
Senyuman Rain terlihat, menatap wajahnya di depan cermin. Baju kemeja putih yang dibalut jas hitam menambah kewibawaan.
Ketukan pintu terdengar, Kris melangkah masuk melihat adiknya yang sangat tampan dengan baju pengantinnya.
"Rasanya masih tidak percaya lelaki pendiam seperti kamu memutuskan menikah," ujar Kris yang mengusap baju Rain.
Keduanya langsung berpelukan erat, tangan Kris menepuk punggung Rain memberikan dukungan.
"Aku harap kamu akan selalu bahagia, ada rasa takut kehilangan kamu, tapi aku tahu masa ini pasti datang."
"Terima kasih Kak Kris, meskipun kita seumuran kamu ingin menjadi kakak terbaik untukku." Senyuman manis Rain terlihat bersyukur memiliki Kris di sisinya.
Hari bahagia yang Rain tunggu sudah ada di depan matanya, dirinya akan segera menikahi seorang wanita yang jauh dari tipe wanita anggun, namun bisa membuat jatuh cinta juga takut kehilangan.
"Kenapa kamu melamun?"
"Aku bukan melamun, tapi berpikir," balas Rain yang masih termenung di kursi.
"Berhentilah menggunakan otak kamu, berhenti juga memiliki impian romantis seperti pasangan lain." Kris tahu apa yang Rain pikirkan karena mencemaskan apa yang akan terjadi setelah menikah.
Bahkan Krisna tidak memiliki bayangan, Ratu seorang mafia wanita, sudah pasti kehidupan sangat keras.
Mata Rain berkedip-kedip jika pikiran Kris salah, Rain tidak memikirkan soal siapa Ratu, namun jalan rumah tangganya.
"Oke kita sudahi berpikir, lebih baik segera menuju Altar." Rain berjalan bersama Kris keluar dari ruangan pengantin pria.
"Rain, kamu merasa tidak jika sedang diawasi, aku rasa ...."
"Apa Kak Kris juga ingin menikah?" tanya Rain pelan karena tahu soal perasaan Krisna.
Senyuman Kris terlihat mempersilahkan Rain karena dia harus mengambil Raja di kamar pengantin wanita.
"Jaga Raja sebelum menghancurkan segalanya," pinta Rain dengan nada pelan.
Kepala Rain menoleh ke arah jendela, tersenyum sinis melangkah mendekati jendela.
Tidak akan ada yang bernai masuk, apalagi bawahan Ratu, setuju tidaknya mereka Rain tidak peduli.
Seseorang menepuk pundak Rain, tapi tidak mengejutkan sama sekali. Rain menoleh santai menatap Michael yang sudah memakai baju rapi.
"Kak Rain tahu jika kita sedang di awasi?" Michael merasa ada seseorang yang memberontak.
"Bukan seseorang, tapi sekelompok orang. Di mana Lion?" Rain menatap seorang pria tinggi besar berjalan mendekat.
Kepala Lion mengangguk, perintah Rain sudah dijalankan. Tidak akan ada yang berani mendekati tempat pengikatan janji, Rain tidak akan memaafkan jika ada yang masuk.
Perasaan Michael deg-degan, dirinya akan berjaga diluar agar bisa mengendalikan keadaan.
"Michael, kamu dampingi Ratu," perintah Rain agar Ratu tidak sendirian.
"Bagaimana dengan keadaan di luar, kita tidak memiliki penjaga sama sekali."
"Kita tidak membutuhkannya," balas Rain yang membalik badanya melihat ke arah luar kembali.
Langkah Lion mendekat tidak tahu siapa Rain sebenarnya, dia bisa tahu apa yang terjadi di luar padahal tidak pernah pergi melihat langsung.
Selama ini Lion mengangumi sosok Ratu, wanita terkuat yang ditakuti banyak orang, namun melihat Rain lebih menakutkan karena kerjanya secara diam-diam.
Tidak ada yang tahu Rain hidup, tapi dia berada di sekitar banyak orang. Keberadaan orang yang kuat namun tersembunyi.
"Apa yang kamu pikirkan tentang aku?"
"Aku tidak tahu sekejam apa kamu?"
"Kenapa kamu membunuh keluarga sendiri, apa kamu tidak suka dengan pertanyaan soal keluarga? Kamu hanya dipandang buruk karena menjadi pembunuh tanpa tahu siapa yang sebenarnya salah." Rain tahu jika Lion tidak suka dengan tuduhan kepadanya.
Kepala Lion tertunduk tidak menjawab ucapan Rain sama sekali, ucapan Rain tidak salah sedikitpun.
"Sama aku juga, selain melindungi diri sendiri aku juga ingin melindungi wanita yang aku cintai. Bukan niat hati menyakiti siapapun, tapi keadaan yang memaksanya." Selama tiga tahun menanti Ratu, akhirnya Rain sadari jika tidak bisa menjadi orang baik di dunia yang penuh kejahatan.
Tidak ada yang peduli berapa banyak melakukan kebaikan, tidak peduli sekuat apa bertahan karena kekuasaan masih pemegang tahta tertinggi.
"Harta, tahta dan kekuasaan menjadi tingkat tinggi, sedangkan kebaikan, kesetiaan dan kejujuran tidak dibutuhkan." Rain menepuk pundak Lion, melangkah ke dalam yang sudah ramai orang-orang yang akan melihat pernikahan Rain dan Ratu.
Senyuman Lion terlihat, dirinya ingin setenang dan sekuat Rain, bukan kuat fisik namun batinnya. Tidak tahu sesulit apa hidupnya, tapi masih bisa terlihat berwibawa.
"Tuan, saya tidak memiliki harta, tht dan kekuasaan, namun izinkan setia kepada tuan Rain."
"Panggil saja Kak Rain, aku hanya berharap kamu akan melindungi putraku, Raja menyukai kamu tanpa dia tahu jahat apa orang yang disukainya." Rain tersenyum manis ke arah Lion.
Langkah Lion mundur untuk menemui tuan muda yang seperti nakal, dia sibuk merusuh mamanya yang berada di kamar hias.
Tawa Raja terdengar menatap wanita cantik yang menggunakan gaun mewah berwarna putih.
"Mama cantik sekali," puji Raja mengagumi kecantikan mamanya.
Lilis juga tersenyum lebar melihat Ratu menyelesaikan make up-nya , Ratu menatap Raja yang nampak terpesona.
"'Nona Ratu sangat cantik, selamat ya NOna impian terbesar Nona memiliki keluarga akan segera dimulai." Lilis memeluk erat Ratu yang juga memeluknya.
Tangan Raja bertepuk meminta Michael memotretnya bersama Mamanya, Raja ingin mengabadikan moment langkah.
Tubuh Lion membungkuk saat Ratu menatap ke arahnya, Ratu meminta Michael dan Raja keluar lebih dulu.
"Bagaimana keadaan di luar?" Ratu menatap pemuda yang masih tertunduk.
"Keadaan di luar aman Nona, apa ada yang bisa aku lakuan?"
Lilis melangka mendekat, selain Raja yang meminta Lion bergabung ternyata ada Rain. Alasan Rain meminta Lion menjaga putranya cukup mengejutkan.
"Saya tidak mendampingi TUan Muda, tapi Tuan Rain. Aku bisa gila jika bersama Tuan muda Raja."
"Kamu tahu jika Rain tidak membutuhkan pendamping, dia juga pasti tahu jika di luar sana ada banyak bawahan aku yang datang tanpa izin." Ratu menatap ke arah kaca melihat wajahnya yang sudah di rias.
Kepala Lion masih tetap tertunduk, Ratu dan Rain sama-sama hebat, keduanya bisa tahu tanpa turun langsung ke lapangan.
Sakit apa yang membuat keduanya menjadi orang yang dingin, padahal karakternya sangat hangat.
"Jika ibu dan ayahnya juga sekuat ini, lalu bagaimana dengan anaknya?" Batin Lion yang sangat penasaran dengan keturunan Rain dan Ratu saat berada di tangan wanita berkuasa dan pria yang tersembunyi.
Panggilan terdengar, Ratu diminta segera keluar karena acara akan di mulai. Ratu langsung melangkah namun terhenti di depan pintu.
Tangan Ratu memegang dadanya merasakan jantung berdegup kencang karena selaam hidupnya belum merasakan debaran jantung yang dia namanya demam panggung.
"Ada apa Nona?"
"Aku deg-degan," baas Ratu meminta Lilis menggenggam tangannya yang langsung dingin.
"Ternyata Nona bisa cemas juga."
***
follow Ig Vhiaazaira