
Waktu berlalu begitu cepat, Rain dan Ratu tidak menyangka jika apa yang mereka impikan perlahan tercapai.
Tatapan Ratu melihat gedung mewah rumah sakit berdiri kokoh, pusat perbelanjaan juga sudah berdiri dan bisa dimasukan oleh banyak orang secara bebas.
Rain hanya menjaga ketat bagian Kastil dan pasar gelap, tidak mengizinkan orang luar mendekat.
"Apa kamu puas melihat tempat ini sekarang?" tanya Ratu dengan nada pelan karena suaranya habis teriak-teriak ulah putrinya.
"Belum, kita masih membutuhkan puluhan tahun untuk maju. Setidaknya dalam beberapa tahun ini semuanya berjalan lancar," jelas Rain yang ingin menciptakan negara yang maju.
Kepala Ratu mengangguk, tangannya memeluk lengan suaminya untuk menuju sekolah Raja, menunggu Putranya pulang sekolah.
"Di mana tuyul satu itu, apa dia pulang sekolah lanjut bermain?" Ratu menatap ke arah gerbang sekolah yang sangat mewah.
Beberapa siswa keluar, begitupun dengan Raja yang keluar sambil menendang tasnya, bibir Raja berdarah kembali karena selalu bertengkar dengan anak para petinggi dan pejabat.
Seorang pria berbadan besar, tinggi, dan berwibawa sudah berdiri tegak menunggunya untuk segera kembali ke Kastil.
"Tuan muda, saya kembali." Mata Lion berkaca-kaca tidak menyangka bisa melihat Raja kembali.
"Siapa kamu, bagaimana kamu bisa tahu soal aku?" Raja melihat sekitarnya yang tidak ada satupun pengawal dari kastil karena Raja tidak diizinkan mengungkap identitas.
Tangan Lion menyentuh kepala Raja, tapi langsung diserang secara tiba-tiba. Lion sangat cepat menghindar karena Raja mencari celah untuk berlari.
"Tuan muda ini Paman Lion," panggilannya pelan.
Langkah Raja terhenti, langsung balik badan berlari ke arah Lion langsung memeluknya erat sambil meminta digendong.
Senyuman Rain terlihat, sudah cukup dirinya menghukum Raja karena Putranya sudah banyak belajar cara menghargai orang lain, tidak sombong dengan apa yang dia miliki juga siap mengulurkan tangannya untuk membantu.
"Paman, maafkan Raja Paman. Gara-gara Raja Paman terusir," sesal Raja karena selalu melawan peraturan Papanya.
"Bukan salah tuan muda, saya dikirim karena memang harus menjalankan tugas. Apa kabar Tuan muda?" Lion menyentuh bibir Raja yang berdarah.
Senyuman Raja terlihat, dirinya sudah biasa berkelahi, bersekolah di tempat yang penuh dengan anak para penjahat, pejabat, bahkan orang-orang bergelar bukan hal yang mudah.
Raja yang dianggap hanya anak buruh tidak bisa melaporkan, hanya bisa melawan dan bertahan.
"Raja, ayo kita pulang." Rain sengaja menjemput Raja secara pribadi.
"Papa, tumben sekali ke sekolah Raja." Pelukan Raja erat langsung masuk mobil mengecup pipi Mamanya yang mengusap kepala Raja.
Rain menepuk pundak Lion, memintanya juga masuk ke dalam mobil karena mereka harus kembali.
Senyuman Raja sepanjang perjalanan terlihat karena Papanya menepati janji saat berusia sepuluh tahun Raja akan mendapatkan kebebasan, dan didampingi oleh pengawal pribadinya.
"Mulai sekarang lebih hargai orang yang lebih tua. Anak tidak selamanya salah, terkadang orang tua yang salah, tapi sebagai anak Raja harus pandai menghargai," ujar Rain mengajari Putranya untuk bisa mengendalikan keadaan.
Rain menyadari jika Raja mengikuti jejak dirinya, dia tidak menyukai bela diri lebih senang dengan kesendirian mengontak-atik barang sehingga menjadi barang berbahaya juga bermanfaat.
Ratu bahkan menemukan cairan racun yang Raja buat, jika terhubung ke listrik dan mengenai manusia sangat berbahaya.
"Raja sudah boleh diumumkan sebagai penerus dari Ratu, aku ingin kamu melindunginya," pinta Rain kepada Lion.
"Nanti saja Pa, tunggu Raja berusia tujuh belas tahun. Saat Raja sudah bisa segalanya, maka Raja sudah siap menjadi pemimpin yang adil."
"Benarkah, jika itu keputusan kamu Papa dan Mama setuju." Rain mengusap kepala putranya lembut.
Saat tiba di rumah suara teriakkan seorang wanita terdengar, Ratu langsung garuk-garuk kepala melihat Pelangi berlari hanya menggunakan Pampers diikuti oleh puluhan maid.
"Nona, Tuan dan Nyonya Ratu pulang," ujar pelayan.
Pelangi langsung naik kembali berlari ke arah kamarnya karena takut kepada Papanya yang pasti marah, pelayan kembali berlari mengejar.
"Kakak Langit, cepat tutup pintu." Pelangi langsung masuk untuk berganti baju.
Suara Rain memanggil Pelangi terdengar, memintanya segera keluar dari kamar. Si kecil yang berusia tiga tahun sedang aktif bermain, tapi Pelangi bukan aktif lagi namun kelewatan aktif.
"Pasti dia sedang ganti baju, lihat sayang tingkah Putramu." Ratu menujukkan hasil CCTV jika selama mereka pergi, Pelangi membuat seluruh orang yang ada di Kastil kewalahan.
Kepala Rain geleng-geleng, tidak bisa bicara lagi. Apapun yang Pelangi lihat, selalu dilakukan dengan caranya yang tidak sesuai.
"Apa ini?" Rain melihat Pelangi menangkap ikan di kolam, lalu membanting sampai diduduki barulah diberikan kepada kucing.
Suara high heels terdengar, kepala Ratu dan Rain menoleh ke arah suara menatap Pelangi keluar kamarnya menggunakan gaun mewah, pita di kepala juga tas kecil yang dipegangnya.
"Mau ke mana Dek?" tanya Raja yang baru selesai ganti baju.
"Tidak ada, Pelangi hanya ingin duduk di hadapan Ayahnya dan Ibunda Ratu," jawab Pelangi yang sudah duduk dengan anggun.
Rain hanya bisa terdiam melihat Putri nakalnya yang bagaikan seorang Putri, dihadapan kedua orangtuanya sangat pendiam, tapi aslinya tidak ada lemah lembutnya.
"Apa ini Pelangi, kenapa kamu berlari hanya menggunakan Pampers?" Ratu melemparkan ponselnya di atas meja.
Kepala Pelangi melihat ke arah layar, terkejut melihat ada tuyul sedang berlarian tanpa baju.
"Pelangi tidak tahu Ibunda, siapa dia?" Pelangi tersenyum sangat manis.
Teriakan Ratu terdengar karena merasa geli dengan cara bicara Pelangi, dia berlaga seperti hidup di zaman kerajaan.
"Kakak Raja, sudah waktunya latihan bela diri." Langit sudah siap dengan bajunya.
"Libur dulu, pinggang Raja sakit. Kamu saja yang pergi." Raja tersenyum ke arah adik lelakinya yang juga langsung buka baju tidak jadi latihan karena tidak suka berkelahi.
Pelangi langsung berdiri, mengangkat gaunnya untuk pergi ke ruangan latihan karena dirinya tidak diberitahukan untuk latihan.
"Pelangi, mau ke mana kamu?"
"Latihan Papa," jawab di kecil terburu-buru.
"Papa tidak mengizinkan kamu latihan bela diri lagi, lebih baik kamu belajar cara masak atau menggambar dan melukis." Rain menatap tajam Putrinya yang mulai ingin melawan.
"Tidak, Pelangi mau atihan. Papa aja, jagan kejam begitu ama Pelangi." Suara rengekan terdengar, berpura-pura menangis agar dikasihani.
Kepala Ratu dan Rain tertunduk, tidak bisa berkata-kata lagi melihat ekpresi Pelangi yang memelas apalagi suaranya yang dibuat kekanakan.
Raja menggedong Adiknya duduk dipangkuan, memintanya untuk makan baru latihan.
"Kakak laja, tayang tidak ama Pelangi?"
"Sayang, Kakak sayang Pelangi dan Langit," jawab Raja pelan.
"Baiklah, Pelangi juga sayang Kakak, tapi tidak sayang sama Langit." Lidah Pelangi terjulur mengejek Langit yang sedang makan.
***
Follow Ig Vhiaazaira