
Suara Ratu dan Raja bertengkar terdengar, rebutan bayi meminta tatapan Rain tajam ke arah keduanya.
"Mama, berikan kepada Raja," pinta Raja mengusap pahanya memintanya bayi diletakkan.
"Jangan Raja, Langit masih kecil. Kamu ingin melihat Langit atau pulang sekarang!"
Melihat Raja tertunduk diam menggedong bayinya menyerahkan kepada Raja secara perlahan, tidak ingin melukai Rain juga ikutan berjongkok membantu Raja memegang adiknya.
Senyuman Raja terlihat, nyengir kuda menatap ke arah kamera yang memotret. Senyuman Rain juga terlihat merasa gemes melihat Raja yang hanya menumpang eksis.
"Sudah Pa, Raja tidak mau gendong lagi, soalnya berat." Raja mengembalikan langit kepada Lilis yang masih tidur karena kelelahan.
Kebahagian terlihat di wajah Raja menatap fotonya yang sangat tampan, Raja bahagia sekali karena bisa pamer kepada teman sekolahnya jika punya adik baru.
Ratu yang duduk sendirian meringis merasakan sakit, tidak paham apa yang terjadi kepada perutnya.
"Aduh, kenapa sakitnya semakin parah," gumam Ratu pelan.
Belum ada yang menyadari, Rain masih fokus kepada Langit yang sangat tampan. Sekilas wajahnya mirip dengan Ratu.
"Kenapa wajah Langit terasa tidak asing?" Rain menatap foto tajam.
"Wajahnya sekilas mirip Ratu karena Lilis selalu mengangumi sosok Ratu.
Tawa kecil Rain terdengar membenarkan, membawa ponselnya ke arah Ratu yang hanya diam saja melihat ke bawah.
"Sayang, lihat wajah Raja," pinta Rain.
"Sayang, perut aku sakit sekali," ucap Ratu meremas sofa.
Keringat sudah mengalir membasahi kening Ratu, wajahnya juga pucat karena menahan sakit yang tidak bisa terucapkan.
Rain langsung berdiri melihat cairan bening mengalir di lantai, langsung berlari keluar kamar memanggil dokter untuk segera membantu Ratu.
Air mata Raja menetes melihat kondisi Mamanya yang mandi keringat karena menahan rasa sakit.
"Mama, kenapa Ma?" tangan Raja mengusap perut Mamanya yang terasa sakit.
"Mama baik-baik saja sayang," jawab Ratu mengusap kepala Putranya.
Perawat langsung masuk, meminta Ratu berdiri karena harus pindah ruangan. Apalagi ketuban sudah pecah.
"Aku tidak bisa berdiri lagi, kepala bayi rasanya ingin keluar. Ini anak kenapa nekad sekali?" Ratu menatap Rain yang menggendong istrinya yang hampir kehabisan tenaga.
Sampai di ruangan persalinan hanya di dampingi oleh Rain dan satu perawat karena dokter tidak bertugas, sudah jam pulang.
"Tuan, kita tidak punya waktu menunggu dokter, kepala bayi sudah terlihat dan tenaga Nona juga sudah hampir habis." Perawat sudah menghubungi dokter yang akan segera datang, tapi waktunya tidak akan cukup.
"Kamu saja yang melakukannya, hal pertama yang harus kamu lakukan yakin. Pastikan jika kamu bisa diandalkan, saat ini nyawa anak dan Istriku ada di tangan kamu." Rain menggenggam tangan Ratu yang semakin merasakan sakit.
"Rain sakit, aku tidak kuat lagi."
"Kamu kuat sayang, tarik napas perlahan." Rain menatap perawat yang sudah menyiapkan segala keperluan.
Tidak butuh waktu lama, perawat meminta Ratu mendorong bayi keluar. Perawat mengambil resiko memasukkan satu tangan menarik bayi untuk keluar karena air ketuban sudah hampir habis.
Suara tangisan Ratu terdengar, perawat mengambil bayi yang tidak mengeluarkan suaranya.
Rain tidak fokus lagi kepada bayi, begitupun dengan perawat yang lebih mengutamakan keselamatan ibu untuk menghentikan pendarahan yang Ratu alami.
"Pak Rain bisa memasang infus darah?" tanya perawat.
Kepala Rain mengangguk, kesadaran Ratu sudah hilang karena banyak keluar darah. Rain memasangkan satu infus lagi untuk transfusi darah.
Langkah Rain lemas mendekati bayinya yang terabaikan karena tidak memiliki tenaga medis yang menyelematkan.
"Maaf Papa," ucap Rain menatap bayi yang masih ada noda darah.
Beberapa dokter berlarian, langsung memeriksa kondisi Ratu yang mulai stabil meksipun belum sadarkan diri.
"Kenapa tidak menunggu kamu datang?" tamparan kuat ke arah perawat yang langsung terduduk di lantai.
"Tidak punya waktu karena air ketuban sudah habis, dan kepala bayi sudah terlihat," jawab perawat membela diri.
Bentakan Rain terdengar meminta diam, tidak perlu banyak bicara karena siapapun yang datang terlambat tidak berguna.
"Maafkan kamu Tuan Rain, Nona Ratu tidak mungkin pendarahan jika masih diusahakan untuk menunggu, dan anak tuan Rain pasti selamat," ucap Dokter yang sangat menyesali kelalaian perawat.
"Kamu mandikan bayi nakal ini," pinta Rain kepada perawat yang sudah menangis karena menjadi orang yang disalahkan.
Perawat langsung berdiri menatap bayi yang matanya melihat ke arah sekitarnya, memainkan tangan kecilnya yang tergempal, lalu dibukanya.
"Dia tidak menangis, atau kita tidak mendengarnya?" Rain menyentuh wajah bayi kecil yang bahkan belum diketahui jenis kelaminnya.
Rain memerintah Dokter untuk memindahkan Ratu, tubuh Ratu lemah dan kehabisan banyak darah juga tenaga. Dia harus mendapatkan perawatan intensif.
"Bagaimana bisa jadwal kelahiran meleset?" dokter melihat dokter lain untuk membawa Ratu.
"Aku tidak peduli soal prediksi kalian, tapi siapa yang tadi melakukan tamparan kepada perawat, maka bersiaplah untuk hukuman mati!" teriakkan Rain terdengar kuat meluapkan amarahnya.
Bayi Rain terkejut, mengangkat kedua tangan mungilnya. Perawat menahan tawa karena sangat mengemaskan. Dia tidak menangis, hanya memainkan tangannya.
"Tuan, selamat atas kelahiran Putri cantiknya," ucap perawat yang memberikan bayi kepada Rain.
Senyuman Rain terlihat karena saat lahir saja putrinya berhasil membuat otak Rain tidak bekerja, dan Ratu kehabisan tenaga.
"Kenapa tidak menangis Nak, kamu membuat Papa khawatir?" air mata Rain hampir menetes melihat Putrinya yang menunjukkan ekpresi ingin menangis, tapi tidak mengeluarkan suara.
Kecupan lembut Rain mendarat di kening putrinya, sementara waktu perawat akan menjaga karena Rain harus mendampingi Ratu sampai dia sadar.
"Tolong jaga Putri nakal ku," pinta Rain kepada perawat yang membawa ke ruangan bayi.
Di dalam ruangan khusus, Rain menggenggam tangan Ratu. Mendampingi Ratu tanpa tidur sedikipun.
Perasaan Rain belum tenang jika istrinya belum membuka mata. Bahkan Ratu belum melihat kondisi Putrinya.
"Sayang, kamu baik-baik saja? jangan memejamkan mata terus, aku khawatir sekali. Ada Raja di luar yang ingin bertemu Mamanya, ada Putri kita juga yang membutuhkan kamu." Rain menatap matahari yang sudah bersinar, bahkan dokter sudah datang memeriksa.
Dokter memastikan Ratu baik-baik saja, dia hanya tidur lama setelah kelelahan dan kehabisan tenaga.
"Apa kalian bisa menjamin istriku baik-baik saja?" Rain mengusap kepala Ratu lembut.
"Kita akan memastikan kembali Tuan, sejauh ini kondisi stabil, dan menunggunya sadar." Dokter menujukkan hasil pemeriksaan.
Suara tangisan di luar pintu terdengar, Raja semalaman tidak tidur mencari Mamanya dan menolak makan dan minum karena ingin bertemu.
"Izinkan putraku masuk," pinta Rain.
Pintu ruangan terbuka, Raja langsung berlari memeluk Rain yang langsung menggendongnya karena mata Raja sembab.
"Mama, Mama bangun. Kenapa Mama tidur lama," panggil Raja sambil menyentuh wajah Mamanya.
***