QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
HARUS SEMBUH



Pintu kamar terbuka, Rain melangkah masuk ke kamar menginap Ratu yang sangat mewah seperti rumah mewah.


Tangisan seseorang terdengar langsung memeluk erat Ratu yang sudah hampir dua malam tidak pulang.


Kedua tangan Ratu memeluk balik, mengusap punggung Putri yang menunggu kepulangan kakaknya.


"Ratu ... Ratu," panggil Putri memberikan senyuman lebar.


"Kenapa, sekarang Ratu sudah pulang."


"Ratu, jangan pergi."


Rain menarik napas panjang karena merasa kasihan melihat kondisi Elisha, dia masih sangat muda membutuhkan penjagaan dan kasih sayang.


"Aku mengenal putri, hubungan kita dekat karena itu aku ingin melindunginya." Ratu menatap Rain berharap Rain tidak mencurigai siapa Ratu sebenarnya.


Tangan Rain terulur ingin bersalaman dengan Putri, tapi langkah Putri langsung mundur tidak berani menyentuh siapapun selain Ratu.


"Dia Rain, teman Ratu." Senyuman Ratu terlihat memperkenalkan Rain sebagai temannya agar Putri tidak takut.


Tatapan mata Lilis tajam sudah dirinya duga jika Ratu pasti akan ketahuan karena saat melihat mata Rain dia bisa memahami karater seseorang dengan sangat baik.


Tidak mudah menipu Rain, hanya saja dia bukan seseorang yang suka ikut campur urusan orang lain, lebih suka berpura-pura tidak tahu.


"Tuan Rain ingin minum apa?" tanya Lilis.


"Jus, Putri suka juice. Lilis, Putri boleh minta Juice. Please." Suara Putri memohon agar dirinya juga diberikan minum.


"Apa kondisi dia semakin memburuk?" Rain memperhatikan wajah Putri yang bisa berkomunikasi dengan baik.


"Dia jauh lebih baik dari pertama kita bawa ke sini, tidak pernah teriak lagi hanya saja sesekali dia melamun sambil mengoceh tanpa alasan." Kondisi Putri selalu Ratu pantau agar dia secepat pulih.


Kepala Rain mengangguk melihat Putri yang sudah melamun di dalam diamnya, tatapan mata kosong menunjukkan ekspresi menyedihkan.


Ratu ingin mendekat menenangkan Putri agar tidak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi. Rain menahan tangan Ratu untuk tetap diam.


"Apa dia orang jahat, seseorang yang ada di memori kamu apa mereka jahat?"


"Dia jahat," jawab Putri yang masih bengong.


"Dia, berarti hanya satu orang. Apa tidak ada orang lain, mungkin seorang wanita."


Kepala Putri mengangguk, ada seorang wanita yang selalu datang menemuinya memberikan obat tidur agar selalu terlelap tidak memikirkan hidup yang berat.


Senyuman Rain terlihat, menanyakan sosok wanita yang ada dalam ingatan Putri mungkin saja memiliki rambut panjang sepinggang, berkulit putih selau menggunakan kacamata, high heels yang menggema di dalam ruangan.


"Wanita itu simpanan Albert?" tanya Rain.


"Ya, dia wanita itu, aku tidak tahu siapanya papi. Dia jahat suka pukul dan memaksa Elis minum obat. Dia bersama seorang pemuda." Putri langsung tersadar menatap Ratu dan Rain, tangisan Putri terdengar memeluk Kakaknya.


"Siapa Papi Putri?"


Kepala Putri menggeleng dia tidak bisa menjawab apapun pertanyaan Ratu. Perasaan yang sedih berubah happy melihat jus yang sangat diinginkannya.


Putri melangkah pergi membawa jus ke depan televisi, menonton film kesukaannya sehingga suasana hatinya membaik.


Tatapaan Ratu dan Lilis terarah kepada Rain yang bisa dengan mudahnya bicara dengan Putri padahal selama ini mereka gagal.


"Keburukan orang di masa lalu hanya muncul di bawah sadarnya Elisha, dia memiliki memori yang kelam sehingga tertekan. Tidak mampu mengendalikan sehingga dia memilih melupakannya makanya mengalami depresi." Dugaan Rain benar, penyiksaan Elisha bukan baru, tapi sudah lama dialaminya sehingga batas kesabaran habis.


Tidak mampu melawan maka melupakan pilihan terbaik. Jika gila lebih tenang maka semua orang akan memilihnya.


"Bagaiman kamu bisa memikirkan wanita yang ada dalam ingatan Putri?"


"Aku melihat Aryani, hanya memberikan contoh postur tubuhnya. Dia pasti orang yang selalu Elisha lihat karena hubungan keduanya dekat."


Ratu hanya bisa terdiam sungguh binggung karena Rain bisa menebak, paham apa yang Elisha pikirkan.


"Kamu memiliki pengalaman dengan orang yang depresi?"


Kepala Rain mengangguk pelan, sudah banyak perjalanan yang Rain lewati. Dia sudah bertemu banyak jenis manusia, dari orang baik, berpura baik, jahat, bahkan manusia terkejam sekalipun.


"Dua puluh enam tahun, aku sudah lama hidup, tapi belum menemukan arti bahagia."


"Aku sangat penasaran siapa kamu sebenarnya Rain?" perasaan Ratu mendadak sedih saat Rain mengatakan dirinya juga punya hak bahagia, tapi dia belum mendapatkannya.


"Jangan penasaran siapa aku Ratu, tidak ada yang spesial dari aku. Jika aku mati juga tidak akan ada yang menangis berarti tidak ada yang peduli." Tawa kecil Rain terdengar berharap Ratu tidak pernah menyalakan masa lalunya karena tidak ada yang spesial.


Lirikan mata LIlis tajam, Ratu memberikan ekspresi yang belum pernah dirinya lihat, tidak biasanya Ratu menatap seseorang lebih dari semenit.


Kebiasaan Ratu hanya melihat seseorang sekilas, berbicara saja pandangan tidak berlawanan berbeda dengan Rain yang saling tatap.


"Apa pria ini benar baik, aku tidak menemukan tatapan buruk, hanya melihat pemuda cerdas dan sangat peka," batin Lilis yang berharap jika Rain tidak sebaik yang dia pikir.


Tatapan mata Ratu masih saja melihat wajah Rain, melihat Rain seakan melihat sosok dirinya ada pada orang lain, Ratu pernah berpikir jika dirinya mati tidak akan ada yang menangisinya.


Dirinya akan menghilang seiring berjalannya waktu, tidak akan ada yang mengenalinya karena penjahat seperti Ratu hanya menjadi sampah bagi orang lain.


"Suatu hari aku akan bertanya, tapi nanti sebelum aku pergi meninggalkan negara ini. Aku harap sampai detik itu, kita masih memiliki hubungan baik." Ratu memberikan perintah kepada Lilis untuk mempersiapkan kepergian mereka menemui Aryani.


Dia kunci dari masalah Elisha dan penyebab penyiksaan yang Elisha alami, Ratu tidak akan melepaskan Aryani jika perlu lidahnya akan ditarik paksa keluar.


Mata Rain terbelalak kaget, bisa Ratu berpikir menarik lidah keluar begitu menakutkan lebih mengerikan dari kasus mutilasi.


Tawa Putri terdengar membawakan Rain buah agar makan bersamanya, tanpa menolak Rain mengambil satu.


"Kamu menyukai buah ini, lalu kenapa berbagi?"


"Putri kenyang, Putri banyak makan." Tangan Putri mengelus perutnya yang sudah buncit isi makanan.


"Putri pasti sembuh, Putri harus berniat di hati Putri untuk pulih. Nanti tidak perlu minum oba lagi. Kak Rain hanya ingin mengatakan jika masa lalu memang sakit, tapi masa lalu tidak bisa terulang kembali. Paham jika begitu berat, perlahan saja untuk melepaskan beban berat yang sedang kamu pikul." Rain mengusap punggung Putri, menenangkannya agar perlahan meletakkan bebannya.


"Putri sayang Ratu." Pelukan Putri ke arah Rain.


"Aku Rain, kamu pasti sangat menyayangi Ratu, jadilah orang pertama yang akan menangis bukan karena kehilangan Ratu, tapi menangis jika dia sedikit saja terluka agar Ratu sadar tidak boleh terluka karena ada kamu yang akan sakit." Kedipan mata Rain terlihat membuat Putri tertawa terbahak-bahak.


Senyuman Ratu juga terlihat, bahagia mendengar tawa Putri yang nampak tidak ada beban pikir.


***


follow Ig Vhiaazaira