
Helaan napas Ratu terdengar sangat kuat membuat Rain yang duduk di belakang supir merasa terganggu konsentrasinya.
"Kenapa kamu terlihat kesal?" Rain meminta Ratu menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Tidak, siapa yang kesal?"
"Hentikan mobilnya, saya tidak suka bekerja dengan orang yang kebanyakan mengeluh. Aku tidak peduli siapa kamu, di jam kerja bagaimanpun aku atasan kamu." Rain keluar dari mobil membukakan pintu untuk Ratu agar keluar dari mobil.
"Saya bisa menyetir," ujar Ratu pertama kalinya merasa bersalah.
Tangan Ratu ditarik paksa, Rain meminta masuk mobil kembali karena Rain yang akan menyetir.
Selama bekerja Rain tidak pernah menggunakan supir, segala sesuatu dia lakukan sendiri. Rain hanya ada meeting virtual sehingga meminta Ratu menyetir.
Mobil melaju kembali, Ratu menatap wajah Rain yang semakin dingin, marah atau memang watak tidak bisa Ratu tebak.
"Dinginnya," gumam Ratu yang duduk diam.
Lirikan mata Rain sinis, tapi tidak megeluarkan sepatah katapun masih fokus menyetir agar secepatnya sampai.
"Gila panasnya." Ratu teringat saat dirinya ada di proyek yang sangat panas seperti sengatan api neraka.
Ratu mengambil tas miliknya, menatap wajahnya yang harus dirinya selamatkan sebelum berjemur.
"Turun," pinta Rain saat sampai di lokasi.
Keduanya langsung keluar, Rain tertegun melihat penampilan Ratu yang sudah berubah. Wajahnya yang cupu tidak terlihat lagi selain wanita cantik dengan make up tipis di wajahnya.
"Kenapa Tuan melamun, kita harus kerja cepat karena malam ini harus menemui seseorang." Ratu berjalan lebih dulu membawa berkas di tangannya.
"Pergi ke mana, kenapa aku harus ikut?" Kepala Rain geleng-geleng, wanita aneh yang tidak Rain ketahui identitasnya.
Suara high heels Ratu menggema di dalam ruangan yang masih kosong, mengikuti langkah Rain yang sedang memeriksa bangunan.
"Ini jalan ke mana?" Ratu melihat tangga rahasia.
Kepala Rain menoleh ke arah Ratu, tapi tidak memberikan jawaban yang Ratu inginkan. Rain tidak berkewajiban menjawabnya.
Hentakan kaki Ratu terdengar, menarik lengan Rain agar menjawab setiap dirinya bertanya. Perasaannya risih karena sikap dingin Rain.
"Apa susahnya menjawab, kamu marah atau memang aneh?"
"Pertama ini rahasia perusahaan ...."
"Kedua, ketiga dan keempat, I don't care!" teriakkan Ratu terdengar karena emosinya terpancing.
Terbiasa memberikan perintah membuat Ratu mudah marah, apalagi Rain sudah tahu jika dirinya sedang menyamar.
"Kenapa kamu marah, apa aku bawahan kamu? di sini tidak ada yang bisa memberikan perintah apalagi bertanya hal pribadi diluar masalah. Aku tidak biasa berbagi cerita apalagi bukan hal penting dan tidak menguntungkan." Tatapan Rain tajam, marah ataupun tidak ekspresi wajah Rain tetap sama.
"Lalu kenapa kamu membawa aku sini? sudah tahu biasa bekerja sendiri maka jangan libatkan aku, lagian kamu terlalu bodoh sehingga memperbudak diri sendiri." Tatapan Ratu tidak kalah tajam, menantang Rain yang begitu menyebalkan.
Tangan Rain terentang sebelah, mempersilahkan Ratu pergi. Langsung mengambil ponselnya menghubungi bagian HRD untuk memecat Ratu secara langsung.
Teriakkan Ratu terdengar, menggenggam tangan Rain yang memegang ponsel. Jantung Ratu berdegup kencang karena Rain sungguh tidak main-main dalam bertindak.
"Kamu tidak bisa bercanda, kenapa langsung mengambil tindakan?"
"Kenapa aku harus bercanda, apa kamu masih anak-anak?"
"Bercanda tidak harus dengan anak-anak. Oke cukup, aku rasa kita tidak harus debat. Dikarenakan terbiasa memimpin sehingga aku tidak bisa diabaikan jika memberikan perintah apalagi bertanya," ujar Ratu meminta maaf karena cara bicaranya yang salah.
"Aku bukan teman, rekan, Klain, keluarga, saudara, bawahan. Kita hanya orang asing, aku tidak terlalu merasa jika kehadiran kamu menguntungkan aku." Rain memberikan Ratu peringatan, sebelum dia mendapatkan keberhasilan harus banyak kegagalan yang dilewatinya.
Kedua tangan Ratu tergempal, perasaannya kesal karena Rain melangkah pergi meninggalkannya. Berjalan bersama Rain membuat Ratu terlihat seperti wanita bodoh.
"Kamu pikir aku tidak bisa melenyapkan kamu? tentu aku bisa bahkan sangat bisa. Rasa ingin aku pengal lehernya melemparkan ke kandang buaya." Tabrakan tidak bisa dihindari, Ratu yang mengomel sejalan-jalan menabrak kepala Rain.
Keduanya meringis kesakitan, Ratu mengusap keningnya sedangkan Rain mengacak-acak rambutnya.
"Ratu, aku sangat jarang marah, tapi kamu!" tangan Rain terangkat ingin memukul.
Gerakan Ratu cepat, langsung mengunakan kemampuan bela dirinya membanting Rain hingga terkapar di lantai.
Suara tubuh Rain jatuh terbanting terdengar sangat kuat. Teriakan pelan tidak terdengar, Rain merasa tubuhnya langsung lumpuh total.
Mata Rain terpejam, menarik napas saja sulit karena kuatnya tenaga Ratu sungguh tidak ada lawannya.
"Tuan Rain, matilah. Tolong jangan mati sekarang." Ratu binggung sendiri karena membuat Rain tidak bergerak.
Tangan Ratu memompa jantung Rain, menepuk wajahnya agar segera bangun. Ratu sangat menyesali perbuatannya. Jika Rain tidak angkat tangan maka tidak mungkin dirinya melakukannya.
"Kenapa juga aku begitu cepat membantingnya, kenapa juga Rain tidak menghindar?"
"Minggir." Tangan Rian terangkat menjauhkan tangan Ratu dari dadanya.
Ada banyak pekerja yang melihat Rain tergeletak, tapi tidak ada satupun yang berani mendekat. Hanya melihat dari kejauhan.
"Tolong, bantuin." Ratu memanggil beberapa pekerja yang tetap diam di tempat.
Sekuat tenaga Rain mencoba duduk, memegang pundak juga kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
"Mereka tidak akan berani mendekat," ucap Rain yang tertunduk merasakan tubuhnya sakit.
"Maafkan Ratu, tadi tangan Tuan Rain terangkat ingin melayangkan pukulan. Aku hanya mencoba bertahan." Ratu meminta maaf dengan tulus juga merasa menyesal.
"Apa kamu seorang petarung, kenapa begitu mudahnya membanting?"
Senyuman Ratu terlihat, hanya Rain satu-satunya orang yang menilai kemampuan Ratu sebagai petarung biasanya orang akan langsung bertanya apa dirinya pembunuh bayaran.
"Aku seorang pembunuh," jawaban yang Ratu berikan terdengar jelas.
"Pantas saja, aku hampir mati." Tubuh Rain terbaring kembali.
Kedua tangan Ratu menarik, membantu Rain untuk berdiri. Rain tidak bisa melanjutkan lagi pekerjaan langsung kembali ke mobil.
"Maaf," pinta Ratu.
"Maaf tidak akan mengembalikan keadaan?" Rain memijit tubuhnya.
"Buka baju kamu, aku akan mengobatinya."
Mata Rain terbelalak besar, kedua tangan menyilang dada karena Ratu begitu santai bicara dengan lelaki tanpa takut dilecehkan.
"Kamu bawa kita balik ke apartemen," perintah terdengar tidak menerima usulan Ratu membuka baju.
Kedua tangan Ratu membuka kancing kemeja secara paksa, jas juga dilepaskan. Mata Rain terpejam merasakan benda dingin dipasang di tubuhnya.
"Ini obat yang aku modifikasi, bukan hanya mobil yang bisa modif, tapi obat-obatan juga. Kamu tidak akan lumpuh hanya dengan setengah tenagaku."
"Setengah," gumam Rain yang bergeser menjauhi Ratu.
***
follow Ig Vhiaazaira