
Tangan Rain menyentuh sebuah dinding, secara otomatis langsung terbuka. Rain hanya berdiri di luar saja, menatap dari luar karena tidak layak masuk.
Bukan dirinya pemilik kastil, maka harus mendapatkan izin untuk masuk ke dalam. Tidak ada yang berubah karena hanya Rain yang bisa masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Ratu mempersilahkan.
Senyuman Rain terlihat mengikuti Ratu masuk ke dalam, pertama kalinya Ratu melihat ruangan gelap gulita di balik dinding.
"Sayang, apa ini memang gelap?"
"Ada lampu." Tangan Rain bertepuk membuat seluruh ruangan terang.
Satu-persatu komputer hidup, Ratu memeluk lengan Rain karena ada layar besar yang hidup menunjukkan seluruh area yang ingin Rain ketahui.
"Apa ini kamu yang menciptakan?"
"Ratu, kenapa kamu tidak terkejut sama sekali?"
Senyuman Ratu terlihat, tidak ada alasan dirinya harus terkejut. Ratu bangga menjadi istri Rain yang memiliki kemampuan luar biasa.
Banyak orang yang mengatakan jika Rain sangat menakutkan, tapi bagi Ratu sesuatu yang membanggakan.
"Aku hanya memikirkan satu hal, sehebat apa papa kamu hingga Sinta begitu hancur kehilangannya." Setelah tahu siapa Rain barulah Ratu sadar jika dirinya akan melakukan hal yang sama seperti Sinta.
Lelaki hebat dan penuh kasih sayang, wanita mana yang rela kehilangannya. Sekalian kematian sebagai pemisah, tetap saja sangat berat.
Pelukan Rain sangat erat, tangisannya terdengar karena sangat takut hidup di dunia yang penuh kekejaman.
"Aku sangat membenci Sinta, dia membawa ke dunia, tapi menelantarkan." Rain sedih setiap kali Clen marah mengungkit dirinya yatim piatu.
Awalnya Rain berpikir hanya bercanda dengan merusak komputer, tapi dirinya dipukuli hingga dijadikan sebagai korban perdagangan anak.
"Kamu pasti ketakutan selama di kurung?" Ratu mengusap air mata suaminya.
"Ya, aku ketakutan. Di dalam kurungan selama tiga bulan aku mendengar semua pembicaraan mereka soal bisnis, semua itu terekam di kepala." Rain mencoba melarikan diri, mengambil kontrol di dalam bangunan hingga sistem semuanya rusak.
"Satu gedung hancur hancur?"
"Bukan hanya satu gedung, tapi semuanya rata. Semua orang ketakutan padahal aku tidak sengaja." Rain membuat bom tanpa tahu bahayanya.
Selama pelarian Rain menolong kakek yang kuat, dia membawa seorang gadis yang terluka.
Kakek orang yang membantu Rain mempelajari kemampuannya, meminta Rain membedakan hal yang berbahaya dan tidak.
"Aku mampu menguasai teknologi dengan cepat, merakit senjata juga membuat peledak. Kakek memanfaatkan kecerdasan aku, hingga menguasai beberapa wilayah." Rain menguasai Kastil dan dipastikan akan menjadi penerus.
"Kenapa kita tidak pernah bertemu? kamu tinggal bersama Kakek cukup lama?"
"Aku tidak tahu pasti, hanya sempat menolong kamu yang terluka. Kakek membawa kamu ke kota untuk pendidikan." Rain tidak pernah bertanya soal Ratu karena hanya bertemu dengan kakek saat dia membutuhkan Rain.
"Kakek mengkhianati kamu?"
Kepala Rain mengangguk, saat banyak wilayah yang mampu ditaklukkan dirinya dicampakkan, Rain diminta pergi.
Semua orang mengatakan kemampuannya berbahaya, dan hanya menjadi petaka. Rain memutuskan kembali kepada Madam.
"Pergi dari tempat ini bukan karena aku berbahaya, Kakek meminta aku pergi karena selalu dimanfaatkan. Sejak itu aku berjanji untuk tutup mata, telinga juga mulut, cukup aku yang tahu segala, DNA tidak perlu memberitahu siapapun." Rain mempelajari kemampuannya hingga tahu banyak hal, tapi tidak pernah memberitahukan kepada siapapun.
Senyuman Ratu terlihat, seharusnya sejak awal sudah curiga siapa Rain. Dia bisa tahu banyak hal, padahal tidak melakukan apapun.
Kemampuan Rain dalam menguasai teknologi, juga otaknya yang cepat bekerja sehingga menjadikan pria jenius.
"Bisa berantem tidak?"
"Ternyata kita imbang, kamu boleh cerdas dalam pemikiran, aku hebat dalam bela diri."
"Kemampuan bela diri kamu tidak akan mampu mengalahkan kelicikan aku." Rain tersenyum melepaskan seluruh kabel karena tidak bagus lagi.
Langkah Ratu mengikuti dari belakang ingin tahu rencana Rain kedepannya, apa dia akan membawa Ratu keluar dari dunia kejahatan, atau Rain yang akan memimpin.
"Sayang, aku lebih pilih membuat anak daripada bisnis. Tenang saja hidup kalian terjamin, tiga tahun ini aku lelah bekerja," ucap Rain bercanda.
"Raja sudah jadi Pa, memangnya Papa ingin membuat anak apa?" Raja melangkah masuk langsung duduk di kursi.
"Bagaimana jika Raja tahu jika dia Adik kita?" bisik Ratu pelan.
"Jangan sampai tahu, aku ingin hubungan kita tetap seperti ini. Malu aku punya adik nakal seperti itu," canda Rain membuat Ratu tertawa kecil.
Ekpresi Raja jelek melihat alat elektronik yang tidak bagus lagi, banyak debu dan telihat kuno. Laptopnya jauh lebih bagus dan canggih.
"Idih jelek sekali, Raja tidak suka berada di sini." Raja langsung berlari keluar karena bau udara pengap.
Ratu mengulangi lagi ucapan, dia ingin tahu rencana Rain kedepannya. Apa yang dirinya impikan setelah berumah tangga.
"Apapun keputusan kamu, Ratu ikut."
"Keinginan aku tidak banyak Ratu, ingin berada di tempat yang menerima keberadaanku." Rain sudah terlalu banyak dibuang, setidaknya dia ingin punya tempat dan diterima siapapun yang melihatnya.
Tangan Ratu mengenggam erat, meminta Rain kembali ke posisi awal. Dia yang sudah mendapatkan kastil, menguasai banyak wilayah. Seluruh bawahan yang Ratu miliki semuanya milik Rain.
"Tidak ada tempat ini jika tidak ada kamu, lakukan apa yang dulu kamu rencanakan." Ratu siap berada di belakang Rain untuk mendukungnya.
"Tujuan aku datang hanya ingin mengambil kamu."
"Ayolah Rain, aku ingin tahu tempat ini jika berada di bawah pimpinan manusia jenius. Apa kamu bisa semakin kaya?" Kecupan Ratu mendarat berkali-kali, membuat Rain memijit pelipisnya.
Deheman Rain terdengar, pernikahan mereka masih termasuk pengantin baru. Rain juga manusia biasa yang bisa tergoda.
"Ayo ke kamar," pinta Rain menarik tangan Ratu.
"Mau apa Pak Bos?"
Beberapa orang menunggu di luar, Rain ingin pergi ke kamar bersama Rain. Membiarkan Ratu berbicara.
"Tuan Rain, bisa kita bicara?"
"Sayang, aku membersihkan kamar dulu, kalian bicara saja di ruangan pertemuan. Jangan sentuh Rain, sedikit saja dia lecet melayang nyawa kalian," ancam Ratu dengan tatapan mematikan.
Ratu melangkah pergi ke arah kamarnya, membiarkan Rain pergi ke ruangan pertemuan yang berada di aula.
Lilis membungkukkan kepalanya, menatap para tertua di wilayah mereka meminta bicara bersama para ketua di wilayah lain.
"Di mana Krisna?"
"Bersama Michael," jawab Lilis.
Senyuman Rain terlihat, meminta Lilis tidak mengikuti mereka. Rain bisa mengatasi apa yang terjadi karena tahu apa yang diinginkan dari dirinya.
Tanpa ada yang bicara, Rain bisa menebak dari mimik wajah yang gelisah, takut juga tidak nyaman.
***
follow Ig Vhiaazaira