QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
REBUTAN



Ratusan orang bertekuk lutut di depan gerbang, pasukan Rain tidak mudah ditaklukkan.


"Kami pamit Tuan." Puluhan pria berbadan besar pergi tanpa mendapatkan imbalan apapun.


"Apa kalian tidak ingin melihat wajahnya?" suara Rain terdengar karena sudah puluhan tahun dirinya tidak muncul.


Banyak yang menundukkan kepala, suatu kehormatan bisa melihat wajah Rain, tapi juga menjadi hal yang menakutkan.


Gerbang kastil terbuka, Rain berjalan berdua bersama Lion ingin menemui pasukan yang pulang membawa kemenangan.


"Apa kabar?" sapa Rain tanpa menunjukkan senyuman.


Semua orang menatap ke arah Rian, tidak ada satupun yang berani bergerak karena pemuda yang pernah menyelamatkan terlihat seperti orang biasa.


"Siapapun yang mengkhianati Ratu memiliki dua pilihan, keluar dari sini atau memperbaiki diri. Aku masih memberikan kesempatan karena tidak ingin ada pertumpahan darah di sini." Rain tidak peduli bisnis apa yang dijalani, kejahatan apa yang dilakukan. Selama tidak merugikan keluarga kecilnya.


Apapun pekerjaan atau bisnis yang dijalani pasti adanya orang yang iri, benci dan ingin menjatuhkan. Rain tidak bisa menghentikannya karena berasal dari hati masing-masing.


"Kalian tidak ingin mengatakan apapun padaku?" tanya Rain dengan nada pelan.


"Panggil kami tuan jika membutuhkan sesuatu," ucap seseorang yang membungkukan tubuhnya.


Kepala Rain mengangguk, menatap satu-persatu wajah. Mengingat siapapun yang pernah muncul dihadapannya.


Mata Lion tidak berkedip melihat Rain yang begitu cerdasnya, hanya satu kali melihat orang langsung tahu.


Tidak ada yang bisa Rain bicarakan, meminta gerbang ditutup kembali karena sudah cukup dirinya memperkenalkan diri kepada seluruh pejahat baik kelas berat ataupun psikopat.


"Kenapa kamu menatap aku?" kening Rain berkerut melihat Lion.


"Bagaimana bisa kamu mengendalikan banyak orang? bahkan bisa tahu ada pemberontakan." Lion baru sadar jika Rain memperkenalkan diri dengan cara yang ekstrim.


Tepukan di pundak Lion terdengar, Rain tidak memiliki jawaban karena penderitaan yang Rain dan Ratu rasakan mengajari keduanya banyak pengalaman hidup.


Kepintaran bisa dimiliki oleh siapapun, baik dari keturunan atau belajar. Hal yang membedakan tiap manusia selain karakter ada yang namanya nasib sial juga beruntung.


"Kenapa belum ada yang tidur?" Rain menatap Krisna dan Michael yang masih melongok di depan pintu.


Senyuman Rain telihat menatap Lilis yang masih duduk di sofa, tatapan matanya tajam karena Rain ternyata sangat misterius.


"Lis, menikahlah. Aku tahu kamu ingin memiliki keluarga, jangan cemaskan Ratu. Dia pasti akan bahagia bersamaku," ucap Rain menatap jam yang sudah hampir pagi.


Malam pertamanya terlewati begitu lama, sudah sampai pagi lagi belum sempat melihat wajah istrinya.


Pintu kamar Ratu terbuka, dua orang sedang tidur dengan nyenyak. Ratu dan Raja asik tidur berpelukan tanpa dirinya.


"Bagaimana bisa kamu mengambil istriku?" Rain menarik perlahan kaki Raja untuk dipindahkan.


"Papa." Pukulan Raja mendarat di kepala Papanya.


Raja naik lagi ke posisi awal, memeluk Mamanya yang masih tidur pulas tidak terbangun meksipun Raja banyak gerak.


"Anak kurang ajar, beraninya memukul." Rain menatap tajam ingin menelan Raja hidup-hidup.


Tidak bisa memindahkan Raja, giliran Ratu yang ditarik. Teriakkan Raja terdengar melihat Mamanya diambil.


"Papa ini kenapa menganggu Raja dan Mama tidur?" tangisannya terdengar memukuli ranjang.


Ratu terbangun mendengar suara putranya mengamuk karena ulah Papanya yang ingin pindah tempat tidur.


"Mama itu istrinya Papa, dari kemarin kamu terus yang dipeluk, giliran aku kapan?" suara Rain meninggi meminta Raja pindah kamar.


Tangisan Raja semakin kuat, menggulung tubuhnya menggunakan selimut karena merasakan sedih.


"Raja, tidak boleh menangis di pagi hari. Kamu juga kenapa?" Ratu merentangkan tangannya meminta Rain memeluk erat.


Tatapan Rain tajam, melangkah pergi masuk ke dalam kamar mandi sambil banting pintu. Ratu tepuk jidat melihat dua lelakinya suka ngambek.


Panggilan Ratu sangat pelan, meminta Raja keluar dari dalam selimut. sudah beberapa hari Papa Rain belum tidur dan istirahat, seharusnya Raja mencemaskan kesehatan Papa daripada bertengkar.


"Papa duluan yang mulai, tarik-tarik kaki Raja."


"Raja tidak boleh marah, mungkin Papa hanya bercanda. Mulai besok Raja tidur sendiri."


Wajah sedih Raja terlihat, tidak ingin berpisah dari Mamanya. Sejak kecil Raja tidur sendirian karena dimarah oleh Papanya tidur bersama.


Setelah bertemu mamanya, kesekian kalinya harus tidur sendiri. Raja hanya berharap bisa terus tidur bersama Mamanya hingga dewasa.


"Kenapa tidak boleh?"


"Raja sudah besar, dan kedua Raja laki-laki. Anak laki-laki harus mandiri," ucap Ratu yang bicara selembut mungkin.


Mencoba menjelaskan kepada Raja agar dia tidak bertanya lagi alasan harus memiliki kamar terpisah.


Kepala Raja mengangguk pelan, dirinya akan menuruti apa yang Mamanya jelaskan karena tidak ingin menjadi lelaki lemah.


Tangan Raja memegang perutnya, tidak tahan lagi ingin pergi ke toilet, tapi Papanya masih ada di dalamnya.


"Aduh, perut Raja sakit." Gedoran di pintu kamar mandi terdengar, Rain yang ada di dalam membiarkan saja.


Teriakkan Raja diabaikan, Rain sengaja membalas karena Raja merebut Ratu ingin menguasai sendiri.


"Papa, kenapa jahat sekali pintunya dikunci?" kemarahan Raja terdengar menendang pintu kuat.


"Rain, ayo cepat. Raja sakit perut."


"Rumah ini ada tiga puluhan kamar mandi, maka gunakan tempat lain," jawab Rain masih santai mengerjai Raja.


Tendangan Ratu kuat menghantam pintu, Rain menatap Raja yang masuk sambil jalan bungkuk menatap Papanya yang sudah mandi, tapi masih duduk santai di wastafel kamar mandi.


"Awas Papa ya, nanti Raja balas."


Rain langsung melangkah keluar, Ratu menutup pintu meminta Raja segera menyelesaikan urusannya.


Tawa Rain terdengar, pintu kamar mandi sampai rusak. Ratu menarik telinga suaminya yang sangat jahil.


"Dia membuat kesal, tidak pernah ingin mengalah." Rain memeluk pinggang istrinya mengecup pipi Ratu berkali-kali.


"Jangan sekarang nanti Raja keluar." Ratu mengusap wajah suaminya.


Kepala Rain mengangguk, memutuskan untuk tidur karena sudah dua hari tidak tidur. Tubuh Rain membutuhkan tenaga agar bisa melakukan malam pertama.


Baru beberapa menit Rain tidur, seseorang sudah naik di atas tubuhnya. Raja memukuli Papanya karena membuat perutnya sakit sekali.


"Sakit Raja, Papa ingin tidur." Rain menarik pipi putranya.


Kesadaran Rain langsung pulih, menggedong Raja karena melihat ada darah dari hidungnya. Teriakkan Rain terdengar meminta pelayan memanggil dokter.


"Kenapa hidung kamu berdarah?"


Ratu yang baru saja keluar kamar sudah lari lagi melihat dua lelaki saling bertatapan karena hidung Raja mengeluarkan darah.


"Hidung Raja ada koreng, dicungkil pakai jari ternyata berdarah." Tawa Raja terlihat menatap wajah Papanya yang nampak kesal.


"Butuh dokter apa Tuan?" tanya seseorang.


"Tidak jadi, tolong bawa anak kecil ini sebelum dia aku masukkan karung."


***


follow Ig Vhiaazaira