
Lilis menatap pengawal yang diperintahkan untuk kembali, kabar Ratu akan menikah sudah sampai sehingga membuat suasana menjadi gaduh.
Tidak ingin menjadi keributan hingga Lilis meminta pengawal mengontrol, pernikahan Ratu hanya akan diumumkan oleh Ratu.
"Apa banyak yang tidak terima Ratu menikah?" Kris berdiri di samping Lilis.
"Ya, pasti akan ada keraguan jika Ratu menikah. Ini hal yang kami cemaskan." Kepala Lilis menunduk, tidak berani menatap Kris sama sekali.
"Lanjutkan, aku pergi dulu bersama Raja," pamit Kris yang masih menunggu bocah tengil.
"Boleh aku ikut?"
"Tumben, kamu tidak ingin menjaga Ratu? aku pikir kamu mencintai Rain, mungkin saat ini hati kamu sedang patah. Ikut saja, aku traktir es krim, kata Raja penyembuh segala penyakit." Kris tersenyum melihat Rain turun bersama Ratu dan Raja.
Si kecil berlari kencang, mengandeng tangan Kris yang sudah siap. Ratu menatap Lilis yang nampak canggung bersama Kris.
"Jika kamu ingin pergi bersama Kris, silahkan," ucap Ratu yang paham pikiran Lilis.
Senyuman Lilis terlihat, membungkukkan tubuhnya mengucapkan terima kasih. Begegas lari mengejar Krisna dan Raja.
Desiran angin kencang terasa, Ratu menatap Michael yang berlari seperti dikejar hantu karena ingin ikutan pergi.
"Kamu juga berhasil membesarkan Michael, dia anaknya Miko, tapi kamu besarkan layaknya adik." Rain menggenggam jari jemari Ratu, berjalan bersama menuju kamar.
"Aku tidak punya pilihan, dia tidak memiliki siapapun, dan matanya tidak menunjukkan sisi jahat."
Di balkon kamar Rain dan Ratu bisa melihat kota, gedung yang tinggi, kendaraan yang terlihat sangat kecil.
"Kenapa kamu tidak melenyapkan Hera?" Rain merasa sangat terganggu, berharap sekali Ratu membuangnya jauh.
Tawa Ratu terdengar, tidak menyangka jika Rain memiliki pikiran yang sangat buruk. Dia sangat risih dengan keberadaan Hera sejak awal bertemu, jika bukan karena Raja tidak mungkin ada komunikasi antara mereka.
"Kenapa harus aku yang menyingkirkannya? lakukan saja sendiri," ledek Ratu yang mengejek Rain.
"Yakin harus aku?" Rain memeluk Ratu dari belakang.
Kepala Ratu mengangguk, dia tidak ingin melakukan sesuatu dengan emosi lagi, apalagi soal persaingan cinta.
"Kamu belum menjawab bersedia tidaknya kita menikah?"
Ratu terdiam, ada hal penting yang harus Rain ketahui. Siapa Ratu dan apa pekerjaannya yang sebenarnya.
"Apa kamu tahu pekerjaan aku?" tanya Ratu sambil menahan tangan Rain agar tetap memeluknya.
Tidak ada jawaban karena Rain memang tidak tahu, tidak ingin bertanya juga. Jika Ratu sudah siap maka dia harus mengatakannya sendiri, tanpa ditanyakan.
"Aku pemimpi mafia, kita tinggal di tengah hutan belantara sebuah kota besar. Hampir seluruh isi kota berada dalam kendali, tidak ada yang namanya pemimpin jujur mereka ada di bawahku." Ratu menatap tangan Rain yang melepaskan pelukannya.
Tangan Rain menyentuh balkon, menatap ke langit yang cerah. Wajahnya tidak terkejut, lebih tepatnya cuek karena Rain pasti sudah menduganya.
"Mafia, apa kamu menjalankan bisnis ilegal?"
"Iya, kita melakukan perdagangan senjata, obat, pemalsuan data, pengiriman barang dengan harga murah, pencucian uang, bahkan perdagangan manusia, kecuali protitusi dan penjual wanita juga anak-anak. Kita hanya menerima tubuh yang diberikan secara sukarela." Ratu membelaku larangan untuk anak-anak dan wanita kecuali seorang pejahat.
Bisnis yang Ratu jalankan, tidak jauh dari pembunuhan, bahkan pembantai tanpa jejak. Selama klien menginginkan kematian dan yang tuju jahat maka Ratu akan mengirim orang pilihan untuk melakukannya.
"Apa kamu bisa menikahi wanita yang tangannya berlumuran darah?"
"Cuci aja menggunakan air, itu jawaban Raja?" Rain tertawa kecil menatap tangan Ratu.
"Rain, tidak lucu. Aku ingin hidup bersama kamu, tapi apa yang bisa aku lakukan?" Ratu sadar berita pernikahan tidak disambut baik, ada banyak ketakutan jika Ratu sampai menikah.
Bibir Ratu manyun, Rain tidak bisa bicara serius. Ratu berada dalam kegelisahan, sedangkan Rain terlihat sangat santai.
"Rain, kamu dalam bahaya," ujar Ratu memperingatkan.
"Kamu cukup menjawab bersedia atau tidak, sisanya urusan aku." Rain melipat kedua tangannya di dada.
Tarikan napas Ratu panjang, kebiasaan Rain yang tidak bisa dirinya lawan. Menanggapi apapun santai, tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Ratu.
"Aku bersedia, kapan kamu akan menikahi aku?"
"Secepatnya karena kita tidak bisa lama di sini, aku memiliki banyak pekerjaan."
"Rain, bagaimana jika mereka membunuh kamu?" Ratu menatap Rain yang memegang kedua pundaknya.
Mata Rain tajam, mendekatkan wajahnya. Tidak ada yang harus Ratu khawatirkan, Rain seorang lelaki tugasnya melindungi dan membahagiakan.
Bagaimana caranya membahagiakan Ratu, jika melindungi diri sendiri saja tidak mampu. Rain harus menjamin keselamatan Ratu dan Raja.
Kepala Ratu mengangguk, memeluk erat Rain. Dirinya siap apapun yang akan terjadi, tidak ingin kehilangan lagi maka maju menjadi pilihan terbaik.
Keputusan keduanya untuk menikah sudah disepakati, Ratu dan Rain akan mengucap janji pernikahan meksipun akan melawan bawahan Ratu yang meragukan siapa lelaki yang Ratu pilih.
"Kenapa kamu tidak bertanya soal aku Ratu? tanyakan masa kecilku juga pekerjaan, tapi kamu tidak menginginkan," guman Rain pelan sambil tersenyum.
Selama hidup Rain tidak pernah mengatakan kepada siapapun siapa dirinya, orang hanya tahu Rain lelaki pekerjaan keras, dan sangat cerdas.
"Kamu ingin melihat baju pengantin?"
"Nanti, aku punya urusan penting." Ratu tersenyum mengecup bibir Rain sangat lama langsung melangkah pergi.
Rain mengerutkan keningnya, baru tahu jika calon istrinya mengincar Hera. Dia tidak tahu jika wanita yang ingin dia celaka tidak bisa diajak bermain.
"Haruskah aku menghentikan Ratu, tapi aku juga risih dengan Hera." Suara ledakan terdengar, Rain hanya diam saja tidak menoleh sedikitpun.
Tawa Ratu tertahan, melihat Hera yang putih karena ledakan serbuk beracun. Wajahnya akan hancur sulit disembuhkan sekalipun operasi.
Dia lancang masuk ke dalam kamar Rain, padahal Rain pindah ke kamar Ratu dan Raja masih saja dikejar terus.
"Beberapa hari aku biarkan masih tidak menyerah, sekarang rasakan." Senyuman sinis terlihat.
"Tolong, Rain. Wajahku panas." Hera berteriak kuat memanggil nama Rain, namun tidak ada sahutan.
Beberapa penjaga berlarian, membantu Hera keluar dari kamar karena dia masuk dengan cara memaksa, membayar resepsionis untuk mendapatkan kunci.
"Kenapa kamu masuk kamar penjahat kelas atas?"
"Rain pindah ke kamar ini? tolong bawa aku ke dokter, wajahku perih."
Tangan Ratu melambai, penjaga langsung membungkuk di hadapan Ratu memberikan hormat.
Ratu memerintah untuk pergi, membawa Hera ke ruang sakit agar bisa melihat wajahnya yang hancur.
"Sayang, sudah selesai?" Ratu memeluk dari belakang.
"You happy?" tanya Rain melihat Ratu mengangguk.
***
follow Ig Vhiaazaira