QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
HUKUMAN



Di kegelapan malam yang sedang hujan deras Ratu bersama Lilis berdiri menatap ke arah rumah yang terbilang cukup mewah.


Di saat Elisha menghilang, Aryani dengan santainya pulang ke rumah beristirahat tanpa memikirkan nasib Elisha.


"Wanita ini orang kepercayaan Albert, papanya dan mamanya orang yang bekerja di keluarga Albert lebih dari dua puluh tahun sehingga merasa memiliki kekuasaan juga." Ratu suka dengan orang-orang yang memancingnya untuk bertarung.


"Apa dia terlibat dengan Elisha?"


"Bukan hanya terlibat, Aryani menantang aku bahkan mengancam akan menghancurkan aku. Bukannya dia sangat lucu?" tawa Ratu terdengar karena Aryani menantang iblis untuk muncul ke permukaan.


"Kita buat lenyap dia dari muka bumi ini." Lilis mengikuti langkah Ratu yang sudah melangkah lebih dulu.


Hujan deras juga kilat membuat penjagaan tidak ketat, bahkan satpam tidur nyaman berselimut di posko jaga.


Dua wanita yang basah kuyup bisa masuk dengan mudahnya, melangkah ke dalam melihat kondisi rumah yang sepi.


Seluruh CCTV langsung mati, Lilis menujuk ke arah kamar yang sudah diketahui tempat tidur Aryani.


"Aku akan melenyapkannya, kamu tunggu di sini." Ratu berlari menaiki tangga melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap.


Lampu langsung hidup, seorang wanita sedang tidur nyenyak bersama seorang pria yang Ratu ketahui sebagai suaminya.


Suara tembakan terdengar, Aryani langsung bangun dan terkejut melihat suaminya berlumuran darah.


"Sayang, siapa kamu?" teriakan Aryani terdengar menatap Ratu yang tersenyum manis berdiri di hadapannya setelah melepaskan tembakan ke dada pria yang tidur tenang.


"Dia sudah hidup damai, maafkan sudah membangunkan tidur kamu, setidaknya tembakan ini tidak membangunkan para penjaga." Suara Ratu tertawa terbahak-bahak terdengar merasa lucu melihat Aryani meneteskan air mata mengusap dada suaminya yang berlumuran darah.


"Kamu cari mati!"


"Betul, aku memang sedang mencari korban untuk menghabiskan satu peluru lagi. Malam ini harus ada dua yang mati karena didalam senjata ini ada dua peluru." Ratu tidak ingin pulang jika belum menghabiskan pelurunya.


Mata Aryani mengeluarkan air mata, berdiri dari tempat tidur mengambil senjata di dalam laci meja diarahkan kepada Ratu.


Wajah Ratu sangat santai berjalan ke arah senjata meminta Aryani segera menembaknya.


Suara tembakan terdengar, Lilis menduga ke lantai dua langsung berlari ke atas karena penjaga akan segera datang.


"Ratu," panggil Lilis yang kaget melihat Aryani menembak suaminya sendiri secara membabi-buta.


Ratu tersenyum melepaskan tangan, melihat istri membunuh suaminya secara brutal. Kehancuran dan rasa malu Elisha yang disebarkan fotonya sudah terbalaskan karena hancurnya hati seorang istri yang membunuh suaminya sendiri.


"Kamu pembunuh," bisik Ratu pelan merasa senang karena dia bisa melihat Aryani gemetaran.


"Siapa kamu, siapa yang memerintahkan kamu?"


Kepala Ratu menggeleng, tidak ada satu orangpun yang tahu siapa dirinya. Orang selemah Aryani tidak layak tahu siapa Ratu, dia tidak pernah bekerja di bawah perintah siapapun karena dirinya yang memimpin.


"Sekarang waktunya kamu mati." Ratu mengarahkan senjata tepat di kepala.


Tangan Lilis menahan pundak Ratu, membunuhnya sangat mudah, sebelum dia mati harus ada keuntungan yang mereka dapatkan.


Tembakan Ratu terarah kepada penjaga yang baru saja tiba, Ratu berjalan keluar melumpuhkan lima penjaga yang baru saja masuk karena mendengar suara tembakan.


Teriakan Aryani terdengar menggema, mendapatkan penyiksaan dari Lilis yang menyobek mulutnya karena sudah menyebarkan berita soal Elisha.


"Siapa orang yang memerintahkan kamu?"


"Baiklah, apa kamu pikir kami membutuhkan informasi? sayangnya tugas aku bukan mendapatkan informasi, tapi menyiksa." Rambut Aryani ditarik paksa oleh Lilis yang berjalan menuruni tangga melihat Ratu yang sudah menunggu.


"Kenapa kamu belum membunuhnya?"


"Aku ingin membunuhnya dengan cara lain, membuatnya menyesal pernah hidup di dunia ini." Senyuman Lilis terlihat, melangkah keluar lebih dulu dari Ratu.


Kepala Ratu menoleh ke belakang, suara ledakan terdengar menyebabakan kobaran api melahap satu rumah mewah.


Senyuman manis Ratu terlihat, menutup pintu rumah rapat, api berkobar melahap segalanya mengubah hujan menjadi cahaya terang.


Tangisan Aryani terdengar, berlutut sambil teriak-teriak melihat suami dan rumahnya dilahap api besar.


"Aku tidak pernah ini menyakiti kalian, tapi dikarenakan kalian yang memulai lebih dulu maka terpaksa aku melakukannya." Ratu menadahkan tangannya karena hujan sudah berhenti.


"Siapa kalian sebenarnya?"


"Anggap saja kamu bukan manusia, jika manusia yang memiliki hati saja masih bisa menyakiti lalu bagaimana aku yang memang hidup untuk menyakiti." Ratu hanya tertawa kecil karena dia harus membunuh banyak orang hanya karena satu manusia yang membuatnya melakukan kejahatan.


Kepala Lilis mengangguk membiarkan Ratu pergi, bicara atau tidaknya Aryani tidak penting. Ratu memiliki cara lain agar bisa mendapatkan para pelaku yang menyakiti adiknya.


Semalaman Ratu menyusuri jalanan, tidak terasa dia sudah berjalan lebih dari tiga jam. Setelah membunuh lebih dari lima orang, suasana hatinya tidak baik sama sekali.


"Kenapa manusia seperti aku harus dilahirkan?" Ratu menatap hotel yang tinggi, melangkah masuk menemui adiknya.


Mendengar suara pintu terbuka menbuat Putri langsung berlari untuk bersembunyi, langkah kaki seseorang terlihat, tetesan air masih mengalir.


"Ratu, kenapa Ratu basah?" Putri keluar dari persembunyiannya membawa kue yang dia ambil di dalam lemari pendingin.


Tatapan mata Putri sedih, melihat kondisi Ratu yang pulang dalam keadaan basah dan berwajah pucat.


"Ratu," panggil Putri pelan.


"Kenapa kamu tidak tidur, obatnya diminum tidak?" Ratu tersenyum melihat adiknya sudah bisa memanggil namanya.


"Queen, kenapa Queen sedih." Putri mengambil mahkota yang dia buat memasangkan di kepala Ratu agar tidak sedih lagi.


Kue yang diambil diberikan kepada Ratu agar kesedihan di wajah Ratu berubah senyum bahagia.


"Putri, sebelum Kakak mati kasus kamu harus selesai meskipun pada akhirnya musuh kita keluarga sendiri. Putri harus bertahan sampai Kakak memenangkan pertarungan ini." Ratu memeluk adiknya yang hanya tertawa tanpa tahu bertapa hancurnya hati Ratu yang harus melenyapkan banyak orang.


Wanita seumuran dirinya memilih memiliki keluarga, membesarkan anak-anaknya berbeda dengan Ratu yang harus bertarung dan memiliki banyak musuh.


Secara tiba-tiba lampu mati, Putri langsung gemetaran, memeluk kaki Ratu karena ketakutan tidak ada cahaya sama sekali.


Suara putri bergumam pelan, mengoceh tidak jelas merasakan ketakutan yang sangat dalam. Ratu hanya diam mendengar ocehan Putri yang sangat cepat.


"Kamu tahu siapa Aryani, dia orang yang menjebak kamu?" Ratu berjongkok memegang pundak putri yang terus mengoceh secepat kilat seakan semua memori kembali.


"Ratu, ayo pergi Ratu. Mereka jahat, ayo kita pergi dari sini." Kedua tangan Putri gemetaran bibirnya juga gemetaran terus bicara tanpa bisa Ratu dengar dengan jelas.


***


follow Ig Vhiaazaira