QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BIMBANG



Kematian Clen sampai ke telinga Albert, soal Miko yang memiliki hubungan spesial dengan Aryani juga sudah sampai ke telinganya.


Ada banyak simpang siur soal Michael anaknya Miko, Albert berada dalam kebingungan karena lima belas tahun dirinya dibohongi.


"Papi, hari ini Michael tidak ingin pergi sekolah," ujar Michael karena mendapatkan peringatan dari Miko.


"Kenapa, sekolah sekarang. Ada pengawal yang akan berjaga," jawab Albert tidak ingin dibantah.


Meskipun ditegur, Michael tetap memaksa untuk tidak pergi sekolah karena ada banyak berita soal dirinya yang disembunyikan.


Emosi Albert terpancing karena selama lima belas tahun dirinya membesarkan Michael tidak pernah didengarkan, ada orang lain yang selalu Michael turuti.


"Apa benar kamu bukan putraku?" tanya Albert melangkah mendekat.


"Kenapa Papi bicara begitu? seharusnya Michael yang bertanya."


Senyuman Albert terlihat, Miko memang putra Aryani yang berselingkuh dengan Albert, tanpa diketahui ternyata wanita rendahan yang melahirkan Michael juga menjalin kasih dengan pengawal pribadinya.


Albert memutuskan untuk melakukan tes DNA, dia tidak ingin dibodohi. Sungguh menjijikkan jika memang benar Michael bukan anaknya.


"Papi akan membuang Michael? apa salahnya Michael?"


"Lakukan tes DNA maka kamu akan tahu nasib yang harus kamu jalani. Tetap berada di sisiku, atau lenyap." Albert tidak pandang bulu, kedua putrinya saja mampu dirinya singkirkan apalagi Michael.


Seorang anak kecil berlari ke arah Albert, langsung digendong ke arah istrinya yang tersenyum manis menatap suami dan anaknya yang baru berusia dua tahun.


"Setelah kehadiran Alif, Papi banyak berubah. Aku harus segera menghubungi Papa soal tes DNA." Michael berlari ke arah kamarnya mencari ponsel rahasia yang menjadi penghubung dirinya dan Miko.


Suara panggilan tidak terjawab, Michael memijit kepalanya karena takut jika sesuatu terjadi kepadanya.


Ponsel Michael berdering, langsung cepat dijawab karena dia berpikir Papanya yang menghubungi karena hanya Miko yang bisa berkomunikasi.


"Halo, adikku sayang. Bagaimana kabar kamu?" tawa Ratu terdengar meminta Michael mendengarkan dirinya karena saat ini hanya Ratu yang bisa menyelamatkannya bukan Miko.


"Siapa kamu, di mana papa?" tanya Michael dengan nada marah.


"Up, jangan marah adikku. Kamu harus terima nasib jika binggung siapa ayah sebenarnya karena Mama Aryani memang murahan. Aku menghubungi kamu bukan untuk berdebat." Ratu mengalihkan panggilan menjadi panggilan video.


Senyuman manis Ratu terlihat, mengagumi wajah tampan Michael karena sudah tumbuh besar.


Selama ini Albert begitu menyayangi Michael, tapi sesaat lagi semuanya akan berubah menjadi kebencian.


Apa yang dulunya terjadi kepada Ratu dan Putri pasti akan terulang kembali, Michael akan disiksa hingga mengalami gangguan jiwa.


Selama ini dunia juga tidak tahu soal keberadaan Michael maka tidak ada alasan bagi Albert untuk melindunginya.


"Aku ingin keluar dari tempat ini, di mana Papa."


"Tidak semudah itu, jika kamu ingin keluar hancurkan Albert terlebih dahulu. Sebelum kamu hancur, maka harus menghancurkan." Ratu menatap tajam melihat gerakan mata Michael.


Kepala Michael menggeleng, dia tidak mengerti apa yang Ratu bicarakan karena dirinya tidak pernah melakukan kejahatan.


Perintah Ratu untuk melenyapkan istri Albert terdengar, dia kunci yang memegang Albert selama ini.


Elisha tidak mungkin tersiksa jika mama tirinya tidak muncul, bahkan Aryani juga berhasil disingkirkan.


Selama ini dia baik kepada Michael karena belum memiliki anak, tapi setelahnya maka Michael tidak berguna lagi.


"Kakak tahu soal Alip?"


Ratu langsung terdiam, dia tidak tahu sama sekali jika Albert memiliki anak lagi berusia dua tahun. Jika Ratu membunuh istri Albert maka dia membuat si kecil kehilangan sosok ibu.


Tangan Ratu tergempal, dirinya tidak bisa merenggut kebahagiaan anak tidak berdosa. Ratu harus menarik Albert keluar agar bisa melenyapkannya.


"Jangan ambil Ibunya, Michael bisa keluar dari sana setelah mengambil peti kecil di dalam ruangan Albert."


"Aku tidak mau melakukannya karena jika ketahuan papa pasti murka." Kepala Michael menggeleng karena dirinya bukan anak kecil yang bisa dibohongi.


Lilis menatap wajah Ratu yang terlihat binggung, pasti ada kendala dari rencananya yang terburu-buru.


"Nona, bukannya ini terlalu terburu-buru?"


"Apanya yang terburu-buru, kita sudah terlalu lama di sini. Aku membuang banyak waktu." Ratu ingin semuanya berakhir agar bisa segera meninggalkan negara penuh luka.


Kepala Lilis tertunduk, dirinya hanya takut apa yang dilakukan menjadi bumerang bagi Ratu sendiri.


Mungkin Clen bisa disingkirkan karena dia hanya orang asing, tapi Albert berbeda. Seburuk apapun darahnya mengalir di tubuh Ratu.


"Di mana Rain hari ini?"


"Dia bersantai di apartemen karena ini hari libur," jawab Lilis menunjukkan rekaman di parkiran jika mobil Rain tidak keluar.


"Aku ingin menemuinya, apa kamu ingin ikut?"


Kepala Lilis menggeleng, membiarkan Ratu pergi sendirian. Sudah bisa ditebak jika Ratu mencari sasaran untuk teman debat.


Bicara dengan Rain membuat Ratu jauh lebih baik, Lilis tahu perasaan Ratu yang nyaman, tapi menepisnya karena perbedaan keduanya.


"Kamu yakin tidak ingin ikut?"


"Tidak Nona, selamat bertengkar." Lilis tersenyum kecil memilih beristirahat.


Ratu melangkah cepat, dia harus segera menemui Rain. Ada beberapa hal yang ingin dirinya bicarakan.


Sampai di apartemen, Ratu mengerutkan keningnya karena bau aneh dari dalam apartemen.


"Kenapa Sandi rumah diganti? Rain, apa kamu di dalam?" gedoran terdengar membuat Rain langsung membuka pintu sebelum jebol.


Ratu melangkah masuk melihat Rain yang sedang berbenah, menyapu dan mengepel juga membereskan barang-barangnya yang sudah hancur.


"Kenapa kamu mengerjakan pekerjaan rumah?"


"Harus bagaimana lagi, jika bukan aku lalu siapa?" Rain meminta Ratu angkat kaki, duduk diam di sofa.


Tatapan mata Ratu tajam menunggu Rain yang sangat lama berbenah, Ratu sampai tertidur menunggunya yang tidak kunjung usai.


"Lama sekali Rain! aku sudah tidur bangun lag," teriakan Ratu terdengar kesal.


Rain yang ada di kamarnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala, Ratu memang sangat emosi tidak ada kelembutan sama sekali.


"Kenapa kamu lama?" Ratu membuka pintu kamar, kakinya terpeleset sampai telentang.


"Sudah aku ingatkan tetap diam." Rain menggedong Ratu ke atas tempat tidur.


Mata keduanya bertemu Rain tidak berkedip sedikipun membuat Ratu malu dan juga canggung.


"Kenapa tatapan kamu begitu?"


"Ratu, apa kamu begitu ingin cepat pergi?"


"Ya, ini bukan duniaku." Ratu tidak merasa damai berada di negara yang penuh kebusukkan.


Senyuman Rain terlihat, meminta Ratu tetap tinggal dan hidup bersamanya meksipun Rain tidak tahu kehidupan apa yang akan dijalani.


"Kamu sedang menyatakan cinta, aku tidak akan tinggal Rain. Dunia aku dan kamu berbeda," ujar Ratu karena akhir dari dirinya hanyalah kematian tanpa kebahagiaan.


"Baiklah, pergilah tanpa pamitan." Senyuman Rain terlihat, dirinya bukan mengatakan cinta namun ingin tetap bekerja bersama Ratu meksipun mereka beda banyak hal.


***


follow Ig Vhiaazaira