QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
KABARNYA



Di kamar hotel Rain sudah sibuk menyiapkan materi yang akan dibahas dalam acara seminar. Raja duduk diam menatap laptop Papanya, mengeja satu-persatu huruf.


"Kamu tinggal di hotel ya?"


"Ikut Pa, Raja jangan ditinggal terus."


Senyuman Rain terlihat, meminta Raja bersiap karena mereka harus segera berangkat ke acara besar yang sudah lama Rain nantikan.


"Pa, di sana banyak orang pastinya, Raja tidak punya sepatu baru," sindir Raja berharap Papanya peka.


"Apa kita masih punya waktu?" Rain mengulurkan tangannya menyambut tangan kecil putranya untuk pergi.


Tawa Raja terdengar, bercanda bersama Papanya masih saja membahas soal sepatu. Rain tidak pernah bisa menolak keinginan Raja apalagi dengan bahasanya yang lucu.


"Pak, sebelum pergi kita ke toko sepatu dulu," perintah Rain kepada supir yang siap mengantar.


"Pak Rain tunggu, kenapa perginya pagi sekali?" perawat Hera menghentikan langkah Rain karena sudah membelikan sarapan sehat untuk Raja yang baru saja pulih.


Hera juga membawakan makanan untuk Rain karena semalaman sempat sakit, sudah kewajiban Hera menjaga kesehatan Raja dan Rain.


"Masuk mobil, kita makan di mobil saja." Rain menghargai perjuangan perawat yang rela keluar pagi padahal cuaca sangat dingin.


Di dalam mobil Raja rewel karena tidak suka jika ada yang memaksanya untuk makan padahal papanya sendiri tidak memaksa.


"Tidak mau disuap perawat Hera," teriak Raja sambil menangis.


"Jika dia tidak mau jangan dipaksa," tegur Rain yang masih fokus membaca materi.


Kepala Hera mengangguk, menyerahkan makanan untuk Rain. Kepala Rain mengangguk pelan, meletakkan begitu saja lanjut fokus membaca.


Sampai di toko sepatu Rain langsung turun bersama Raja, diikuti oleh perawat Hera yang selalu ada di belakang.


"Kamu ingin sepatu seperti apa?"


"Sepatu tinggi, Raja ingin terlihat lebih besar." Suara Raja lompat-lompat terdengar berlari ke arah pemuda yang sedang mencoba sepatu.


"Kenapa tidak muat, ini ukuran satu-satunya?"


"Om, kaki Om besar jangan dipaksa nanti rusak." Raja melewati Michael yang memaksa untuk menggunakan sepatu.


"Kenapa anak satu itu muncul terus, punya dendam apa dia?" Michael hampir membuang sepatu, namun terhenti saat melihat seseorang yang dirinya kenal.


Michael langsung bersembunyi, menatap wajah Rain yang pernah dirinya lihat tiga tahun yang lalu.


"Bukannya dia pacarnya Kak Ratu, kenapa dia ada di sini?" Michael melihat seorang wanita berjalan di samping Rain menujukkan beberapa model sepatu.


Anak kecil berlari ke arah Rain meminta digendong, Rain langsung mengangkat putranya.


Michael memotret kebersamaan Rain dan anak istrinya. Michael tidak menyangka dalam tiga tahun Rain sudah memiliki pengganti Kakaknya.


"Istrinya cantik, tapi Kak Ratu lebih cantik." Tatapan sinis Michael terlihat karena tidak menyukai Rain.


Michael berniat mengirimkan foto, tapi mengurungkan niatnya. Hidup Ratu sudah tenang tidak harus mengingat masa lalu.


"Hapus saja." Michael mengerutkan keningnya karena dirinya sudah mengirim dan Ratu sudah membukanya.


Seseorang memegang pundak Michael, menyita ponselnya. Foto Rain dihapus, pengawal pribadi Rain mengetahui jika ada yang memotret tuanya.


"Lepaskan dia," pinta penjaga Michael.


"Kenapa dia memotret?"


Penjaga Michael memastikan jika foto sudah terhapus semua, meminta maaf karena tuan muda Michael lancang.


"Apa pria itu bernama Rain? apa anak kecil yang bersamanya putranya?"


Panggilan dari Ratu masuk, Michael menyerahkan ponselnya kepada penjaga. Suara Ratu marah terdengar saat tahu Michael tertangkap memotret orang.


"Di mana Michael?"


"Sudah kabur, dia terburu-buru untuk pergi ke gedung seminar." Penjaga meminta maaf karena lalai menjaga Michael.


Ratu mematikan panggilan, menatap layar ponselnya melihat wajah Rain setelah tiga tahun berlalu.


Tangan Ratu tergempal kuat, melihat wanita yang berdiri di samping Rain. Wanita yang terlihat sangat lembut, berbanding terbalik dengan Ratu.


"Rain, kenapa kamu menatap foto Rain?" Lilis mengambil ponsel Ratu melihat foto asli.


Melihat dari foto, Lilis bisa menyimpulkan jika Rain sudah memiliki keluarga. Dia hidup dengan baik setelah melewati masa sulit bersama Ratu.


"Bukannya ini kabar bagus karena Rain memiliki keluarga sesungguhnya?"


Ratu masih saja diam, tidak menyangka jika Rain sudah melupakan dirinya. Begitu cepatnya Rain memiliki anak, istri yang cantik sedangkan Ratu masih berada di dalam luka terdalam.


Masih teringat jelas saat malam Rain mabuk, dia mengatakan ingin menikahi Ratu meksipun Ratu akan membencinya telah terlahir dari wanita yang membunuh Adiknya Putri.


"Pembohong, baru tiga tahu kamu sudah memilih bahagia dengan orang lain, seharusnya jangan mengucapkan janji aku merasa jijik." Ratu meminta Lilis menghapus foto, tidak ada lagi ingatan baik saat bersama Rain.


"Kamu ingin pergi ke mana?" Lilis menarik napas panjang masih tidak menyangka Rain begitu cepat melupakan Ratu.


Di area pertarungan, Ratu terpental setelah mendapatkan tendangan dari petarung terbaik. Ratu yang tidak bisa konsentrasi babak belur.


"Hentikan!" Lilis masuk ke dalam ring, meminta semua orang pergi.


Lilis membantu Ratu berdiri, patah hati membuat Ratu sangat lemas dan tidak merasakan sakit.


"Kenapa begitu cepat, dia mengatakan akan mencari aku, tapi kenyataannya dia menikah." Ratu mencengkram kedua tangannya.


"Jangan mengambil kesimpulan, kamu masih punya waktu memastikannya."


Kepala Ratu menggeleng, tidak ada yang perlu dirinya pastikan lagi. Rain sudah memiliki kebahagiaan hanya menyisakan dirinya sendiri.


Ratu berjalan tertatih kembali ke dalam ruangan kerjanya, Ratu menatap ponsel Rain yang sudah hancur dan tidak mungkin hidup lagi.


"Hubungan kita hancur sama seperti barang ini." Seadanya Rain bukan anaknya Sinta, pasti Ratu akan tetap berada disisi Rain.


Kartu yang ada di ponsel Rain dipindahkan ke ponsel Ratu, tidak ada satupun kontak nomor kecuali satu nomor rahasia.


Ratu menghubungi nomor yang tersisa, menunggu jawaban dari pemilik ponsel setelah tiga tahun berlalu.


"Halo, Rain. Kenapa nomor lama kamu aktif?" Krisna tidak menaruh curiga sedikitpun dia hanya memastikan saat matahari terbenam, Kris pasti akan sampai.


"Siapa wanita yang bersama Rain, lalu anak itu siapa?" Ratu menggunakan suara samaran agar tahu hubungan Rain.


Tidak ada lagi jawaban, panggilan mati secara sepihak. Ratu mencoba menghubungi Krisna kembali, tapi tidak ada jawaban lagi.


"Kris, siapa wanita itu?!" Ratu berteriak kuat, dirinya tidak terima melihat Rain bahagia.


Ratu menyalakan keadaan karena hanya dirinya yang tersakiti, sedangkan Rain yang seharusnya menderita untuk membayar hidup orangtuanya yang sudah menghacurkan Ratu.


"Sekuat apa kamu sekarang Rain, bagaimana jika aku merengut nyawa anak dan istri kamu?" Ratu merasa caranya adil dengan membunuh penerus Rain.


Mereka berdua sama-sama harus menderita, Rain tidak boleh bahagia, Ratu tidak akan rela jika Rain bahagia bersama keluarga kecilnya.


***


follow Ig Vhiaazaira