapi tidak paham apa yang terjadi.
Gorden kamar terbuka, Ratu menatap matahari yang sangat cerah. Mata Ratu jauh memandang keluar.
"Indahnya, aku menyukai dunia yang tenang seperti ini," gumamnya.
Suara muntah-muntah terdengar, Ratu langsung berjalan cepat melihat ke atas ranjang hanya ada Raja, sedangkan Rain tidak ada lagi.
"Rain, kamu kenapa?" Ratu masuk kamar mandi menatap suaminya yang muntah sampai terduduk lemas.
Air mata Ratu menetes, mencemaskan suaminya yang ketularan Raja. Air mata Ratu menetes langsung bergegas mencari dokter.
"Sayang aku baik-baik saja." Rain mencoba menghentikan Ratu yang sudah keluar kamar untuk menemui dokter.
Raja berjalan membawa infusnya, mentertawakan papanya yang juga muntah-muntah. Raja bukan kasihan, tapi tertawa lucu.
"Papa harus segera diinfus, sekarang Raja sudah sehat tidak mau diinfus lagi, akhirnya penyakitnya pindah ke Papa, terimakasih Pa, sudah mengambil sakitnya Raja." Infus dilepas secara paksa, Raja menempelkan di tangan Papanya meggunakan lem.
"Raja tangan kamu berdarah." Rain menatap tangan putranya ada darah karena mencabut jarum di infus.
Raja lompat-lompat kesenangan melihat Papanya yang sakit, Rain lanjut muntah lagi tidak punya waktu memarahi Raja yang tidak punya akhlak kepada orang tua.
"Ada apa Raja, kenapa kamu senang sekali?" Raffa menatap Rain yang muntah.
"Tara, Papa sakit. Yes, akhirnya Papa yang sakit." Raja berjoget karena bisa lanjut main.
Teguran Raffa terdengar, seharusnya Raja menangis bukan tertawa. Raja mengulangi ucapan Papanya meminta sakit dipindahkan, wajar saja dirinya senang.
"Papa, Raja sudah sembuh. Raja mau beli daging dulu."
"Anak kurang ajar awas kamu," gumam Rain.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
maaf juga untuk novel ini lambat up, aku selesaikan di bulan depan.