
Kedua tangan Rain memeluk tubuh kecil putrinya yang sedang beristirahat di atas tubuhnya karena lelah bermain.
"Papa," panggil Pelangi masih tetap tengkurap.
"Hmm," jawab Rain pelan.
Kepala Pelangi terangkat, menatap wajah Papanya yang masih terpejam. Menangkup wajah menggunakan kedua tangannya, berusaha membuka mata Papanya agar terbuka.
Mata Rain terbuka, melihat senyuman putri cantiknya yang sedang manja, dan sudah pasti ada maunya.
"Papa," panggil Pelangi kesekian kalinya.
"Apa, kamu mau apa sekarang? Tangan baru saja dibalut, sudah bertingkah lagi. Kamu perempuan Sea, seharusnya bertindak lebih anggun," tegur Rain melihat bibir Putrinya sudah monyong.
Baju Rain ditarik agar bangun dari tidurnya, terpaksa Rain bangkit duduk merapikan rambut Putrinya yang berantakan.
"Ya sudah Sea mau apa?"
"Papa, ayo kita pergi ke pantai," pinta Pelangi.
"Tidak," jawab Rain yang kembali tidur.
Suara Pelangi merengek terdengar, menggosokkan wajahnya ke arah wajah Papanya. Menarik bulu-bulu tipis di kening Papanya.
Ratu yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum, seandainya Pelangi wanita lain mungkin sudah ditendang karena mengambil lelakinya.
"Siapa saja yang ingin pergi?" tanya Rain pelan.
"Hore, boleh pergi." Pelangi langsung berdiri di atas tubuh Papanya berjalan pelan, lompat ke atas ranjang terlihat sangat bahagia.
Kedua tangan Pelangi bertepuk kuat, masih lompat-lompat meksipun Ratu sudah menegurnya takut jatuh.
Suara dentuman melawan lantai terdengar, Rain yang memejamkan mata langsung bangkit mengangkat tubuh Pelangi yang sudah tersungkur jatuh.
"Sudah Mama katakan, masih tidak dengar." Kepala Ratu menggeleng melihat Pelangi menangis tanpa air mata.
Bibir dan hidung berdarah, dagunya merah sampai kening juga merah karena terbentur lantai cukup kuat.
"Aduh, kepala Pelangi pusing."
"Sudah Papa katakan jadi perempuan harus anggun jangan pecicilan." Rain memarahi Pelangi yang langsung lari keluar mencari kakaknya yang sedang sibuk di dalam kamar.
Pintu kamar Raja terbuka, ada banyak peralatan yang berhamburan di kamar, Pelangi sampai binggung ingin berjalan di mana.
"Kakak, Pelangi jatuh lagi," teriakan Pelangi terdengar kencang.
"Bagian mana yang sakit? Sini Kakak kiss." Raja mengecup kening Pelangi pelan, dagunya juga agar cepat sembuh.
"Kakak lagi apa?"
"Kerja," jawab Raja yang sedang sibuk mengotak-atik banyak komputer.
Kepala Pelangi mengangguk, menyentuh layar komputer mengangumi kepintaran Kakaknya dalam menciptakan teknologi modern.
Pintu kamar terbuka, jantung Raja berdegup kencang merasakan kecemasan juga kepanikan. Jika sampai Papanya yang masuk, maka habis dirinya.
"Apa ini Raja?" Rain terkejut melihat kamar putranya sudah mirip kapal pecah karena berhamburan.
"Raja akan segera merapikannya Pa," balas Raja yang langsung berdiri menggedong adiknya untuk berdiri di atas ranjang.
Kepala Rain menggeleng menatap kamar putranya yang sangat luas, tapi tidak mampu menampung barang-barangnya hingga berserakan.
"Kenapa banyak barang di sini?"
"Tugas sekolah Pa," jawab Raja panik.
"Jangan bohong," tegur Rain yang mengambil beberapa senjata yang sudah di modifikasi.
Rain baru tahu jika Raja jarang tidur karena sibuk dengan aktivitas barunya, membuat senjata juga merakit bom yang sangat berbahaya.
Kepala Ratu terlihat, memanggil suaminya memberitahu jika ada yang mencarinya. Rain langsung keluar meninggalkan kedua anaknya.
"Tadi ada Pelangi Ma, Raja lupa mengunci kembali."
"Ini semua gara-gara Pelangi, selalu saja membuat orang lain dalam masalah.
Pelangi tidak peduli dengan teguran Mamanya lanjut tidur di ranjang kakaknya yang sangat luas.
"Di mana Pelangi?"
"Tidur Ma, biarkan saja." Raja tersenyum gemes melihat kening Pelangi benjol.
Suara seseorang mengejutkan terdengar, Michael berjalan masuk dan terkejut melihat kamar Raja.
"Uncle Michael akhirnya pulang." Raja langsung berlari memeluk Michael erat sampai naik ke punggung karena sangat rindu.
Tawa Michael terdengar, sangat merindukan Raja karena satu kali pun dirinya belum pulang sejak menuntut ilmu untuk menjadi dokter yang hebat.
Ratu memeluk erat Michael, hampir meneteskan air matanya karena bisa melihat Michael kembali.
Meskipun mereka memiliki masa yang kelam, tapi Ratu sangat menyayangi adik-adiknya. Bayangan Putri melintas seakan-akan ada bersama mereka.
"Apa kabar kamu?"
"Seperti yang Kakak Ratu lihat, aku kembali dengan selamat." Michael tersenyum lebar memeluk kakaknya yang sangat dirindukannya.
Rain tersenyum karena dirinya yang menyambut kepulangan Michael, merasa bahagia melihat anggota keluarga mereka kumpul.
"Di mana si kecil yang waktu itu membuat Raja dan Kak Rain sakit?" Michael melihat ke arah tangan Raja dan Ratu menujuk ke arah ranjang.
Michael langsung berlari mengangkat tubuh Pelangi yang sedang asik tidur, gadis cantik yang mirip dengan Raja.
"Hei gadis nakal, siapa nama kamu?" Michael memeluk Pelangi, mengangkat tubuhnya ke atas.
"Namanya Rosea Pelangi, dipanggil Rainbow." Tawa Raja terdengar memeluk Michael dari belakang.
Mata Pelangi terbuka, melotot besar saat melihat orang asing mengangkat tubuhnya ke atas langit.
"Penculik, tolong ada penculik. Suara Pelangi melengking, memukuli wajah Michael terus minta tolong.
Kepala Rain dan Ratu menggeleng, Pelangi menjambak rambut Michael yang sudah teriak kesakitan.
Raja tertawa berguling di atas ranjang bersama Michael dan Pelangi. Tawa kedua pria terdengar merasa gemes melihat gadis kecil cerewet dan kasar.
"Siapa kamu?" Langit melangkah masuk melihat ke arah Michael.
Tatapan Michael binggung, melihat anak kecil seumuran Pelangi, memiliki wajah tampan dan tenang.
"Apa dia Putranya Kakak Lilis?" Michael menatap Raja yang mengangguk membenarkan.
Senyuman Michael terlihat, meminta Langit naik ke atas ranjang. Langit langsung mendekati berkenalan dengan Michael.
"Siapa Paman besar ini?" Pelangi menatap Michael yang melihat ke arahnya.
"Perkenalkan aku Dokter Raffa, Dokter terbaik di negeri ini. Jika kamu sakit, maka aku yang akan mengobati." Michael memperkenalkan dirinya.
"Siapa yang mau sakit, Pelangi tidak mau. Kenapa tidak Paman saja yang sakit," ujar Pelangi sinis.
Tawa Michael terdengar, mengacak-acak rambut Pelangi yang sudah lancar bicara baru bisa bertemu.
"Perkenalkan aku Rosea Pelangi, Putrinya Rain yang menguasai tempat ini, dan Mamaku Ratu yang memimpin tempat ini, aku punya Kakak namanya Raja, dia lelaki terbaik di tempat ini, ada satu lagi Kakak namanya Langit, tapi dia cengeng sekali, Pelangi juga punya banyak pengawal dan pelayan, jangan coba-coba macam-macam karena aku bisa menghacurkan kamu." Jari telunjuk Pelangi menujuk wajah Michael, memberikan ancaman membuat Michael gemes.
"Kamu hanya Putri di sini, sedangkan aku orang yang akan meneruskan tahta Rain dan Ratu, sekarang aku kembali untuk mengambilnya, kamu mau apa?"
Wajah Pelangi nampak terkejut, duduk manis tersenyum ke arah Michael, berharap mereka bisa berteman baik dan selalu akur.
Tepaksa Pelangi memasang wajah memelas agar mendapatkan cinta dari Unclenya.
***
Follow Ig Vhiaazaira