QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
MENUA BERSAMA



Keadaan tegang karena Rain memutuskan datang ke wilayah Ratu untuk bertemu ribuan bawahan Ratu yang bekerja di bawah perintahnya.


"Rain, aku tidak menginginkannya, bagaimana jika mereka menyerang?" air mata Ratu menetes, belum satu malam pernikahan sudah rusuh.


"Michael juga tidak setuju, di sana berbahaya Kak Rain." Keputusan yang Rain ambil membahayakan nyawanya sendiri.


"Bagaimana dengan kamu Lis?" Rain menatap Lilis yang tidak bisa megelurkan sepatah katapun hanya bisa geleng-geleng kepala.


Senyuman Rain mengarah kepada Krisna yang langsung menolak keputusan Rain, dia tidak rela jika Rain mempertaruhkan nyawanya.


"Apa yang dikhawatirkan Ratu benar, kamu tidak bisa berkelahi. Bagaimana jika mereka meminta kamu beradu, maka Ratu yang akan turun hingga terjadinya kekacauan," jelas Kris berharap Rain menggunakan otaknya.


"Belum satu malam Kak, lebih baik bersantai dulu. Baru tiga jam menikah sudah berdebat." Kepala Michael tertunduk tidak tega melihat kakaknya meneteskan air mata.


"Panggil Raja dan Lion, aku ingin mendengar pendapat mereka," pinta Rain dengan nada yang sangat pelan.


Lion yang sedang menjaga Raja binggung karena dipanggil, apalagi ekpresi semua orang tidak bersahabat.


"Ada apa Pa?"


"Lion, bawahan Ratu meminta aku datang, bagaimana menurut kamu?"


"Emh, ya harus pergi." Lion menatap Ratu yang menatapnya mematikan, Raja yang berada dalam gendongan langsung memeluk leher Paman Lion.


Rain meminta alasan Lion mengiyakan untuk pergi, Rain ingin semua orang mendengarnya. Lion tahu jika keadaan sedang memojokkannya karena menjawab spontan.


"Ayo jawab, aku ingin jawaban yang masuk akal."


Tarikan napas Lion panjang, dirinya tidak tahu benar atau salah, tapi Rain memang harus pergi. Di luar penyerang atau pemberontak, paling penting Rain muncul.


Bawahan Ratu pasti berpikir jika Rain pasti memiliki keberanian sehingga menikahi mafia wanita, maka dia juga harus menunjukkan diri di hadapan bawahan Ratu agar tahu lebih dalam.


"Tuan Rain harus datang meksipun hanya sekedar menyapa." Lion mengundurkan diri pamit keluar.


"Paman Lion, kenapa Raja ditinggal?"


"Raja, kamu juga harus menjawab." Rain meminta Raja mendekati mamanya.


Wajah Raja nampak sedih dan manyun, jika bisa Raja ingin pergi bersamanya Mama dan papanya. Raja takut jika Mamanya sendiri, tidak kembali lagi bertahun-tahun.


"Ma, bawa Papa dan Raja. Kita tidak ingin jauh dari Mama."


Ratu terdiam, keinginan Rain tidak salah. Ratu yang belum siap Rain tahu betapa buruknya dirinya.


"Kamu takut apa?" Rain memeluk Ratu lembut, Raja juga memeluk Ratu tidak ingin jauh.


Kepala Ratu akhirnya mengangguk, mengizikan Rain pergi bersamanya. Ratu juga tidak ingin berpisah.


"Kris, kamu boleh kembali malam ini."


"Aku juga ingin ikut, percuma saja aku kembali jika kalian juga akan menghilang di sana." Kepala Krisna menggeleng tidak ingin hidup sendirian.


"Aku tidak akan mati, kita akan keluar masuk bebas." Senyuman Rain terlihat menatap Lilis yang terkejut.


Dulu Lilis pernah mengatakan jika Ratu diikat dan dikurung di sebuah kekuasaan, dia tidak bisa keluar dengan mudah karena terikat.


Senyuman Lilis terlihat, dirinya lupa apa yang dahulu Rain katakan jika suatu hari dirinya akan membawa Ratu keluar dengan bebas.


Tidak peduli seburuk apa masa lalu, paling penting masa depan. Rain akan membahagiakan Ratu layaknya sang Ratu yang berada di istana mewah.


"Malam ini kita kembali, tidak ada waktu istirahat karena kita akan tidur di pesawat," ucap Rain yang lupa dengan malam pertamanya.


Kode yang diberikan oleh Michael dan Krisna tidak digubris, Ratu hanya bisa geleng-geleng karena Rain tahu jika dirinya sedang kedatangan tamu bulanan.


"Keluar dari kamar ini, kita mau packing barang." Rain menarik koper baju Raja.


Ratu berdiri menatap dirinya yang menggunakan gaun pengantin, wajahnya sangat cantik dan anggun.


"Mami, Ratu sudah menikah, Mami bisa melihat betapa bahagianya Ratu. Putri Kakak rindu kamu," gumam Ratu pelan karena merindukan dua wanita yang sangat diharapkan kehadirannya.


Mata Ratu menatap ke arah Raja yang mencabut satu-persatu mutiara dari gaun, satu lagi doa Ratu ingin membesarkan satu-satunya adik lelakinya.


"Ma, maafkan Ratu tidak bisa membencinya, anak ini terlalu manis, Ratu sangat mencintainya."


"Ma, kenapa Mama menangis? apa Mama tidak bahagia Raja ingin ikut?"


"Mama bahagia sekarang ada Raja dan Papa dalam hidup Mama." Ratu merentangkan tangannya memeluk erat Raja.


Tawa Raja terdengar, menujukkan sesuatu kepada Ratu jika dirinya berhasil mengambil mutiara dari gaun.


"Sayang, kamu mau ganti baju tidak?" Rain menatap Raja yang sudah merusak gaun.


"Bantuan Ratu membukanya." Tangan Rain ditarik ke kamar mandi, menghentikan Rain agar tidak memarahi Raja.


Di dalam kamar mandi Ratu menatap suaminya yang sangat tampan, tidak pernah Ratu sangka lelaki yang sangat dingin dan sangat dibenci ternyata lelaki yang sangat dicintainya.


"Rain, I love you." Ratu mengecup bibir lembut.


"I love you too Felisha Ratu," balas Rain penuh cinta. Bibir keduanya bertemu.


"Mama susu Raja habis." Pintu terbuka Raja membawa kotak susu yang sudah kosong.


Rain megusap bibirnya karena Raja tidak bisa dikompromikan, ada saja tingkahnya yang menggagalkan kesenangan.


"Temuin Kak Michael, minta dia yang membelinya." Ratu mengusap kepala Raja yang langsung berlari keluar kamar.


Tawa Ratu terdengar karena Rain terlihat kesal, rasa sayang Rain sangat besar kepada Raja sehingga tidak bisa menunjukkan betapa besarnya cinta.


"Terimakasih sudah menjaga Raja, kamu menjadi Papa terbaik selama tiga tahun ini, izinkan Ratu ikut mengambil peran." Pelukan Ratu erat.


"Aku belum baik, hidup bersamaku cukup sulit bagi Raja, tapi dia sangat hebat menutupi kesedihan juga amarahnya, sehingga hanya ada rasa bahagia." Alasan Rain terus mencari cara agar bisa bertemu Ratu agar Raja mendapatkan cinta dari saudara kandungnya.


"Apa hanya demi Raja?"


Kepala Rain menggeleng, dirinya sedang menjaga mentalnya agar tetap aman. Kebahagiaan Rain saat bersama Ratu, tidak bisa menerima wanita manapun demi menjaga hatinya yang dibawa pergi oleh Ratu.


Pelukan Ratu sangat erat, meminta Rain tetap ada di sisinya. Tidak akan Ratu biarkan mereka berpisah kembali, tidak peduli apapun alasannya.


"Mari menua bersama, membesarkan anak-anak kita. Jika kita tidak beruntung memiliki orang tua, maka kita buat anak kita yang akan beruntung memiliki orang tua." Rain meminta Ratu mengikat janji hidup bahagia bersamanya.


Rain tahu pernikahan yang akan dijalani tidak mudah, sikap yang keras juga status yang lebih tinggi akan membuat keegoisan.


"Aku akan melindungi kamu dan Raja," ucap Ratu.


"Kebalik, kalian berdua yang harus berdiri dibelakang aku tidak ada yang boleh menyakiti selama aku bernapas." Rain sudah melewati hidup yang begitu pahit, sekali saja dia ingin tahu rasa manis dengan melihat orang yang dicintainya bahagia.


***