
Hujan turun sangat lebat, Ratu masih berdiri didampingi oleh Rain dan Lilis yang belum beranjak dari depan makam.
Michael dan Krisna masih duduk di bawah hujan menahan tanah yang sudah menimbun, air mata menetes tidak terlihat lagi karena lebatnya air hujan.
Mata Ratu melirik ke arah satu makam yang sudah puluhan tahun tidak dirinya kunjungi, tempat peristirahatan terakhir Mamanya.
Air Ratu menetes, kini dirinya hanya sendirian tidak ada lagi keluarga yang menemaninya. Sejak Mamanya meninggal Ratu menahan diri agar tidak menangis seberat apapun penyiksaan.
Namun kematian Putri tidak mampu menahan air matanya ingin menetes, tetesan hujan menjadi keberuntungan sehingga tidak ada yang tahu air matanya mengalir.
"Kita kembali sekarang," ucap Ratu yang melangkah pergi meninggalkan pemakaman.
"Kakak, Michael harus ke mana?"
"Mati! apa kamu ingin aku kubur juga?" Ratu meneriaki Michael yang mencoba mengikutinya.
Kepala Michael tertunduk, berjalan mundur membiarkan Ratu melangkah pergi diikuti oleh Rain dan Krisna yang tidak bisa menerima Michael.
Langkah Lilis terhenti, mengusap kepala Michael untuk berjalan bersamanya. Saat pertama mengenal Ratu dia jauh lebih kejam, bukan hanya meneriaki namun menyakiti.
"Kak Ratu tidak menginginkan aku," ujar Michael yang takut mendekat kembali.
"Berarti kamu harus berjuang lagi karena tidak ada jaminan hidup enak, jika kamu tidak mampu maka pergilah."
Dua mobil melaju pergi meninggalkan pemakaman, Ratu hanya diam saja karena tidak bisa melihat Adiknya lagi.
Marah, mengamuk dan menyalahkan keadaan sudah tidak ada gunanya lagi, Ratu harus segera melenyapkan Albert lalu pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.
"Kamu ingin ikut aku tidak?" tanya Rain.
"Terserah, aku hanya ingin tidur nyenyak malam ini," balas Ratu masih menatap keluar jendela.
Mobil Rain dan mobil Krisna melewati jalur yang berbeda, Rain memilih pergi ke rumah kecil yang selalu menjadi tempatnya menenangkan diri karena jauh dari banyak orang.
Jalan yang ditempuh juag melewati hutan, Ratu melihat ke arah Rain yang membawanya ke tempat yang jauh dari pemukiman.
"Aku punya satu rumah kecil, dulunya milik seseorang yang menguasai wilayah ini, tapi dia meninggal dan aku membelinya." Rain membunyikan klakson mobilnya.
Gerbang tua yang ditutupi oleh rerumputan menjalar terbuka, ada seorang pria tua yang membukakan pintu.
"Selamat datang Rain, lama kamu tidak berkunjung?"
"Ya, kalian boleh pulang. Aku ingin menggunakan tempat ini selama satu minggu." Rain melangkah ke arah rumah kecil, tapi terlihat sangat kokoh.
"Ini rumah minimalis yang sangat mewah dan elegan meskipun berukuran kecil," ucap Ratu yang berjalan masuk menatap ruangan kosong.
"Rumah ini hanya ada satu kamar, satu dapur dan ruang tamu." Rain membuka kamar yang sangat luas karena memiliki banyak barang elektronik yang sangat penting.
"Ternyata di sini tempat kamu belajar teknologi?"
Kepala Rain mengangguk membuka lemari baju menyerahkan bajunya agar Ratu segera mengganti baju basah.
Senyuman sinis Ratu terlihat menatap Rain yang masuk kamar mandi untuk berganti baju, Ratu juga langsung mengganti bajunya tanpa menuju kamar mandi.
"Kapan kamu berganti baju?" Rain menatap Ratu yang sudah ganti baju miliknya.
Rambut Ratu terurai, Rain menujukkan hairdryer untuk mengeringkan rambut Ratu yang masih basah kuyup.
"Jika kamu lelah beristirahat saja, tempat ini sangat tenang tidak perlu khawatir." Rain meninggalkan Ratu masuk ke ruangan sebelahnya.
"Aku sudah biasa sendirian, jangan ajarkan aku untuk menyendiri terus-menerus. Aku butuh pelukan untuk melepaskan sejenak pikiran yang tidak bisa dikendalikan." Ratu menyisir rambutnya, menatap wajahnya yang memerah di depan kaca.
Lama Ratu menunggu Rain, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Bayangan Putri terus bermunculan di kepalanya.
"Apa yang dia lakukan di ruangan itu?" Ratu berjalan ke arah pintu membukanya perlahan.
"Kamu meminta aku tidur, padahal di sini ada obat." Ratu mengambil botol minuman langsung meneguknya tanpa tahu kadar yang ada di dalamnya.
Rain hanya diam saja menatap Ratu karena mulai mabuk, hati Rain juga sama sedihnya bukan hanya karena kehilangan Putri, tapi tahu jika Putri juga Adiknya.
"Siapa ayahku?"
"Siapa yang kamu tanyakan?" Ratu meneguk minumannya.
"Siapa ayahku, kenapa aku dibuang?" Rain tertawa lucu meneguk minumannya sampai hampir muntah.
Dada Rain dipukul karena merasakan sesak, hatinya sakit sekali karena wanita yang dulunya mengatakan agar dirinya belajar rajin ajar menjadi orang berguna, menanti Rain tumbuh dewasa.
Dulunya Rain berpikir dirinya melihat malaikat, tapi ternyata malaikat maut karena wanita yang dikaguminya juga pelaku yang membuangnya saat bayi.
Ratu memegang kepalanya merasa karena minumannya terlalu keras, mendengar ucapan Rain saja tidak bisa fokus.
"Memangnya siapa ibu kamu?" Ratu duduk di sebelah Rain, mendekatkan wajah keduanya agar Ratu bisa mendengar ucapan Rain.
"Putri adikku, aku ingin menjaganya namun gagal. Albert dan Sinta merenggut nyawanya, lalu apa yang bisa aku lakukan?" Tangan Rain menyentuh bibir Ratu.
"Mereka harus menyusul Putri, mereka juga harus mati," jawab Ratu.
Kepala Rain menggeleng, kematian tidak akan mampu membuat rasa sakitnya hilang. Dirinya sudah kehilangan, apa yang hilang tidak bisa kembali.
"Jika bukan kematian lalu apa?" Ratu tidak memiliki hukuman apapun karena kematian Albert kemenangan.
"Apa dengan mati semuanya akan berakhir?" Rain mengecup bibir Ratu yang membahasnya.
Keduanya tidak menyadari apa yang sedang dilakukan, pikiran Rain tidak jernih lagi. Sisi lain dari dirinya keluar terlihat sangat buas.
"Kamu dibuang oleh siapa?" Ratu melepaskan bibirnya yang terasa perih.
"Wanita malam, menjijikan. Aku sangat membencinya, aku menginginkan kehancurannya karena sudah membuang anaknya sendiri." Rain berdiri dari duduknya berjalan ingin keluar.
Ratu yang masih penasaran mengikuti Rain, memintanya menjawab siapa wanita yang Rain temui sehingga dirinya terlihat tidak berdaya.
"Rain." Tangan Ratu menarik kuat.
"Apa? kepala aku pusing, baru saja aku tahu sekarang kehilangan. Aku tidak sanggup bertahan dari rasa sakit ini." Rain menarik tangan Ratu jatuh ke dalam pelukannya.
Mata Ratu terpejam membiarkan Rain membuka bajunya, ucapnya juga sudah meracau meminta Ratu bersamanya.
Kedua tangan Ratu memeluk erat, mengusap punggung Rain yang tidak menggunakan baju lagi.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku ingin membuktikan kepadanya jika aku bukan lelaki baik, aku tidak akan menjadi seseorang yang dia harapkan. Jika dengan melihat aku hancur bisa menyakitinya maka akan aku lakukan." Rain menagih janji yang pernah Ratu tawarkan, meminta Ratu menjadi wanitanya.
"Ini bukan kamu, minuman membuat kamu gila. Siapa yang membuat kamu terluka?" Ratu memeluk erat memberikan izin untuk saling menghacurkan.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi ...."
"Tetapi kita juga tidak bisa bersama, ayo kita buat moment yang tidak akan pernah terulang lagi." Ratu tersenyum merasakan tangan Rain mulai nakal.
***
Skip wkwwk
***
follow Ig Vhiaazaira