QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
PARA PENGKHIANATAN



Di tempat yang berbeda, Lilis sudah tiba di lokasi, beberapa orang bergegas turun meskipun dalam keadaan gelap gulita.


Pencarian Rain dilakukan sampai pagi, Krisna dan Lilis juga turun ke bawah hanya menemukan mobil yang sudah terbakar.


"Rain, itu kemungkinan Rain." Krisna menunjuk ke arah atas tebing.


"Apa yang kalian tunggu, naik ke atas sekarang!" Lilis memberikan perintah agar segera memanjat.


"Lis, apa kamu yakin ini atas perintah Ratu?" seorang pengawal pribadi Ratu merasa aneh karena tidak melihat instruksi apapun.


Lilis hanya diam, dia tahu jika tindakannya salah. Ratu pasti akan marah besar bahkan bisa saja membunuhnya karena sudah lancang.


Apapun nanti hukumnya akan Lilis terima, paling penting dia bisa menemukan Rain dalam keadaan hidup.


Teriakkan Krisna terdengar melihat Rain yang berlumuran darah, penuh luka dan kondisinya sangat buruk.


Tim langsung memindahkan ke tempat aman untuk segera dilarikan ke rumah sakit, Rain harus mendapatkan perawatan medis secepatnya.


"Kalian semua boleh kembali ke posisi awal, jika Ratu menanyakan keberadaan ku maka katakan aku pasti akan datang." Lilis meminta Krisna cepat naik ke dalam mobil.


Kepolisian dilarang menyelidiki karena kecelakaan tunggal yang tidak melibatkan siapapun. Krisna tidak ingin kasus Rain dilajutkan.


"Maafkan aku Rain, kamu terluka karena aku." Krisna menyentuh tangan adik lelakinya yang pasti merasakan sakit luar biasa setelah terjun ke arah jurang yang terjang.


"Tidak ada luka yang mematikan, Rain hanya mengalami luka benturan. Takutnya ada luka dalam, tapi nasib baik dia keluar dari mobil jika tidak sudah hangus." Tangan Lilis mengenggam jari-jemari Rain perasaan tenang karena Rain masih bernapas.


"Terima kasih atas bantuannya, aku tidak tahu harus melakukan apa jika tidak ada kamu," ujar Krisna yang menatap genggaman tangan Lilis begitu tulus.


Bibir atas Lilis terangkat, senyum menyeringai karena dia tahu jika Krisna tidak bisa dirinya andalkan apalagi dengan kemampuannya yang selalu bergantung kepada Rain.


Sampai di rumah sakit, Rain langsung dibawa ke ruangan perawatan. Lilis masih setia menemani dan menunggu bersama Krisna.


"Kamu ingin makan sesuatu, dari kemarin malam belum makan apapun?" Krisna menatap wajah Lilis yang masih diam.


Tidak mendapatkan jawaban, Krisna langsung beranjak pergi untuk mencari makan dan minum sedangkan Lilis menunggu kabar soal kondisi Rain.


Tangan Lilis gemetaran, melihat ponselnya karena tidak menjawab panggilan Ratu. Ponselnya terasa hening, tidak ada lagi panggilan dari Ratu setelah hampir sepuluh kali memanggil ketiga Lilis sedang mencari keberadaan Rain.


"Maafkan aku Ratu, maaf karena aku tidak memegang ucapan, Rain membutuhkan pertolongan." Mata Lilis terpejam karena merasa bersalah kepada Ratu.


Sampai Krisna balik lagi membawa makanan barulah Lilis tersadar dari pikiran yang berkecamuk karena sangat mencemaskan Ratu.


"Kamu makan dulu, Rain pasti baik-baik saja," Ujar Krisna yang meletakkan makanan.


"Kamu tidak takut jika aku bisa mencelakai kamu dan Rain?"


"Aku harus bagaimana, semua yang aku kenal berkhianat, maka siapa lagi yang harus aku percaya kecuali mengikuti takdir." Kepala Krisna tertunduk, dia hanya beban bagi siapapun.


Melihat keputusasaan Krisna membuat Lilis teringat masa lalunya yang sama pernah terpuruk bahkan menyerah dengan permainan takdir.


Dulu jika tanpa Ratu mungkin Lilis sudah lama meregang nyawa, wanita cantik juga masih muda mengangkat senjata mengakhiri segalanya.


"Ratu, aku harus menghubungi Ratu." Lilis melangkah pergi mencoba menghubungi ponsel Ratu.


Tidak ada jawaban meskipun Lilis sudah menghubungi lebih dari sepuluh kali, Ratu bukan seseorang yang mudah merajuk. Dia wanita yang berbeda, tapi tidak terjawab nya membuat Lilis takut.


"Apa yang terjadi di sana, ini pertama kalinya sinyal aku dan Ratu tidak terdeteksi?" Lilis kembali ke ruangan Rain mendengar dokter bicara soal kondisi Rain.


Dokter sudah memeriksa dan mengobati luka, jika sampai 1x24 jam Rain belum bangun maka dia harus dilarikan ke rumah sakit besar, berarti ada cendera berat di kepalanya.


"Apa ada kemungkinan Rain koma?" tanya Lilis.


"Kita tidak bisa memastikan, teknologi di rumah sakit ini tidak memadai. Makanya kita tunggu respon tubuh pasien, jika tetap tidak ada tanggapan maka rumah sakit besar yang akan memberikan jawaban." Dokter pamit karena hanya bisa memberitahu sebatas nya.


"Bukannya lebih baik kita langsung ke kota?" Krisna semakin cemas jika harus menunggu.


"Tidak bisa, bagaimana jika Clen ingin membunuhnya?" Lilis menerima panggilan dari bawahan Ratu.


Kejadian malam yang menimpa Ratu baru diketahui, ratusan bawahan Miko datang menyerangnya dan Ratu diinformasikan mengalami luka berat karena ada tiga tusukan yang menghantamnya begitu dengan Putri yang mengalami cendera di lantai bawah hotel karena berusaha menyelamatkan Ratu.


Tanpa pamitan kepada Krisna, Lilis berlari kencang memutuskan untuk balik menemui Ratu. Tangan Lilis gemetaran tidak bisa membayangkan kesulitannya Ratu bertarung sendiri menyelamatkan putri.


"Maafkan aku Nona Ratu, Seharusnya Lilis tidak membawa pasukan tanpa izin sehingga hal ini tidak perlu terjadi." Pukulan Lilis kuat menghantam setir mobil.


Kecepatan mobil Lilis sangat tinggi, tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya karena dia harus segera mengecek kondisi Ratu.


"Tidak mungkin Ratu ada di hotel, dia pasti di tempat persembunyian," gumam Lilis yang melewati jarak tempuh lima jam baru sampai di markas tempat Aryani di siksa.


Langkah Lilis berlari, melihat mobil Ratu ada di depan gerbang. Teteskan darah juga terlihat melangkah masuk ke dalam bangunan.


"Tepat, Ratu ada di sini." Lilis menyentuh gerbang langsung membukanya berjalan masuk ke dalam bangunan.


Lilis hanya melihat Aryani yang sedang duduk memejamkan matanya, tidak terlihat keberadaan Ratu sama sekali.


"Di mana Ratu?"


"Dia di dalam sejak kemarin malam." Aryani melihat ke arah dalam karena Ratu juga dikawal oleh penjaga markas.


Cepat Lilis masuk melihat dari jauh rambut panjang terurai, satu gadis tergeletak di tempat tidur, sedangkan Ratu duduk di samping Putri.


"Nona Ratu, hukum aku karena sudah lalai dalam tugas." Lilis langsung berlutut.


Mata Ratu terbuka, wajahnya sangat pucat. Tangan Ratu menahan obat yang ada di dalam perutnya karena mengalami beberapa tusukkan.


Ratu kehabisan banyak darah, tapi belum juga mati karena dirinya harus menyelamatkan adiknya.


Ekpresi Ratu meringis, menahan sakit namun tidak menunjukkan kepada Lilis. Ratu sangat kecewa dengan pengkhianatan Lilis dan juga Rain. Putri sampai tertusuk di pinggang, begitupun dengan Ratu.


"Ratu, apa kamu baik-baik saja?" Lilis menyentuh pundak Ratu yang terbungkus kain menahan tulangnya yang banyak bergeser.


Air mata Lilis menetes melihat Kompress darah. Ratu begitu kejam kepada dirinya sendiri yang bahkan tidak diobati.


"Aku akan mencari dokter terbaik, tunggu sebentar." Lilis langsung berdiri, langkahnya terhenti melihat penjaga markas membawa seorang dokter.


***


follow Ig Vhiaazaira