QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
PERGI SELAMANYA



Di depan gerbang Ratu sudah berdiri menunggu kemunculan Sinta, Lilis mengerutkan keningnya karena Albert menjadi tahanan sedangkan anak kecil menghilang.


"Dia bahkan tidak membutuhkan Alip," ujar Ratu meminta Lilis mencari keberadaan Alip sebelum terjadi keributan besar-besaran.


"Sebaiknya kamu menyingkir Ratu, urusan aku bersama Albert." Sinta meminta jalan agar dirinya bisa pergi.


"Tidak ada yang bisa pergi dari tempat ini, ini akan menjadi akhir segalanya." Ratu menunjukkan kepada Albert soal kebakaran yang terjadi di perusahaan.


Ratu bukan ingin menghacurkan pekerjaan para pekerja, tapi semua orang yang ada di perusahaan Albert tutup mulut, mata, telinga juga hati dari apa yang terjadi.


Kepala Sinta menggeleng, dirinya tidak peduli soal harta, paling penting bisa menyelesaikan dendamnya.


"Aku tidak mengatakan kamu yang hancur, namun Albert. Dia kehilangan segalanya karena lalai dalam bertindak." Ratu menyatakan jika Albert jatuh miskin karena ulah Putrinya sendiri.


Tidak ada respon dari Albert, jika waktu bisa dirinya putar ingin rasanya memeluk Ratu penuh kasih sayang, mengajari Putri banyak hal sebagai ayah yang baik, tapi sayangnya Albert kehilangan Ratu karena berubah menjadi seorang pejahat, sedangkan Putri sudah tiada.


Suara keributan terdengar, bawahan Ratu mulai menghacurkan hotel milik Albert untuk selamanya.


"Ratu, jaga Alip. Dia hanya punya kamu, Nak." Albert menatap ke arah hotel.


"Aku bukan anak kamu." Ratu melangkah mundur memberikan kebebasan kepada Sinta untuk melenyapkan Albert.


"Ratu, apa kamu tahu jika seluruh kekayaan Albert atas nama kamu?" tawa Sinta terdengar, merasa puas karena tujuannya sejak awal melihat Ratu lepas kendali.


Ratu harus menjadi iblis yang melawan Albert menghacurkan apa yang sudah Albert bangun. Setelah Ratu diasingkan, barulah membuat Mama Ratu menggila, menjadikan Putri umpan kehancuran.


"Rumah penuh kenangan kamu hancurkan, perusahaan yang kamu miliki juga dihancurkan. Tidak ada lagi yang tersisa, kamu sungguh luar biasa bisa membuat Albert menjadi gembel." Tawa Sinta sangat puas karena tujuannya berhasil untuk membalaskan dendam.


"Jangan senang dulu Sinta, aku tidak sebodoh itu." Ratu juga tertawa, dirinya tidak membutuhkan harta Albert karena Ratu jauh lebih kaya.


Ratu hanya melenyapkan apa yang seharusnya Alip miliki, dia akan hidup menderita sama seperti Rain tidak memiliki keluarga, apalagi harta.


Sinta melepaskan Albert, melangkah mendekati Ratu karena tidak pantas menyamakan antara Rain dan Alip.


"Rain lahir dari seseorang yang akui cintai, tapi Alip dari orang yang aku benci."


"Tidak peduli dia lahir dari mana, intinya sama-sama tidak memiliki apapun juga hidup di bawah perintah orang lain. Ibarat anjing yang memakan sampah." Ratu melangkah pergi karena Sinta harus melihat kehancurannya setelah merenggut nyawa ibu dan adiknya.


Sinta berlari kencang ingin menancapkan suntikan di tubuh Ratu, para pengawal berlari mencoba melindungi Ratu.


Suara tembakan terdengar, Albert melepaskan tembakan tepat di dada Sinta. Tubuhnya ambruk di depan Ratu.


"Aku tidak menyesali kematian ini, setidaknya keluarga kamu hancur." Senyuman Sinta terlihat menatap mata Ratu yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Selamat menemui kematian." Ratu melangkah pergi karena dirinya harus segera kembali ke negaranya ada banyak hal yang harus dirinya kerjakan..


Niat hati Ratu ingin melenyapkan Albert, tapi hukuman baginya bukan kematian selain kehilangan orang-orang yang di cintai.


Penyesalan Albert belum sempat menyayangi Putri, tidak berkesempatan menjadi ayah yang baik bagi kedua putrinya.


"Ratu, aku tidak berhasil menemukan Alip. Mungkin dia sudah dilahap api." Lilis keluar hotel dalam keadaan hampir terbakar.


Tarikan napas Ratu panjang, soal Alip bukan urusan Ratu, sudah menjadi maslahatnya karena mati tanpa penyelesaian.


"Abaikan saja anak itu, hidup ataupun mati tidak ada gunanya." Ratu meminta jet pribadi menjemputnya.


"Ratu, seharusnya kita pamit dulu kepada Rain," ujar Lilis yang merasa keputusan mereka kembali terlalu menyakiti Rain.


Sudah ada sepantasnya Ratu membenci mereka karena membuat hidupnya hancur, meksipun Rain tidak melakukan langsung kemunculan Rain akan mengingatkan Ratu pada wajah Sinta.


"Jika begitu, izinkan aku yang menemuinya." Lilis ingin berpisah secara baik-baik.


"Lakukan sesuka hati kamu Lis, aku tidak akan menjaganya." Ratu meminta Lilis tidak kembali padanya, lebih baik dirinya membuka lembaran baru dengan orang yang dicintai.


"Aku tidak pernah mencintai Rain," ucap Lilis terkejut karena Ratu berpikir dirinya menyukai seseorang yang nampak memiliki tempat di hati Ratu.


Pertemuan awal juga bukan karena kesengajaan maka sudah sepantasnya berpisah tanpa pamitan.


Ratu melihat ke arah Albert yang menangis histeris memeluk Sinta, tangisan karena kejahatan Sinta atau tangisan terlalu mencintai Sinta.


"Albert tidak akan bertahan lama, dia mengkonsumsi obat yang sama dengan Putri. Selama ini terlihat baik karena memiliki obat penawarnya." Ratu tidak perlu mengotori tangannya membunuh Sinta karena dia mati di tangan suaminya.


Ratu juga tidak perlu membunuh Albert karena dia juga akan mati karena kebodohan dirinya sendiri.


"Selamat tinggal Mama, selamat tinggal Putri, Kak Ratu tidak akan kembali lagi ke negara ini." Ratu meminta mobil melaju pergi karena dirinya sudah terlambat.


Di dalam hati, Ratu mengucapkan selamat tinggal kepada Rain. Dirinya tidak bisa datang bukan karena membenci Rain, tapi takut jika tidak bisa meninggalkan Rain.


Remote diserahkan kepada Ratu, langsung ditekan. Hotel meledak seketika. Ratu tidak peduli jika Alip ada di dalam hotel.


Dia tidak boleh memiliki harta apapun agar bisa hidup tanpa dendam. Jika Alip memang diizinkan selamat, maka dia harus hidup sebagai orang lain bukan putranya Albert dan Sinta.


Kejahatan orangtuanya akan menjadi senjata mematikan sehingga dirinya akan menjadi incaran banyak orang.


"Rain," panggil Lilis karena melihat mobil Rain lewat.


"Halangi Rain agar tidak mendekati hotel," pinta Ratu kepada bawahannya yang langsung putar arah karena kemunculan mobil Rain.


"Kenapa kamu menghalangi dia Ratu?"


"Aku tidak ingin Rain menangis melihat kematian Ibunya, meskipun Rain juga membencinya tetap saja akan hancur." Ratu sendiri yang begitu yakin bisa membunuh Albert tidak mampu melakukannya apalagi Rain yang tidak memiliki catatan kejahatan.


Kepala Lilis mengangguk, ternyata Ratu masih memikirkan nasib Rain. Tidak ingin lelaki sepintar Rain kehilangan arah karena hal yang tidak dirinya lakukan.


"Ratu, apa kamu pernah membayangkan memiliki cinta dan keluarga bahagia?"


"Tidak, aku tidak menginginkannya. Cinta hanya sesaat, sedangkan keluarga akan membuat aku lemah." Ratu melihat mobilnya berhenti karena seorang remaja melangkah masuk.


Senyuman Michael terlihat, dia memutuskan ingin ikut Ratu. Bukan sebagai saudara, tapi budak Ratu.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Kakak Lilis yang minta," balas Michael menatap Ratu.


"Kamu masih memiliki keluarga Ratu, Michael juga Adik tiri kamu meksipun tidak sedarah. Bagaimanapun Aryani juga pernah menikah dengan Albert walaupun berhasil disingkirkan." Lilis sudah memastikan jika Michael bukan anak Albert, tapi dia juga harus tahu jika Ratu Putri kandung Albert sehingga merasa memiliki seorang Kakak.


Kepala Ratu menoleh ke arah lain, adiknya saja gagal dirinya jaga bagaimana caranya dirinya membesarkan Michael yang lahir dari kedua musuhnya.


***


follow Ig Vhiaazaira