QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SERANGAN



DI kamar apartemennya Rain mulai bekerja untuk menemukan pelaku sebenarnya yang menjadi penyebab pelecehan yag Elisha alami.


Seseorang datang mendekat, Rain tidak melirik sedikitpun kepada Krisna yang ternyata tingga di rumahnya selama Rain tidak ada.


"Papa Clen yang memperkerjakan Miko, apa ada masalah?"


"Miko orang yang menjebak kalian, dia orang yang sudah menipu tuan Clen, lakukan cara agar kita bisa membongkar kejahatan Miko." Rain sibuk berkutik di komputernya.


Krisna tertunduk duduk di pinggir ranjang tidur, memikirkan memori apa yang dirinya lupakan sampai tidak tahu apapun.


"Kenapa aku tidak tahu padahal aku ada di sana." Tangan Krisna memukul kepalanya yang begitu bodoh.


Panggilan dari Papa Krisna masuk meminta segera pulang dan berhenti bergaul dengan Rain, jika ingin aman harus bersama dengan Miko sehingga tidak ada yang akan menyakitinya.


Tanpa pamitan kepada Rain, Krisna langsung pergi bersama Miko, Rain juga hanya diam saja tidak bertanya apalagi menghentikan.


"Apa yang sebenarnya terjadi di malam itu?" Rain mengambil topi dan jaketnya untuk pergi ke lokasi kejadian.


Hari di mana dia tidak mendampingi Krisna dikarenakan tuan Clen mengirimnya ke luar negeri untuk rapat.


Sampai di lokasi, Rain menatap beberapa wanita yang bisa menemaninya, Rain tidak melihat satupun pelayan wanita yang berada di kamar VVIP.


"Mereka semua di pecat, atau dilenyapkan?" Rain melihat seorang pria yang mengantarkan minuman karena sempat terlihat tangannya menggunakan tato di beberapa rekaman.


Rain memesan kamar yang sama, memilih satu wanita yang menurutnya tidak menyimpan banyak rahasia.


"Bisa pesankan minuman kepada pria bertato kupu-kupu di pergelangan tangannya." Rain bicara sangat lembut kepada wanita seksi yang duduk di sampingnya.


"Oh tentu," balasnya.


Senyuman Rain terdengar, dia setia menunggu meskipun pelayan pria akan terlambat karena berada d kamar VVIP yang lain.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?'


"Dua tahunan," balas wanita penghibur yang duduk di samping Rain.


Obrolan terdengar santai, wanita penghibur mencoba menggoda Rain, tapi pemuda yang disangka meminta kepuasan hanya ingin ditemani.


"Kamu tidak butuh kepuasan, berarti ada tujuan lain?"


"Sebenarnya aku hanya ingin informasi," balas Rain dengan senyuman kecil.


"Tempat ini tidak menjual informasi."


Kepala Rain mengangguk, dia tidak mengiginkan informasi penting hanya aja ada kabar tidak mengenakan hatinya dengan kabar kekasihnya yang sudah menghilang beberapa bulan silam.


Mereka tidak bertengkar apalagi bermasalah, tapi secara tiba-tiba tidak bisa berkomunikasi kembali.


"Kabar terakhir yang aku dapatkan dia bekerja di sini, sakit saat tahu seseorang yag dicintai bekerja sebagai penghibur, tapi aku terlalu mencintai dia." Kepala Rain tertunduk tidak sanggup melihat wanita di sampingnya.


"Siapa kekasih kamu, jangan mencintai terlalu berlebihan jika kamu tidak ingin tersakiti." Punggung Rain dirangkul, mengusap pelan agar bisa tenang.


Rain menyebutkan ciri-ciri salah satu wanita penghibur yang cukup familiar di beberapa rekaman yang memperlihatkan sekumpulan anak konglomerat berkumpul termasuk Krisna dan Elisha.


Wanita yang bersama Rain langsung ingat jika wanita yang hilang dipecat dan dipindahkan di luar negeri, tidak pernah memberikan kabar apalagi kembali.


"Tidak pernah kembali, jadi di mana dia?"


"Tidak ada yng tahu, lebih baik kamu lupakan dan memulai hidup lagi." Wanita penghibur melihat pelayan lelaki yang membawakan minuman.


"Silahkan di minum Tuan." Pelayan mempersilahkan untuk minum beberapa minuman yang dibawa.


Tanpa basa-basi, Rain langsung membicarakan kejadian di dalam ruangan yang dipenuhi oleh anak konglomerat.


Pelayan langsung menggeleng, mengatakan tidak tahu apapun. Rain masih ingat jelas sebelum dirinya pergi kamar terakhir yang dikunjungi Krisna, dan dia harus pergi atas perintah Tuan Clen.


"Saya tidak tahu apapun Tuan," ujar pelayan meyakinkan.


"Kamu satu-satunya orang yng tidak dikeluarkan dari tempat ini karena tidak ketahuan, benarkan?" Rain tahu jika yang diasingkan hanya pelayan dan para wanita penghibur, tapi satu pelayan yang mengantarkan minuman tidak ketahuan.


Keadaan langsung hening, Rain beranjak dari tempat duduknya meninggalkan uang untuk membayar minuman.


"Tolong lepaskan saya," pinta pelayan yang takut jika dirinya dilaporkan.


"Jawab apa yang aku inginkan, maka rahasia kamu aman." Nada bicara Rain begitu dingin membuat pelayan pria ketakutan.


Pelayan mengangguk, dia melihat ada seorang wanita yang datang bersama asistennya, tapi ditinggalkan begitu saja.


Seluruh orang mabuk berat, dan tidak terkendali ada satu wanita yang hampir di lecehkan, tapi diselamatkan oleh seorang pria yang juga dalam keadaan mabuk.


"Apa pria itu dia?" Rain menunjukkan foto Krisna.


"Iya, tapi pemuda itu sempat pergi lalu datang lagi, berkelahi dengan temannya."


"Lalu apa yang terjadi dengan keduanya?"


"Mereka pergi, sepertinya ke hotel." Pelayan menunjukkan hotel yang berada di sekitar karena tidak menggunakan kendaraan yang membawa keduanya.


Senyuman Rain terlihat, mengucapkan terima kasih dan tetap diam seumur hidupnya karena jika sampai orang lain tahu maka hidupnya akan sekarat.


Pelayan mengangguk, dia akan tetap diam seumur hidupnya sesuai perintah Rain. Dia juga merasa kasihan dengan wanita malam yang dijadikan pengganti.


"Ada wanita lain yang ...." Rain menujukkan video.


"Iya Tuan, tapi dia hanya wanita penghibur." Pelayan sangat yakin jika wanita yang pergi tidak ada sampai detik terakhir karena setelah beberapa jam terjadi keributan sampai beberapa wanita malam ditarik keluar keesokannya diasingkan.


Rain langsung bergegas ke hotel terdengar, menunjukkan sesuatu kepada penjaga untuk menemukan nama orang yang menyewa kamar di hari yang sama saat Krisna lupa segalanya.


Rekaman CCTV juga berhasil Rain dapatkan, Krisna jatuh tersungkur begitupun dengan Elisha. Keduanya dibantu oleh pelayan hotel untuk masuk kamar, setelahnya tidak ada yang tahu apa yang terjadi.


Rekaman CCTV keesokan harinya udah di hapus, Rain duduk santai di kursi mengotak-atik handphonenya mencoba mengembalikan data yang dihapus agar dia tahu siapa yang menjemput Krisna.


"Apa yang kamu lakukan di sini Rain, ssudah larut malam." Miko berdiri di belakang Rain.


Cepat Rain mengunci seluruh datanya, menatap Miko tenang. Melihat tatapan dingin, Miko melayangkan pukulan kuat ke arah Rain sampai terpental.


"Jangan bilang kamu sedang menyelidiki malam itu, Tuan Clen mengatakan kamu tidak suka ikut campur, lalu ini apa?" Miko menginjak tangan Rain yang memegang handphonenya.


Ponsel Rain disita, tendangan kuat menghantam kepala Rain hingga keluar darah dari mulut dan hidung.


"Aku akan segera melenyapkan kamu jika berani ikut campur." Leher Rain dicekik erat membuatnya tidak bisa bernapas.


Teriakan pelayan Hotel terdengar membuat Miko berhenti karena Rain udah muntah darah tidak membuka matanya lagi.


"Pria satu ini tidak bisa dianggap remeh, bahkan Krisna juga menurut kepadanya." Miko melangkah pergi setelah bermalam dengan wanita penghibur.


***


follow Ig Vhiaazaira