QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
PAGI PERTAMA



Pintu dikunci rapat, Rain tahu jika satu pengacau pasti akan muncul mencari mamanya.


"Kenapa dikunci, nanti Raja mencari?" Ratu baru selesai mandi mendekati suaminya yang berguling di atas tempat tidur.


"Sengaja, malas aku melihat dia menempel terus bersama kamu, waktu untuk aku kapan?"


"Rain kamu tidak sedang cemburu dengan anak sendiri?" tawa Ratu terdengar merasa lucu dengan tingkah laku suaminya yang iri kepada anaknya sendiri.


Kepala Rain mengangguk menarik tangan Ratu meminta waktu untuk dirinya. Rain juga ingin dipeluk dan dimanjakan.


Tangan Ratu terentang memeluk suaminya yang begitu dicintainya, Ratu mengecup bibir mengigit pelan membuat mata Rain terpejam.


"Inginnya sejauh mana, ini sudah siang. Kita lakukan malam pertama nanti malam." Ratu mengecup hidup ingin keluar kamar.


"Tidak bisa, aku ingin sekarang." Baju Ratu terangkat, tangan nakal sudah masuk ke dalam meremas pelan.


Belum melakukan apapun suara ketukan pintu terdengar, Raja memanggil Mamanya meminta susu.


Dua orang yang sedang asik berdua sengaja mengabaikan Raja, Rain ingin mendapatkan haknya sebagai suami.


"Kak, Raja berisik sekali, Ratu tidak bisa fokus."


"Abaikan saja sayang, dia bisa berhenti sendiri." Tangan Rain membuang baju keduanya dari atas tempat tidur.


Mata indah Ratu tepat ada di mata Rain, keindahan dan kecantikan yang sangat Rain kagumi.


"Boleh aku melakukannya?"


"Lakukan saja, tapi bagaimana jika aku wanita yang sudah tersentuh?"


"Boleh aku tanya siapa pelaku utamanya?"


Tawa Ratu terdengar, cepat ditutup meggunakan tangan. Rain bodoh sekali, dirinya tidak punya waktu bercinta, pekerjanya terlalu banyak sehingga tidak mungkin melakukannya.


Satu-satunya orang yang ingin sekali Ratu rasakan berhubungan dengannya hanya Rain, tapi ada saja alasan gagal.


"Kali ini tidak akan gagal, melakukan pertama kali katanya sakit." Rain tidak mengizinkan Ratu menjawab, mengunci tubuh Ratu yang ada di bawahnya untuk tidak bergerak lagi.


Suara Ratu terdengar, cengkraman tangannya kuat ke arah punggung Rain. Rasa perih dilehernya terasa apalagi perih di bagian bawah.


Ratu ingin mengeluh dan menghentikan, tapi ada banyak rasa sakit yang sudah dilewati, kenapa dirinya harus menghentikan bersatu dengan suaminya.


Suara keduanya terdengar beradu, rasa perih hilang berganti raja membakar sampai mandi keringat bersama.


"Papa Mama, Raja lapar." Gedoran pintu terdengar, Raja tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar.


Teriakan Raja dihentikan oleh Lilis, sudah bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Pertempuran ranjang pengantin baru.


"Raja lapar, Mama belum buat susu." Bibir Raja manyun mengikuti Lilis yang akan membuatkannya susu.


"Apa yang Om Kris lakukan?" Raja duduk di samping Kris yang sedang berbicara dengan pelayan cantik.


Tatapan Lilis tajam, dirinya diabaikan karena sedang asik bercanda dengan pelayan lain. Ucapan lelaki memang tidak ada yang bisa dipegang.


"Apa yang kamu lakukan berlama-lama di sini?"


Pelayan langsung melangkah pergi setelah menyiapkan sarapan sesuai request. Krisna sampai binggung dengan kemarahan Lilis.


Kerutan di kening Raja terlihat, susu yang diharapkannya tidak kunjung muncul, hanya ada suara Lilis yang marah karena sikap Krisna.


"Satunya marah dua marah, lalu bagaimana dengan susu Raja?" tangan Raja mengambil makanan Kris yang sudah berlalu pergi mengejar Lilis.


Kepala Raja geleng-geleng menikmati makanan yang sangat enak, apalagi ada daging. Raja tidak bisa berhenti mengunyah.


"Masakan enak tidak seperti buatan Papa yang tidak enak." Raja memanggil pelayan meminta dua porsi lagi.


Kepala Lion geleng-geleng melarang pelayan untuk menambah karena Raja masih masa pertumbuhan tidak boleh makan berlebihan, harus makanan yang sehat.


"Kenapa Paman Lion tidak mengizinkan Raja makan, jika Raja mati bagaimana?"


Senyuman kecil Lion terlihat, Rain sangat menyayangi putranya hingga meminta Lion menjaganya.


"Kenapa tuan muda cerewet sekali?"


"Paman, kenapa berdiri di situ, cepat makan," pinta Raja karena jika Papanya tahu dirinya makan, sedangkan orang tua hanya berdiri pasti dihukum.


Tidak ingin menolak perintah, Lion duduk di samping Raja. Menatap si kecil yang makan dengan lahap.


"Kak Lion, ada lihat Kak Rain?" Michael lari-larian mencari kakak iparnya.


Kepala Lion dan Raja geleng-geleng, melihat Michael menuju kamar pengantin mengetuk pintu meminta Rain keluar.


"Kakak ipar, ada pimpinan dari barat ingin melapor, Kakak masih tidur?" Michael mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada tanggapan.


Di dalam kamar Rain membuka matanya, melihat Ratu yang masih tertidur di dalam pelukannya.


"Kenapa berisik sekali?" tangan Rain menggapai ponselnya untuk mengumumkan jika dirinya tidak ingin diganggu.


Suara ponsel jatuh terdengar, terpaksa Rain tarik selimut. Tidak ingin berangkat sedikitpun sekalipun suara Raja, Michael bergiliran memanggil.


Tidur Ratu tidak terusik sedikipun karena merasakan tidur paling nyaman seumur hidupnya.


Selama ini serasa penuh ketakutan, Ratu tidak bisa tidur dengan tenang seakan-akan nyawanya diujung tanduk.


"Papa, ini sudah malam, kenapa belum keluar!" teriakkan Raja menggema di segala ruangan.


Rain langsung duduk, mengucek matanya menatap Ratu yang masih saja tidur. Tidak terganggu sama sekali.


"Sayang, kenapa belum bangun?" tepukan pelan tangan Rain di pipi terasa, Ratu membuka sebelah matanya.


"Ratu baru tidur dua jam," gumam Ratu pelan.


"Dua belas jam sayang, jangan main-main." Rain mengambil bajunya karena daripada sampai malam tidak keluar kamar.


"Bagaimana dengan malam pertamanya?"


"Kita sudah melakukannya pagi, tidak ada malam pertama adanya pagi pertama." Rain begegas ke kamar mandi untuk mandi.


Senyuman Ratu terlihat, memeluk guling lanjut tidur lagi. Suara Raja menangis terdengar membuat Ratu terbangun.


"Kenapa lagi anak satu itu?" Ratu menurunkan kakinya dari atas ranjang, saat berdiri langsung terduduk lagi merasakan tubuhnya remuk.


Tangan Ratu bertepuk, pintu terbuka otomatis. Tatapan mata Raja tajam berjalan masuk melihat Mamanya digulung selimut sambil terduduk.


"Mana Papa?" Raja terlihat marah.


"Mandi, kamu kenapa menangis?" Ratu mengambil ponselnya meminta tolong pelayan memanggil orang yang bisa memijat tubuhnya yang sakit semua.


Pintu kamar mandi terbuka, Rain melihat Raja yang sudah bertolak pinggang melihatnya seperti ingin menerkam.


"Papa ini tidak sopan sekali, dari pagi ketemu malam berduaan sama Mama, Raja panggil tidak dihiraukan. Makan Raja juga diurus oleh Paman Lion, sebenarnya Raja ini anaknya Papa atau Paman Lion?"


"Anak Papa," jawab Rain sambil menahan tawa.


"Jika punya anak seharusnya diurus, bukan diabaikan. Mau Raja pecat jadi Papa, kalau begini terus lebih baik Raja cari Papa baru," ucap Raja marah, tapi nadanya sangat menggemaskan.


Kepala Rain hanya mengangguk, terserah Raja ingin mencari Papa baru karena pada akhirnya nanti balik lagi.


Suara pintu ditutup kuat terdengar membuat Ratu dan Rain melihat ke arah pintu, Raja marah mirip dengan Ratu apapun dibanting.


"Tuan muda sudah bertemu Mama dan Papa?" tanya Lion.


"Sudah, mulai sekarang Raja ingin mencari Papa baru."


***


follow Ig Vhiaazaira