QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
KOTA BARU



Sesuai permintaan Raja, Rain membawanya untuk bekeliling hutan sambil bermain-main. Raja bosan berbulan-bulan dikurung di Kastil.


"Pa, kita akan pergi berburu?"


"Tidak, Papa tidak tahu cara berburu," jawab Rain singkat.


Senyuman Ratu terlihat duduk di samping Rain yang masih makan, tangan Ratu memeluk lengan tidak ingin lepas.


"Kenapa Papa tidak bisa melakukan apapun? Bertarung tidak, main tembakan tidak bisa, sekarang berburu juga tidak bisa." Raja protes karena Rain selalu pergi ke kota mengurus pekerjaan selama berhari-hari, lebih banyak waktu diluar daripada bersamanya.


"Raja benar, kenapa kamu sibuk sekali?" Ratu tidak ingin berpisah terus, ingin bersama apapun yang dilakukan.


"Aku kerja sayang, banyak hal yang harus aku lakukan. Selama tujuh hari, hanya tiga hari di luar, sisanya bersama kalian."


"Bohong, Senin, selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat Papa tidak ada di rumah. Hanya dua hari bersama kita, Senin pergi lagi." Tatapan Raja tajam meminta Lion menyiapkan peralatan untuk berburu.


Sendok Rain terletak di piring, menatap wajah Ratu yang cemberut. Raja yang masih kecil saja bisa tahu, paham betapa sibuknya Papanya di luar apalagi Ratu yang membutuhkan suaminya.


"Bagaimana kondisi Krisna dan Lilis, apa mereka hidup bahagia di luar?" Ratu berusaha tersenyum, meksipun hatinya juga kecewa.


"Maafkan aku, sampai lupa jika ada kalian menunggu." Rain meminta sedikit lagi waktu agar Raja dan Ratu bisa hidup bebas.


Pelukan Ratu sangat erat, rasa sepinya tidak sebanding dengan rasa lelah yang Rain rasakan. Hanya hatinya yang egois ingin selalu bersama.


"Aku tahu apa yang kamu lakukan terbaik untuk kami." Ratu mengecup bibir suaminya.


"Terima kasih sayang, hari ini kita temani Raja hutan berkeliaran." Rain terseyum merangkul istrinya menemui Raja yang masih kesal.


Langkah Lion pelan, menggedong Raja yang terlihat sedih. Menatap mata si kecil yang sangat tajam.


"Raja, Papa bisa melakukan banyak hal, sesuatu yang tidak bisa orang lain lakukan. Papa Raja sangat dihormati, pekerja keras, seharusnya Raja bangga." Lion meminta Raja lebih dewasa lagi agar terbiasa mandiri, tidak bergantung kepada Mama Papanya.


"Raja hanya ingin melakukan banyak hal bersama Papa," ujar Raja sedih.


"Lakukan bersama Paman. Raja nanti akan menjadi seorang Kakak, harus kuat dan bisa melindungi adik-adik Raja, seperti Papa yang melindungi Raja dan Mama." senyuman Lion terlihat mengusap kepala Raja yang tersenyum juga.


"Kapan Raja bisa punya adik, di mana Raja bisa mendapatkannya?"


Lion langsung terdiam, menurunkan Raja mengumpulkan bawaan untuk berkeliling hutan.


Tawa Raja terdengar langsung berlari ke arah Krisna yang akhirnya datang kembali, Kris juga berlari menyambut kesayangannya.


"Om Kris, Raja kangen sekali." Kedua tangan Raja memeluk erat tidak ingin melepaskan.


"Om juga rindu, makanya datang ke sini." Kris menggedong Raja, mengusap rambutnya lembut.


Bibir Raja monyong, tidak ingin bicara dengan Lilis karena sudah megambil Om Kris, lama sekali tidak dikembalikan.


Senyuman Lilis terlihat mengusap kepala Raja, tubuhnya membungkuk saat melihat Ratu datang bersama Rain.


"Apa kabar Nona Ratu, Lilis kembali setelah melihat matahari terbit dan terbenam, menyelam dan memanjat gunung, Lilis juga berbelanja dan menonton layaknya manusia normal. Aku kembali." Lilis menundukkan kepalanya.


"Kalian sudah menikah, apa Krisna meniduri kamu sebelum mengucap janji?" Ratu menatap tajam Lilis yang mengangkat kepalanya perlahan.


"Kenapa pertanyaan kamu seperti interogasi penjahat?" Kris melangkah masuk merangkul Lilis.


"Aku rasa sudah, kenapa aku tidak diundang, apa aku orang asing bagi kalian?" teriakkan Ratu terdengar membuat semua orang menutup telinganya.


Senyuman Lilis terlihat, memeluk Ratu sangat erat karena dirinya bahagia menghabiskan waktu beberapa bulan bersenang-senang di luar rumah.


"Kalian menikah tidak mengundang aku?" Ratu mendorong Lilis yang langsung membuat Rain dan Krisna sama paniknya.


Lion berhasil menahan tubuh Lilis, langsung melepaskan tangannya membungkukkan badannya meminta maaf.


Tangan Lilis memegang perutnya, Ratu tidak tahu jika ada janin yang sedang tumbuh di rahim Lilis.


"Sayang, jangan didorong, ada bayi di perut Lilis?"


"Bagaimana bisa, sejak kapan?" Ratu menatap tajam, dia yang lebih dulu menikah saja belum ada isinya.


Tangan Lilis menujukkan empat jarinya, dirinya sudah mengandung empat Minggu. Dokter sudah memastikan karena sebelum pulang sempat periksa.


"Bagaimana bisa, aku yang lebih dulu belum hamil? ini semua salah kamu, kenapa selalu keluar rumah, kita tidak punya waktu untuk membuatnya." Pukulan Ratu mendarat membuat Rain meringis kesakitan.


"Mama, tidak anggap Raja, memangnya aku lahir dari mana?" Raja binggung karena anaknya Lilis melalui perut, tapi dirinya tidak memiliki kebersamaan di perut.


Ratu berjongkok, memastikan kepada Raja jika dia lahir dari rahim Ratu, di dalam tubuh Raja ada darahnya. Tidak peduli ada atau tidaknya kebersamaan saat mengandung Raja, tetap saja dia darah daging Ratu.


"Kamu Putranya Mama," ucap Ratu menjelaskan.


"Mama masih sayang Raja tidak jika punya adik baru?" Raja mendengar dari gurunya jika memiliki saudara jangan bertengkar.


"Tidak peduli berapa banyak anak Mama, kamu tetap putra pertama Mama dan Papa. Kamu cinta pertama kami, jangan pernah berpikir perasaan iri." Ratu dan Raja menyatukan hidung.


"Raja, ayo kita berburu." Rain sudah siap.


"Ayo Pa, Mama minggir Raja harus pergi ke hutan." Raja berlari kencang menyusul Papanya yang sudah keluar rumah.


"Ikut." Ratu juga berlari ingin pergi berburu.


"Nona, Lilis juga ingin ikut."


Beberapa mobil sudah disiapkan, Ratu dan Raja sudah masuk mobil. Rain yang menyetir, Raja duduk di belakang bersama Lion, sedangkan Ratu disamping suaminya.


Ratu melarang Lilis ikut demi keselamatan anaknya, dia tidak berkeliaran selama satu tahun, setidaknya Ratu masih bebas mengikuti suaminya dan meladeni putranya yang aktif.


"Tidak masalah jika ingin ikut ada banyak rumah yang sudah dibangun." Tidak ada lagi tinggal di goa dan pohon. Rain menbuat rumah khusus, siapapun boleh tinggal.


Ratu terkejut saat keluar Kastil, ada banyak jalan yang sudah diaspal, rumah yang sudah dibangun sebagai tempat tinggal penjaga.


Sepanjang jalan penuh rumah yang berukuran sama, di depan rumah ada banyak orang yang membungkukan kepala.


"Sejak kapan ada anak-anak di sini?" Ratu mendengar suara bayi.


"Pejahat juga manusia, mereka bisa memiliki anak istri. Aku membangun rumah dan gedung untuk tempat kita tinggal dan berkerja." Rain pastikan sepuluh tahun ke depan hutan akan berubah menjadi kota elite.


Semua orang akan menemukan kehidupan, tidak ada yang bisa menyingkirkan mereka, tidak peduli peraturan negara, Rain menciptakan kota mereka sendiri yang makmur dan sejahtera.


***


Follow Ig Vhiaazaira