
Semua bukti menujukkan jika wanita yang dinyatakan Madam benar adanya, Rain sudah melihat langsung.
Krisna menolak jika orang yang bunuh diri mamanya, dia tidak ingin tahu. Bagi Kris mamanya ada di suatu tempat.
"Sampai kapan kamu akan menutupi kenyataan?" Lilis duduk di samping Krisna yang berdiri di balkon atas rumah sakit.
Lilis membalik badannya, kakinya bergelantungan di atas balkon. Menatap ke arah bawah yang terlihat sangat kecil.
Kedua hanya diam, saling merenungkan nasib yang akan terjadi kedepannya. Krisna merasa ingin mati saja ikut mamanya.
"Kamu menyesal karena tidak punya moments bersama mama kamu?"
"Emh, aku membenci mama sejak kecil karena jarang di rumah dan selalu berprilaku buruk kepada papa." Kris memejamkan matanya merasa menyesal hanya melihat seseorang menggunakan mata.
"Emh, aku tidak tahu siapa aku? Ratu menolong aku saat mengalami kecelakaan di hutan, beberapa orang jahat ingin menodai aku, tapi Ratu tepat waktu. Sejak itu aku memutuskan menjadi penjahat," ujar Lilis yang memiliki banyak moments bersama Ratu. Dirinya tidak punya siapapun selain Ratu.
Kepala Kris terangkat melihat Lilis yang duduk tenang, dia jauh lebih terkejut. Ratu yang dirinya pikir wanita cupu ternyata wanita jahat dan kejam, Elisha yang Kris pikir wanita jahat, ternyata korban.
Banyak hal yang diduga tidak sama adanya, sering sekali hal yang mengejutkan muncul membuat Krisna merasa dirinya terlalu lama di dalam lingkaran sehingga tidak tahu apapun.
"Aku juga bergantung kepada Rain, aku selalu mengatakan jika aku Kakak yang akan melindungi, tapi kenyataannya kebalik."
Tawa Lilis terdengar Krisna begitu memalukan karena tidak paham apapun, dia hanya beban bagi Rain, baiknya Rian begitu menyayangi Krisna.
"Siapa Rain sebenarnya? dia pintar berpengalaman dan jenius." Kecerdasan Rain sangat Lilis akui apalagi dia memiliki banyak orang yang tersembunyi di belakangnya.
"Rain hanya yatim piatu, tapi sejak kecil dia sangat pintar, Rain bisa menghabiskan uang hanya dengan memegang komputernya. Aku juga tidak tahu Rain banyak kenalan dari mana?" obrolan santai membuat Krisna lupa masalahnya.
"Di saat penuh kegelisahan, bisa-bisanya kalian bergosip," sindir Ratu dengan mata memincing tajam.
Lilis yang terkejut langsung tergantung di balkon sambil berteriak-teriak meminta Krisna menyelamatkannya.
"Kris bantu aku, lagian aku belum mau mat!" Lilis menatap ke bawah bisa pecah kepalanya jika jatuh.
"Lagian kenapa kamu duduk di situ?" Krisna menarik tangan Lilis dan menjambak rambutnya agar bisa naik.
Kepala Ratu geleng-geleng, melihat dua orang asik bergosip membicarakan orang lain padahal ada banyak masalah di depan mata.
"Di mana Rain?" Ratu menatap Krisna yang geleng-geleng tidak tahu.
"Bukannya Rain mengurus soal jenazah Madam, dia harus segera memakamkan karena kondisinya sudah tidak layak menunggu lagi." Lirikan mata Lilis terarah kepada Krisna yang langsung berlari ingin menyaksikan pemakaman mamanya.
Kepala Ratu tertunduk, kasihan terhadap Krisna yang kehilangan mamanya karena perbuatan orang yang pernah dia sayangi.
Ratu menemukan penyebab kematian Madam, dia tidak bunuh diri namun diserang. Leher sempat dicekik hingga didorong dari atas jembatan.
"Kematian Madam rekayasa saja untuk membebaskan Clen," ujar Lilis yang bisa menduga karena sudah biasa dengan kasus pembunuhan, tapi dikatakan bunuh diri.
Kepala Ratu mengangguk, Clen keluar dari persembunyian menangis histeris tahu istrinya meninggal.
Kepolisian juga tidak bisa lagi menahan Clen karena ada bukti jika segala kejahatan dilakukan oleh istrinya sehingga membuatnya bunuh diri.
"Apa Rain pergi ke tempat pemakaman?"
"Ya, aku akan menyamar kembali untuk mendampingi Rain. Di sana ada banyak orang penting, berhati-hatilah." Ratu melarang ada yang menemui Putri karena ada dua pengawal yang menyamar untuk menjaganya.
Sementara waktu Ratu merahasiakan keberadaan Putri untuk mengikuti prosedur pengobatan.
Panggilan masuk di ponsel Ratu, senyuman sinis terlihat langsung bergegas keluar dari rumah sakit.
"Kris, kenapa kamu hanya berdiri di depan mobil?" Ratu menatap Krisna yang melamun.
"Apa ini, kenapa Clen bebas? kenapa mama menjadi kambing hitam?"
Pukulan Lilis kuat di punggung Krisna, bukan waktunya dia untuk merenungkan apa yang dilakukan Clen. Mereka harus segera kembali ke rumah.
"Lis, urus Krisna. Dia memang beban." Ratu melangkah ke arah mobil lain.
Ratu tancap gas setelah mengubah penampilannya menjadi gadis cupu yang akan mendampingi Rain apalagi Clen tahunya jika Ratu cupu kekasih Rain.
Dua mobil kebut-kebutan di jalan, Ratu mendapatkan panggilan kembali dari Rain yang meminta Ratu menurunkan kecepatannya.
"Jangan terburu-buru, kamu tidak terlalu penting." Rain tahu kecepatan mobil Ratu karena bisa mengontrolnya.
"Jika Ratu cupu kamu berani, lihat saja nanti kamu yang aku masukkan ke dalam peti mati." Ratu mematikan panggilan mengurangi kecepatannya karena sudah mendapatkan teguran.
Mobil Krisna melaju lebih dulu, Lilis tidak mengerti alasan Ratu mengurangi kecepatannya.
Krisna dan Lilis sampai ke rumah duka, keadaan sangat ramai karena didatangi orang penting.
"Astaga apa yang kamu lakukan Lilis?" Kris menutup matanya melihat Lilis buka baju mengganti dengan baju lain.
"Aku cantik, kenapa kamu tutup mata?" Senyuman sinis terlihat karena Lilis merasa lucu dengan pria yang awalnya mereka duga pelaku pelecehan, ternyata hanya anak manja yang bersembunyi di ketek Rain.
Mobil Ratu juga tiba, di depan pintu sudah berdiri Rain yang menyambut para tamu yang turut berdukacita.
Langkah Krisna lemah, melihat Clen menangisi mamanya padahal dialah pembunuhnya.
"Jauhi mama, jangan tangisi dengan air mata kepalsuan!" Krisna masuk menarik kerah baju Clen yang matanya sayu terlalu banyak menangis.
"Krisna, kamu tidak boleh begini di depan mama. Berikan salam nak," pinta Clen yang mengejek Krisna dengan dramanya.
Tangan Rain menepuk pundak, Kris melepaskan Clen. Bisikkan Rain terdengar tidak mengizinkan Krisna menangis yang menunjukkan jika dirinya begitu lemah.
Ratu berdiri di samping Rain, sesekali melihat ke arah Miko yang berada di kursi roda. Ratu tersenyum manis, Miko langsung menyadari jika Ratu orang yang sama dengan pelaku penembakan.
"Queen, dia juga datang." Miko berusaha untuk berdiri menatap Ratu yang memelototi.
"Hentikan Ratu, jangan berulah sampai pemakaman selesai." Rain menggenggam tangan Ratu membuatnya menjadi pusat perhatian.
Sekuat mungkin Krisna menahan air matanya, ada kesedihan yang sangat dalam, tapi dirinya hanya bisa berdiri tegak.
Jangankan memeluk, Krisna bahkan tidak bisa melihat mamanya terakhir kalinya sungguh menghacurkan hatinya.
"Maaf Pak, bisa Kris memeluk Mamanya terakhir kali meksipun hanya melalui peti karena kondisi jenazah tidak bisa dipegang lagi?"
Setelah mendapatkan izin, Rain merangkul Kris menyentuh peti untuk terakhir kalinya karena Madam menyudahi untuk melindungi Putranya.
"Kris begitu beruntung memiliki kamu Rain," gumam Ratu kagum.
"Madam, aku akan menjaga Krisna. Kita akan mengungkap kebenaran dan menjaga amanah untuk mempertahankan perusahaan," bisik Rain pelan.
"Ma, maafkan Krisna yang tidak bisa memanggil Mama, maaf karena Kris tidak bisa membanggakan mama." Kedua tangan Kris memeluk erat peti seakan-akan memeluk Mamanya.
***
follow Ig Vhiaazaira