QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
DICULIK



Tangan Ratu terangkat, meminta Lilis dan Michael keluar karena Raja baru saja tertidur. Rain juga tidak mungkin meninggalkan Raja, jika sampai pergi Ratu sendiri yang akan membelah kepalanya.


Pelukan Raja sangat erat, hati Ratu tenang karena bisa melihat Adiknya kembali. Pilihan terbaik Raja tidak pernah tahu masa lalunya.


"Nona Ratu, apa yang akan dilakukan kepada Hera?" Lilis merekomendasikan untuk melepaskan Hera, dia tidak ada urusan apapun dengan Rain hanya sebatas hubungan kerja.


Kedatangan Hera karena ditugaskan untuk merawat Raja yang sedang sakit karena Rain memiliki pekerjaan.


"Lepaskan saja, aku tidak membutuhkannya."


"Baiklah, ada satu lagi masalah. Di gedung hitam ada pertarungan." Lilis menceritakan apa yang sudah dirinya lakukan untuk menghentikan Ratu.


Tatapan Ratu langsung tajam, dia tidak bisa menerima orang luar agar masuk wilayahnya sekalipun sebagai pengawal.


Ratu memilah orang yang benar-benar tepat, jika sembarangan orang dimasukkan sama saja memberi jalan untuk kehancuran. Kejayaan Ratu bukan karena kemanapun bela diri yang tinggi, tapi kesetiaan yang sangat dalam.


"Kamu saja yang pergi menghntikan, lagian kamu yang membuat pertarungan itu. Kalahkan mereka semua," ucap Ratu tersenyum manis.


"Jadi aku harus mengalahkan mereka yang jumlahnya sangat banyak?" tanggapan Lilis sangat terkejut.


Tangan Ratu melambai meminta pergi kembali, Ratu memejamkan matanya kembali menjaga Raja yang sedang asik tidur nyenyak.


Susana mendadak hening, langkah seseorang masuk tidak menyadarkan Ratu, tidurnya sangat nyenyak dan tenang.


"Apa sekarang aku sudah boleh pergi? Raja terlihat nyaman." Rain duduk dipinggir ranjang.


"Jangan pergi Papa, Mama bilang akan memenggal kepala Papa." Raja terbangun, menatap Rain yang hanya duduk sambil tersenyum kecil.


"Apa Mama baik?"


Kepala Raja menggeleng, ucapan Ratu sangat menakutkan sehingga Raja tidak berani main-main dengannya.


Tangan Rain menutup mulutnya, Raja ada benarnya. Ucapan Ratu tidak ada yang baik, dia selalu berucap kasar tanpa pandang siapa disekitarnya.


"Apa yang Mama katakan?"


"Papa tidur di samping Raja, nanti kedengaran bisa bahaya nyawa kita." Tawa pelan Raja terdengar menepuk bantalnya.


Pelan-pelan Rain naik, luka di dadanya sudah ditangani dokter begitupun dengan demam tingginya yang harus mengkonsumsi obat.


Suara Raja bisik-bisik terdengar, Rain hanya tersenyum sampai tertidur meninggalkan Raja yang masih berbicara sendiri.


"Tidur, Mama dan Papa tidur." Raja mendengar suara dari luar pintu, begegas turun karena sangat menyukai keributan.


Rain dan Ratu tidak terbangun saat Raja pergi, pengawal juga tidak ada yang tahu saat Raja lari-larian.


Tangan Rain memeluk erat Ratu, tidur dalam keadaan berpelukan. Panas Rain juga turun dengan cepat karena merasakan dingin dari tubuh Ratu.


Panggilan dari Kris tidak Rain sadari, sedangkan di luar kamar sudah penuh penjaga yang lari-larian.


"Di mana Ratu?" Lilis menatap Kris.


"Masih di kamar bersama Rain, kita tidak bisa masuk karena terkunci.


"Kalian yakin jika ada anak kecil yang lari-larian?" Lilis menatap penjaga yang tidak tahu jika anak kecil yang lari ternyata Raja.


Hanya ada dua pengawal yang tahu wajah Raja, tapi dalam keadaan pemulihan setelah dibuat tumbang oleh Ratu.


"Di mana Michael?" Kris yakin dia meninggalkan Raja bersama Michael.


"Dia bersamaku, kita harus pergi ke gedung hitam untuk menyudahi pertarungan di sana." Belum sempat Lilis pergi sudah mendapatkan panggilan dari Kris.


Suara langkah kaki berlari terdengar, tubuh Michael tersungkur. Lilis langsung berlari membantu Michael untuk duduk.


Ada yang menyerang Michael sampai babak belur, sudah pasti orang yang sangat kuat. Lilis tahu kemampuan bela diri Michael cukup tinggi.


"Siapa yang melakukan ini?" Lilis menyentuh wajah Michael yang penuh darah.


"Pembunuh bayaran ada yang keluar dari gedung hitam, dia membawa Raja untuk disingkirkan sesuai perintah Ratu." Michael sudah berusaha untuk menghentikan namun lawannya terlalu kuat.


"Ke mana mereka lari?" Lilis mengepalkan tangannya menahan amarah, meminta semua penjaga mengikutinya untuk menemukan keberadaan Raja.


Tangan Lilis ditarik, Kris tidak mengizinkan Lilis pergi sendiri. Mereka membutuhkan bantuan untuk menemukan Raja.


Genggaman tangan ditepis, tidak punya waktu menunggu bantuan karena Raja dalam bahaya. Kris tidak tahu betapa kejamnya pembunuh bayaran.


"Dia akan melenyapkan target tanpa menunggu perintah, jika sampai terlambat hanya jasad yang kita temukan." Lilis melangkah pergi meninggalkan Krisna yang harus menyampaikan pesan kepada Ratu dan menyelamatkan Michael.


Tendangan di depan pintu terdengar, Kris meneriaki Ratu dan Rain agar bangun. Mereka dalam masalah besar.


Pintu terbuka Ratu menatap tajam Kris yang tidak bisa membangunkan pelan, Ratu baru saja bisa tidur nyaman setelah bertahun-tahun lamanya.


"Kamu sudah gila!"


"Kamu yang lebih gila, gara-gara perintah kamu sekarang Raja dibawa pergi oleh pembunuh bayaran, sedangkan Michael terluka setelah berusaha menghentikan." Kris menunjukkan ke arah Michael yang terduduk penuh darah.


Tatapan mata Ratu terarah kepada Michael, begegas mendekatinya untuk mendapatkan kebenaran.


"Bagaimana bisa kamu terluka separah ini?" Ratu mengusap wajah adiknya yang terlihat lemas.


"Saat ini keselamatan Raja sangat penting, jangan pedulikan Michael Kak. Di gedung hitam masih ada pertarungan, tapi ada yang keluar langsung menangkap Raja."


Ratu berdiri mengambil ponselnya menghubungi penjaga di gedung hitam, Ratu mengumumkan kepada seluruh pejahat untuk menemukan satu orang dan anak kecil.


"Hentikan pertarungan, kalian memiliki tugas yang lebih penting. Bawa anak kecil yang ada di foto dalam keadaan hidup tanpa luka sedikipun." Ratu memberikan imbalan untuk ratusan orang bisa masuk ke wilayahnya jika bisa menemukan Raja.


Tangan Ratu tergempal karena tidak bisa terima harus Raja yang disakiti, seharusnya incaran pertama Rima bukan putranya.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Kris memohon agar Ratu menemukan Raja.


"Ada apa ribut-ribut?" Rain keluar dari kamar tidak melihat keberadaan Raja.


"Raja menghilang." Ratu langsung bergegas pergi, jika sampai dirinya yang menemukan maka langsung cabut nyawa.


Rain masih belum menyimak, Raja tidak mungkin keluar jauh karena Rain selalu mengajarinya.


"Apa itu benar Kris?"


Kepala Krisna meenganguk, menujuk ke arah Michael yang terluka karena menyelamatkan Raja, usahanya gagal karena lawan kuat bahkan dua pengawal pribadi Michael juga tumbang.


Kerutan di kening Rain terlihat, meminta Kris menjaga Michael. Tidak akan mudah membunuh Raja, pejahat kelas apapun akan kewalahan mengatasinya m


Rain yang pendiam dan dingin salah bisa teriak-teriak sambil mengamuk hampir gila meladeninya apalagi orang asing.


"Raja, kamu harus kembali kepada Papa." Rain meminta rekaman CCTV diberikan kepadanya karena harus melacak keberadaan Raja.


***


follow Ig Vhiaazaira