QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
BOMS



Di depan hotel Rain berdiri tegak menatap pria berbadan besar meminta bertemu dengan Ratu.


"Datanglah besok pagi," pinta Rain karena bertemu Ratu hanya boleh di hari pernikahannya.


"Aku tidak ada urusan dengan kamu," ujar pria berbadan besar.


Suara tangisan sambil teriak-teriak terdengar, kerah baju Rain ditarik oleh Maminya Hera, tapi langsung dilepaskan melangkah mundur.


Rain merapikan bajunya yang ada bekas cengkraman, tatapan pria berbadan besar juga tajam ke arah istrinya.


"Lihat wajah putriku," ucap wanita seksi yang megusap air matanya.


Seseorang mendekati Rain, menyerahkan amplop coklat. Rain membuka amplop menghamburkan isinya meminta diperhatikan sendiri.


"Kalian akan menemukan jawaban dari foto itu, jangan paksa aku untuk menghancurkan kalian," ancam Rain tidak ingin mendengarkan suara tangisan, keributan, teriakkan, apalagi rengekan.


Tangan pria gemuk tergempal, dirinya orang yang sangat terpandang namun tidak bisa melawan pria yang tidak bisa apapun.


"Lebih baik kalian pergi," pintu Kris secara baik-baik.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Lilis berdiri di samping Kris disusul oleh Ratu yang ada didepan Rain.


"Nona Ratu," sapa pria berbadan besar memberikan salam.


Ratu langsung mengatur ekspresinya, menatap sinis karena ada coba menyentuh calon suaminya.


"Pi, dia wanita yang membuat wajah Hera hancur."


"Diam kamu Hera! sebaiknya kamu keluar." Pria besar menatap Ratu dan Rain secara bergantian.


Tidak banyak pembicaraan, keluarga Hera memutuskan pergi. Mustahil mereka mengalahkan Ratu, apalagi calon suaminya Rain.


"Kenapa aku merasa orang itu juga takut kepada Rain?" gumam Ratu bicara sendiri.


Lilis memunguti foto, begitupun dengan Kris yang membantu Lilis mengumpulkan seluruh foto kejahatan Hera yang bisa ada di tangan Rain.


"Kenapa aku merasa sekarang kamu banyak berubah sejak meninggalkan kota kelahiran?" Kris meletakkan foto di tangan Rain.


"Bukan aku yang berubah, tapi kamu yang baru mendekati aku." Rain menundukkan kepalanya karena bukan dirinya yang berubah, tapi orang sekitar yang tidak menyadari.


Selama puluhan tahun hidup bersama Kris, dari kecil hingga dewasa. Bekerja bersama, makan dan minum namun Kris tidak tahu apapun.


"Maaf, aku memang tidak mengenali kamu." Kris menatap Rain, sindiran Rain seperti kebencian sehingga membuat Kris sedih.


"Satu-satunya orang yang menganggap aku manusia hanya Ratu, meksipun perlakuannya kasar dia menganggap aku ada. Aku tidak membenci kamu, aku tahu perjalanan hidup kamu juga sulit, dan selama tiga tahun ini kamu mencoba memahami aku." Pundak Rain membungkuk kepada Kris, bagi Rain apapun yang terjadi Krisna satu-satunya keluarga yang Rain miliki.


"Aku tahu hanya tiga tahun ini kita dekat, tapi kamu menyimpan rahasia."


"Rahasia apa? aku tidak menyembunyikan rahasia apapun." Rain terlihat binggung, dia hanya ingin terlihat kuat agar bisa melindungi Ratu meksipun tetap saja yang ditakuti bukan Rain.


Kris masih saja ingin bertanya, tapi Lilis menarik bajunya untuk berhenti. Krisna begitu bodoh bertanya secara langsung sudah pasti Rain tidak akan menyombongkan diri.


"Aku akan mengecek lokasi pernikahan." Kris pamit pergi.


"Lion yang ada di sana," balas Rain.


Semua orang menoleh ke arah Rain, memiliki pertanyaan yang sama karena tidak ada pengawal yang akan berjaga.


Suara Raja terdengar berjalan bersama Michael, Raja sudah mendukung tas ranselnya, memakai sepatu sambil menghubungi seseorang.


"Paman Lion, Raja pergi ke sana ya," pinta Raja melalui panggilan.


"Tidak boleh, kamu hanya akan mengacaukan yang ada disini."


Lirikan mata Raja tajam, tidak menerima jika keiginanya ditolak. Penampilannya juga sudah rapi, tidak mungkin dibatalkan.


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi?" Rain menatap putranya.


"Papa sudah menuruti keinginan kamu yang menangis meminta Paman datang, sekarang ingin keluar, apa kamu sudah dewasa?" tanya Rain melihat ke arah tas.


Raja langsung melepaskan tasnya meminta Michael yang memegang, tidak boleh diperiksa oleh apa isinya.


"Mana tasnya?"


"Papa tidak boleh seperti itu, tas ini privasi punya Raja."


"Jika tidak mengizinkan kamu tidak boleh bertemu Paman Lion," ancam Rain yang sudah basi bagi Raja karena terlalu sering diancam.


Suara Raja merengek-rengek ke arah Ratu, tanpa berpikir panjang langsung diizinkan. Rain tidak bisa berkata apapun apapun lagi jika Ratu yang bicara.


Lidah Raja terjulur, tersenyum manis ke arah Papanya. Dirinya menemukan pendukung yang bisa melawan Papanya yang keras.


"Bau apa ini?" Ratu mencium aroma tidak enak.


Rain dan Lilis juga menciumnya, tidak ada yang mengenali baunya. Rain mengambil ponselnya menghidupkan alarm tanda bahaya agar semua orang yang ada di hotel keluar.


Rain mengendong putranya, menarik tangan Ratu untuk keluar dari hotel. Tatapan Ratu ke arah lift karena gaun pengantin ada di dalam kamarnya.


"Rain, baju pengantin kita." Ratu menatap wajah Rain.


"Tidak penting, ada yang meninggalkan bom." Rain meminjam laptop seorang mahasiswa yang sedang magang sebagai pelayan, demi menyelamatkan skripsi berlari membawa laptop.


Semua orang keluar menjauh, Rain sibuk di laptop melacak keberadaan bom yang baunya tercium karena ada seseorang yang lewat.


"Pria bersih-bersih tadi membawa bom, di mana dia?" Rain menatap seorang pria berjalan ke arah Ratu yang berdiri santai di atas tempat duduk taman hotel.


Senyuman sinis Ratu terlihat, mengarahkan senjatanya. Tembakan lepas membuat orang berlari ketakutan.


Lilis berlari kencang, melepaskan rompi bom yang terpaksa. Ratu turun dari kursi karena hanya bisa mematikan bom dari remote, tapi tidak dengan alarm waktu.


"Tolong selamatkan aku," pinta pemuda yang sudah menangis.


"Ratu, menyingkirkan!" teriakan Rain terdengar.


Tanpa rasa takut Ratu, menarik rompi yang masih ada alarmnya. Rain berlari mengejar Ratu yang nekad membawa rompi menjauh dari banyak orang.


Rompi yang terikat dengan bom dilempar ke arah mobil yang Ratu ketahui milik Hera. Suara ledakan terdengar, diiringi senyuman manis.


Pelukan Rain erat mencemaskan kondisi calon istrinya, Ratu menakup wajah Rain melihat kobaran api di mata yang sangat bening.


Suara teriakkan meminta tolong tidak dihiraukan, Ratu melihat jelas Hera mati dan kedua orangtuanya mati dalam ledakan bom.


"Akibat bermain-main, akhirnya mati," batin Ratu di dalam hatinya yang sangat puas bisa melenyapkan satu saingannya.


"Kamu baik-baik saja, kenapa membawa bom berlari?"


"Gaun, bagaimana kabar gaun pengantin Ratu." Tidak menjawab pertanyaan Rain, Ratu berlari ke arah hotel diikuti oleh Lilis yang mencemaskan Ratu.


Kepala Rain geleng-geleng, buat apa mencemaskan gaun sedangkan bom meledak di luar.


Rain melihat kobaran api, hidup bersama Ratu harus membiasakan diri dengan tindakannya yang sangat menakutkan.


"Kebakaran, tolong kebakaran." Raja meniup menggunakan mulutnya.


"Kamu baik-baik saja Raja?" Rain mengambil putranya dari gendongan Michael.


"Iya Pa, kenapa Mama lari teriakkan gaunku, bukan putraku?" Raja kebingungan ulah Mamanya yang mementingkan baju.


***


follow Ig Vhiaazaira