
Senyuman Lilis terlihat menatap Raja yang tertawa bahagia bermain lari-larian bersama Michael yang juga sangat bahagia bertemu Raja.
"Kenapa kamu tersenyum, apa begitu sakitnya sampai tidak ada air mata?" Kris tahu Lilis pintar menutupi perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
"Apa kamu berpikir aku mencintai Rain?" tawa Lilis terdengar hanya karena dirinya mati-matian membela Rain langsung dicap mencintainya.
Perasaan Lilis tidak mampu dirinya kendalikan bukan perasaan cinta, namun peduli. Lilis tidak mengutamakan Rain, tapi Ratu.
Mengenal Ratu sejak muda, dan harapan Lilis hanya ada pada Ratu, dia orang yang membuat Lilis bertahan hidup, maka menjaga orang yang Ratu cintai juga menjadi misi hidupnya.
"Kamu ingin tahu tidak awal pertemuan kami?"
"Apa hal yang sangat mengesankan?"
Kepala Lilis mengangguk, Ratu seorang petarung yang hebat karena sejak kecil dia sudah belajar bela diri.
Di saat Lilis sekarat, Ratu muncul menyelamatkannya. Tidak ada yang bisa mengobati Lilis karena terbatasnya peralatan medis.
Ratu merawat dengan sangat baik, dia juga yang membantu Lilis mandi, makan, hingga berjalan. Sampai akhirnya bisa mengangkat pedang, senjata bahkan panah.
"Aku tanpa Ratu tidak ada artinya, dia segalanya bagiku. Jika Ratu meminta aku mati, maka akan aku lakukan."
"Ratu tidak menginginkannya, dia juga ingin kamu bahagia. Menyelamatkan kamu bukan untuk mati, tapi hidup dengan baik." Kris juga sama merasa Rain penyelamat hidupnya, meskipun tidak tau apa yang Rain lakukan karena dia sangat pendiam, tapi Kris yakin jika Adiknya melakukan yang terbaik.
Keputusan Ratu ingin menikah membuat Lilis bahagia, juga khawatir. Ratu memang seorang pemimpin, tapi pemimpin tanpa anggota tidak ada gunanya, dia ada karena memiliki anggota.
"Kami bukan orang baik, lebih tepatnya penjahat yang merampas banyak nyawa, apa kamu tidak takut?"
"Bohong jika aku biang tidak, pastinya takut, tapi rasa takut memang musuh yang sudah mendarah daging, jika tidak berusaha disingkirkan maka tidak akan pergi.
Kepala Lilis mengangguk alasannya menolak Kris karena tidak ingin membawanya ke dalam dunia kejahatan.
Hidup bebas tanpa mengenal kejahatan jauh lebih baik. Lilis berharap Kris menemukan wanita terbaik.
"Apa kamu tidak percaya aku bisa membahagiakan kamu?"
"Bukan tidak percaya, roda kita berputar di tempat yang berbeda juga arah yang berlawanan." Lilis tidak ingin meninggalkan Ratu. mengabdi seumur hidupnya hingga akhir hayatnya.
Tidak bisa meyakinkan Lilis, Kris sadar diri karena cintanya berlabuh ditempat yang salah. Hanya dirinya yang mencintai, Lilis hanya menganggap orang asing.
"Raja, sudah selesai belum?" Kris berteriak meminta Raja kembali dari bermain skating.
"Belum, Om pacaran saja, ada Kak Michael di sini." Suara Raja menimpali terdengar tenang masih tetap lanjut.
Kris pamit kepada Lilis ingin membeli sesuatu. Raja tidak boleh lepas dari pantauan. Krisna meminta Lilis terus mengawasi.
"Ternyata dia sangat cemburuan, apa yang dicintai dari wanita seperti aku?" Lilis membiarkan Kris pergi karena tidak mungkin menahannya.
Lama menunggu tidak muncul, Lilis langsung
menyusul keberadaan Kris setelah pamit kepada Michael untuk mengawasi Raja.
"Di mana dia?" Lilis menatap Kris yang duduk bersama seorang wanita.
Tanpa berpikir panjang, Lilis langsung lari mendekat memukul meja kuat hingga minuman tumpah.
"Katanya sebentar, nyatanya lama?" tatapan Lilis tajam ke arah seorang wanita yang ketakutan.
"Lis, kamu jangan membuatnya takut." Kris menarik tangan Lilis agar segera menjauh, tidak sopan jika dia menyakiti orang yang tidak bersalah.
"Ya sudah Kak Kris aku pamit ya," ucap wanita yang makan bersama Kris.
"Aku belum selesai, kamu ingin pergi ke mana?" tepisan tangan Lilis kita membuat tangan Kris yang memegang pergelangan merasakan sakit.
"Katanya mencintai aku, tapi baru sesaat sudah bersama wanita lain?" tanya Lilis masih dengan nada pelan.
Penjelasan Kris terdengar pelan, wanita yang bicara bersamanya seorang desainer yang kaan mengukur baju Ratu dan Rain saat pernikahan.
Kris pergi karena Rain menghubunginya untuk meminta bantuan. Desainer hebat sedang berada di mall sangat dekat dengan keberadaan Kris.
"Kamu marah karena apa?"
"Aku tidak marah, kenapa juga aku marah?" tangan Lilis tergempal menganggap dirinya sangat bodoh, bisa-bisa langsung memojokkan.
Senyuman Kris terlihat menatap wajah memerah yang menahan malu, tanpa rasa takut jika tulangnya akan Lilis patahkan. Kris menarik tangan memeluknya lembut.
"Aku pria yang setia, jika sudah memutuskan mencintai kamu maka akan berusaha berjuang mendapatkan kamu, kapan waktu yang tepat untuk menerimanya." Pelukan terasa lembut tanpa peduli jika ada yang memperhatikan.
Lilis tidak berani membalas pelukan, dirinya sungguh malu karena ucapan dan tindakannya bertentangan.
Langkah kaki Michael berlarian terdengar, Kris langsung meneriakinya menanyakan keberadaan Raja.
"Kenapa kamu lari-larian?"
"Raja tiba-tiba menghilang, dia berlari mengejar seseorang." Michael meminta berpencar agar ketemunya lebih cepat.
Wajah Lilis dan Kris panik, langsung berlari mencari keberadaan Raja. Dari lantai bawah, Lilis melihat Raja masih terus mengikuti seseorang.
"Siapa yang dia ikuti?" Lilis begegas naik ke lantai atas mengejar sosok yang dilihatnya.
Tawa Raja terdengar memeluk kaki seseorang, pemuda yang pernah bertemu di hutan berada di tempat yang sama.
"Apa yang Paman lakukan?"
"Kenapa kamu ada di sini, di mana orang tua kamu?" Paman Lion menarik Raja untuk bersembunyi.
Rencananya membunuh seseorang untuk menjalankan tugasnya gagal karena kemunculan Raja, tidak mungkin dirinya membunuh seseorang di depan anak yang tidak waras.
"Kenapa kita sembunyi Paman?"
"Di mana orang tua kamu, dasar anak nakal?" Lion menatap kaki seseorang yang sudah berdiri di depannya.
Kepala Raja dan Lion mendongak ke atas, wajah serem Lilis terlihat karena Lion muncul kembali.
"Kenapa kamu menculik Raja?"
"Kenapa aku harus melakukan kesalahan bodoh hanya untuk anak ini? dia yang datang mengacaukan rencana aku." Lion langsung berdiri begitupun dengan Raja.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Kris dan Michael melihat ke arah Lion yang berani bersumpah jika Raja yang mengejarnya.
Senyuman Raja terlihat, mengandeng tangan Lion untuk makan karena dirinya lapar, tangan Lilis juga ditarik sampai ketiganya berjalan bersama.
Mata Kris berkedip berkali-kali, Michael yang menyadari wajah cemburu. Tangan Kris digenggam kuat oleh Michael agar sabar.
"Aku harus pergi sekarang, lepaskan aku," pinta Lion kepada Raja.
"Paman ingin pergi ke mana, Raja boleh ikut tidak?" tanya Raja memelas.
Ratu menyerahkan sesuatu kepada Lion, membiarkannya pergi. Kedua kalinya Lilis memberikan kesempatan agar Lion bergabung bersama mereka.
"Wanita yang bernama Hera bukan orang sembarangan, hati-hati. Katakan kepada Ratu soal lancang ini, Hera ada sangkut pautnya." Lion memberikan sesuatu kepada Lilis.
***
follow Ig Vhiaazaira