QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BERTEMU



Suara langkah kaki Krisna terhenti, meregangkan otot-otot tubuhnya karena terlalu lama dalam perjalanan sampai sakit semua.


Seseorang berlari kencang, tidak sengaja menyenggol lengan Krisna sampai ponselnya jatuh berhamburan.


Teriakkan Kris terdengar, menarik lengan wanita. Wajah Kris langsung terkejut saat menyadari siapa yang ada di hadapannya.


"Lilis, ini kamu?" Kris mengeratkan genggaman tangannya, tidak mengizinkan Lilis pergi tanpa menjawabnya.


"Lepaskan aku karena sedang terburu-buru." Lilis langsung terdiam saat melihat pria dihadapannya.


Tangan Lilis yang tergempal ingin membanting Kris hanya bisa terdiam karena tidak menyangka bisa melihat Krisna.


"Ini aku, Krisna. Kamu tidak mungkin melupakan aku?"


"Aku tidak mengenal kamu," balas Lilis meminta dilepaskan.


"Bohong, jika kamu lupa akan aku ingatkan." Bibir Kris mendekat wajah Lilis.


"Iya aku ingat kamu, tapi sekarang sedang terburu-buru." Sekuat tenaga Lilis menepis membuat Kris hampir jatuh.


Melihat Lilis berlari, Kris mengambil ponselnya langsung lari melupakan koper. Lilis mencari mobil yang bisa membawanya pergi.


Pergelangan tangan Lilis digenggam, Kris meminta Lilis masuk ke dalam mobil bersamanya.


"Kamu ingin pergi ke mana?" tanya Krisna.


Tidak ada jawaban, Lilis ttidak mungkin mengatakan jika Ratu menyebarkan pembunuh bayaran untuk melenyapkan Rain, berserta anak istrinya.


"Apa Ratu ada di sini?" Kris menatap wajah Lilis menceritakan jika Rain sangat merindukan Ratu.


Kepala Lilis menoleh, baru tahu jika Rain masih mengharapkan Ratu. Jika Rain sudah memiliki pasangan hidup, tidak mungkin terus mencari Ratu.


"Apa Rain sudah menikah, dia juga memiliki anak?" rasa penasaran Lilis sangat besar karena dirinya juga kecewa apalagi Ratu.


Kepala Krisna menggeleng, mustahil Rain menikah karena hatinya masih ada pada Ratu. Selama tiga tahun Rain terus mencarinya.


Kehidupan Rain berubah jauh berbeda dari yang dulu Lilis kenal, Kris juga masih tidak percaya jika adiknya menjadi seseorang yang begitu cerewet.


"Rain belum menikah, lalu siapa wanita itu?" Lilis menceritakan jika Rain bersama seorang wanita cantik dan anak kecil.


"Anak kecil?" tawa Krisna terdengar, anak kecil yang Lilis bicarakan pasti akan membuat Ratu pusing.


"Dia anaknya Rain karena sangat mirip," ujar Lilis.


"Kamu ingin pergi ke mana, kenapa terburu-buru? jika tidak aku akan membawa kamu menemui anak itu." Kris melihat penampilan Lilis yang ingin berperang bukan liburan.


Lilis harus menghentikan pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menyakiti keluarga Rain, Michael sudah berusaha mencari siapa saja, tapi kemampuannya masih terbatas.


Kedua mata Krisna melotot karena Rain dan Raja berada dalam masalah serius. Pembunuh bayaran berarti orang-orang yang sangat kuat.


"Siapa yang melakukannya?"


Kepala Lilis tertunduk, meminta Kris segera menemui Rain untuk menyelamatkan nyawanya. Lilis akan berusaha menghentikan agar penyebaran pembunuhan bayaran bisa dikurangi.


Jantung Krisna berdegup kencang, baru saja bertemu Lilis dan saat ini harus berada dalam bahaya lagi.


Di mana ada Lilis dan Ratu, maka di sana banyaknya pertumpahan darah. Kris merasa cemas.


Kalung Lilis di lepas, memasangkannya di leher Krisna. Memintanya selalu menampakkan kalung agar tidak ada yang melukainya.


"Pergilah, minta Rain berhati-hati karena lawannya kali ini jauh lebih parah karena tidak pandang bulu." Lilis menatap Kris yang berlari menuju hotel tempat Rain berada.


"Siapa istrinya Rain, apa Ratu sedang mengamuk?" Krisna melangkah masuk hotel.


Ada beberapa orang menatap ke arah kalungnya, rencana mendekat langsung dibatalkan membiarkan Kris masuk dengan mudah.


"Di lantai berapa kamar ini?" Krisna menujukkan nomor kamar Rain.


"Apa Rain ada di dalam?"


.


"Iya Tuan Kris," jawab penjaga.


"Apa ada wanita bersama Rain?"


Penjaga menggelengkan kepalanya, tidak ada wanita manapun yang berkunjung. Hanya ada satu perawat yang ikut karena saat pergi Raja dalam keadaan demam.


Saat Raja sembuh, Rain mempersilahkan perawat pergi, tapi ditolak. Perawat Hera rela membayar kamar sendiri agar bisa mendampingi Rain.


"Gawat, paksa wanita itu pergi dari hotel ini jika dia masih ingin hidup." Kris mengetuk pintu kamar.


Pintu terbuka, suara Raja mengejutkan terdengar. Senyuman Kris terlihat memeluk Raja langsung menggendongnya ke dalam kamar.


Rain hanya duduk diam memantau hotel yang penuh dengan orang-orang kiriman, Rain tahu hanya Ratu yang bisa melakukannya.


"Aku rasa kamu sudah tahu jika Ratu yang melakukannya?" Kris duduk di pinggir ranjang.


"Iya, tapi dia belum muncul. Aku tidak melihat keberadaan Ratu."


Pertemuan Kris dan Lilis diceritakan, terlihat sekali jika Lilis panik mencoba menghentikan perbuatan Ratu. Kris tidak bisa mengobrol banyak hal.


Kepala Rain mengangguk, keberadaan Michael juga sudah dijaga dengan ketat. Dia yang semula hanya diawasi dua pengawal langsung bertambah sepuluh.


Pengawal Rain saja tidak mampu melawan Michael, tapi Ratu mengirimkan tambahan seakan mengibarkan bendera perang.


"Kamu tahu penyebab Ratu marah?"


"Dia melihat perawat Hera, Ratu berpikir aku hidup bahagia, sedangkan dia terluka." Tanpa Ratu jelaskan, Rain mengerti dirinya tidak boleh bahagia karena sudah membuat hidup Ratu berantakan.


Sekarang Ratu menyerang dengan tujuan buruk, dia ingin melenyapkan kebahagiaan Rain, tanpa ingin tahu kebenarannya.


Mendengar jawaban Rain sungguh memilukan hati Krisna, tidak tahu harus berkata apa karena kemarahan Ratu memang beralasan. Tetapi menyalahkan Rain juga tidak benar, dia tidak tahu apapun soal kejahatan Sinta.


"Sekarang apa rencana kamu, mustahil melawan pasukan Ratu?"


"Aku hanya ingin bertemu dia, apa aku punya kewajiban meminta maaf?"


"Minta maaf saja Pa, pusing kepala Raja lihat Papa dari tadi di depan komputer itu. Nanti wajah Papa berubah menjadi komputer." Bibir Raja maju ke depan tangannya sibuk memasang robot yang harus dirakit.


"Wow, banyak sekali sepatu kamu Raja?"


"Iyalah, tali sepatunya murah. Diskon 80% , Raja binggung kenapa rugi sekali, mendingan tidak jualan."Wajah Raja merah menarik robotnya karena salah masuk.


Senyuman Kris terlihat, dirinya tidak rela jika Raja dikembalikan kepada Ratu. Dia bisa hidup keras dengan didikan Ratu, berbeda dengan Rain yang penuh kasih sayang.


"Raja, seandainya nanti kamu dipisahkan dari Papa, apa yang akan kamu lakukan?"


"Kenapa, ada yang meninggal? jika begitu Om saja, Raja sama Papa masih mau hidup." Tawa Raja terdengar menatap wajah Krisna yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Rain memilih diam, hatinya juga tidak rela menyerahkan Raja, namun seiring berjalannya waktu hanya Ratu yang bisa menjaga Raja. Rain tidak ingin hidup dengan bayangan Sinta.


"Pa, jika Raja tiada apa yang akan Papa lakukan?"


"Hidup Papa akan jauh lebih baik, tidak pusing membesarkan kamu," balas Rain tanpa mengurangi sikap dinginnya.


Mainan yang Raja pegang langsung dilepas, Raja mendekati Papanya mengenggam tangan karena tidak ingin berpisah dengan Papanya.


"Papa bahagia punya Raja. Papa seharusnya mengatakan itu."


***