QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
JANJI PERNIKAHAN



Rain sudah berdiri di atas altar, menunggu Ratu yang datang bersama Michael dan Raja. Perasaan Rain juga deg-degan sampai tangannya dingin.


"Papa," panggil Raja yang berlari ke arah Rain tanpa Mamanya.


Senyuman kecil Rain terlihat, rasanya ingin menarik telinga Raja namun tidak enak dilihat banyak orang.


"Pa, gendong." Raja memanjat Rain memeluk erat papanya.


"Kamu tidak bisa tenang hari ini?" Rain langsung tertawa mendengar bisikan Raja yang membuat rasa deg-degan langsung lenyap.


Raja memberithukan jika Mamanya sangat cantik, tapi tetap saja wajahnya serem kalau matanya melotot.


Kris naik ke atas Altar, meminta Raja turun dan ikut dirinya duduk tenang menyaksikan pernikahan kedua orangtuanya.


"Ayo Raja," pinta Kris.


"Tidak mau, Raja mau sama Papa."


Lirikan mata Rain tajam, barulah Raja pindah ke Kris, turun ke bawah duduk santai menunggu kedatangan Mamanya.


Pemberitahuan jika pengantin wanita akan segera masuk, seluruh orang melihat ke arah pintu yang akan segera terbuka.


Senyuman Rain terlihat, tarik napas buang napas untuk mengucapkan janji pernikahan yang tertunda tiga tahun lamanya.


"Pengantin wanita akan segera masuk," ucap seseorang yang ada di depan pintu.


"Tunggu dulu, Raja seharusnya dampingi Mama bukan di sini." Raja berlari ingin membuka pintu.


Rain hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku Raja, Pintu terbuka memperlihatkan Ratu tertunduk menunggu.


"Mama, ayo kita masuk ke dalam rumah, eh salah." Raja memegang tangan Ratu untuk segera berjalan besama.


"Anak pintar, pintunya dibuka sendiri." Ratu tersenyum ke arah Michael yang sudah garuk-garuk kepala.


Langkah Ratu pelan mengiringi langkah Raja yang sangat kecil, Rain tersenyum menatap calon istrinya.


"Ma, kenapa jalannya lama sekali?" Raja jalan lebih dulu menaburkan bunga ke arah kepalanya sendiri.


Ratu dan Rain tidak bisa berkata-kata lagi, suka-suka Raja asalkan dia bahagia dengan apa yang dilakukanya.


Tangan Rain terulur menyambut tangan Ratu, keduanya tersenyum manis berjalan bersama ke depan untuk mengucapkan janji dan sumpah pernikahan.


"Ayo torn Raja, kita lihat dari sana." Michael menarik paksa dengan rayuan makanan.


Tangan Ratu dingin bisa Rain rasakan, meminta tenang mengatur napas agar bisa mengeluarkan suaranya.


"Rain, aku deg-degan," ucap Ratu yang cemas jika dirinya melakukan kesalahan.


"Kita sudah ada di sini, tidak ada lagi yang perlu dicemaskan, lihat aku." Rain tersenyum mengeratkan genggaman tangan.


Kepala Ratu mengangguk, tarik napas buang napas, jika dirinya mampu menaklukan medan pertempuran, maka harus mampu melewati hari pernikahannya.


Suara seseorang membacakan janji pernikahan terdengar, Rain dan Ratu sudah tenang mendengarkan.


Tangan Rian terangkat mengucapkan janji jika akan mencintai istrinya dalam suka maupun pun duka, dalam sakit maupun sehat. Mencintainya hingga maut memisahkan.


Setelah Rain mengucapkan janji dan sumpah, giliran Ratu yang mengangkat tangannya mengucapkan janji akan mendampingi suaminya dalam suka maupun duka, mencintai, menghormati dan menjalankan rumah tangga yang bahagia hingga maut memisahkan.


Senyuman keduanya terlihat setelah terdengar jika resmi sebagai suami istri, Rain memeluk erat Ratu, mengecup keningnya lembut.


"Aku tidak memiliki orang tua untuk memberikan hormat juga restu, tapi aku memiliki Kakak yang menyaksikan menjadi satu-satunya keluarga." Rain tersenyum melihat Kris yang tertunduk karena menangis.


Bukan hanya kris, Rain juga merasakan sedih karena menikah tanpa satupun orang yang mengetahui soal dirinya.


"Aku bahagia untuk hari ini dan seterusnya, sedangkan hari lahir hingga kemarin cukup berat aku jalani." Rain tidak bisa menjanjikan kemewahan, tapi akan berusaha menjanjikan kebahagian.


Kepala Ratu mengangguk, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena menahan air matanya.


Cincin melingkar di jari keduanya, suara tepuk tangan juga terdengar memberikan selamat atas pernikahan Rain dan Ratu.


"Telat Raja, makanya lihat dulu bukan makan dulu." Michael tepuk jidat.


Suara tawa terdengar ulah Raja yang terlambat melihat kedua orangtuanya mengucapkan janji pernikahan karna sibuk makan daging.


"Ya sudah, kapan bunganya dilempar?"


"Bunganya tadi kamu mainkan," ujar Kris yang melirik sinis.


Bibir Raja manyun, melipat tangannya di dada tidak suka karena Papa dan Mama berjalan berdua, tapi tidak bisa melempar dengan bunga.


Semua orang tersenyum bahagia begitupun dengan pengantin, hanya Raja yang menatap sinis karena bunganya sudah habis di tabur di atas kepalanya sendiri.


"Aw, sakit." Rain mengusap punggungnya melihat ke arah belakang menatap Raja melempar dengan sepatu.


Tawa Krisna dan Michael pecah, Lilis memberikan bunganya agar Raja berhenti mengamuk.


"Kenapa anak satu itu?" Rain menatap Raja yang berjalan tanpa alas kaki melemparkan bunga seperti yang orang lain lakukan.


"Bukannya Raja lucu? sakit ya sayang, kamu lemah sekali?"


"Bukan masalah sakitnya, tapi malu." Rain lanjut jalan masih menatap sinis Putranya yang cekikikan tertawa main bunga.


Rasanya Rain ingin melempar Raja menggunakan sepatu, terlalu nakal yang jahil. Tidak pernah melakukan sesuai perintah.


Selesai acara pernikahan, tamu yang menghadiri juga pergi. Segerombolan orang yang tidak dikenali datang.


"Bawa Raja keluar dari tempat ini, tinggalkan aku sendiri," perintah Ratu kepada Lilis yang langsung bergerak cepat.


Rain juga ingin melangkah pergi, tapi Ratu menahan tangannya untuk tetap berdiri di sisinya.


"Bukannya kamu ingin sendiri?"


"Mereka saja yang pergi, kamu dampingi aku." Ratu memukul dada Rain membuatnya meringis kesakitan.


Beberapa pria berbadan besar masuk, menatap tajam ke arah Rain yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Nona Ratu, kenapa secara tiba-tiba menikah? bahkan di sana sedang gaduh, berita Nona memiliki seorang Putra juga merusak citra," ucap pria yang memimpin kedatangan.


"Aku berhak memutuskan ...."


"Tapi tidak dengan sembarangan pria!"


Ratu berjalan mendekat, melayangkan pukulan kuat. Dirinya belum ada selesai bicara, tapi sudah dipotong dengan nada yang sangat kasar.


Tidak ada yang berhak mengatur dirinya, siapapun yang terima keputusan Ratu, maka dipersilahkan untuk keluar.


"Maafkan kedatangan kami, jika Nona berkenan kembali bersama kami, bawa suami Nona untuk memperkenalkan diri."


"Tidak, dia tidak akan datang ke sana. Aku akan kembali sendiri dan menyelesaikan masalah." Ratu mengangkat tangannya tidak menerima jawaban apapun.


Siapapun yang tidak suka dipersilahkan untuk memberontak, Ratu akan menyambut siapapun pengkhianatan yang memutuskan keluar dari barisan.


Langkah Rain mendekat, merangkul pundak Ratu. Jika Ratu sedang marah sungguh menakutkan.


"Aku akan datang, besok pagi kita pergi bersama. Bantu aku untuk beradaptasi dengan kalian." Senyuman Rain terlihat, sangat tenang dan berwibawa.


Tangan Rain ditepis oleh Ratu, tidak mengizinkan suami dan putranya datang, Ratu tidak menjamin apa yang akan terjadi jika keributan tidak terkendali.


"Rain, kami ini pejahat, jangan coba-coba mendekat," tegas Ratu tidak mengizinkan.


"Sayang, aku menikahi kamu karena ingin bersama, bagaimana bisa kamu meninggalkan aku? kita pergi bersama, aku akan baik-baik saja." Rain meyakinkan Ratu jika dirinya tidak akan menyusahkan.


***


. follow Ig Vhiaazaira