QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
INGIN ADIK



Pintu kamar terbuka, Rain tidak melihat keberadaan Ratu dan Raja yang biasanya ada di taman, ternyata keduanya sibuk di kamar.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


"Periksa ada dedek atau tidak diperut Mama," jawab Raja yang menyusun banyak tes pack.


Kepala Rain tertunduk, Ratu mengikuti tingkah laku Raja yang kekanakan. Ada puluhan tes pack yang tersusun rapi.


"Raja, sepertinya tidak ada. ini yang terakhir." Ratu nyengir saat melihat Rain sudah pulang.


"Apa ini Ratu, jika kamu belum merasakan tanda-tandanya bagaimana bisa hamil?"


"Lihat perut Ratu buncit, siapa tahu memang benar sedang hamil." Harapan Ratu besar karena usia kandungan Lilis memasuki tiga bulan, padahal dirinya lebih dulu menikah.


Teriakan Raja terdengar, lompat-lompat di atas tempat tidur. Rain dan Ratu melihat ke arah tes pack yang tidak ada garis duanya.


Tatapan kedua orang tua Raja menatapnya tajam, tawa Raja terdengar langsung berguling di tas tempat tidurnya.


"Gagal, ternyata tidak hamil." Ratu mengambil semua tes pack membuangnya di tempat sampah.


"Makanya jangan aneh-aneh, akhirnya kecewa." Rain melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Bibir Raja Ratu manyun, perasaan keduanya kecewa karena belum ada bayi di perut seperti milik Lilis.


Keluar dari kamar mandi, Ratu dan Raja sudah tidur. Kecupan Rain mendarat di kening dua harta paling berharga dalam hidupnya.


"Cepat hadir ya, lihat Mama dan Kakak kamu antusias sekali." Tangan Rain mengusap perut Ratu yang buncit karena banyak makan mengikuti Lilis yang hobi makan.


Di ruang tunggu kerjanya Rain pusing melihat beberapa orang yang mendekati area mereka, mencoba mencari celah untuk masuk.


Ketukan pintu masuk, Michael melangkah masuk karena baru saja kembali dari perbatasan.


Rain sengaja mengirim Michael beberapa minggu untuk menyelidiki beberapa kapal asing yang ingin singgah.


"Apa mereka salah satu daftar orang kita?" Rain tidak mengenali bahkan tidak tahu persis karena sangat asing.


"Bukan Kak, mereka hanya segerombolan orang yang dikirim dari negara sebelah untuk menjadi tikus." Michael tidak mengizinkan ada yang masuk wilayah, meskipun menawarkan kerja sama.


Barang yang dikirimkan juga diluar bisnis, sejak kepemimpinan Ratu dilarang melibat wanita dan anak kecil.


Orang dari negara sebelah mencoba ingin mengubah pola pikir, setelah tahu yang memimpin kebanyakan Rain.


"Mereka mencari jalan agar bisa bertemu Kak Rain."


"Haruskan aku mengirim surat cinta?" Rain merasa lucu karena dirinya dianggap menjalankan bisnis yang akan menguntungkan mereka.


Pola pikir Rain tidak sama seperti saat dirinya kecil, melakukan bisnis menjadi permainan yang menyenangkan, tapi untuk melakukan kejahatan melalui bisnis tidak akan Rain lakukan.


Mafia besar yang terkenal kejam menawarkan kerja sama, bahkan mengirimkan putrinya untuk melayani Rain selama dibutuhkan.


"Jangan sampai Kak Ratu mendengar kabar ini, bisa melempar bom ke sana." Michael takut bicara kabar terakhir.


"Mereka tidak tahu wajahku, bagaimana jika aku Kakek tua berusia delapan puluhan?" kepala Rain gatal karena mengurus satu Ratu saja pusing, apalagi mendapatkannya.


Rain meminta Michael istirahat dan melanjutkan pendidikannya. Rain tidak ingin Michael menjadi penjahat apalagi mafia, dia harus menjadi Dokter yang hebat.


"Boleh tidak Kak aku menjadi dokter bedah? Aku ingin mengambil jantung, ginjal, hati, mata untuk diperjualbelikan." Senyuman Michael terlihat.


"Coba saja jika berani, orang yang pertama kamu beda, aku." Tatapan mata Rain tajam melihat Michael yang sudah berlari keluar.


Rain melanjutkan rencananya untuk mengirim email cinta agar tidak ada yang lanjut mendekat, menjadi pelajaran bagi siapapun agar tidak mendekati wilayah mereka dengan pikiran ingin mengubahnya.


Siapapun bebas mati di pesisir pantai karena jauh dari kastil sehingga anak-anak dan para wanita tidak ada yang tahu.


"Beres, aku butuh pelukan hangat." Rain masuk ke dalam kamar melihat dua orang tidur berpelukan.


Kepala Rain tertunduk, alasan lama memiliki anak karena Raja yang selalu mengambil Ratu. Rain seperti orang ketiga di antara keduanya.


"Raja balik ke kamar kamu," pinta Rain memeluk Raja dari belakang.


Ekpresi Rain kaget menyentuh kening Raja yang panas tinggi, tubuhnya penuh keringat. Demam Raja kumat lagi.


"Ratu bangun, Raja demam." Rain selalu panik jika Raja sakit.


Ratu langsung bangun, menyentuh tubuh Raja yang sudah dalam pelukan Papanya. Ratu menghubungi dokter pribadinya untuk segera ke kastil karena Raja demam tinggi.


"Ambil air Ratu." Rain membuka baju Raja karena penuh keringat, tapi tubuhnya panas.


Wajah Ratu pucat melihat Raja demam, sampai marah karena Dokter lama datangnya. Tangan Ratu selalu mengusap wajah berharap demam segera turun.


Air mata Ratu menetes, lebih baik dirinya yang sakit daripada Raja. Si kecil yang selalu ceria dan membuat heboh.


"Permisi Nona ada Dokter," penjaga menundukkan kepalanya.


"Lama," teriak Ratu sambil berderai air mata.


Raja langsung diperiksa, dokter sampai gemetaran karena takut jika melakukan kesalahan maka tidak mungkin bernyawa.


Infus terpasang di tangan Raja, panasnya belum juga turun meksipun sudah minum obat dan disuntik.


"Rain, bagaimana ini?"


"Sudah jangan panik, Raja sering begini."


"Aku menjaga makanannya, tidak pernah ada makanan kotor masuk, bagaimana bisa sakit?"


Tangan Rain mengusap air mata Ratu. Rain mengizikan dokter pergi, Ratu juga diminta tidur.


Kepala Ratu mengeleng ingin menemani Raja, tidur tidak penting kesehatan putranya yang paling penting.


Sampai pagi Ratu dan Rain berjaga, tidak ada yang tidur karena demam Raja tidak ingin turun.


"Rain, ini aku. Raja kenapa?" Kris dari pagi sudah mengetuk pintu.


Pintu kamar terbuka, Kris mendekati Raja yang baru saja bangun. Senyuman Raja terlihat memberikan jempolnya.


"Uncle dedek bayinya sudah bangun belum, Raja juga pengen punya adik, tapi gagal terus."


"Pinjam punya Om saja, sama saja adiknya Raja. Enam bulan ke depan baru bertemu." Kris mengusap kepala Raja yang masih panas.


"Tidak mau, Raja maunya Adiknya Raja dari Mama Ratu, jadi Raja punya dua dari Aunty Lilis dan Mama." Raja terlihat sedih karena kepikiran terus melihat perut Lilis yang terus terlihat.


Tangan Rain menujuk ke arah Kris yang suka mengajari anaknya hal aneh, Raja jika ada maunya harus tercapai, Kris terus mengungkit soal adik membuat Raja terobsesi akhirnya sakit.


Rain tidak bisa bicara lagi, sudah terlanjur sakit. Raja harus dihentikan memikirkan soal adik jika tidak demamnya tidak akan turun.


"Raja, Papa ingatkan bayi tidak bisa ada sesuai keinginan kamu, ada campur tangan tuhan. Jika belum waktunya maka tidak akan ada, nanti kamu terus minta Adik Mama yang terbebani akhirnya sakit." Rain tidak ingin mendengar lagi ada yang bahas soal anak.


***


Follow Ig Vhiaazaira