QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
DITOLAK



Sudah larut malam, pesawat yang disiapkan oleh bawahan Ratu sudah menunggu. Rain menggedong Raja yang sudah tidur, satu tangannya menggenggam erat tangan Ratu berjalan beriringan.


Beberapa orang berbadan besar mengikuti dari belakang, melihat punggung Rain yang tidak asing sama sekali.


"Silahkan masuk Nona dan Tuan."


"Kalian tidak perlu duduk di belakang, satu ruangan saja semuanya." Rain menatap para penjahat yang terkejut.


Michael langsung menatap Lilis karena Rain baru saja menggabungkan, sehingga tidak ada privasi sama sekali.


Mata Lilis berkedip membiarkan, semua yang kembali bersama juga bukan orang baru kecuali Paman Lion.


"Berikan Raja kepadaku," pinta Ratu karena kasihan tidurnya terlalu nyenyak.


"Tidak apa, Raja sekarang sudah berat sekali."


"Anak usia lima tahun yang beratnya hanya lima belas kilo sudah membuat kamu mengeluh, lemah sekali." Kepala pria berambut panjang mengeleng.


Tangan Rain menahan Ratu agar tetap di tempatnya untuk beristirahat, tidak harus berdebat hanya karena berat Raja.


Pilot memanggil Rain ke depan, saat suaminya jauh Ratu langsung berdiri menggeluarkan belati.


Dada pria yang menegur Rain megelurkan darah, Ratu tidak terima ada yang merendahkan suaminya apalagi orang asing.


"Ratu, nanti Rain melihat kamu," tegur Lilis agar Ratu berhenti.


"Satu kali lagi kalian bicara kasar kepadanya, pesawat ini aku ledakan." Ratu mencabut belati langsung melangkah ke toilet membersihkan bekas darah.


Tarikan napas Lilis terdengar, seharusnya lebih menghargai. Rain sudah ikut secara baik-baik, bahkan tidak bermalam setelah menikah.


"Aku tahu kalian kuat, tapi hargai lelaki yang Ratu cintai. Dia juga manusia, butuh cinta dan kasih sayang. Apa salahnya Ratu ingin bahagia?" Bagi Lilis pengorbanan Ratu sudah cukup demi membela kaum lemah, dia juga berhak menemukan bahagianya.


Semuanya langsung tertunduk, ucapan Lilis membuat hati tidak nyaman. Ratu berhak bahagia bersama lelaki yang dicintainya.


"Di mana Ratu?" Rain menatap Lilis yang menunjuk ke belakang.


"Ada apa?" Ratu berjalan dengan senyuman manis duduk di samping suaminya.


Tangan Ratu memeluk lengan Rain, perlahan mata Ratu terpejam karena usapan lembut di pipinya.


Perjalanan panjang dan jauh, semua orang tertidur karena lelah seharian pesta, lanjut lagi pergi ke negera yang cukup jauh.


Mata Rain terbuka, matanya tidak bisa tidur. Melihat Raja tidur bersama Krisna, Ratu juga tidur lelap dan tenang.


"Kenapa Tuan tidak tidur?" seseorang pramugari mendekati Rain menanyakan apa yang dia butuhkan.


"Tidak perlu, jangan sampai ada yang masuk ke ruangan." Rain melangkah meninggalkan kursinya masuk ke dalam ruangan tertutup.


Lama Rain berada di dalamnya bersama Co-pilot, Rain melihat perjalanan mereka menuju negara yang terkenal dengan kekayaan alamnya.


"Siapa pemimpin negara ini? apa pernah ada kasus kejahatan kelas atas?"


"Pernah, tapi sudah lama sekali. Pemimpin dari kelompoknya meninggal dunia digantikan oleh putrinya yang baru berusia belasan tahun." Co-pilot tidak banyak tahu hanya mendengar cerita ada seorang pemimpin wanita yang memiliki wajah cantik, tapi hanya anggotanya yang tahu wajahnya.


Pemimpin mafia sering berada di tengah-tengah masyarakat, tapi tidak ada yang mengenalinya.


"Dia sangat kuat sehingga sulit dijatuhkan, tidak banyak orang yang datang ke negera ini karena dunia tahu sudah menjadi rumahnya penjahat."


Kepala Rain mengangguk, hanya orang normal yang menolak datang karena tidak ada urusan, tapi bagi para pebisnis menjadi surganya.


"Tidak ada orang susah hidup di negara ini, semua orang cuek hanya sibuk mengurusi hidup masing-masing." Rain menutup layar kembali ke tempat duduknya.


Senyuman Rain terlihat menatap seorang pria yang wajahnya pucat karena ditusuk oleh Ratu.


"Kamu dari mana Rain?"


"Tidurlah." Kecupan Rain mendarat.


"Apa Tuan Rain sangat mencintai Nona?" tanya pria yang duduk di samping Rain.


Bisa saja Rain langsung membawa Ratu pergi, memikirkan keegoisan sendiri karena tidak ingin ambil pusing, tapi sayangnya Ratu tidak akan bahagia


Dia memiliki tugas dan kewajiban menjaga dan menjamin bawahan berada dalam keadaan aman, teratur juga tidak meninggalkan bisnis hingga hancur dan berantakan.


"Di setiap tempat pemimpin itu hanya satu, jika dia banyak maka akan ada perebutan, perbedaan pendapatan sehingga berantakan, tapi pemimpin tidak akan berguna jika tidak mampu menjaga dan melindungi bawahannya." Kedatangan Rain hanya ingin menyapa dan memperkenalkan diri jika dirinya milik Ratu.


Ratu milik Rain, juga bawahannya. Rain tidak akan mengambil Ratu secara paksa, begitupun bawahan Ratu harus menghargai dan menghormati hak Rain sebagai suami.


"Suatu hari kamu akan membawa Ratu pergi?"


"Setidaknya kami sudah berpamitan," balas Rain santai memejamkan matanya butuh istirahat.


Hembusan napas Rain panjang, belum sempat tidur sudah mendengar suara Raja mengomel mencari sesuatu.


"Di mana ya? kenapa Raja lupa, padahal belum tua." Raja mengelilingi setiap kursi tanpa takut melihat pria berbadan besar.


"Apa yang kamu cari?"


"Kalau Raja tahu namanya tidak mungkin mencari sendiri. Minggir." Raja mengecek setiap orang sampai bangun semua.


"Cari apa sayang? sini bicara sama Mama." Ratu memeluk Raja yang sudah duduk dipangkuan.


"Ma, di mana mainan Raja waktu di hotel. Sebelum tidur Raja pegang mainan." Kedua telapak tangan dibuka menunjukkan tangannya kosong.


"Mungkin di koper sayang, nanti Mama cari." Ratu menatap ke arah pramugari yang mengumumkan jika pesawat akan segera landing.


Di bandara sudah penuh orang berkumpul dengan mobil mewah, tidak ada yang berani mendekat karena masyarakat tahu ciri-ciri orang dari hutan kastil.


Rain berjalan di depan sekali bersama Ratu, Raja digendong oleh Michael yang berada di belakang sekali karena Raja masih sempat bercanda bersama para pengawal.


"Paman nama siapa, kenapa jelek sekali?" tawa Raja terdengar.


"Kita tahu kamu tampan, tapi anak satu ini lucu sekali." Para pengawal gemes melihat si kecil yang sudah berlari kencang.


Di depan mobil ada banyak yang membungkukan badan, Raja juga membungkukan badannya merasa senang ada banyak temannya untuk bermain.


"Di perbatasan ada penyambutan untuk pernikahan Nona Ratu," ucap penjaga yang mempersilahkan Ratu masuk mobil.


Perasaan Ratu tidak enak persiapan apa yang dilakukan, tidak biasanya ada perayaan kecuali hari kematian Kakek angkat Ratu.


"Jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja." Rain mengenggam tangan Ratu terus meyakinkan.


"Tidak biasanya ada sambutan, aku harus mengirim Lilis kembali lebih dulu."


"Sayang, percaya sama aku tidak akan ada yang menyakiti kita." Rain menatap tajam ke depan karena belum sampai perbatasan sudah ada yang menghentikan.


Suara penolakan kedatangan Rain dan putranya terdengar, Ratu langsung keluar melangkah mendekati ratusan bawahan yang menentang Ratu.


Sebuah mobil mewah berhenti, pria tua yang sangat Ratu hormati keluar. Meskipun usianya sudah delapan puluhan masih bisa berjalan tegak.


"Apa yang Paman lakukan?"


"Bawa Ratu kembali, dan usir suaminya." Paman menolak ada orang baru yang berada dari luar, apalagi menikahi Ratu yang harus memimpin bisnis gelap.


"Langkahi mayatku." Ratu mengeluarkan senjata.


Pintu mobil terbuka, Rain berjalan ke arah Ratu. Merangkul pundak istrinya yang tersulut emosi.


Pria tua terkejut melihat pemuda di samping Ratu, langsung berlutut menundukkan kepalanya.


"Kenapa Paman berlutut?" Ratu menatap Rain yang terlihat tenang.


***


follow Ig Vhiaazaira