QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SAUDARA



Wajah Rain pucat, Dokter tidak memeriksanya meminta Ratu yang memeriksakan diri. Senyuman Dokter terlihat menyerahkan test pack agar Ratu memeriksakan diri.


"Nona Ratu, semangat." Lilis ingin sekali memeluk Ratu, tapi sadar diri siapa dirinya.


Ratu berjalan ke arah kamar mandi, tidak lama keluar menunjukkan hasil test pack yang tidak ada hasilnya.


"Sudah Ratu katakan tidak mungkin aku hamil, waktu itu sudah test pack menggunakan banyak sekali, tapi tidak ada satupun yang garis dua." Ratu membuang testpack sembarangan.


Kepala Dokter tertunduk karena takut dengan kemarahan Ratu, tatapan dingin Rain membuat Ratu diam.


"Bagaimana cara kamu menggunakannya Nona Ratu?" Lilis mengambil testpack, mendekatkan ke hidungnya untuk mencium aroma.


Ratu meminta Lilis membaca cara menggunakan, harus dicelupkan ke dalam air dan menuggu beberapa saat.


"Air seni bukan air biasa, Nona menggunakan air apa?"


"Memangnya beda?" tanya Ratu polos.


Lilis dan Dokter geleng-geleng karena Ratu tidak tahu air seni, dia mencelupkan puluhan test pack ke dalam air tentu saja tidak akan mengubah apapun.


Rain meminta test pack baru, menarik tangan Ratu ke dalam kamar mandi memintanya buang air kecil di dalam wadah untuk memastikan.


"Kamu mencelupkan ke dalam air ini ingin test apa, nyamuk menetas," sindir Rain yang mencelupkan test pack ke dalam wadah.


"Ratu tidak tahu, pikirnya sama saja," ujar Ratu yang tertawa kecil.


Kedua tangan Ratu memeluk erat pinggang suaminya menunggu hasil test pack yang ada di tangan suaminya.


Satu warna merah terlihat, senyuman Rain muncul saat garis kedua juga terlihat jelas, kecupan mendarat di pipi Ratu yang ada masa bodohnya.


"Hasilnya apa?" Ratu mengambil test pack melihat jelas garis dua.


Ratu lari kencang keluar menunjukkan kepada Lilis yang hampir jantungan karena Ratu berteriak kuat hampir meruntuhkan dunia.


"Pelan-pelan Ratu, bisa lahiran sekarang kamu," tegur Rain dengan nadanya yang dingin.


Senyuman Ratu terlihat melingkarkan tangannya di leher Rain yang langsung mual melepaskan tangan Ratu lari ke kamar mandi.


"Sayang, kenapa sebegitu benci sampai melihat wajah saja mual?" Ratu langsung duduk di sofa dengan tatapan mematikan.


Dokter mendekati Lilis untuk membawa Ratu memeriksakan kehamilannya, dan melihat sudah berapa usia kandungannya.


Melihat ekspresi Ratu, tidak ada satupun dokter yang berani mendekati wanita cantik, tapi sangat ditakuti.


"Dok, di mana memeriksa kandungan Ratu? Kenapa kalian diam saja melihat wanita hamil, tapi tidak tahu apapun ini?" tatapan Rain binggung karena semua orang hanya bisa menundukkan kepala.


"Mereka takut," jawab Lilis mewakili.


"Takut apa, dia pasien bukan pembunuh berantai?" emosi Rain terpancing karena kondisi tubuhnya yang tidak baik, ditambah lagi tidak ada yang berani menyentuh istrinya.


Suara langkah kaki seseorang terdengar, Ratu menatap seorang wanita muda, langsung duduk di samping Ratu menarik tangan Ratu dengan sangat kasar.


"Leher kamu semakin cantik, apa ingin aku patahkan?"


"Sekarang aku dokter, dan kamu pasien. Jangan macam-macam." Senyuman gadis muda terlihat meminta Ratu diam saja karena dirinya akan memeriksa.


Tawa Ratu terdengar, gadis yang dulunya meminta menyingkirkan Ayahnya berhasil menjadi dokter.


Tidak ada pilihan bagi Ratu, dia dipaksa naik ke atas ranjang untuk melihat kondisi janinnya.


"Sudah berapa lama kamu tidak bulanan?"


"Kenapa kamu ingin tahu?" Ratu menolak menjawabnya.


"Kenapa Dok, memangnya itu penting?" Rain melangkah mendekat.


Kepala Dokter mengangguk, biasanya kehamilan dihitung dari bulan terakhir wanita mengalami mentruasi, bisa juga dilihat dari ukuran janin, tapi menunggu setelah cukup lama.


"Kenapa juga kamu menghitung sejauh itu, perkiraan saja. Tidak selalu nikah langsung hamil."


"Kenapa kamu bicara kasar sekali kepada suamiku, apa mulut kamu ingin aku tendang?" Ratu menatap tajam membuat Dokter lain melagkah mundur.


"Lalu kamu ingin aku bagaimana? Bicara lemah lembut," goda dokter kepada Ratu yang sudah tersenyum sinis.


Dokter melihat janin yang ada dalam kandungan, Rain dan Ratu juga melihat ke arah yang sama. Lilis tersenyum ternyata ada janin di dalam perut Ratu selama ini.


Senyuman Dokter terlihat, janin Ratu sudah cukup besar, kemungkinan besar masuk ke usia empat belas minggu.


"Kamu tidak merasakan apapun selama ini?"


"Bagaimana aku bisa merasakannya jika kepalaku pusing melihat suami dan anakku bergiliran sakit. Rain Raja balik lagi ke Rain. Aku tidak merasakan apapun karena mencemaskan dua lelakiku." Ratu menyentuh perutnya karena anaknya menyerang Papa dan Kakaknya.


"Nona Ratu memiliki seorang Putra, aku pikir akan menjadi jomblo seumur hidup." Dokter langsung melangkah mundur karena tendangan Ratu menyerang.


Tangan Rain menahan meminta Rita jaga sikap, kepala Lilis tertunduk meminta maaf karena Ratu masih harus banyak mengontrol emosinya.


"Jaga sikap kamu Ratu, tidak ada yang berani menyentuh kamu jika terus begini." Dokter memberikan resep vitamin untuk Ratu.


Rain diminta tenang biasanya memasukkan trimester kedua kebiasaan mual dan muntah akan berhenti.


"Terima kasih dokter," ucap Rain.


"Tiap bulan bawa Ratu ke rumah sakit, atau aku yang akan datang ke sana. Bukannya kamu sedang membangun rumah medis dengan teknologi canggih?" dokter akan menemui Ratu karena keberadaannya membuat banyak orang takut.


Pintu terbuka, suara teriakan Raja terdengar. Di tangannya membawa daging, makan dengan sangat lahap.


"Mama, Raja mau pulang. Ma, boleh tidak kita beli daging ini banyak-banyak, Raja suka sekali," ujar Raja yang menyodorkan makanannya ke arah Ratu.


Senyuman lembut Ratu terlihat, mengunyah daging yang dimakan oleh putranya, memberikan jempol jika rasanya memang enak.


"Enak sekali, nanti kita beli ya sayang." Usapan tangan Ratu lembut tidak memarahi Raja yang menggunakan sarung tangan demi memegang dagingnya.


Beberapa Dokter yang ada di ruangan merasa Ratu memiliki dua kepribadian, kepada orang lain mirip harimau, tapi kepada putranya mirip kucing.


"Apa istri saya boleh pulang Dok?" tanya Rain.


"Tentu Pak, silahkan pulang sampai bertemu bulan depan.


Suara tangisan Raja terdengar, Rain mengerutkan keningnya melihat Raja yang menangis hanya karena dagingnya jatuh.


Jari telunjuk Rain terlihat, meminta Raja diam. Jangan karena makanan menangis padahal kelalaian dirinya sendiri.


"Ambil lagi ya Pa, belum lima menit."


"Tidak boleh, nanti kita beli lagi."


"Mau sekarang, Raja mau sekarang," teriakan Raja menggema langsung mengamuk.


Pukulan di atas meja terdengar, Rain menatap Raja yang sudah memeluk Ratu karena mengiginkan dagingnya.


"Kak Kris, bisa Ratu meminta tolong belikan lagi," pinta Ratu.


"Berapa usia anak ini?" tanya dokter karena sikap pemarahnya mirip Ratu.


"Dia jalan enam tahun, kenapa?" jawab Ratu pelan.


Dokter mengusap kepala Raja, memintanya lebih dewasa karena sebentar lagi dia memiliki adik yang harus dijaga.


Raja terlihat nakal, tapi sangat jenius. Kasih sayang Ratu juga sangat besar, tidak heran jika Raja sakit karena kehadiran adiknya. Keduanya akan memiliki ikatan yang sangat erat sebagai saudara.


***


Follow Ig Vhiaazaira