QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
KELUAR BERSAMA



Hampir tiga jam Ratu tidak keluar dari ruangan bersama Aryani, mendengarkan semua kejahatan papinya sehingga menyebabkan adiknya menderita.


Di dalam mobil Rain hanya duduk menatap Lilis yang berdiri di depan pintu penuh kesabaran, tidak bergerak sedikitpun menandakan kesetiaannya.


Pintu terbuka, Ratu meminta Lilis memindahkan Aryani ke tempat yang sudah mereka persiapkan.


Pintu mobil terbuka, Ratu menjalankan mobilnya tanpa melirik sedikitpun kepada Rain.


"Krisna terlibat, dia orang terakhir yang bersama Elisha." Ratu menarik napas panjang menunggu tanggapan Rain.


"Jika memang penyelidikan begitu penting maka lakukanlah. Aku tidak akan menghalangi, tapi kamu harus tahu resikonya." Rain hanya bisa memberikan peringatan kepada Ratu jika mengusik Krisna maka dia harus berurusan dengan Petro.


"Apa kamu yakin Krisna penerus keluarga Petro?"


Rain hanya diam tidak memberikan jawaban, sejak awal Rain sudah sepemikiran dengan Ratu jika Krisna bukan penerusnya. Masalah Clen hanya satu cara dirinya mengambil alih kekayaan Madam.


"Kenapa kamu selalu diam, apa tidak ada hal penting yang ingin disampaikan?"


"Aku tidak ingin mengira, lagian tidak ada untungnya," balas Rain tanpa beban pikir.


"Memangnya kamu menginginkan keuntungan apa?"


Tawa Rain terdengar merasa konyol dengan pertanyaan Ratu, hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mobil berhenti, Ratu menatap wajah Rain. Tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Rain sama sekali.


"Kamu mencoba membaca pikiran aku?"


"Ya, sejak pertama melihat kamu nampak mirip penjahat." Ratu menjalankan mobil kembali.


Ratu heran, seharusnya Rain bertanya soal pembicaraan dengan Aryani, tapi tidak ada pertanyaan. Rain memang sangat menutup dirinya agar tidak tahu banyak hal.


Menganggap Rain bodoh tidak tepat, ingin mempercayainya juga sulit karena Ratu sangat yakin jika Rain tahu banyak hal.


"Kamu tidak butuh uang, tidak butuh infomasi, lalu apa yang kamu inginkan?"


"Aku tidak tahu, sejauh ini tidak ada yang ingin aku perjuangan, tidak ada alasan juga bagi aku bertahan. Kamu tahu arus air, mungkin itu aku yang hanya mengikuti alur." Rain melihat ke arah luar jendela mobil.


Kesekian kalinya Ratu terdiam, dia tidak tahu harus menganggap Rain bagaimana karena sangat sulit menebaknya.


"Jika boleh aku ingin meminta bantuan? Kamu begitu yakin jika Krisna tidak terlibat, bisa kamu buktikan," pinta Ratu karena mencoba mempercayai Rain ada di pihaknya.


Senyuman tipis Rain terlihat, ekspresi Ratu nampak tulus mempercayai. Tanpa Ratu mina memang Rain akan melakukannya.


Teringat wajah Elisha sungguh menyakitkan hati Rain, dia juga ingin tahu siapa pelaku yang begitu lancang menodainya.


"Bagaimana kamu bisa tahu soal anak Aryani? Penerus Albert berusia lima belas tahun, dia akan diumumkan saat usia tujuh belas tahun dan hari itu juga pengumuman kematian Elisha." Hati Ratu nampak sedih karena papinya begitu jahat karena membuang dua putrinya demi putranya.


"Di mana Maminya Elisha, bukannya istri Albert yang sekarang hanya istri kesekian?"


"Jangan dijawab jika memang pertanyaan aku tidak pantas." Mata Rain bisa menangkap perubahan wajah Ratu yang nampak sangat kehilangan saat menanyakan sosok ibu.


"Dia meninggal saat Elisha lahir, mengalami depresi hingga gantung diri." Ratu keluar dari mobil agar Rain tidak melihat ekspresinya.


Kesedihan Ratu nampak jelas, Rain pindah menyetir mobil. Minta Ratu duduk manis dan memejamkan matanya untuk mengatur pikirannya.


Mobil melaju ke arah hotel, Ratu mengikuti ucapan Rain untuk memejamkan matanya agar bisa mengontrol pikirannya.


Tiba di hotel saja Ratu tidak tahu, Rain turun dari mobil berlari kencang masuk ke dalam hotel menjemput Putri.


"Nona Putri tidak diizinkan keluar rumah," ujar penjaga yang menolak Rain.


"Kakak Ratu," sapa Putri.


"Rain, bukan Ratu," balas Rain menunjukkan senyuman.


"Aduh salah lagi." Tangan Putri menepuk jidatnya.


Senyuman lebar Putri terlihat, dia sangat bahagia bisa keluar rumah meskipun perginya subuh.


"Kita pergi ke mana Kak Rain?"


"Emh, ke tempat yang sangat indah dan kamu bisa makan sepuasnya di sana." Rain membukakan pintu mobil


Ratu langsung keluar dari mobil mentap Rain tajam karena membawa Putri keluar. Jika ada yang tahu keberadaan Elisha maka akan semakin kacau.


"Sebentar saja," pinta Rain ingin menghibur Ratu dan Putri.


"Ratu cepat masuk, kita ingin pergi jalan-jalan." Putri bertepuk tangan bahagia.


"Mana ada orang jalan-jalan jam tiga subuh." Ratu geleng-geleng kepala merasa aneh dengan sikap Rain.


"Kita orangnya," balas Putri masih menimpali setiap ucapan Ratu.


"Kalian berdua tidur saja dulu, saat tiba Kak Rain bangunkan." Senyuman Rain terlihat hanya khusus untuk Putri.


Ratu hanya bisa geleng-geleng, akhirnya pasrah memutuskan untuk tidur karena ingin memikirkan cara menyingkirkan Albert menghancurkan bisnisnya hingga dia sadar kekuasaan Ratu jauh di atasnya.


"Putri tidur ya kakak Rain, Ratu juga tidur." Putri memeluk guling nya memutuskan tidur.


Perasaan Rain ada yang aneh hatinya senang karena bisa melihat wajah Putri begitu bahagia.


Pesan dari Krisna masuk meminta Rain kembali mendampinginya karena tidak nyaman dengan keberadaan Miko.


Memang Miko jauh lebih kuat dari Rain jika soal tenaga, tapi rasa nyaman bersama Rain tidak bisa digantikan.


Perasaan penuh sesal, Rain meminta Krisna mencari tahu siapa orang yang membawa Miko. Dia pasti orang yang ada sangkut pautnya dengan Elisha.


Rain tidak sengaja melihat tato di tubuhnya Aryani yng bertuliskan nama Miko meskipun menggunakan bahasa unik.


Jika Krisna berhasil menemukan siapa Miko, maka Rain akan kembali kepadanya. Selama Clen masih mengatur, dan Krisna tidak melawan maka tidak ada yang bisa Rain lakukan.


"Aku tidak pernah mengkhianati siapapun, tapi ada kalanya seseorang harus mendapatkan keadilan. Elisha harus mendapatkan kebahagian, menghapus memori menakutkan." Rain akan ikut campur demi kesembuhan Elisha dan membantu Ratu menyelamatkan sahabatnya.


Kening Rain berkerut baru merasakan keanehan, bagaimana mungkin Ratu bisa tahu soal kematian Maminya Elisha padahal saat itu Putri baru lahir.


"Siapa Ratu sebenarnya, dia tidak pernah terlihat di antara daftar tangan kanan Albert?" Rain bertanya kepada dirinya sendiri karena tidak mungkin bertanya kepada Ratu apalagi Lilis.


Putri menepuk pundak Rain, meminta minum karena haus. Rain melihat di mobil tidak ada minum. Terpaksa mencari supermarket yang buka dau puluh empat jam.


"Putri tunggu di sini, Kak Rain membeli minum di sana."


"Ikut, boleh ya?'


Rain mengangguk, membawa Putri bersamanya meninggalkan Ratu yang masih terlelap. Mata Ratu terbuka melihat Rain memasangkan topi kepada Putri agar tidak ada yang mengenalinya.


"Bagaimana jika lelaki yang melecehkan Elisha ternyata Rain? dia selalu ada di sisi Krisna dan terlihat begitu menyayangi Putri. Bukan tidak mungkin jika dia juga pelaku." Ratu menampar wajahnya untuk menjauhkan pikiran buruk.


***


follow Ig Vhiaazaira