
Matahari belum bersinar, Pelangi sudah bangun keluar dari kamarnya membawa kain panjang.
Tatapan matanya melihat ke arah luar gerbang, mengintip para pengawal yang sudah bergantian sift.
Kain diikat di pagar, lalu dilempar keluar pagar. Perlahan Pelangi memanjat pagar, lalu turun secara perlahan meggunakan kain.
"Dasar bocah nakal, apa yang dia lakukan?" Rain menghabiskan minumannya langsung menuruni lift.
Sudah Rain duga pasti putrinya kabur dari Kastil, bahkan Rain rela tidak tidur demi mengawasi si kecil yang tidak bisa ditebak tindakannya.
Gerbang terbuka, banyak pengawal yang terkejut karena Rain bangun pagi sekali, bahkan keluar gerbang tanpa pengawal.
"Ada apa Tuan?" tanya penjaga.
"Ada burung melarikan diri." Rain menatap putrinya berlari kencang menutupi kepalanya mengunakan jaket.
"Kita akan segera mengejarnya tuan."
Tangan Rain terangkat, menggelengkan kepalanya meminta pengawal tetap berjaga di posisi masing-masing.
Rain jalan santai mengikuti putrinya yang tidak tahu ingin pergi ke mana, dan tidak tahu sejak kapan Pelangi suka kabur dari Kastil.
"Ke mana perginya padahal matahari saja belum muncul, apa Pelangi tidak takut kegelapan?" Rain menghentikan langkahnya saat melihat Putrinya mengintip ke arah lapangan menebak.
"Pelangi mau," gumam Pelangi yang langsung masuk ke area menembak.
Telinga Pelangi ditarik kuat, kedua tangannya menutup mulut karena terkejut melihat Papanya sudah ada di belakangnya.
"Ya tuhan, ampuni Pelangi." Wajah memelas terlihat karena ketahuan.
"Keterlaluan. Kamu ingin melihat puluhan orang dihukum mati karena kenakalan kamu yang kabur dari Kastil!" cara didik Rain yang keras membuat Pelangi takut.
"Pelangi ingin main tembakan," jawabnya menangis tanpa air mata.
"Itu bukan mainan, kepala kamu bisa pecah jika tertembak."
"Target yang ditembak bukan kepala Pelangi, ampun Papa. Pelangi janji tidak akan kabur lagi," teriakkan Pelangi terdengar memanggil Mamanya.
Telinga Pelangi ditarik sampai merah, berjalan kembali ke Kastil. Banyak penjaga yang binggung melihat gadis kecil yang tertutup wajahnya dipaksa pulang.
"Papa maafkan Pelangi," pinta si kecil.
"Tidak ada maaf untuk kamu, apa yang Papa lakukan demi melindungi kamu." Rain tidak melepaskan cubitan di telinga Putrinya sampai tiba di rumah.
Ada banyak pelayan yang sudah kewalahan mencari Pelangi, bahkan Ratu juga hampir jantungan saat tahu Putrinya menghilang.
"Duduk kamu disitu," pinta Rain membuang jaket yang menutupi wajah Pelangi.
"Iya Pa," jawab Pelangi patuh.
"Sudah berapa kali kamu kabur?"
Tangan Pelangi menujukkan satu jarinya, dirinya hanya penasaran saat pernah lewat menggunakan mobil mendengar suara tembakan.
Kedua telapak tangan Pelangi terbuka, Rain memukul mengunakan penggaris cukup kuat sampai merah.
"Tuan, jangan lakukan itu. Kita yang salah karena gagal menjaga Nona." Seluruh pelayan berlutut sambil menangis, bersujud memohon agar Rain berhenti memukul telapak tangan Pelangi sampai merah.
Ratu berlari kencang saat melihat Putrinya dipukul, tangisan Ratu terdengar meminta Rain berhenti.
"Sayang jangan, apa kesalahan Pelangi sehingga membuat kamu marah." Ratu berlutut memeluk kaki suaminya menatap wajah putrinya yang hanya manyun tanpa air mata.
"Apa kamu merasakan penyesalan? sudah Papa katakan jika kamu terluka ada banyak orang yang celaka. Apa sulitnya meminta izin Papa terlebih dahulu?" Rain menggelengkan kepalanya karena Pelangi tidak menangis sama sekali.
Lilis meneteskan air matanya meminta Pelangi berjanji tidak akan melanggar apapun, tapi Pelangi memilih diam.
"Maafkan Pelangi Papa." Tangisan Langit terdengar berlari kencang ke lantai atas kamar Raja untuk memberitahu jika Pelangi dihukum.
Raja masih tidur langsung terbangun melihat Langit menangis, meminta Raja menolong Pelangi yang sedang dihukum cambuk.
"Siapa yang menghukumnya?"
"Papa Rain," jawab Langit.
"Kenapa Papa menghukum Pelangi?" Raja langsung berlari kencang menuruni tangga melihat jam yang masih pagi.
Suara tangisan terdengar, Ratu tidak berani menghentikan karena Pelangi keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Perbuatan tidak bisa ditoleransi lagi.
Raja melihat tangan Pelangi merah, Raja langsung duduk di samping adik perempuannya, memeluknya dari belakang menadahkan tangan di atas tangan Pelangi.
"Pukul Raja saja Pa sebagai gantinya," pinta Raja tersenyum kecil menggantikan adiknya menerima hukuman.
Pukulan untuk Raja lebih kuat, Pelangi yang melihat Kakaknya dipukul langsung menangis kencang, tapi Rain tidak menghentikan sampai tangan Raja megeluarkan darah.
Air mata Pelangi mengalir di pipinya, menatap wajah kakaknya yang meringis menahan sakit karena penggaris kayu sampai patah.
"Maafkan Pelangi Papa, tidak akan mengulangi lagi. Pelangi akan izin Papa dulu." Tangisan Pelangi pecah memeluk kakaknya yang sudah berhenti dipukul.
Tangan Raja mengusap punggung adiknya yang pertama kali terlihat air matanya karena selama ini hanya tangisan palsu.
"Jika diulangi lagi, Papa cambuk kalian berdua." Rain melangkah pergi kembali ke kamarnya meminta pelayan memanggil dokter untuk mengobati Raja dan Pelangi.
Ratu memeluk kedua anaknya yang baru saja terkena hukuman, Raja mengusap air mata Adiknya yang tidak berhenti mengalir.
"Apa yang Pelangi lakukan?"
"Ingin pergi menembak," jawabnya.
"Lain kali lebih hati-hati jangan sampai ketahuan Papa, jika perlu kita pergi bersama, tapi ini rahasia." Raja tersenyum mengecup kening adik kesayangannya.
Senyuman Ratu terlihat karena Raja menjadi Kakak yang sangat bisa Pelangi andalkan, juga siap melindunginya.
Di dalam kamar Rain meneteskan air matanya, menatap tangannya yang sudah menyakiti kedua anaknya.
"Kenapa dipukul jika akhirnya sedih?" Ratu memeluk Rain dari belakang.
"Aku harus bagaimana, rasa sayang kepada Pelangi tidak bisa diutarakan dengan kata-kata, tapi aku juga tidak bisa memanjakannya." Rain menangis memeluk erat istrinya merasakan sakit juga melihat kedua anaknya harus dipukul.
Daripada Rain harus melihat anak-anaknya terluka, apalagi ada orang lain yang menyakitinya lebih baik Rain bersikap tegas.
"Aku tahu kamu Papa yang luar biasa, anak-anak akan memahaminya. Maklumi Pelangi yang nakal, memiliki Papa yang keras saja dia nakal, tidak bisa dibayangkan jika dia dimanjakan." Kepala Ratu geleng-geleng tidak bisa berkata-kata lagi karena dirinya bangga memiliki Rain.
Ratu tidak bisa bersikap tegas karena tidak tega, melihat wajah manyun Pelangi saja langsung luluh, apalagi Raja jika memelas tidak mungkin Ratu mampu hentikan.
"Apa Pelangi masih menangis?"
"Pelangi menangis bukan karena sakit, tapi sedih melihat kakaknya. Aku tidak menyangka Pelangi menangisi Raja yang mencoba menyelamatkannya." Ratu menguap karena masih mengantuk.
Suara tawa Pelangi sudah terdengar, Rain membuka pintu melihat Putrinya sudah lanjut main bersama kakaknya yang mengikuti apapun yang diinginkan.
"Ini anak memiliki daging dan kulit yang tebal." Rain menutupi pintu kembali memutuskan untuk tidur karena semalaman tidak tidur.
Pintu kamar terbuka, Pelangi naik ke atas ranjang menatap Papanya yang sedang tidur, langsung naik ke atas tubuh Papanya ikutan tidur.
***
Follow Ig Vhiaazaira