QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SAKIT



Jadwal Rain semakin padat, dirinya harus melakukan penerbangan ke luar negeri karena ada seminar bisnis bersama para pengusaha muda baik yang sudah merintis maupun mahasiswa.


Pertemuan yang sudah lama diharapkan, Rain tidak mungkin membatalkan. Keberangkatan Rain tertunda karena Raja secara tiba-tiba sakit.


"Bagaimana ini, tidak mungkin aku membawanya dalam keadaan sakit." Rain menggedong Raja yang demamnya semakin tinggi.


"Pa, Raja tinggal bersama Om saja, Papa harus kerja."


"Om ada di luar negeri sayang, Papa juga tidak bisa mempercayai orang lain menjaga kamu selama berhari-hari." Rain mengusap kepala putranya yang panas sekali.


Seorang dokter merekomendasikan Rain untuk membawa seorang perawat handal, dia sudah biasa bekerja untuk mengantarkan pasien jika ingin pindah rawat ke luar negeri.


Rain langsung setuju, dia membutuhkan bantuan seorang perawat untuk menjaga Putranya di perjalanan juga hotel.


Seorang wanita cantik datang, tersenyum ke arah Rain yang masih memeluk putranya tidak mengizinkan ada yang mengambil alih.


"Malam ini kita berangkat, aku ada acara seminar. Selama ada aku jangan sentuh Raja, kamu awasi dia saat aku bekerja terutama kondisi tubuhnya." Rain memberikan peringatan untuk menjaga jarak karena akan menjadi bahan omongan mahasiswanya jika terlalu dekat.


"Maaf Pak Rain, kenapa harus jaga jarak? tugas saya sebagai perawat harus selalu mendampingi." Perawat menatap Raja yang sudah tidur pulas.


"Kamu perawat atau pengawal, jika tidak bisa maka ganti yang lain." Nada bicara Rain sangat dingin, dia tidak memberikan peluang bagi siapapun yang mendekatinya.


Setelah melakukan persetujuan, Rain memutuskan tetap terbang membawa Alex karena Kris ada di luar negeri perjalanan bisnis.


Perawat berjalan di belakang Rain memegang tiang infus Raja, Rain juga membawa dua penjaga yang biasa bertugas mengawasi Alex.


"Pak Rain, boleh saya cek suhu tubuh Raja?" perawat menyuntikkan obat di infus setelah mengecek kondisi si kecil.


"Bagaimana panasnya?"


"Sudah turun, sakit kepalanya juga sudah reda. Raja perut kamu masih mual?"


"Mulut Raja yang mual, dia keluarnya dari mulut." Raja menuntut mulutnya langsung muntah di baju Rain.


Perawat menyentuh dada Rain, langsung ditepis karena tidak ada yang boleh menyentuhnya.


"Biarkan saja," ujar Rain yang membiarkan Raja muntah di bajunya.


Tangisan Raja terdengar, tubuhnya bergetar karena perutnya tidak nyaman. Pramugari berlarian semua menunggu perintah karena Rain menggunakan jet pribadi sehingga ada pramugari khusus.


"Ada yang bisa kita bantu Tuan Rain?"


"Ambilkan air hangat," pinta perawat.


"Papa, Raja tidak mau minum, Raja maunya mainan." Tangan Raja mengusap mulutnya melihat baju Papanya kotor.


Raja meminta pramugari menggedong, tidak ingin duduk bersama Papanya yang busuk. Raja pindah duduk depan, sedangkan Rain masih terdiam.


"Tuan Rain ingin dibersihkan?" tanya perawat.


Rain tidak menimpa berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Raja sudah dijaga oleh tiga pramugari ada yang memberikan mainan juga makanan.


Kepala Rain pusing, melepaskan bajunya sehingga punggung Rain terbuka. Perawat mencuci baju Rain sesekali melihat punggung pria yang sangat lebar dan gagah.


"Buatkan susu Raja," pinta Rain kepada pramugari yang berjaga di belakang.


Rain mengambil jaketnya melihat Raja yang sudah tertawa sambil bermain, menolak makan karena takut muntah lagi.


"Hati-hati infus." Rain merapikan posisi duduk Raja.


Pesawat landing, Rain sudah menyiapkan mobil untuk membawa mereka ke bandara. Raja sudah mulai bermain karena demam turun.


"Papa," panggil Raja memegang tangan seorang pemuda.


"Aku bukan Papa kamu." Michael menatap anak kecil, wajahnya terasa tidak asing.


Beberapa penjaga mendorong roda, Rain juga keluar mengikuti Raja. Kepala Rain menatap pemuda yang berdiri sambil tertunduk karena sedang berpikir.


"Belakang." Rain masuk ke mobil meminta langsung ke hotel.


"Kenapa Pak Rain begitu dingin, apa dia pernah disakiti oleh istrinya sampai begitu cuek."


Beberapa mobil melaju pergi, Michael menatap tajam. Dirinya tahu jika beberapa mobil yang pergi sedang membawa orang penting.


Di dalam mobil Rain memijit pelipisnya, kepalanya mendadak sakit. Tubuhnya juga panas, sakitnya Alex pindah kepadanya.


"Pak Rain kenapa, jika merasa tidak sehat kita panggil dokter," ujar penjaga yang menatap Rain.


"Tidak perlu, ada perawat yang berangkat bersama kita. Nanti tiba di hotel langsung infus saja." Rain menghubungi Kris agar segera menyusul.


"Pa, Om di mana?"


"Masih ada pekerjaan, besok Papa kerja kamu tinggal di hotel." Rain menasihati Raja agar tidak nakal.


"Baiklah Papa, tapi alangkah baiknya jika Papa membawa Raja ke acara seminar itu," pinta Raja berharap bisa ikut.


Tidak ada jawaban, Rain melihat ke arah hotel. Beberapa orang sudah menyambut kedatangannya.


"Kenapa banyak sekali orang yang melayani aku, padahal yang datang hanya dua orang, tapi yang menyambut dua puluh orang." Rain menarik napas panjang.


Langkah Rain diikuti oleh banyak orang, memastikan kenyamanan untuk Rain dan putranya.


"Kalian bisa pergi sekarang, aku hanya seorang dosen biasa bukannya Raja," ucap Rain di depan banyak orang.


"Mereka tidak salah Pa, nama kamu Raja." Tawa si kecil terdengar meminta diantar oleh penjaga ke dalam kamar.


Beberapa orang melangkah pergi, Rain memanggil perawat ke kamarnya untuk meminta bantuan.


"Kepala aku pusing, berikan obat juga infus." Rain duduk di sofa.


"Tuan Rain sepertinya kelelahan, saya cek dulu." Senyuman perawat terlihat karena Rain memang sangat tampan sesuai dengan apa yang orang pernah katakan.


"Minum obat dulu," pinta perawat yang memasukkan obat ke dalam mulut.


"Tolong cek kondisi Raja." Mata Rain terpejam mengistirahatkan sebentar tubuhnya.


Suara tangisan Alex terdengar, Rain langsung berjalan ke arah kamar. Melihat Raja memarahi perawat yang menolak keinginannya.


Tatapan dingin Rain membuat Raja diam, kepalanya tertunduk karena mendapatkan teguran. Rain tidak suka Raja cengeng apalagi hobi mengadu.


Apa yang Rain lakukan demi kebaikannya, tidak seharusnya memaksa perawat untuk melepaskan infus.


"Raja ingin main, jika ada ini tidak bisa."


"Buang semua mainan kamu!" bentak Rain.


Raja langsung tidur, memejamkan matanya. Hatinya sedih karena mainannya disingkirkan tidak boleh disentuh.


Perawat mendekati Rain, menegurnya agar tidak terlalu keras kepada Raja. Dia hanya anak kecil yang tahunya main.


"Pak Rain ...."


"Jangan coba menasihati aku, kamu tidak tahu rasanya perjuangan aku membesarkannya, berusaha membentuk karakternya," sela Rain yang tidak suka ada orang lain yang berlagak tahu soal dirinya.


"Memangnya ke mana ibunya, jika kamu tidak mampu maka carikan dia sosok ibu bukan melampiaskan amarah kamu padanya."


"Dia akan kembali, bukan kembali namun datang. Cepat atau lambat dia pasti akan datang." Rain menarik napas panjang karena sekeras apapun dirinya kepada Raja demi kebaikannya.


***


follow Ig Vhiaazaira