QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BAYARAN



Mata Michael terbelalak karena dosen yang dikagumi banyak orang ternyata Rain, lelaki yang pernah ada di masa lalu kakaknya.


Penjelasan Rain sangat detail, waktu tiga jam tidak cukup untuk mengobrol santai bersama Rain, Michael bahkan tidak punya kesempatan untuk bertanya karena antusias mahasiswa lain.


"Kenapa dia keren sekali, tidak heran memiliki banyak bisnis. Kapan aku bisa membuka perusahaan?" Michael ingin sekali memiliki bisnis legal sehingga keberadaannya sebagai pebisnis ilegal tertutupi.


"Raja mengantuk, Papa lama sekali. Duduk di sini saja." Raja duduk di samping Michael yang memperhatikan penjelasan.


Penjaga Raja mengetuk pintu, menatap Rain karena Raja menghilang dari tempat beristiahat.


Tatapan Rain tajam meminta menemukan putranya, Raja tidak tahu lokasi karena baru pertama kali datang.


"Apa di antara kalian ada yang melihat anak kecil berusia lima tahun, berjenis kelamin laki-laki?" Rain meminta waktu sebentar karena Putranya kabur mencari papanya.


Semua orang di dalam ruangan melihat sekitar, Michael kaget di dalam jaket yang ada di kursi sebelah menutupi kepala seorang anak kecil.


"Jangan kasih tahu Papa, Raja lagu sembunyi."


Mata Michael bisa melihat dengan jelas, si kecil yang wajahnya tidak asing. Mata Michael terpejam mengingat seseorang yang terasa pernah dekat dengannya.


"Alip, kamu Alip?"


"Raja, nama aku King." Senyuman Raja terlihat, membuka penutup kepalanya langsung berlari ke arah Papanya.


Suara langsung gaduh melihat anak tampan yang memanggil Papanya. Rain hanya bisa geleng-geleng melihat Raja muncul dengan sendirinya.


Banyak yang tertawa karena Raja sangat lucu dan tampan, melambaikan tangannya menyapa banyak orang.


Rain mendudukkan Raja di atas meja memintanya diam mendengarkan penjelasan, Raja dilarang mengeluarkan suara.


"Kita fokus kembali, maaf sudah membuat gaduh." Rain melihat ke arah Michael yang menundukkan kepalanya.


Michael yakin Rain pasti mengenali dirinya, apalagi dia pria yang sangat cerdas. Tidak saling menyapa jauh lebih baik daripada mengungkit masa lalu.


"Alip sudah tumbuh besar, tampan dan sangat mengemaskan. Aku salah menilai Rain, dia ternyata membesarkan Alip." Michael memutuskan keluar meksipun hatinya masih ingin belajar, tapi demi tidak saling jumpa maka Michael harus kembali.


Seseorang menahan pundak Michael, menarik tangannya ke arah parkiran. Pengawal Rain menahan Michael agar tidak pergi.


"Lepaskan aku, ada urusan apa kalian?"


"Kita hanya meminta waktu sebentar, tunggu sampai Tuan Rain menyelesaikan seminar."


"Kalian tidak tahu siapa aku?" pertarungan terjadi di area parkir.


Tidak butuh waktu lama dua pengawal terpental, tatapan mata Michael tajam dan sangat gelap.


Dirinya sudah berusaha menahan diri agar tidak berkelahi sesuai perintah Kakaknya agar tidak menonjol, tapi keadaan memaksa.


"Jangan menyentuhku bodoh." Michael melangkah pergi ke arah mobilnya.


Pengawal kembali ke tempat acara, Rain sudah berfoto bersama mengakhiri acara yang berjalan dengan lancar.


Pengawal menggelengkan kepalanya, Rain menggandeng tangan Raja untuk keluar tanpa menerima tawaran untuk makan bersama karena mengejar waktu.


"Anak itu pergi?"


"Iya Tuan, kemampuan bela dirinya sangat tinggi."


Senyuman Rain terlihat, dia sudah mengenali Michael saat di bandara, tapi tidak ingin mendekatinya karena Rain tahu Michael sedang menyamar.


"Aku yang datang kepada kamu, atau aku yang datang menemui kamu?" Rain tersenyum karena sebentar lagi Rain akan menemukan Ratu.


"Kita kembali ke hotel sekarang Tuan?"


Kepala Rain mengangguk, langsung masuk mobil karena firasat Rain jika Ratu akan keluar dari persembunyiannya.


"Pa, Raja lapar."


Senyuman Hera terlihat, sangat kagum kepada Rain yang membesarkan putranya seorang diri.


"Rain, bagaimana kondisi kamu?" perawat Hera ingin menyentuh tubuh Rain, tapi mendapatkan tatapan tajam.


"Jangan menyentuh aku, kamu akan tersakiti." Rain meminta Hera pulang karena tugasnya sudah usai.


"Izinkan aku tetap di sini, lagian aku nyaman bersama Raja." Hera tidak meminta Rain membayarnya bisa menanggung hidupnya sendiri selama di luar negeri.


Senyuman sinis terlihat, Rain menujukkan ponselnya kepada Hera. Rain sudah membayarkan uang sesuai kontrak, Hera kembali atau tidak bukan urusan Rain lagi.


Perasaan Hera sakit melihat dan mendengar ucapan Rain, meskipun tidak menyukainya namun tidak seharusnya mematahkan hati.


"Kenapa dia begitu membenci wanita? bagaimana caranya aku mengubah pola pikir Rain?" Hera hanya berani bicara dalam hati dirinya belum pernah diperlakukan buruk selama bekerja sebagai perawat VVIP.


Hanya Rain yang sangat pandai meremehkan, dia selalu memojokkan keadaan Hera. Memasang benteng agar tidak dekat.


"Pak Rain, maaf jika lancang. Semua orang memiliki cerita cinta, ada yang berakhir bahagia ada yang terluka. Luka yang diberikan istri Pak Rain sebesar apa sehingga ada benteng besar menjadi pembatas?" Hera meminta Rain membuka pikirannya, dia tidak boleh menetap di dalam kurungan cinta yang sudah usai.


"Usai, bagaimana bisa usai? aku bahkan belum memulainya." Tawa Rain terdengar, benteng yang Rain buat bukan untuk dirinya, tapi menghindari hal yang tidak diinginkan.


Kepala Hera menoleh ke bangku belakang, menatap wajah Rain yang terlihat menahan rindu yang sangat dalam.


"Lupakan dia agar kamu bisa hidup bahagia," pinta Hera.


"Bagaimana aku bisa melupakannya?" bagi Rain, Ratu selalu ada di sisinya. Saling mengkhawatirkan saling menanti.


Kepala Hera menggeleng, dirinya tidak bisa pulang. Hera ingin menemani Rain membantunya melupakan wanita yang pernah dicintai.


Bukan bayaran yang Hera inginkan, hatinya ingin Rain membuka pintu hati yang sudah lama ditutup. Sebesar apapun luka, pasti ada obatnya.


Hera pastikan dirinya akan menjadi obat paling ampuh, Hera akan mengeluarkan Rain dari dalam lubang kehancurannya.


"Tuan Rain ingin makan apa?"


Mata Rain terpejam, tidak menyimak lagi ucapan Hera. Raja juga tidur di dalam pelukan Papanya.


Tangan Hera menyentuh wajah Rain, duduk di sisinya. Kepala Rain diletakkan di dada Hera agar tidur dengan nyaman.


"Di depan ada kecelakan," ucap sopir.


Kaca jendela dibuka, mobil Rain berhenti bersebalahan dengan pembunuh bayaran yang sudah Ratu turunkan untuk menemukan keberadaan Rain.


"Ternyata dia wanitanya, kenapa wanita ini bisa mengusik Ratu?"


Mata Rain terbuka mencium bau aneh, menendang pintu mobil meminta Hera keluar. Rain juga keluar membawa putranya.


Beberapa pengemudi mobil di sekitar Rain berlari semua karena mobil yang Rain gunakan terbakar.


Jalanan semakin macet, wanita yang melemparkan sesuatu ke arah mobil memotret mengirimkan kepada Ratu.


"Siapa wanita itu?" Rain langsung mengenali wanita yang melaju pergi menggunakan kendaraan roda dua.


Dua pengawal Rain mendekat, meminta Rain pindah mobil karena mereka harus lewat jalur lain.


"Ada apa dengan mobilnya?" Hera menatap pengawal.


"Kemungkinan ada kerusakan mesin," balas penjaga.


Kepala Rain menggeleng, membawa Raja yang masih tidur ke mobil lain. Rain akan mencari siapa wanita yang ingin mencelakai mereka.


***


follow Ig Vhiaazaira