QUEEN'S REVENGE

QUEEN'S REVENGE
SAKIT



Tengah malam Rain terbangun merasakan tangannya dimainkan, kening Rain berkerut melihat Putri tiduran di tengah-tengah Rain dan Ratu.


Senyuman Putri terlihat memeluk dua tangan, tidak ingin melepaskan salah satunya. Putri bergumam ingin selalu bersama Rain dan Ratu.


"Putri sayang keke, tapi Putri membuat Kakak terluka. Putri ingin Kakak bahagia meskipun Putri tidak ada." Air mata Putri menetes, mengalir di pelipis matanya terlihat sekali kesedihan dari sudut bibir yang tersenyum kecil.


"Kenapa Putri bicara seperti itu, Kakak Ratu ada di sini demi Putri. Maka berjanjilah Putri akan sembuh dan menjaga Ratu," ujar Rain yang memberikan semangat jika semuanya akan segera berkahir.


Kepala Putri menggeleng, dirinya tidak bisa bertahan lama. Putri ingin pergi menyusul mamanya yang sudah bahagia.


"Putri ingin bersama Mama Putri, di sana Mama bagai tidak disiksa sama papa." Tatapan mata Putri melihat ke arah langit kamar.


Kepala Rain menggeleng, tidak ada kata bahagia setelah meninggalkan. Jika Putri ingin bahagia maka dia harus hidup lama bersama orang yang dicintainya.


"Kakak Rain nanti jaga Ratu, Putri harus meninggalkan Ratu." Genggaman tangan Putri sangat kuat, memejamkan matanya ingin tiur.


"Tidak ...." Mata Rain menatap tangan Ratu yang meremas tangannya melarang Rain memotong ucapan Putri.


Cengkraman tangan Ratu semakin kuat menenangkan pikirannya, begitupun dengan Rain yang tidak mengerti.


"Kamu bisa bangun keluar." Perlahan Rain melepaskan gegana tangan Putri berjalan keluar kamar setelah melepaskan infusnya.


Ratu berusaha untuk berdiri, membawa tiang infus menatap Rain yang berdiri melihat ke arah lautan.


Ucapan Putri seakan dia tahu akan segera mati, bukan berniat untuk sembuh namun pergi meninggalkan dunia.


"Kenapa Putri bicara begitu?" Rain menatap Ratu yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Aku sudah menganggap Putri seperti adikku, sebenarnya apa yang terjadi Ratu?"


Mata Ratu melihat ke arah lautan, gelombang laut sangat tenang dan udaranya khas pantai terasa.


Tidak ada alasan bagi Ratu menyembunyikan penyakit Putri, dia mengidap kanker hati stadium akhir. Ratu juga baru mengetahuinya dari Albert jika Putri tidak mungkin bisa selamat.


Merasa tidak percaya, Ratu memeriksa kondisi Putri, dokter membenarkan jika Putri memiliki penyakit serius.


"Kangker, lalu kenapa dia terlihat baik-baik saja?"


"Saat kamu mati rasa, sakit apa yang bisa kamu rasakan Rain?" Ratu terlihat lebih tegar karena sudah mengamuk kepada dunia mengetahui kondisi adiknya.


"Kita bisa mengobati Putri, pasti ada dokter terbaik." Wajah cemas Rain terlihat.


"Bagaimana cara aku mengatakan kepada Putri, padahal dia tahu usianya tidak lama lagi," balas Ratu yang hanya bisa tertunduk karena hancur hatinya berkali-kali lipat dari sakit tusukan.


Kedua tangan Rain tergempal, memeluk erat Ratu yang terlihat marah kepada dunia juga dirinya sendiri karena tidak ada celah bahagia bagi adiknya.


"Aku membenci dunia Rain, tidak ada yang aku cintai di dunia ini. Bukan hanya dunia yang jahat, tapi para penghuninya juga jahat." Ratu megepal tangan, pelukan sangat erat sampai keduanya kesulitan bernapas.


Kepala Rain menggeleng, tidak ingin menyerah sebelum semuanya berkahir. Mereka bisa mengobati Putri bagaimanapun caranya.


Rain tidak peduli vonis dokter, setiap penyakit ada obatnya apalagi di dunia medis yang sudah serba modern.


"Jangan memberi harapan padaku Rain, jangan."


"Apa salahnya berharap, setidaknya kita menambah waktu untuk terus bersama Putri. Jangan minta dia sembuh dari kejiwaannya, cukup sembuh dari penyakitnya." Kening Rain dan Ratu bertemu saling menguatkan.


"Kamu punya aku, kamu ingin menghancurkan Albert seperti apa? Aku akan membantu kamu." Rain akan memberikan tempat agar Putri bisa diobati tanpa ada yang mengusiknya.


Pelukan Ratu semakin erat, mengucapkan terima kasih kepada Rain yang tidak meninggalkannya.


"Maafkan aku yang membayangkan kamu, Rain."


"Jangan katakan maaf Ratu, kamu tidak boleh menyerah. Ingat sumpah serapah kamu yang selalu mengutuk aku dan ingin membunuhku," sindir Rain mengingatkan Ratu atas apa yang dia yakini.


Senyuman Ratu terlihat mengucapkan terima kasih kesekian kalinya, Rain satu-satunya orang yang selalu memiliki pikiran positif.


Dari luar pintu Lilis dan Krisna terduduk diam karena mendengar jelas pembicaraan Ratu dan Rain soal kondisi putri.


Lilis membekap mulutnya karena merasa sesaknya ada di posisi Ratu yang harus menemani adiknya di detik terakhir.


"Rain, buka pintunya," pinta Krisna yang langsung berdiri.


"Kenapa kalian di luar?" Rain menatap Krisna dan Lilis yang pasti tahu pembicaraan Rain dan Ratu.


"Apa yang Lilis denger benar adanya Nona?" kesedihan sangat terlihat di wajah Lilis karena sejak awal mereka datang ingin mencari pelaku yang menyakiti Putri, tapi ternyata satu-persatu kebenaran lain terungkap.


Kepala Ratu mengangguk, dirinya sengaja menyimpan semuanya sendiri tidak memberitahu Lilis karena cukup dirinya yang sedih, tidak ingin yang lain patah hati.


"Kita harus mulai dari mana, aku akan membiayai pengobatan Putri. Kita larikan dia ke rumah sakit," ujar Krisna yang meminta Rain menghubungi orang kepercayaannya untuk menyiapkan pesawat.


"Kita tidak bisa meninggalkan negara ini, Clen mencari keberadaan kita dan Albert mencari Keberadaan Putri. Mereka pasti tahu jika Ratu dalamnya." Tarikan napas panjang Rain terdengar.


" Sementara waktu kita hanya bisa memberikan obat kepada Putri sampai kondisi Ratu dan Rian pulih total." Lilis mencemaskan Putri, tapi kondisi Ratu juga belum pulih.


"Seharusnya tuhan mengambil nyawa Albert, bukan Putri." Kekecewaan Lilis terhadap takdir semakin besar karena begitu kejamnya mempermainkan manusia.


Senyuman Ratu terlihat, hatinya lega karena ada banyak orang yang memiliki perasaan yang sama dengannya. Tidak ingin kehilangan Putri.


"Bagaimana kondisi kamu Ratu, sekarang makan dulu."


"Kenapa kalian di luar, apa Putri menolak membuka pintu?" tanya Ratu menatap tangan Krisna yang gemetaran karena dingin.


Kepala Krisna dan Lilis mengangguk. Awalnya Krisna tidak akan memaafkan Putri, tapi tahu kondisinya maka bisa memaklumi karena Putri ingin bersenang-senang daripada mengeluh dengan rasa sakitnya.


Mata Rain terpejam sedang berpikir, dirinya tidak bisa diam terlalu lama. Semakin lama mengulur waktu, maka semakin lama juga Putri diobati.


"Rain, kamu jangan menyengsarakan diri sendiri, katakan apa yang bisa aku bantu," pinta Krisna untuk melibatkan dirinya.


"Aku membutuhkan bantuan Madam, Clen harus mendapatkan hukuman setimpal, maka Madam bisa membantu kita menghancurkan Albert," jelas Rain karena Madam juga ingin melihat Albert hancur.


"Aku akan menghubungi Mama soal perusahaan, nazi kita temui berdua untuk meminta Madam memberikan kepercayaan terkahir kali untuk menghancurkan Clen sampai ke akarnya.


Senyumannya Rain terlihat, seandainya Aryani masih hidup mungkin bisa dimanfaatkan untuk mengungkap kejahatan Miko yang menipu Albert soal penerus tahta.


"Aku bisa melakukan, masalah Albert menjadi urusanku." Ratu meminta Rain dan Krisna menyingkirkan Clen bagaimanapun caranya.


***


follow Ig Vhiaazaira