
Tidak diterima diusir Rain, Ratu memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen tanpa peduli dengan Rain yang sedang bekerja.
Dari dalam ruangannya Rain menyadari jika Ratu masih ada di dalam kamar, duduk diam tidak melakukan apapun.
"Dasar perempuan keras kepala," ujar Rain yang penasaran siapa Ratu sebenarnya juga penasaran penyebab dia tidak ingin terikat hubungan dengan siapapun.
Ruangan kerja Rain terbuka, Ratu masih duduk di atas tempat tidur seperti orang yang sedang bertapa.
"Pulanglah, urusan kita sudah selesai. Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
"Kamu belum menagih janji?" tanya Ratu meminta Rain mendekat.
Senyuman Rain terlihat, berjalan mendekat. Tatapan mata Ratu tajam melihat Rain memilih tidur daripada mendekatinya.
Kedua tangan Ratu memeluk erat, memejamkan matanya memutuskan tidur bersama Rain karena keesokan harinya dirinya harus menentukan nasib Miko dan Michael.
Tanpa ragu Rain mengusap kepala Ratu menepuk pelan agar cepat tidur. Meskipun Ratu tidak mengatakan apapun Rain tahu jika hati sedang delima.
"Aku tahu kamu memiliki hati yang baik, tidak tahu apa yang membuat kamu begitu gelap." Pelukan semakin erat membuat keduanya tanpa jarak.
"Jangan mengatakan aku baik, tidak terhitung lagi sudah berapa banyak yang terluka karena aku tetap hidup di dunia ini," ujar Ratu yang menarik napas panjang.
"Ratu, kamu ingin pergi ke mana?"
"Tempat yang menerima keberadaan ku. Orang seperti aku hanya hidup di dalam kegelapan, tidak ada ...." Mata Ratu terbuka merasakan bibir hangat menutup mulutnya tidak memberikan kesempatan Ratu menyeleksi ucapannya.
"Di mana kamu tinggal?" Rain tahu jika dia tidak bisa menahan Ratu untuk tetep tinggal, tidak bisa juga berdiam diri menatap Ratu pergi.
Tangan Ratu menyentuh bibirnya yang terasa perih, belum pernah dirasakan sentuhan lembut seperti yang Rain lakukan.
Keinginan Rain tahu tempat tinggal Ratu tidak mendapatkan jawaban, Ratu membalik tubuhnya membelakangi. Jika Rain tahu di mana tinggal pasti sangat menakutkan.
Ratu tidak ingin orang luar tahu, apalagi Rain yang selalu memenuhi pikiran Ratu, terkadang membuatnya emosi, tapi bisa membuatnya nyaman dan tenang.
Pelukan dari belakang terasa, Rain mendekatkan tubuh keduanya agar tidak ada jarak kembali.
"Apa tempat itu jauh, apa begitu sulit untuk datang ke sana? apa aku bisa celaka jika datang tanpa kamu?" secara tiba-tiba Rain memiliki banyak pikiran dan tanda tanya.
"Kenapa kamu bertanya? tidak biasanya memiliki banyak pertanyaan?"
"Emh, aku ingin tahu soal kamu?"
"Kenapa?" Ratu menatap ke arah Rain yang menatap wajah Ratu tajam.
Senyuman manis terlihat, sibuk bekerja tidak membuat Rain lupa dengan apa yang pernah Ratu ucapkan ingin bermalam.
Pikiran Rain berkecamuk, memikirkan apa yang harus dirinya lakukan jika malam itu datang menghampiri. Haruskah melakukannya, atau tidak pernah melakukannya.
"Kamu lucu sekali Rain, aku tidak akan menuntut kamu," ujar Ratu yang meminta Rain membuang pikirannya yang berlebihan.
Kepala Rain menggeleng, dirinya tidak menemukan jawaban terbaik dari apa yang akan terjadi.
"Kamu takut aku hamil, apa itu akan terjadi?"
"Ya, aku harus tahu di mana kamu tinggal agar bisa memastikan tidak mengambil apapun dariku, dan membawanya." Rain mengerutkan keningnya melihat Ratu tertawa lepas.
Kening Rain ditepuk, Ratu mengambil sebuah spidol menuliskan di lengan Rain alamat tempat dirinya tinggal.
Dari seribu orang hanya satu yang akan menemukan keberadaan tempat tinggal Ratu. Tidak ada yang berani mendekati wilayah Ratu bahkan pemerintah sekalipun.
"Apa kamu yakin bisa datang ke tempat itu, jika iya berarti kamu bisa melihat barang berharga apa yang aku ambil dan membawanya pergi." Lidah Ratu terjulur merasa lucu dengan ekpresi binggung Rain.
"Tidak bisakah kamu menjemput?"
Tawa Ratu terdengar, gemes melihat Rain yang begitu percaya diri akan menemukannya, sebelum Rain masuk dia akan kehilangan nyawa.
Ratu pamit pulang, mereka harus membatalkan rencana untuk bermalam karena Rain tidak ingin dirugikan.
"Tidurlah di sini, aku tidak ingin mengantar pulang, tidak bisa juga membiarkan wanita pergi sendiri." Rain berbaring menatap lengannya.
"Apa aku ini wanita di mata kamu?" Ratu meletakkan kepalanya di dada Rain menatap lengan yang ada tulisan alamatnya.
Rain memunggungi Ratu, tidak ingin melakukan apapun karena takut tidak bisa menemukan keberadaan Ratu.
Ratu melepaskan bajunya meminta Rain menghadapnya, suara teriakkan Rain terdengar langsung lompat dari atas tempat tidur.
"Aw sakit Rain." Ratu mengusap kakinya yang terasa sakit karena diinjak Rain.
Ratu melangkah keluar kamar setelah memasang kancing bajunya, mengikuti langkah Rain yang terhenti.
Tatapan Ratu tajam melihat ada seorang pria yang dikenalnya duduk santai meminta bantuan, Rain juga binggung alasan Miko datang kepadanya.
"Kenapa kamu di sini, bagaimana caranya kamu bisa masuk?" Rain menatap sinis, kebiasaan Ratu tidak menutup pintu rapat mengundang banyak makhluk masuk ke dalam rumah.
"Kebetulan kalian sedang bersama, tolong bawa Michael keluar dari kediaman Albert. Dia melakukan tes DNA, terbukti jika Michael bukan anaknya." Miko berlutut di kaki Rain agar membantunya membawa Michael keluar.
"Albert tidak mungkin menyakiti secara langsung apalagi sudah merawatnya selama lima belas tahun, kecuali dia melakukan salah." Ratu duduk di sofa mengambil ponselnya meminta Lilis standby di depan monitor raksasa untuk melihat keadaan Michael.
Ratu tidak tahu apa anak remaja yang dibesarkan Albert menuruti perintahnya untuk menerbangkan drone mini yang sudah Ratu siapkan.
Belum ada respon dari Lilis, sulit untuk mendapatkan koneksi di kediaman Albert yang sangat ketat.
"Biarkan aku yang mengambil alih." Rain membawa Ratu ke dalam ruangan kerjanya.
Ada layar besar yang langsung terhubung dengan Lilis, Ratu berdiri diam mengizinkan Rain untuk mengambil alih.
Dron dilepaskan, Rain, Ratu dan Miko bisa melihat seisi dalan rumah Albert. Terlihat Albert sedang memukul Michael memintanya mengatakan keberadaan Miko.
Albert ingin mengantarkannya ke neraka, lelaki brengsek yang sudah menipunya selama lima belas tahun.
"Michael, kenapa dia yang disalahkan?" Miko menatap Ratu langsung berlutut memohon untuk membawa Michael keluar.
Konsentrasi Ratu terarah kepada wanita yang dia ketahui sebagai istrinya Albert, wanita yang mengetahui identitas Ratu yang sesungguhnya.
Rain juga fokus kepada wanita yang masih nampak muda, tidak senyum juga tidak menatap sinis. Wajahnya datar saja melihat Michael dipukul.
"Siapa wanita ini?" Rain menunjuk ke arah nyonya Albert.
"Istrinya Albert," jawab Ratu.
"Bukan itu maksudnya aku, siapa dia sebelumnya? dunia juga tahu jika dia nyonya Albert, tapi wajahnya tidak asing sama sekali." Rain memikirkan di mana dia pernah melihat dengan jarak yang sangat dekat.
Kepala Rain terangkat, merasa kaget karena pernah melihatnya di panti asuhan. Rain tidak mengingat apa yang dikatakan kepadanya saat kecil.
***
follow Ig Vhiaazaira