QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
KEJARAN



Tangan Ratu mengusap wajah adiknya, tidak tega melihat Putri yang mengalami luka tusukan demi dirinya.


Di mana janji setia yang pernah Lilis ucapkan untuk memberikan nyawanya kepada Ratu sebagai tanda kesetiaan.


Ratu tahu perasaan manusia bisa berubah, tapi tidak disangka rasanya begitu menyakitkan.


"Nona Ratu, minum obat dulu," pinta pengawal memberikan obat yang diresepkan oleh dokter.


"Bagaimana keadaan Putri, aku sangat mencemaskannya."


"Kondisi Nona Ratu jauh lebih parah dari Putri. Nona kehilangan banyak darah, jika Nona terus begini maka nyawa Nona taruhannya." Pengawal meminta Ratu berbaring agar lukanya bisa segera pulih.


Luka tusukan memang tidak melukai bagian dalam tubuh, tapi tiga tusukan di tempat yang berbeda sungguh mengerikan.


Lilis masih duduk berlutut bercucuran air mata karena tidak bisa melindungi Ratu hingga dirinya terluka.


"Minta pasukan datang ke sini, aku harus melenyapkan Petro secepatnya, tidak peduli Clen maupun Miko mereka harus mati," perintah Ratu terdengar bahkan dia akan menyingkirkan Krisna dan Rain secara bersamaan.


Kepala Lilis terangkat merasa tindakan Ratu tidak benar, dia boleh menghancurkan Clen, tapi Rain tidak ada sangku pautnya.


"Kenapa Nona ingin membunuh Rain, dia yang membuka jalan untuk Nona agar bisa sejauh ini. Rain yang dirugikan karena dia dianggap pengkhianat bagi keluarga Petro dan juga Nona Ratu." Lilis menceritakan jika Clen ingin melenyapkan Rain karena memiliki banyak rahasia.


Kecelakaan yang menimpa Rain bukan karena dirinya berkhianat, tapi dikarenakan memiliki banyak rahasia yang disembunyikan baik dari Petro maupun Albert.


"Nona jangan menjadikan Rain pengkhianatan, dunia tidak adil untuknya."


"Pergilah dari sini, jika ucapan kamu benar maka pergilah. Kamu lindungi Rain dan kita akan bertemu di akhir." Ratu tidak ingin memukul, apalagi membunuh Lilis karena sudah banyak jasanya.


Jika melepaskan orang kepercayaan solusi terbaik dan akhir ikatan mereka maka Ratu melepaskan Lilis secara hidup.


"Jangan usir Lilis Nona, seumur hidup aku ingin mengabdi dan selalu di sisi Nona. Lilis salah karena melakukan ini logika sudah tidak berjalan karena Rain membutuhkan bantuan." Tangisan histeris Lilis terdengar tidak sanggup bertahan tanpa Ratu.


Dirinya lebih pilih ditembak mati daripada meninggalkan Ratu, Lilis sangat menyesali perbuatan.


Tangan Lilis memegang belati, menyerahkan kepada Ratu jika memang merasakan sakit yang sama bisa membayar kesalahannya maka Lilis siap mendapatkan berkali-kali tusukan.


"Jika Nona ingin Lilis mati sekarang maka akan Lilis lakukan, Lilis siap mati hari ini juga."


Tawa kecil Ratu terdengar meminta pengawal berjaga di luar karena keadaan mereka belum Aman. Miko belum mati dan Albert pasti sedang mengejar keberadaan mereka.


"Berikan perintah agar aku bisa melepaskan rasa bersalah," pinta Lilis yang siap menusuk dirinya sendiri.


Putri membuka matanya, mendengar jelas pembicaraan Lilis dan Ratu. Putri berusaha untuk duduk menatap wajah pucat kakaknya.


"Jangan terluka Lilis, Kak Ratu butuh kamu. Lihatlah kondisi Ratu saat ini, dia sedang kesakitan, kamu harus menyelamatkan Ratu dari kejaran Miko dan Albert." Putri meneteskan air matanya meminta maaf karena dirinya keadaan semakin buruk.


Senyuman Ratu terlihat meminta Putri tidak mencemaskan dirinya karena Ratu akan seger pulih.


Mata Ratu terpejam, berbaring di tempat yang tidak layak. Putri mengusap rambut kakaknya tidak kuasa menahan tangisannya.


Pelukan Lilis erat kepada Putri yang tidak kenal siapa sebenarnya Ratu, lahir dari ibu yang sama dan ayah yang sama, tapi keduanya dipisahkan sejak bayi.


Ratu kenal siapa Putri, tapi Putri tidak kenal baik siapa Ratu bahkan tidak ingat rupanya. Berbeda dengan Ratu yang selalu mencari tahu wajah adiknya setiap tahun dan sangat menyayangi Putri.


"Kakak Ratu akan segera membaik, Putri jangan menangis lagi," pinta Lilis menenangkan.


"Dia belum sadar, keadaanya juga memprihatinkan," balas Lilis yang juga belum tahu kondisi Rain.


"Hancurkan mereka yang sudah menyakiti Queen dan Rain." Tangan Putri tergempal, dia akan membalaskan dendam kepada papanya yang begitu kejam.


Tidak ingin menganggu istirahat Ratu, Putri dan Lilis melangkah keluar untuk mengatur strategi keamanan.


Mata Ratu terbuka, dia berpikir bocornya informasi karena Rain berkhianat. Ratu salah menyangka jika sebenarnya Ratu yang menyebabkan Rain dalam bahaya.


"Apa yang terjadi di luar keinginanku," ujar Ratu yang memegang perutnya.


Suara tawa terdengar dari ruangan Aryani jika sudah dirinya peringatan Ratu tidak akan menang.


Perasaan Lilis tidak enak, pasti ada pengkhianat di antara para penjaga. Tidak mungkin orang yang membocorkan informasi keberadaan Ratu orang jauh.


"Tempat ini tidak aman, kamu harus membawa Ratu dan Putri pergi. Aku akan mencari pengkhianatnya." Tatapan Lilis tajam melihat Aryani yang nampak tidak ada rasa takut lagi.


Seluruh penjaga menolak menjalankan perintah Lilis setelah apa yang terjadi kepada Ratu. Jika mereka tidak pergi dari penjagaan mungkin hal buruk bisa terhindari.


Lilis hanya menguntungkan dirinya sendiri bahkan menyelamatkan lawan, Lilis tidak punya pilihan selain meminta Ratu yang bertindak.


Suara langkah kaki terdengar, Ratu melangkah keluar meminta semua pasukannya berkumpul.


Pasukan Albert mendekat, Ratu tahu jika seseorang membocorkan keberadaan mereka demi menyelamatkan Aryani.


"Tutup mata kamu Putri, kalian semua perhatian wanita yang akan diselamatkan oleh Albert." Ratu menunjuk ke arah Aryani yang tertawa lucu melihat Ratu terluka, tapi masih berusaha berdiri tegak.


Teriakan satu orang terdengar saat tiga peluru menembus jantung Aryani hingga tewas, Ratu tidak membutuhkannya lagi karena akan ada pengganti baru.


"Ternyata kamu pengkhianatan." Ratu menatap pengawal, Lilis juga terkejut sambil memeluk Putri agar tidak takut.


Seorang pengawal dilempar tepat dihadapan Ratu, Lilis menatap pengawal yang tidak dirinya kenali.


"Ikat dia bersama dengan Aryani yang sudah mati, Kamu tetap di sini Lilis untuk menunggu kedatangan pasukan Albert." Ratu meminta Lilis bertarung sendiri melawan bawahan Albert yang ingin menolong Aryani.


Saat pasukan lawan datang, Lilis harus menembak pengawal yang menyusup ke dalam tim di depan lawan.


Ratu tidak peduli, Lilis bisa lolos atau mati di tangan pasukan Albert. Baginya Lilis pantas mati setelah pengkhianatan nya.


"Lilis siap menjalankan tugas, maafkan Lilis Nona."


"Kakak, biarkan penjaga melindungi Lilis, jangan bunuh Lilis dengan cara seperti ini, dia bukan pengkhianatan hanya menolong Rain." Putri berlutut di kaki Ratu berharap kakaknya belas kasihnya sedikit saja.


Lilis tersenyum mengusap kepala Putri, dirinya berjanji akan segera kembali dan bergabung ke dalam pasukan.


"Nona Putri jangan khawatir, Lilis pasti kembali dalam keadaan hidup. Nona Ratu tidak kejam, tapi Lilis berhak mendapatkannya." Senyuman Lilis tulus membantu Putri untuk berdiri agar segera pergi bersama Ratu.


Semuanya pergi meninggalkan Lilis dan Ratu pengawal yang berkhianat, sedangkan Aryani sudah meregang nyawa karena mendapatkan tembakan tanpa suara di dadanya.


Hanya ada satu senjata di tangan Lilis yang berisikan peluru, perkiraan pasukan yang datang lebih dari seratus mustahil dirinya bisa lolos karena pengawal harus mati.


***


follow Ig Vhiaazaira